LOGIN"Hanya itu? Tuan tidak menyembunyikan apa pun dariku, 'kan?" Ara bertanya lirih, tatapannya begitu serius. Tersirat permohonan yang terpancar dari sana, seolah memberitahukan bahwa dia tidak ingin dibohongi.Jika Anthony berbohong lagi, sesuatu dalam dirinya akan benar-benar patah.Sedangkan sang iblis tak bersayap menarik napas panjang sebelum mengembuskannya perlahan."Tidak ada, Sayang." Suaranya terdengar rendah dan menenangkan. "Saat waktunya tiba, aku akan menunjukkannya padamu."Pipi Ara seketika menghangat saat Anthony memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Anthony mengatakannya dengan begitu alami, seolah panggilan itu memang sudah menjadi bagian dari dirinya. Baru saja Ara hendak membuka mulut untuk membantah atau setidaknya meminta penjelasan lebih lanjut, telunjuk Anthony lebih dulu menyentuh bibirnya."Aku bisa menebak apa yang ingin kau katakan," ujarnya, lalu tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang membuat diriny
"Hei, Vance. Apa yang kau lakukan? Kau tidak pergi?"Sosok yang dipanggil Vance tak menjawab. Dia menoleh ke belakang sambil memegang dada kirinya yang berdenyut tidak biasa. Tak ada siapa-siapa di sana selain pepohonan raksasa, angin yang berembus pelan, dan beberapa makhluk yang terlihat berlalu-lalang.Kedua alisnya mengernyit.Lalu, tanpa sadar, bibir tebal itu membisikkan sebuah nama yang telah terukir di dalam jiwanya.***"Jung Ara."Pemilik rambut jelaga itu tertawa pelan. Suara tawanya yang rendah dan berat mengalun hangat di antara mereka, seolah ingin meredakan kecemasan yang sejak tadi memenuhi dada sang gadis. Kemudian Anthony menggenggam kedua tangan Ara."Apa perlu aku memenuhi langit dengan tulisan, 'aku mencintaimu, Jung Ara', menggunakan darahku?" tanyanya seraya menyunggingkan senyum tipis. "Atau kau ingin aku menguras lautan dan mempersembahkan kepala Raja Lautan untukmu?"Ara langsung menggeleng beber
"Maksudmu Noah Lee? Pria dari gereja yang selama ini mengawasimu?" tanya Yuuscar, dahinya tampak mengernyit bingung.Yuuscar terdiam sesaat.Mengapa pula Anthony menyebut Noah Lee 'pria tua'? Bukankah dia lebih tua dari pria gereja itu?Sementara di sana, Anthony kembali mendengkus lirih. Kali ini, bahunya sedikit berguncang karena menertawakan ucapan Yuuscar.Jika pria pucat itu tahu bahwa Noah Lee sebenarnya adalah Raja Iblis yang sedang menyamar, mungkin dia akan menyesal karena pernah menyebutnya sebagai pria agamais ceroboh dan impoten."Ya, dia," jawab Anthony singkat. Pandangannya bergulir ke arah jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya hingga sorot matanya tampak sedikit meredup. "Kupikir dia tidak akan berkeliaran lagi di sekitarku setelah membuka topengnya," gumamnya pelan.Ucapan itu membuat Yuuscar mengernyit semakin dalam. Namun, sebelum pria itu sempat bertanya lebih jauh, Anthony sudah meliriknya sambil
"Bisa kau lepaskan ekspresi bengismu itu?"Yuuscar menatap datar pria yang baru saja duduk di hadapannya. Punggungnya bersandar santai, sementara kedua lengannya terlipat di depan dada. Meski diundang datang kemari, sang tuan rumah bahkan tidak mau repot-repot menyajikan teh atau makanan ringan pada tamunya. Dan sekarang, dia malah memelototinya seperti itu.Sungguh etika yang buruk."Aku tidak merasa melakukan kesalahan apa pun. Kukira kau sudah memberitahu Ara perihal benih yang kau tanamkan di dalam perutnya." Yuuscar mengangkat kedua bahunya ringan, lalu dengan malas merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua, kemudian meletakkannya di atas meja. "Barang pesananmu."Anthony mengembuskan napas kasar. Tangan kanannya bergerak menyugar rambutnya ke belakang sebelum mengusap dagunya. Bola mata mighblack itu bergulir memandang kotak yang barusan diletakkan Yuuscar. Dahinya mengernyit tidak nyaman ketika rencana yang
"Kalau tidak, aku akan menciummu lagi."Gadis Jung tentu segera melakukan apa yang diinginkan tuannya. Terlanjur basah, sekalian saja menceburkan diri dan tenggelam dalam rasa malu. Lagi pula, pria yang kemungkinan besar telah menyaksikan kemesraan mereka tadi tampaknya tidak mempermasalahkannya. Apalagi mereka berada di luar negeri, tempat di mana berciuman di ruang terbuka bukanlah sesuatu yang aneh."Kau datang cepat sekali."Ara memilih diam. Dia memeluk leher Anthony lebih erat, lalu menyembunyikan wajahnya di sana. Jika harus dianggap manja demi menyelamatkan dirinya dari ciuman berikutnya, dia rela."Oh, apa aku belum memberitahumu? Aku ada urusan di Korea dan akan berangkat siang nanti. Jadi, aku menyempatkan datang lebih awal."Mendengar nama negara kelahirannya, Ara refleks mengeratkan pelukannya.Meski telah meninggalkan segala kesedihan di sana, dan meski kehidupannya di Korea lebih banyak menyisakan luka daripada kebahagiaan, te
"Tak hanya semakin cantik, sekarang kau juga menjadi lebih menggemaskan."Dan pada saat itu juga, Ara merasa wajahnya terbakar habis. Dia tak mampu melakukan apa pun selain memeluk erat leher sang iblis tak bersayap, menyembunyikan wajah yang dia yakini sudah semerah kepiting rebus.Tawa rendah Anthony di dekat telinganya membuat jantung Ara berpacu semakin liar. Seluruh tubuhnya meremang ketika pria itu dengan perlahan menyingkap rambutnya, lalu memberikan kecupan dan sesapan yang mampu mengundang panas tak nyata di lehernya."T-Tuan Wallenstein, t-tunggu. Kita sedang berada di luar," cicitnya pelan ketika kecupan itu berpindah ke dekat bahunya. Ara meremas pakaian Anthony, lalu menyandarkan dahinya pada pundak kokoh sang tuan, berusaha menenangkan napasnya yang mulai kehilangan ritme. Namun, ketika dia membuka mata, yang dilihatnya justru sisi wajah Anthony yang luar biasa menawan.Jawline-nya benar-benar mematikan."Lalu?" tanya Anthony tenang.
"Tuan Wallenstein pasti akan senang karena akhirnya dia bisa bersama sosok yang dicintainya lagi." Jattandier tidak langsung menanggapi, hingga pada detik berikutnya, seringai di wajah Jattandier perlahan melebar. Dan hal itu membuat nafas Ara tercekat. Padahal dia sendiri yan
"Apa yang harus kita lakukan, Sephael?" Suara Jivael memecah sunyi di tepian telaga Nirvana. "Waktu terus berjalan, tetapi kita belum melakukan apa pun." Lalu sosok bersayap putih itu mengepalkan kedua tangannya. "Apa kita akan membiarkan Araphael pergi begitu saja?" Sephael tidak
"Tolong hentikan aku, dan mari kita bersatu." Perlahan, Ara membuka kedua matanya. Napasnya terasa berat. Pandangan gadis itu tampak kosong beberapa saat sebelum akhirnya dia mengusap sudut matanya yang basah. Apa yang baru saja dia alami? Mimpi? Namun, men
Pemandangan yang sama kembali kulihat saat ingatan masa lalu itu berhenti bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka. Aku berdiri di sana, memandang Tuan Wallenstein dan Ara yang berada di dalam gendongannya. Manusia itu terlelap. Wajar. Dia baru saja berhadapan denga







