تسجيل الدخولTeja tak langsung menjawab. Sejenak ia menatap dan sedikit menekan bagian di pergelangan kaki Nana.
“Auwww, sssshh. Pelan, Jo. Sakit banget itu!“ rintih Nana meski Teja hanya menekan ringan bagian tersebut. “Habis ini aku bakal betulkan posisi uratnya, tapi ya nggak langsung seratus persen pulih gitu. Normalnya sekitar tiga hari sampai satu minggu setelah dipijat baru enakan, itupun juga nggak langsung sembuh total,” terang Teja apa adanya. Ia tak mau melebih-lebihkan dan banyak janji palsu untuk membuat orang lain terkesan. Mendengar itu, Nana tampak murung. “Aduh, gimana ya, Jo? Soalnya jadwal manggungku padat banget minggu ini. Masa mau dibatalin kontraknya?!“ “Aku selesaikan dulu pijatnya, Na. Siapa tahu kondisi jauh lebih baik setelahnya,” ucap Teja memberikan semangat. Teja kembali berkonsentrasi pada pergelangan kaki Nana yang cedera. “Uhhh, ssshh, sakittt!“ Nana sesekali meringis kesakitan setiap kali jari Teja menyentuh bagian-bagian tersebut. Diam-diam tanpa diketahui oleh Nana, Teja mulai menyalurkan energi Qi-nya dari tangannya menuju ke bagian kaki yang terkilir tersebut. Ia tidak serta merta melakukan itu untuk coba-coba saja, melainkan seperti menerima tuntunan tak kasat mata dari warisan lilitan kain miliknya. Warisan tersebut seolah menjelma menjadi pemantik motorik yang menggerakkan pijatan serta penyaluran energi Qi Teja. “Kok rasanya kulit kakiku seperti hangat ya, Jo?“ nampaknya indra di tubuh Nana memiliki tingkat kepekaan yang cukup tinggi untuk merasakannya. Namun Teja hanya mengangguk pelan, berusaha menutupi kepemilikan energi Qi di dalam tubuhnya tersebut. “Syaraf yang kembali pada posisi normal mulai menunjukkan responnya, Na. Itulah kenapa rasanya jadi hangat,” tuturnya menyembunyikan fakta yang sebenarnya. Teja dengan telaten terus memberikan pijatan dan terapi energi Qi. Hingga setengah jam kemudian ia menyudahi pijatannya. “Coba sekarang kamu turun, Na. Coba pakai jalan pelan-pelan, masih sakit nggak?! perintahnya pada sang dara cantik. Sedikit takut, Nana pelan-pelan menggeser kakinya turun dan bertumpu di lantai kamar. Perlahan pula ia mengangkat tubuhnya dan mencoba untuk berjalan. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah… “Jo, ajaib banget. Udah nggak sakit, Joo!“ pekik Nana girang sekali. Matanya berbinar penuh rasa simpatik ke arah Teja yang masih duduk di tepi ranjang. “Syukurlah, Na. Kalau begini kan kamu bisa segera manggung lagi buat nyanyi,” Teja melebarkan senyum tulusnya. Dalam hati ia juga merasa sangat lega karena efek energi Qi yang terpancar tadi ternyata membawa dampak yang sangat signifikan bagi kesembuhan kaki Nana. 'Ohhh, ternyata energi Qi ini juga punya kaitan dan sumbangsih gede buat menyokong pijatanku?!' ucap Teja membatin, mencermati kemajuan pengetahuan dan kemampuannya. “Aduhh, makasih banyak, Jo! Kalau nggak ada kamu, gimana coba ini tadi?!“ spontan Nana memeluk Teja. Posisinya yang berdiri dan Teja yang masih duduk membuat wajah Teja sepenuhnya terbenam di antara gundukan dua payudara montok Nana yang menonjol di balik kaos ketatnya. Cepat-cepat Teja mendorong pinggang ramping Nana untuk menjauh. Wajahnya seketika berubah merah padam. “Kira-kira dong, Na! Masa wajahku kamu kekep pakai dada kamu sampai aku megap-megap kehabisan napas?!“ raung Teja pura-pura protes untuk menutupi lonjakan hasratnya yang seketika melambung tinggi. Namun Nana justru tersenyum tanpa merasa bersalah. “Enak enggak, Jo? Mau lagi? Ayo sini mimik cucu lagi!“ Bisikan Nana itu justru terdengar seperti desahan di telinga Teja. Teja tercekat dan tak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Ingatannya kembali melayang pada ciuman basah bibir Nana di pipinya tadi siang. Ingatan tentang paha putih dan sekal Nana saat ia pijat tadi pagi juga ikut berdesakan menyumpal, memenuhi benaknya. “Joo, kok bengong sih? Nggak suka ya sama punya aku?“ kejar Nana demi melihat wajah Teja yang sudah berubah merah kuning hijau seperti lampu lalu lintas di perempatan. Teja mengangkat wajahnya, isi kepalanya mendadak terasa kosong tanpa tahu harus menanggapi Nana dengan kalimat apa. “Aku… aku…” Teja tergagap. Sebagai pemuda yang masih polos mengenai hal seperti itu, ditambah dengan prinsipnya yang tak ingin di cap sebagai pria mesum, terjadilah pergolakan besar di dalam dadanya. Teja seketika berdiri dari ranjang. “Aku mau pulang dulu,” ujarnya sembari hendak melangkahkan kaki untuk menghindari Nana. Namun gerakan Nana jauh lebih cepat. Gadis cantik itu langsung memeluk tubuh Teja yang kini dalam posisi berdiri di hadapannya. Tak hanya itu, Nana bahkan memperat pelukannya, membuat payudaranya yang besar dan montok menekan selaksa dada Teja yang lebar dan tegap. Dalam posisi sedekat itu, Teja jelas bisa menghirup aroma wangi parfum Nana yang berpadu dengan aroma tubuhnya yang khas dan memabukkan. Kekosongan di dalam kepala Teja semakin meluas. Logikanya seperti terkebiri paksa tatkala berada di posisi itu. “N-na, aku… aku—”Teja mengangguk. "Kayaknya gitu. Soalnya aku juga nggak paham sama tingkatanku sendiri," aku pemuda berambut gondrong itu polos sembari mengibaskan tangannya santai."Itu udah tinggi banget lho, Ja. Aku aja masih ada di ranah bela diri tingkat dasar tahap puncak," sahut Linda. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, terkesima sekaligus takjub mendapati betapa jauhnya jarak kemampuan fisik mereka berdua saat ini."Iya bener tinggi banget itu, Lin. Aku masih di ranah bela diri tingkat sedang tahap fondasi. Aku bahkan awalnya nggak nyangka kalau Teja bisa bela diri," timpal Panda. Wanita berparas oriental itu melangkah mendekati Linda, menatap Teja dengan sorot mata yang dipenuhi rasa hormat atas pencapaian luar biasa pemuda tersebut dalam waktu yang teramat singkat."Ya udah, ayo latihan. Gantian ya lawan aku, habis itu gabungan," kata Teja mengambil tempat di tengah pelataran tanah padat. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memasang kuda-kuda kokoh tak tergoyahkan.Linda maj
"Kalian mau naik itu aja?" tanya Teja. Pemuda itu mengayunkan kembali kunci remote mobil di jemarinya, memberi isyarat ke arah Maserati Quattroporte GTS V8 hitam yang memantulkan kilau elegan di bawah terik fajar."Wah, mau banget!" seru Linda antusias. Matanya berbinar terang, seketika melupakan rasa penasaran atas asal muasal benda super mewah tersebut.Panda juga tampak sumringah sembari mengangguk riang tanpa suara. Raut orientalnya yang biasa tenang kini memancarkan keceriaan polos, mengagumi siluet aerodinamis kendaraan super cepat yang siap membawa mereka bertiga menuju area tempaan diri di tengah rimbunnya hutan.Teja tersenyum senang menatap keriangan wajah kedua gadis itu.Dengan satu pijatan tombol pada remote control, lampu indikator mobil mewah berbalut kelir bodi hitam legam itu mengedip anggun lagi diiringi suara otomatis yang menandakan kunci pintu telah terbuka. Pemuda berambut gondrong itu langsung membuka pintu bagian kemudi, sementara Linda dan Panda bergegas ma
"Kalian berdua sangat ideal buat jadi partner latihanku. Aku butuh lawan yang kuat, dan gabungan dari kalian berdua adalah perpaduan yang pas," ujar Teja. Pemuda itu menatap Linda dan Panda secara bergantian dengan raut wajah yang kini berubah lebih lembut.Ia menyadari bahwa mengombinasikan ketangkasan silat Teratai Kembar milik Linda serta keahlian tak terduga dari Panda akan menjadi sarana pemanasan yang sempurna untuk menguji jurus-jurus barunya."Siap, Ja. Aku akan bantu," ucap Linda cepat. Gadis itu mengepalkan tangannya di depan dada dengan binar mata penuh semangat, merasa bangga karena kemampuan bertarungnya diakui dan dibutuhkan oleh Teja.Panda ikut mengangguk. "Aku juga siap buat membantumu, Ja," timpal Panda singkat. Wajah orientalnya mengulas senyum tipis yang memancarkan kesiapan penuh tanpa keraguan sedikitpun."Oke, tapi kayaknya nggak di sini juga deh. Kita butuh tempat yang sepi dan privat buat latihan," jawab Teja sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling pelata
"Tolong kamu jangan menghina ramuanku, Lin. Namanya obat ya jelas pait!" protes Panda tak nyaman. Raut wajah orientalnya yang semula selalu dihiasi senyum tenang kini berkerut kesal, merasa usaha dan niat baiknya memasak ramuan herbal sejak fajar menyingsing dilecehkan begitu saja."Tapi Teja udah jelas-jelas bilang kalau ini obat kuat. Kamu emang niat jelek sama Teja!" jawab Linda tak mau kalah. Gadis itu menunjukkan wadah termos di tangan Panda dengan mata berkilat penuh amarah, memanfaat kalimat candaan Teja tadi untuk terus menekan saingannya.Mendengar itu, Teja sudah tak bisa lagi menahan diri. Bola matanya melebar seketika."Kalian bisa diem nggak?!" suara Teja menggelegar, rahangnya mengeras. Bentakan nyaring itu membelah keheningan halaman belakang rumah barunya.Linda yang sudah paham bagaimana kemarahan Teja jika terpancing, segera mengkerut takut. Keberaniannya luruh seketika, menyisakan tubuh yang gemetar halus di bawah tatapan tajam dan penuh penekanan dari pemuda be
Kedua gadis itu mulai makan tanpa kata. Suasana di meja makan terasa kaku dan hening, hanya berhias denting halus antara sendok dan piring kaca yang saling beradu. Ketegangan di antara mereka berdua seolah memanaskan udara di dalam ruangan tersebut.Hanya Panda yang sesekali mengangguk dan tersenyum pada Toni dan Teja. Tatapan matanya yang teduh serta gesturnya yang sopan memancarkan ketenangan tiada tara, sangat berbanding terbalik dengan Linda yang terus menunduk menyantap makanannya dengan raut wajah cemberut.Begitu selesai makan, Panda segera bangkit. Jemari lentiknya bergegas meraih termos herbal dan menggeser piring kosong di depannya. "Biar aku yang bersihin mejanya, Ja," tawarnya halus sembari menyunggingkan senyuman manis ke arah Teja.Namun Linda justru mendahului berdiri!Gerakannya yang mendadak membuat kursi yang didudukinya terdorong cukup keras ke belakang. "Aku aja!" sergah Linda cepat, tak rela membiarkan Panda mengambil perhatian dan simpati dari penghuni rumah
Saat pintu terbuka, Linda terlihat berdiri di sana. Gadis itu mengenakan pakaian kasual yang rapi, memegang tas kecilnya dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Linda?! Kok pagi gini udah ke sini?" tanya Teja heran. Pemuda itu menggeser posisi berdirinya di ambang pintu, menatap kekhawatiran yang terpancar dari paras cantik sang tamu."Aku denger kamu kalah dari Suko, Ja. Aku kepikiran terus sama kamu. Makanya aku buru-buru ke sini," aku Linda jujur. Suaranya agak bergetar, menatap langsung ke dalam mata Teja tanpa berusaha menyembunyikan rasa gelisah yang menyita pikirannya sepanjang malam."Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang parah nggak lukanya?" tanya Linda khawatir sembari memeriksa sekujur tubuh pemuda berambut gondrong idolanya tersebut. Tangannya bergerak cepat memegang kedua lengan Teja, meneliti dari pundak hingga pergelangan tangan untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau terluka."Santai. Nggak kenapa-kenapa kok. Eh masuk yuk, ikut sarapan," aja
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







