تسجيل الدخولTernyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang hari ini.
Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan.
Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yang masih nampak kekar otot dada dan lengannya, mengenakan celana silat berukuran longgar.
“Tinggal lima belas menit lagi menuju jam dua belas malam, Ja. Apa kamu sudah siap?“ tanya Toni dengan tatapan tajam ke arah sang putra semata wayangnya.
Seminggu lalu, ketika Teja harus menerima warisan ini, Teja menolak dan masih merasa ragu untuk menerima warisan itu. Namun semenjak ia melihat sendiri refleks kemampuan bela diri dan energi Qi-nya kemarin, rasa ragu itu beranjak berubah menjadi rasa takjub dan ingin.
“Aku siap, Yah,” jawab Teja sembari menatap balik.
Toni sejenak tersenyum dan mengangguk senang. “Perlu ayah jelaskan disini bahwa lilitan kain warisan dari raja leluhur kita itu memiliki—”
“Tunggu, Yah! Raja?” potong Teja penasaran.
“Teja Surya, anakku. Prabu Wiyata VII, Raja Kerajaan Mayangkara itu adalah leluhur kita yang menurunkan warisan ini!“ terang Toni.
Mendengarnya, keraguan di hati Teja semakin raib. Mewarisi sesuatu dari leluhur yang ternyata seorang Raja adalah sesuatu yang membanggakan baginya.
Toni kembali melanjutkan. “Lilitan kain ini memilki khasiat yang besar, Ja. Secara instan kamu akan mewarisi ilmu bela diri, energi Qi, ilmu pijat terbaik, keberuntungan, kemampuan pengobatan, bahkan kamu akan memiliki peningkatan ketajaman pikiran sehingga bisa membaca karakter orang serta melakukan penerawangan.“
“Yang utama, membuat punyaku jadi segede gaban kan, Yah?” bisik Teja malu-malu.
Toni tertawa mendengarnya. “Kamu belum tahu filosofinya, Ja. Itu adalah perlambangan gada sang raja yang menguasai nusantara. Dengan gada terbesar se-Indonesia, kamu sebenarnya sedang mewarisi kejayaan pendahulumu!“
Teja mengangguk paham. “Selain itu, ada lagi nggak, Yah, kemampuan lainnya?“ tanyanya lagi, ingin mendapatkan informasi sedetail mungkin.
Toni mengangguk pelan. “Peningkatan energi Qi.“
“Peningkatan energi Qi? Gimana tuh maksudnya, Yah?“ Teja membeo sambil mengerutkan kening kembali.
“Di dalam riwayat silsilah leluhur kita, energi Qi dibagi dalam sepuluh tingkatan. Yang akan kau miliki ini nanti adalah yang terendah, atau dasar. Peningkatannya akan terjadi dalam setiap enam purnama atau setara enam bulan sekali,” Toni menjelaskan dengan sangat telaten.
“Hmm, lama juga ya, Yah? Jadi aku bisa sampai tingkatan kesepuluh sekitar 5 tahun lagi dong?! Sekitar usia 24 tahun nanti,” Teja sedikit protes.
“Buah yang matang itu butuh waktu dan proses, Ja! Apa menurutmu habis tumbuh tunas buah lalu tiba-tiba jadi buah yang matang?!“ tekan sang ayah merasa sedikit terkejut dengan pemikiran praktis anaknya.
Teja menggaruk keningnya. “Ya, siapa tahu ada jalur pintas,” ujarnya sambil menjulurkan lidah.
Toni tiba-tiba mengangguk. “Ada sih.“
“Serius, Yah?“ giliran Teja yang kini terperangah.
“Kamu pikir gada terbesar se-Indonesiamu itu cuma buat pajangan?“ jawab Toni sembari menyunggingkan senyum penuh makna.
“Jika kamu menggunakan benda itu ke tubuh pasien pijatmu, maka itu akan mengurangi satu purnama. Asumsinya, jika kamu melakukannya enam kali pada wanita, maka itu akan memangkas waktu enam bulan peningkatan energi Qi,” lanjut Toni menerangkan.
Mata Teja seketika melebar selebar-lebarnya. “Jadi… Bu Septa dan Nana kemarin bener-bener digituin sama ayah?!“
Toni menggeleng. “Itulah yang ayah tadi sebut sebagai proses, Ja. Ayah masih memberikan pijatan nyaman buat mereka agar mereka merasa ketagihan dan datang padamu sebagai penerus ayah!“
Tenggorokan Teja tercekat mendengarnya. Ia tak menyangka jika desahan yang terjadi di kamar ayahnya kemarin justru dipersiapkan sang ayah untuknya!
Teja akan melanjutkan pertanyaannya saat Toni tiba-tiba merentangkan tangan di depan wajahnya.
