MasukWarisan celana dalam dari leluhurnya itu membuat milik Teja menjadi terbesar se-Indonesia! Berbagai kemampuan luar biasa juga ia dapatkan dari warisan itu!
Lihat lebih banyak“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“
Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Tahan, Bu Septa. Ini sudah licin banget kok. Nanti juga enak,” suara Toni, ayah Teja, terdengar menjawab. Kamar Toni yang berada persis di sebelah kamar Teja membuat semua kalimat itu terdengar jelas di telinga Teja. 'Suara itu lagi?!' Teja memijat pelipisnya. Sudah bertahun-tahun Teja sering mendengar suara-suara aneh dari kamar ayahnya setiap kali sang ayah menerima pasien pijat. Rumor tentang ayahnya yang didengungkan teman-teman kampus Teja kembali melayang di dalam benaknya. “Ayahmu itu gigolo, Jo!“ “Kabarnya kan punya ayahmu paling gede se-Indonesia, Jo. Punyamu juga segede itu nggak?“ “Tukang pijat mah cuma kedok doang. Ayah Teja itu sebenarnya membuka praktik pijat plus-plus pakai ukuran supernya.“ Satu persatu hinaan dari teman kuliah Teja berputar seperti slide di pikiran Teja. Ia semakin muak tatkala teringat minggu lalu telah menerima warisan lilitan kain dari ayahnya yang berfungsi sebagai celana dalam itu. “Lilitan kain ini adalah warisan turun temurun, Ja. Mau tak mau kamu harus siap menerimanya,” ucap ayah Teja saat meminta Teja mengenakannya minggu lalu. Teja membenamkan wajah ke bantalnya, berusaha meminimalisir suara yang masih terdengar dari kamar ayahnya. 'Aku nggak mau dapet warisan benda mesum kayak gini!' pekik Teja tak terima. “Oohhh, Pakk, sakittt. Ini kegedeannn!“ Suara itu kembali terdengar, menembus bantal yang nyatanya tak mampu mengurangi suara yang sangat tak ingin didengar oleh Teja. “Tenaga saya memang gede, Bu Septa. Kalau lemah, gimana bisa mijat dengan baik?!“ suara Toni terdengar memberikan penjelasan. Bu Septa masih terdengar merintih. “Uhhhh, shhh. Iya, Pak. Tapi jangan keras-keras mijatnya. Aku ini cewek lho, bukan kingkong!“ Lambat laun suara-suara mereka berangsur mereda seiring dengan rasa kantuk di mata Teja yang semakin memberat. Tak lama kemudian Teja sudah terlelap, mengabaikan apa yang terjadi di kamar sebelah. — Sore harinya, saat Teja sedang mencuci motor matiknya, pasien lain datang lagi. “Permisi, Pak Toni ada?“ ucap seorang gadis muda berusia sekitar 19 tahunan, seumuran dengan Teja. Tubuh gadis berparas cantik itu sangat molek dibalut celana jeans ketat dan kaos yang juga sangat ketat. Teja mengangkat wajahnya dan seketika terhenyak. “Nanaaa?!“ “Lho, Tejoo?!“ gadis yang dipanggil Nana oleh Teja itu ikut kaget. Nana adalah teman seangkatan Teja di kampus. Ia sangat terkenal karena merupakan penyanyi tenar di kota itu. Dan yang membuat Teja merasa heran adalah pamor ayahnya hingga bisa dikenal oleh penyanyi hebat sekelas Nana. “Kamu kenapa cari ayahku, Na?“ tanya Teja saat telah bisa menguasai keterkejutannya. “Mau pijat lah! Aku udah bikin janji tadi lewat pesan sama Pak Toni!“ jawab Nana cepat. Teja akan menanggapinya lagi, namun sang ayah tiba-tiba muncul di teras. “Mbak Nana, silakan masuk. Aduh maaf saya nggak dengar tadi kalau mbak sudah dateng,” sapanya ramah. Teja memandang wajah ayahnya dan Nana bergantian dengan tatapan penuh tanda tanya. 'Ngapain sih sampai nerima pasien dari kampusku segala?! Kalau kayak gini kan rumor itu makin santer nyebar di lingkungan kampus,' batin Teja tak senang. “Pak Toni ternyata ayahnya Tejo, ya?!“ ujar Nana sambil mengikuti langkah Toni masuk ke kamar. “Mbak Nana kenal sama Teja?“ tanya Toni balik. Nana mengangguk. “Kenal, Pak. Kan kami satu kampus.“ Tatapan mata Teja mengiringi langkah keduanya sebelum kemudian pintu kamar ayahnya menutup kembali. Tidak seperti biasanya yang tak pernah mau peduli pada pasien ayahnya, kali ini Teja cukup merasa penasaran pada pijat seperti apa yang akan dijalani Nana. Ia pun berjingkat masuk ke kamarnya, berniat untuk menguping kegiatan tersebut. Awalnya Teja hanya mendengar percakapan ringan dari keduanya. Namun beberapa menit kemudian, lenguhan khas yang biasa ia dengar dari para pasien ayahnya mulai terdengar. “Uhhh shhhh, Pak. Iya disitu, pas banget. Tapi gelii, Pakk,” erang Nana yang langsung membuat kening Teja berkerut. “Kalau segini, kegedean nggak buat mbak Nana?“ suara Toni menyusul terdengar. “Gede banget, Pak. Tapi saya kayaknya masih mampu nahan deh. Shhhh ohhh, tapi pelannn, Pak!“ jawab Nana yang terdengar seperti menahan sesuatu. 