Beranda / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 9. Sengaja Memperlambat

Share

9. Sengaja Memperlambat

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-06-05 18:35:02

“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban.

Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu.

“Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang teronggok di lantai, kemudian melipatnya sedemikian rupa hingga pas untuk menutupi bagian bokong Septa yang menyembul menggoda.

'Hufhhh!' ia menghela napas lega saat keindahan montok itu telah kembali tertutupi selimut.

Teja mulai menuangkan gel ke kaki Septa yang putih dan berkulit kencang. Perlahan ia kembali mengikuti warisan lilitan kain yang menuntun tangannya ke arah titik-titik syaraf pada bagian kaki tersebut.

“Hmmm, enak juga pijatan tanganmu, Jo. Lebih lembut daripada ayahmu,” ujar Septa sembari menoleh ke samping dalam posisinya yang masih telungkup.

Tangan Teja terus bergerak terampil dan sigap menyentuh berbagai titik untuk membuka simpul kaku dari syaraf kaki Septa.

“Kamu belajar sejak kapan, Ja? Kayaknya kok kamu udah mahir banget gitu,” tanya Septa sambil lalu untuk mengisi keheningan di antara mereka.

Teja sejenak tersenyum. Tentu saja ia tak mungkin mengatakan jika ilmu pijat itu adalah warisan instan leluhurnya. “Sejak balita, Bu. Ilmu pijat turun temurun,” jawab Teja akhirnya.

“Hmmm, pantesan. Soalnya titik yang kamu sentuh itu pas banget, kayak yang biasa ayahmu lakukan,” tanggap Septa sembari memejamkan mata meresapinya.

Teja memijat semakin ke atas dan kini tiba di paha belakang Septa yang sekal. Ia menambah tekanan tangannya pada area pejal tersebut.

“Ohhhh, Jaaa! Shhhh, jangan kenceng-kenceng di bagian situ,” desah Septa tiba-tiba karena Teja terlalu menekan daerah sensitifnya.

Sekilas Teja teringat desahan serupa dari Septa saat dipijat ayahnya tempo hari. Ia menjadi malu sendiri karena sudah berpikir yang bukan-bukan pada sang ayah.

“Maaf, Bu Septa. Saya kurangi sedikit sekarang tekanannya,” gerakan tangan Teja berubah melunak untuk mengurangi tekanan.

Namun, tangan Teja tiba-tiba terhenti begitu hampir mencapai bulatan bokong Septa yang aduhai.

Sebentar berpikir, ia pun melompatinya dan langsung mengarahkan tangan ke bagian pinggang Septa.

Meski sudah berusia tiga puluh tahun, pinggang Septa masih nampak ramping dan singset. Bagian tubuhnya yang lain pun sangat minim dari timbunan lemak.

“Uhhhh, shhh!“ Septa kembali menggelinjang dan mendesah kecil saat jemari Teja merayap antara pinggang dan punggung atas.

“Maaf, kalau kekencengan, Bu,” Teja menghentikan pijatannya, khawatir membuat tak nyaman.

Septa menggeleng pelan di atas bantal. “Teruskan saja, Jo. Tadi cuma agak geli.“

Teja pun melanjutkan kembali setelah mendengarnya.

Tak lama kemudian semua bagian belakang tubuh Septa termasuk bahu sudah selesai dipijat oleh Teja.

Teja mengangkat selimutnya dari tubuh Septa. “Permisi, balik badan, Bu,” pintanya sambil bersiap menurunkan selimut kembali untuk menutupi area rahasia di bagian depan tubuh Septa.

Tapi Septa justru diam tak bergerak, membuat Teja sedikit mengerutkan kening. “Ganti telentang, Bu,” ulangnya mempertegas kalimat sebelumnya.

“Kok bokongku nggak disentuh sih, Ja?“ ucap Septa akhirnya mengungkapkan keinginannya.

Teja terkesiap. Ia sempat berharap agar Septa tak mempermasalahkan tentang hal itu, tapi nyatanya justru sebaliknya. “Eh, anu, Bu… rasanya nggak sopan kalau saya nyentuh bagian itu.“

Mendengar itu, Septa menghela napas. “Ja, denger ya. Kalau sudah nyemplung jadi tukang pijat profesional, kamu harus mengesampingkan pikiran kayak gitu. Seperti halnya seorang dokter yang jelas nggak mungkin kalau harus menghindari pemeriksaan di bagian tubuh pasien,” nasihat Septa penuh kedewasaan.

“Lagipula, aku memang ada keluhan di bagian bokong karena kebanyakan duduk dalam waktu lama,” imbuhnya berusaha memberikan keyakinan pada Teja.

Teja terdiam mencerna perkataan wanita cantik berusia tiga puluh tahun tersebut.

'Hmm, Bu Septa bener. Mijat memang kudu profesional!' bisik Teja dalam hati menguatkan mentalnya.

“Baik, Bu Septa, saya pijat ya. Permisi,” tangan kekar Teja mulai menjauhkan kain selimut dari sana.

Pemandangan indah dari dua bulatan bokong Septa yang kencang kembali terhampar.

Teja menarik napas dalam-dalam, lalu menuangkan gel ke bagian tersebut.

Perlahan jemarinya mendarat sempurna di atas onggokan bokong Septa yang bersih dan halus seperti kulit bayi.

Hantaran petunjuk dari warisan lilitan kain mulai menjalar dari kepala menuju ujung jari-jari tangan Teja, membawa tangan itu meremas dan menekan titik-titik yang diperlukan.

“Ehmmm, ohhh, Jaa!“ lenguhan Septa kembali terdengar, meracuni telinga dan pikiran Teja yang sedang mati-matian mengendalikan hasratnya.

Dari bagian puncak bokong, Teja bergeser ke tepian, lalu berpindah lagi ke bagian bawah daging montok tersebut untuk mengejar setiap titik simpul syaraf.

“Ohhh, shhhh. Iya, Ja, di situ enakk!“

Desahan dan lenguhan Septa masih terus berderai yang lama kelamaan membuat telinga Teja menjadi terbiasa.

Tak lama kemudian tangan Teja berhenti melakukan pijatan di area tersebut. “Sudah, Bu Septa, sekarang silakan telentang!“ perintah Teja sembari kembali meraih kain selimut untuk menutupi dada dan area utama milik Septa yang sebentar lagi akan terpampang.

Septa mengangkat pinggulnya, sedikit menungging untuk memutar tubuh.

Napas Teja terhenti beberapa detik menyaksikan pemandangan yang begitu membius matanya.

Bulatan yang sudah cukup membukit saat tengkurap tadi, kini terlihat semakin membulat sempurna dalam posisi setengah menungging tersebut!

Entah kenapa, Teja merasa jika Septa seperti sengaja memperlambat gerakan menungging tersebut—tidak buru-buru memutar tubuh.

Sekian detik yang menyiksa jiwa raga Teja usai juga akhirnya. Septa sudah berubah dalam posisi terlentang.

Teja dengan sigap segera menutupkan kain selimut ke bagian pangkal paha dan dada Septa.

Namun gerakan Septa berikutnya membuat jantung Teja seperti akan melompat ke udara.

Tangan Septa dengan cepat menjatuhkan kain selimut itu dari sana!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   41. Menolongnya

    “Mereka sudah diamankan, Tang?“ tanya Teja ketika mobil sudah melaju cepat menuruni arega pegunungan tersebut.“Beres, Bos. Enam orang sudah dibawa anak buah kita ke markas. Siap menunggu instruksi Bos Teja selanjutnya,” jawab Bintang sembari tetap fokus mengemudi.Mobil semakin melesat cepat memasuki kota di bawah kendali Bintang yang ternyata sangat mahir mengemudi.“Tang, tolong arahkan mobil ke rumah Nana dulu. Setelah itu tolong kamu antarkan Citra pulang ya,” perintah Teja penuh ketegasan.“Baik, Bos,” jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aspal di depan mereka.Tak lama kemudian mobil sudah tiba di depan rumah Nana. Teja segera menuntun Nana masuk ke rumahnya tersebut, sedangkan Bintang kembali melajukan mobil untuk mengantar Citra pulang.“Bawa, aku langsung ke kamar, Jo. Orang tuaku nggak ada di rumah. Mereka sering banget ke luar kota,” lirih Nana bernada kecewa karena kurangnya perhatian kedua orang tuanya.Teja mendudukkan Nana di ranjang kamarnya, kemudia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   40. Membawa Pulang

    Nana dan Citra terbelalak kaget. Mereka tak menyangka jika skenario Leon dan Marcel akan sebejat ini!“Ja-jangan, jangan mendekat! Aku nggak mau!“ susah payah Nana melontarkan kalimatnya dalam deraan rasa ingin yang kian menjalari tubuhnya. Jantung sudah berdegup sangat kencang.“Tolong, ampun. Jangan kayak gini!“ imbuh Citra yang tak kalah memerah wajahnya terdesak hasrat.Mereka berdua baru menyadari jika es buah yang mereka minum tadi nampaknya telah dicampurkan obat afrodisiak oleh dua pria tak tahu diri tersebut.Meski mendengar teriakan itu, Leon dan Marcel masih diam tak bergerak. Hanya tangan mereka yang kini bergerak mengelus milik masing-masing yang sudah mengembang di balik celana dalam sembari menatap mesum ke arah Citra dan Nana.“Terus saja silakan menolak. Nggak lama lagi kalian bakal sepenuhnya menggelepar dan justru meminta-minta sama kami, hehe,” suara Marcel menyeruak di dalam keheningan kamar vila itu yang entah kenapa justru terdengar begitu seksi di telinga Nana

