مشاركة

5. Gundukan Besar

مؤلف: Leva Lorich
last update تاريخ النشر: 2026-06-03 18:47:31

“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“

Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan.

Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih sama kamu, Ja. Kamu lupa obrolan kita semalam? Sudah, bawa sini tas plastiknya, biar ayah saja yang masak!“ ujatnya sembari bangkit dan merebut belanjaan dari tangan Teja.

“O-oh, gitu ya?!“ Teja masih tergagap, canggung.

“Ah oh ah oh! Ayo buruan pijat aku. Keburu telat undangan nyanyiku nanti siang!“ keadaan berbalik. Justru Nana yang menarik tangan Teja menuju kamarnya sendiri.

Dalam kepanikannya, Teja sempat menatap sang ayah sekali lagi. Namun Toni justru memberikan isyarat tangan OKE untuk memberi semangat.

BLAMM!

Pintu kamar itu menutup rapat setelah Nana menariknya, menyisakan Teja dan Nana yang saling tatap di balik pintu kamar.

Sejenak Teja berdehem untuk menstabilkan kembali debaran jantungnya. “Mau pijat yang kayak gimana, Na?“ tanyanya kemudian.

“Pijat kaki aja, Jo. Pegel banget kakiku habis manggung semalam!“ jawab Nana yang langsung melangkah ke ranjang Teja dan meraih selimut yang terlipat rapi di sana.

Karena sudah terbiasa dengan cara pijat ayahnya Teja, Nana langsung membungkus perut hingga kakinya menggunakan selimut tersebut sambil perlahan melepaskan pakaiannya dari balik sana.

Seperti menerima komando penyelidikan khusus, mata Teja segera memindai helai pakaian yang terjun bebas ke lantai kamarnya.

'Rok pendeknya dicopot. Gila! Dia cuma pakaian daleman doang di balik selimutku!' Teja menyimpulkan sendiri di dalam benaknya.

Tanpa di perintah, Nana dengan santai menelungkup diri di ranjang Teja dengan tubuh masih terbungkus selimut. “Ayo, Jo, mulai yuk. Keburu siang ini!“ suara Nana kembali terdengar meski sedikit teredam bantal di wajahnya.

Darah Teja berdesir, bukan hanya karena kemolekan tubuh Nana, melainkan pada bayangan bagaimana ranjangnya yang sehari-hari ia gunakan, kini sedang ditiduri Nana, si gadis cantik teman kuliah yang juga merupakan penyanyi terkenal.

“Dih, kok malah bengong kamu, Jo?! Ayo buruan nah!“ teriakan Nana kembali menyadarkan Teja dari lamunannya.

Teja meraih botol gel pelicin yang ada di meja kamar, kemudian perlahan mendekati posisi Nana.

Dengan tangan sedikit gemetar, Teja menaikkan balutan selimut dari kaki ke arah paha Nana. “Aku mulai dari jari kaki, Na,” ucapnya sembari mulai memijat tanpa menunggu tanggapan dari teman kampusnya tersebut.

Ilmu pijat warisan yang dibawa oleh lilitan kain celana dalamnya tersebut seolah menuntun tangannya untuk menyentuh titik-titik syaraf kaki Nana dengan begitu akurat.

“Ohhhh, shhhh, Jo, gelii!“ desahan khas yang biasanya Teja dengar dari kamar ayahnya itu kini akhirnya benar-benar ia alami sendiri.

Gerakan tangan Teja semakin lincah menekan ke segala titik pemijatan.

Dari jari kaki naik ke betis. Dari betis naik ke balik lutut. Dan kini tangan Teja sudah menyibak selimut semakin ke atas dan mulai memijat paha sekal Nana.

'Astaga! Putih dan montok banget!' Teja mati-matian mengendalikan gejolak hasratnya yang kian meninggi.

Sesuatu di balik lilitan kainnya mulai menggeliat—memuai!

“Ampun, Jo, ini kegedean!' pekik Nana parau.

Teja segera tersadar!

Tadi karena terlalu asyik melamunkan keindahan paha Nana, ia sempat terlalu keras menekan bagian-bagian di sana.

“Ohh, sori, Na. Terlalu gede ya tenaga pijatanku?!“ ia seketika menghentikan pijatannya.

“Ehmmm, shhh. Pelan dikit dong, Jo! Kamu pikir aku ini gedebok pisang apa?!“ rintih Nana.

“Iya, iya, sori banget, Na!“ Teja kembali menggerakkan tangannya untuk memijat.

Tapi tiba-tiba ponsel Nana yang berada di dalam tasnya berdering.

“Jo, tolong ambilkan tasku di deket kakiku dong,” pinta Nana sambil tetap dalam posisi tengkurapnya.

Teja melakukan apa yang diminta Nana.

“Halo. Iya, Pak. Oh begitu ya? Baik, terima kasih,” Nana hanya berbicara singkat dan meletakkan ponsel di samping tubuhnya.

“Bisa dilanjut, Na?“ tanya Teja.

Bukannya menyahut, Nana justru bangkit dan duduk di tepi ranjang.

“Eh, Na. Belum selesai pijatnya!“ ujar Teja mengingatkan.

“Gampang itu, Jo. Nanti aja lagi. Yang lebih penting, aku mau minta tolong sama kamu ini…” jawab Nana dengan wajah yang sekarang jauh lebih serius bercampur panik.