“Waktunya sudah tiba, Nak!“ bisik sang ayah lirih namun seolah menghujam isi hati Teja.
'Inilah waktunya!' batin Teja berusaha menguatkan hati untuk menerima takdir sebagai penerus master pijat turun temurun selanjutnya.
Bertepatan dengan jarum jam yang mendekati angka dua belas, aura tipis berwana coklat pekat mulai menyelimuti keduanya.
Perlahan aura kecoklatan itu memadat, kemudian seperti merasuk ke dalam pori-pori tubuh Teja Surya.
Bersamaan dengan itu, sang ayah yang berada di depan Teja terlihat mulai menyusut massa ototnya, kulitnya yang awalnya kencang mulai berubah keriput.
Dalam waktu sekitar sepuluh menit kemudian, aura itu sudah menghilang sepenuhnya.
Wajah Toni Surya yang kini berubah renta kembali menatap Teja, tetap dengan tatapan yang penuh dengan ketegasan dan kebijaksanaan.
“Sembilan puluh persen sisa warisan kemampuan sudah sepenuhnya beralih padamu, Ja. Tubuh ayah sekarang sudah kembali menjadi seperti pria seumuran ayah pada umumnya,” ucap Toni dengan suara yang terdengar bergetar khas pria lanjut usia.
Teja terpana menatap lengannya, dadanya, kakinya, bahkan gundukan di bawah lilitan kainnya.
Semuanya benar-benar berubah menjadi kekar dan berotot keras!
Tak hanya itu, tubuhnya kini terasa sangat ringan, seperti kertas. Dan setiap hembusan napasnya yang dialiri energi Qi yang melimpah itu terasa sangat hangat, lapang, lega, dan menyegarkan.
Toni tersenyum teduh. “Kau sekarang sudah jadi pria istimewa, Nak. Satu tarakan atau pantangan yang harus kamu hindari, jangan sekalipun kamu sombong dengan kemampuan ini, terlebih berbuat kejahatan. Sekali kamu melakukannya, itu setara dengan menghilangnya satu per enam dari tingkatan energi Qi mu saat ini. Enam kali melakukannya, kamu akan didegradasi ke tingkatan energi Qi di bawahnya!“
Baru saja Teja mengangguk untuk mematuhi persyaratan pantangan tersebut, namun tiba-tiba kaki kanan ayahnya terayun kencang, mengarah tepat ke miliknya yang masih tertutup lilitan kain warisan.
BUKKK!
“Ayah!“
Teja mengangguk. "Kayaknya gitu. Soalnya aku juga nggak paham sama tingkatanku sendiri," aku pemuda berambut gondrong itu polos sembari mengibaskan tangannya santai."Itu udah tinggi banget lho, Ja. Aku aja masih ada di ranah bela diri tingkat dasar tahap puncak," sahut Linda. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, terkesima sekaligus takjub mendapati betapa jauhnya jarak kemampuan fisik mereka berdua saat ini."Iya bener tinggi banget itu, Lin. Aku masih di ranah bela diri tingkat sedang tahap fondasi. Aku bahkan awalnya nggak nyangka kalau Teja bisa bela diri," timpal Panda. Wanita berparas oriental itu melangkah mendekati Linda, menatap Teja dengan sorot mata yang dipenuhi rasa hormat atas pencapaian luar biasa pemuda tersebut dalam waktu yang teramat singkat."Ya udah, ayo latihan. Gantian ya lawan aku, habis itu gabungan," kata Teja mengambil tempat di tengah pelataran tanah padat. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memasang kuda-kuda kokoh tak tergoyahkan.Linda maj
"Kalian mau naik itu aja?" tanya Teja. Pemuda itu mengayunkan kembali kunci remote mobil di jemarinya, memberi isyarat ke arah Maserati Quattroporte GTS V8 hitam yang memantulkan kilau elegan di bawah terik fajar."Wah, mau banget!" seru Linda antusias. Matanya berbinar terang, seketika melupakan rasa penasaran atas asal muasal benda super mewah tersebut.Panda juga tampak sumringah sembari mengangguk riang tanpa suara. Raut orientalnya yang biasa tenang kini memancarkan keceriaan polos, mengagumi siluet aerodinamis kendaraan super cepat yang siap membawa mereka bertiga menuju area tempaan diri di tengah rimbunnya hutan.Teja tersenyum senang menatap keriangan wajah kedua gadis itu.Dengan satu pijatan tombol pada remote control, lampu indikator mobil mewah berbalut kelir bodi hitam legam itu mengedip anggun lagi diiringi suara otomatis yang menandakan kunci pintu telah terbuka. Pemuda berambut gondrong itu langsung membuka pintu bagian kemudi, sementara Linda dan Panda bergegas ma
"Kalian berdua sangat ideal buat jadi partner latihanku. Aku butuh lawan yang kuat, dan gabungan dari kalian berdua adalah perpaduan yang pas," ujar Teja. Pemuda itu menatap Linda dan Panda secara bergantian dengan raut wajah yang kini berubah lebih lembut.Ia menyadari bahwa mengombinasikan ketangkasan silat Teratai Kembar milik Linda serta keahlian tak terduga dari Panda akan menjadi sarana pemanasan yang sempurna untuk menguji jurus-jurus barunya."Siap, Ja. Aku akan bantu," ucap Linda cepat. Gadis itu mengepalkan tangannya di depan dada dengan binar mata penuh semangat, merasa bangga karena kemampuan bertarungnya diakui dan dibutuhkan oleh Teja.Panda ikut mengangguk. "Aku juga siap buat membantumu, Ja," timpal Panda singkat. Wajah orientalnya mengulas senyum tipis yang memancarkan kesiapan penuh tanpa keraguan sedikitpun."Oke, tapi kayaknya nggak di sini juga deh. Kita butuh tempat yang sepi dan privat buat latihan," jawab Teja sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling pelata
"Tolong kamu jangan menghina ramuanku, Lin. Namanya obat ya jelas pait!" protes Panda tak nyaman. Raut wajah orientalnya yang semula selalu dihiasi senyum tenang kini berkerut kesal, merasa usaha dan niat baiknya memasak ramuan herbal sejak fajar menyingsing dilecehkan begitu saja."Tapi Teja udah jelas-jelas bilang kalau ini obat kuat. Kamu emang niat jelek sama Teja!" jawab Linda tak mau kalah. Gadis itu menunjukkan wadah termos di tangan Panda dengan mata berkilat penuh amarah, memanfaat kalimat candaan Teja tadi untuk terus menekan saingannya.Mendengar itu, Teja sudah tak bisa lagi menahan diri. Bola matanya melebar seketika."Kalian bisa diem nggak?!" suara Teja menggelegar, rahangnya mengeras. Bentakan nyaring itu membelah keheningan halaman belakang rumah barunya.Linda yang sudah paham bagaimana kemarahan Teja jika terpancing, segera mengkerut takut. Keberaniannya luruh seketika, menyisakan tubuh yang gemetar halus di bawah tatapan tajam dan penuh penekanan dari pemuda be
Kedua gadis itu mulai makan tanpa kata. Suasana di meja makan terasa kaku dan hening, hanya berhias denting halus antara sendok dan piring kaca yang saling beradu. Ketegangan di antara mereka berdua seolah memanaskan udara di dalam ruangan tersebut.Hanya Panda yang sesekali mengangguk dan tersenyum pada Toni dan Teja. Tatapan matanya yang teduh serta gesturnya yang sopan memancarkan ketenangan tiada tara, sangat berbanding terbalik dengan Linda yang terus menunduk menyantap makanannya dengan raut wajah cemberut.Begitu selesai makan, Panda segera bangkit. Jemari lentiknya bergegas meraih termos herbal dan menggeser piring kosong di depannya. "Biar aku yang bersihin mejanya, Ja," tawarnya halus sembari menyunggingkan senyuman manis ke arah Teja.Namun Linda justru mendahului berdiri!Gerakannya yang mendadak membuat kursi yang didudukinya terdorong cukup keras ke belakang. "Aku aja!" sergah Linda cepat, tak rela membiarkan Panda mengambil perhatian dan simpati dari penghuni rumah
Saat pintu terbuka, Linda terlihat berdiri di sana. Gadis itu mengenakan pakaian kasual yang rapi, memegang tas kecilnya dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Linda?! Kok pagi gini udah ke sini?" tanya Teja heran. Pemuda itu menggeser posisi berdirinya di ambang pintu, menatap kekhawatiran yang terpancar dari paras cantik sang tamu."Aku denger kamu kalah dari Suko, Ja. Aku kepikiran terus sama kamu. Makanya aku buru-buru ke sini," aku Linda jujur. Suaranya agak bergetar, menatap langsung ke dalam mata Teja tanpa berusaha menyembunyikan rasa gelisah yang menyita pikirannya sepanjang malam."Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang parah nggak lukanya?" tanya Linda khawatir sembari memeriksa sekujur tubuh pemuda berambut gondrong idolanya tersebut. Tangannya bergerak cepat memegang kedua lengan Teja, meneliti dari pundak hingga pergelangan tangan untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau terluka."Santai. Nggak kenapa-kenapa kok. Eh masuk yuk, ikut sarapan," aja
“Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha
"Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d