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   39. Pesta Gila

    Bab 39TINN!TINN.Leon menekan klakson beberapa kali saat mobilnya mendekati sebuah vila besar yang letaknya sedikit terpisah dari kumpulan vila lainnya.Pintu pagar tinggi langsung terbuka begitu saja, memudahkan mobil mewah Leon memasuki carport vila tersebut.Di belakang sana, dua penjaga kembali menutup pintu pagar itu dengan sigap dan waspada.“Yon, kok sepi? Katanya temen-temen SMA kita bakal datang ke sini?“ perasaan Nana semakin tak enak.“Belum datang kayaknya, Na. Santai aja, nanti juga dateng sendiri. Turun yuk,” jawab Leon santai sembari membuka pintu mobilnya.Meski enggan dan ragu, Nana tetap memberanikan diri untuk turun dan mengikuti langkah Leon masuk ke dalam vila.Begitu mereka tiba di dalam sana, seorang pria lain menyambut dengan riang.“Ahhh, akhirnya si cantik Nana juga dateng. Makin seru nih pesta kita nanti,” sambut Marcel dengan senyum terkembang.Tak hanya itu, dari pintu toilet keluar sosok Citra, sahabat Nana.“Lho, Ci. Kamu sudah dateng juga rupanya?!“ s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   38. Vila Luar Kota

    'Bongsor! Kamu itu kenapa gede banget sih? Bikin repot aja! Udah gitu, susah muncrat pula, huhh!' geram Teja menoyor gemas miliknya sendiri yang menjulang bebas ke angkasa.Seperti memiliki pikiran, miliknya dengan gagah berani memantul-mantul, menampar tangan Teja seolah menantangnya.Tak mau menyakiti diri sendiri, Teja mengalihkan pikirannya untuk menerawang Nana.Ia dengan jelas bisa mengindrakan baby doll bunga-bunga yang tadi sudah sempat ia tebak di depan sang ayah.Perlahan perasaannya mencoba meresapi apa yang ada di balik baby doll tersebut. Dan seketika itu juga Teja terlonjak dari posisi rebahnya, membuat miliknya yang berdiri bebas tanpa celana itu ikut melompat tinggi seperti rudal balistik yang baru saja diluncurkan.'Nana nggak pakai beha sama CD?! Ada-ada aja sih tuh anak!' tangan Teja meraih ponsel di samping bantal, berniat menghubungi Nana.Namun setelah itu ia meletakkan kembali ponselnya karena tak ingin Nana menjadi penasaran sendiri atau bahkan menuduhnya meng

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   37. Kuning Mencolok

    “Gampangnya, kita langsung praktik saja. Coba kamu baca apa karakter ayah!“ perintah Toni kemudian.Teja terdiam. Menatap wajah ayahnya dan berkonsentrasi.“Pusatkan pikiranmu pada fisik dan wajah ayah. Nanti akan muncul jawaban yang berupa kata hati. Rasakan itu dalam dadamu,” imbuh sang ayah memberikan tuntunan.Teja melakukan seperti apa yang diperintahkan ayahnya. Perlahan muncul cerminan perasaan dalam hatinya yang kemudian membentuk gambaran abstrak di dalam pikirannya.“Ehmm, weton pon. Ayah adalah tipe petarung solo dalam banyak hal mau itu pertarungan sebenarnya ataupun pertarungan hidup buat nyari nafkah. Ayah bukan orang yang suka bergerombol atau berkelompok buat berjuang,” ungkap Teja mencoba membaca gambaran abstrak di dalam pikirannya tersebut.Toni mengangguk dan tersenyum senang. “Bagus, lanjutkan!“Teja kembali memusatkan perhatian dan konsentrasinya. Lamat-lamat gambaran abstrak itu muncul lagi dan kini jauh lebih jelas daripada sebelumnya.“Ayah adalah sosok pemiki

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   36. Cenayang

    “Dua tamparan itu buat imbalan karena kamu sudah berani menyewa Bintang dan ngerusak rumahku!“ seru Teja tegas.Bibir Prapto pecah. Beberapa giginya juga copot dari akarnya. Darah mengalir semakin banyak dari bibirnya.Tamparan Teja memang tidak terlihat terlalu keras. Namun lambaran energi Qi yang menyertainya membuat tamparan itu menjadi berkali-kali lipat daya gempurnya.Kepala Prapto terkulai. Tubuhnya masih terkunci erat oleh anak buah Bintang. “Sudah, Teja, sudah… ampunnn!“ lirih Prapto kehilangan daya sokong tubuhnya karena rentetan tamparan tadi.Teja menanggapinya dengan gelengan pelan. “Apa kamu pikir aku bakal percaya gitu aja? Enggak, Pak Prapto. Kemarin, aku melepaskanmu tapi kamu justru ngasih ancaman ke aku, bahkan berani nyewa kelompoknya Bintang!“ semburnya.“Nggak, Ja. Kali ini aku jujur. Aku kapok!“ balas Prapto dengan tatapan menghiba.“Kamu kapok sama aku, tapi nanti Bu Septa kamu sakiti lagi?!“ desak Teja mengejar sikap tunduk Prapto secara menyeluruh.“Enggak, J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status