'Duh, ini sebenarnya pijat macam apa sih?! Nana juga gitu, ngapain pakai acara minta pijat ke ayahku segala?' Teja menjadi uring-uringan sendiri. Ada perasaan tak rela saat melihat teman kuliahnya meminta layanan pijat pada sang ayah. Sejenak Teja menatap celananya sendiri dimana lilitan kain zaman kerajaan itu berada. 'Benda ini yang bikin ukuran ayah jadi segede kaki kingkong. Dan aku harus mewarisinya buat melayani para pasien pijat aneh itu?!'“Mereka sudah diamankan, Tang?“ tanya Teja ketika mobil sudah melaju cepat menuruni arega pegunungan tersebut.“Beres, Bos. Enam orang sudah dibawa anak buah kita ke markas. Siap menunggu instruksi Bos Teja selanjutnya,” jawab Bintang sembari tetap fokus mengemudi.Mobil semakin melesat cepat memasuki kota di bawah kendali Bintang yang ternyata sangat mahir mengemudi.“Tang, tolong arahkan mobil ke rumah Nana dulu. Setelah itu tolong kamu antarkan Citra pulang ya,” perintah Teja penuh ketegasan.“Baik, Bos,” jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aspal di depan mereka.Tak lama kemudian mobil sudah tiba di depan rumah Nana. Teja segera menuntun Nana masuk ke rumahnya tersebut, sedangkan Bintang kembali melajukan mobil untuk mengantar Citra pulang.“Bawa, aku langsung ke kamar, Jo. Orang tuaku nggak ada di rumah. Mereka sering banget ke luar kota,” lirih Nana bernada kecewa karena kurangnya perhatian kedua orang tuanya.Teja mendudukkan Nana di ranjang kamarnya, kemudia
Nana dan Citra terbelalak kaget. Mereka tak menyangka jika skenario Leon dan Marcel akan sebejat ini!“Ja-jangan, jangan mendekat! Aku nggak mau!“ susah payah Nana melontarkan kalimatnya dalam deraan rasa ingin yang kian menjalari tubuhnya. Jantung sudah berdegup sangat kencang.“Tolong, ampun. Jangan kayak gini!“ imbuh Citra yang tak kalah memerah wajahnya terdesak hasrat.Mereka berdua baru menyadari jika es buah yang mereka minum tadi nampaknya telah dicampurkan obat afrodisiak oleh dua pria tak tahu diri tersebut.Meski mendengar teriakan itu, Leon dan Marcel masih diam tak bergerak. Hanya tangan mereka yang kini bergerak mengelus milik masing-masing yang sudah mengembang di balik celana dalam sembari menatap mesum ke arah Citra dan Nana.“Terus saja silakan menolak. Nggak lama lagi kalian bakal sepenuhnya menggelepar dan justru meminta-minta sama kami, hehe,” suara Marcel menyeruak di dalam keheningan kamar vila itu yang entah kenapa justru terdengar begitu seksi di telinga Nana
Bab 39TINN!TINN.Leon menekan klakson beberapa kali saat mobilnya mendekati sebuah vila besar yang letaknya sedikit terpisah dari kumpulan vila lainnya.Pintu pagar tinggi langsung terbuka begitu saja, memudahkan mobil mewah Leon memasuki carport vila tersebut.Di belakang sana, dua penjaga kembali menutup pintu pagar itu dengan sigap dan waspada.“Yon, kok sepi? Katanya temen-temen SMA kita bakal datang ke sini?“ perasaan Nana semakin tak enak.“Belum datang kayaknya, Na. Santai aja, nanti juga dateng sendiri. Turun yuk,” jawab Leon santai sembari membuka pintu mobilnya.Meski enggan dan ragu, Nana tetap memberanikan diri untuk turun dan mengikuti langkah Leon masuk ke dalam vila.Begitu mereka tiba di dalam sana, seorang pria lain menyambut dengan riang.“Ahhh, akhirnya si cantik Nana juga dateng. Makin seru nih pesta kita nanti,” sambut Marcel dengan senyum terkembang.Tak hanya itu, dari pintu toilet keluar sosok Citra, sahabat Nana.“Lho, Ci. Kamu sudah dateng juga rupanya?!“ s
'Bongsor! Kamu itu kenapa gede banget sih? Bikin repot aja! Udah gitu, susah muncrat pula, huhh!' geram Teja menoyor gemas miliknya sendiri yang menjulang bebas ke angkasa.Seperti memiliki pikiran, miliknya dengan gagah berani memantul-mantul, menampar tangan Teja seolah menantangnya.Tak mau menyakiti diri sendiri, Teja mengalihkan pikirannya untuk menerawang Nana.Ia dengan jelas bisa mengindrakan baby doll bunga-bunga yang tadi sudah sempat ia tebak di depan sang ayah.Perlahan perasaannya mencoba meresapi apa yang ada di balik baby doll tersebut. Dan seketika itu juga Teja terlonjak dari posisi rebahnya, membuat miliknya yang berdiri bebas tanpa celana itu ikut melompat tinggi seperti rudal balistik yang baru saja diluncurkan.'Nana nggak pakai beha sama CD?! Ada-ada aja sih tuh anak!' tangan Teja meraih ponsel di samping bantal, berniat menghubungi Nana.Namun setelah itu ia meletakkan kembali ponselnya karena tak ingin Nana menjadi penasaran sendiri atau bahkan menuduhnya meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan