تسجيل الدخولWandi menghela napas. Dia tidak ingin bercerita panjang lebar. Tidak ingin menjelaskan tentang kecelakaan, tentang kemampuan super, tentang meteorit, tentang NASA. Terlalu panjang. Terlalu rumit. Dan dia tidak ingin terlihat seperti orang gila di depan Tina."Ceritanya panjang, Tin. Lain kali saja."Tina terdiam. Dia merasakan ada dinding di antara mereka. Dinding yang dia sendiri yang membangun ketika memutuskan pergi. Sekarang, dinding itu tidak bisa dia tembus."Wandi, aku... aku minta maaf. Untuk semuanya.""Maaf buat apa?""Untuk dulu. Aku pergi. Aku memilih Andre. Aku meninggalkan kamu. Aku... tidak percaya dengan kemampuanmu."Wandi tersenyum tipis. "Tidak perlu minta maaf, Tin. Kamu memilih yang terbaik untuk dirimu dan Nila. Aku tidak bisa memberikan apa yang kamu butuhkan saat itu. Andre bisa.""Tapi sekarang kamu....""Sekarang aku baik-baik saja, Tin. Aku sudah punya kehidupan baru. Punya kemampuan yang tidak kamu percaya dulu. Punya uang. Punya... seseorang."Tina mengerj
Wandi tidak sempat memproses semuanya karena pengemudi Innova, sudah mulai bersuara dengan nada tinggi."Gimana sih, Mas?! Bisa nyetir nggak, sih?!" Andre mengangkat kedua tangannya, gesture frustrasi. Wajahnya merah padam, mungkin karena marah, mungkin karena kaget. "Lampu sudah kuning, Mas! Harusnya Mas sudah siap-siap berhenti! Bukan malah jalan terus! Saya sudah klakson dari jauh! Saya kira Mas tidak lihat!"Wandi terdiam. Tidak menjawab. Matanya masih tertuju ke kursi penumpang, ke Tina yang masih duduk dengan mulut terbuka.Andre mengernyit. Dia menoleh ke arah tatapan Wandi, lalu mengikuti ke arah Tina. Wajah Tina yang pucat pasi membuat Andre bertanya-tanya."Tin? Kamu kenapa?" tanya Andre.Tina tidak menjawab. Dia malah membuka pintu mobilnya, perlahan, seperti orang yang berjalan dalam mimpi, dan turun. Kaki jenjangnya yang memakai sepatu pantofel hitam menginjak aspal. Dia berdiri di samping mobil, menatap Wandi dari ujung rambut sampai ujung kaki."Wandi..." suara Tina ham
Mobil BMW hitam melaju pelan di jalanan Jakarta yang mulai sepi. Wandi mengemudi dengan tenang, sesekali menoleh ke spion samping, sesekali menyesuaikan posisi duduknya. Lampu-lampu jalan menyala terang, menerangi aspal yang sedikit basah karena hujan gerimis sore tadi. Di dalam kabin, AC masih menyala dengan suhu 22 derajat, membuat udara terasa sejuk dan nyaman.Wandi tersenyum sendiri. Senyum yang tidak bisa dia hilangkan sejak meninggalkan rumah Arini. Pikirannya melayang ke setengah jam yang lalu, ke ciuman di dalam mobil, ke bibir Arini yang hangat dan lembut, ke tatapan Arini yang penuh kasih, ke tawa Arini yang lucu setelah menciumnya."Aku malah nyosor kamu duluan... Hahaha..."Wandi tertawa kecil mengingatnya. Arini memang unik. CEO startup yang tegas dan ambisius, tapi di balik itu, dia perempuan biasa yang bisa salah tingkah, yang bisa malu-malu, yang bisa tertawa mendengar kegokilannya sendiri.Jari-jari Wandi mengetuk setir mengikuti irama lagu dari radio. Lagu itu berga
Arini menutup matanya.Wandi menutup matanya.Dan kemudian...Bibir mereka bertemu.Lembut. Sangat lembut. Seperti kelopak bunga mawar yang baru mekar, disentuh oleh tetesan embun pagi. Bibir Arini terasa hangat, sedikit lembab karena pelembap bibir yang dia oleskan sore tadi. Bibir Wandi terasa sedikit kering, kasar, tapi tidak kasar. Ada getaran di sana. Getaran yang membuat seluruh tubuh Wandi merinding.Ciuman itu tidak dalam. Tidak ada lidah. Tidak ada gigi. Hanya bibir yang saling menempel, saling merasakan, saling mengenal.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Empat.Lima.Wandi merasakan dadanya sesak. Bukan sesak karena sedih. Sesak karena... terlalu banyak perasaan. Perasaan yang selama ini dia pendam, dia kurung, dia kunci rapat-rapat di dalam hatinya, tiba-tiba meletus seperti gunung berapi yang tidak bisa lagi ditahan.Dia membalas ciuman itu.Perlahan. Sangat perlahan. Bibir Wandi bergerak sedikit, menekan bibir Arini dengan lembut. Tidak agresif. Tidak memaksa. Hanya... m
Lima menit berlalu.Sepuluh menit.Arini masih tidur.Wandi akhirnya memberanikan diri. Dia meraih bahu Arini dengan lembut. Jari-jarinya yang kasar dan hangat menyentuh cardigan tipis yang dikenakan Arini."Rin... Rin, bangun... Kita sudah sampai."Arini bergerak sedikit. Alisnya berkerut. Bibirnya mengerucut, seperti orang yang tidak ingin diganggu tidurnya."Rin..." panggil Wandi lagi, sedikit lebih keras.Arini membuka mata. Perlahan. Matanya yang hitam pekat itu masih sayu, belum sepenuhnya sadar. Dia mengerjap beberapa kali, mencoba fokus pada Wandi yang duduk di sampingnya."Mas... Wandi?" suara Arini serak, masih bercampur kantuk."Iya, Rin. Kita sudah sampai di rumah kamu."Arini mengerjap lagi. Dia menoleh ke jendela. Melihat rumahnya yang terang benderang, pagar hijaunya, pot-pot bunga di teras. Dia menghela napas panjang."Udah sampai? Cepet amat..." ucap Arini sambil mengusap matanya dengan punggung tangan."Kamu tidur sepanjang jalan dari Puncak. Jadi ngerasa cepet.""Eh
Mobil BMW hitam melaju perlahan di jalanan Puncak yang mulai gelap. Lampu depan menyorot aspal yang berkelok-kelok, sesekali menerangi tebing di kiri dan jurang di kanan. Wandi memegang setir dengan tenang, tidak lagi tegang seperti pertama kali. Jari-jarinya yang dulu selalu memutih karena cekaman erat, kini terlihat rileks, sesekali bergerak ringan saat membelokkan mobil di tikungan tajam.Di sampingnya, Arini tertidur lelap.Kepalanya miring ke kanan, bersandar di sandaran kursi, sedikit menunduk ke arah Wandi. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang terurai di atas bahu, sesekali bergerak tertiup angin dari ventilasi AC yang diatur ke arah sedang. Bulu matanya yang lentik terlihat jelas di bawah cahaya lampu dashboard yang redup. Bibirnya yang merah alami sedikit terbuka, memperlihatkan barisan gigi putih yang rapi. Dadanya naik turun pelan, teratur, seperti ombak kecil di pantai yang tenang.Wandi menoleh sekilas. Dia tersenyum melihat Arini yang begitu damai."Dia pasti sangat