Teja menegangkan punggung kembali. “Ada masalah apa, Na?“

Kini posisi Nana duduk dengan kaki menggantung di hadapan Teja yang berdiri tegak. Ia sedikit melirik ke arah atas. “Yang telepon tadi itu pengawalku, Jo. Dia yang biasa ngawal aku tiap tampil nyanyi.“

“Nah tadi pas di telepon itu dia minta izin nggak bisa ngawal siang ini karena anaknya masuk rumah sakit. Kamu bisa nggak nemenin aku nyanyi siang ini? Nanti aku kasih dobel deh biaya pijatnya,“ lanjut Nana sembari memperbaiki posisi duduknya di bibir ranjang.

Teja sejenak berpikir.

“Boleh deh, Na. Kebetulan kan ini hari libur kuliah. Lagipula aku juga bete banget kalau di rumah mulu hari libur gini,” ia akhirnya mengangguk.

Mendengar itu, wajah Nana berubah gembira.

Saking senangnya, ia refleks memeluk tubuh Teja yang berdiri di hadapannya. “Makasih, Jooo!“

Karena posisi Teja yang masih berdiri, otomatis wajah Nana menempel ketat di bagian depan celana Teja, membentur sebuah benda yang terasa sangat keras dan super besar.

Seketika Nana tersentak.

Matanya membulat sempurna menatap gundukan besar yang menempel di pipinya itu.

“Ya ampun, Jo! Segede ini?!“

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   41. Menolongnya

    “Mereka sudah diamankan, Tang?“ tanya Teja ketika mobil sudah melaju cepat menuruni arega pegunungan tersebut.“Beres, Bos. Enam orang sudah dibawa anak buah kita ke markas. Siap menunggu instruksi Bos Teja selanjutnya,” jawab Bintang sembari tetap fokus mengemudi.Mobil semakin melesat cepat memasuki kota di bawah kendali Bintang yang ternyata sangat mahir mengemudi.“Tang, tolong arahkan mobil ke rumah Nana dulu. Setelah itu tolong kamu antarkan Citra pulang ya,” perintah Teja penuh ketegasan.“Baik, Bos,” jawab Bintang tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan aspal di depan mereka.Tak lama kemudian mobil sudah tiba di depan rumah Nana. Teja segera menuntun Nana masuk ke rumahnya tersebut, sedangkan Bintang kembali melajukan mobil untuk mengantar Citra pulang.“Bawa, aku langsung ke kamar, Jo. Orang tuaku nggak ada di rumah. Mereka sering banget ke luar kota,” lirih Nana bernada kecewa karena kurangnya perhatian kedua orang tuanya.Teja mendudukkan Nana di ranjang kamarnya, kemudia

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   40. Membawa Pulang

    Nana dan Citra terbelalak kaget. Mereka tak menyangka jika skenario Leon dan Marcel akan sebejat ini!“Ja-jangan, jangan mendekat! Aku nggak mau!“ susah payah Nana melontarkan kalimatnya dalam deraan rasa ingin yang kian menjalari tubuhnya. Jantung sudah berdegup sangat kencang.“Tolong, ampun. Jangan kayak gini!“ imbuh Citra yang tak kalah memerah wajahnya terdesak hasrat.Mereka berdua baru menyadari jika es buah yang mereka minum tadi nampaknya telah dicampurkan obat afrodisiak oleh dua pria tak tahu diri tersebut.Meski mendengar teriakan itu, Leon dan Marcel masih diam tak bergerak. Hanya tangan mereka yang kini bergerak mengelus milik masing-masing yang sudah mengembang di balik celana dalam sembari menatap mesum ke arah Citra dan Nana.“Terus saja silakan menolak. Nggak lama lagi kalian bakal sepenuhnya menggelepar dan justru meminta-minta sama kami, hehe,” suara Marcel menyeruak di dalam keheningan kamar vila itu yang entah kenapa justru terdengar begitu seksi di telinga Nana

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   39. Pesta Gila

    Bab 39TINN!TINN.Leon menekan klakson beberapa kali saat mobilnya mendekati sebuah vila besar yang letaknya sedikit terpisah dari kumpulan vila lainnya.Pintu pagar tinggi langsung terbuka begitu saja, memudahkan mobil mewah Leon memasuki carport vila tersebut.Di belakang sana, dua penjaga kembali menutup pintu pagar itu dengan sigap dan waspada.“Yon, kok sepi? Katanya temen-temen SMA kita bakal datang ke sini?“ perasaan Nana semakin tak enak.“Belum datang kayaknya, Na. Santai aja, nanti juga dateng sendiri. Turun yuk,” jawab Leon santai sembari membuka pintu mobilnya.Meski enggan dan ragu, Nana tetap memberanikan diri untuk turun dan mengikuti langkah Leon masuk ke dalam vila.Begitu mereka tiba di dalam sana, seorang pria lain menyambut dengan riang.“Ahhh, akhirnya si cantik Nana juga dateng. Makin seru nih pesta kita nanti,” sambut Marcel dengan senyum terkembang.Tak hanya itu, dari pintu toilet keluar sosok Citra, sahabat Nana.“Lho, Ci. Kamu sudah dateng juga rupanya?!“ s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   38. Vila Luar Kota

    'Bongsor! Kamu itu kenapa gede banget sih? Bikin repot aja! Udah gitu, susah muncrat pula, huhh!' geram Teja menoyor gemas miliknya sendiri yang menjulang bebas ke angkasa.Seperti memiliki pikiran, miliknya dengan gagah berani memantul-mantul, menampar tangan Teja seolah menantangnya.Tak mau menyakiti diri sendiri, Teja mengalihkan pikirannya untuk menerawang Nana.Ia dengan jelas bisa mengindrakan baby doll bunga-bunga yang tadi sudah sempat ia tebak di depan sang ayah.Perlahan perasaannya mencoba meresapi apa yang ada di balik baby doll tersebut. Dan seketika itu juga Teja terlonjak dari posisi rebahnya, membuat miliknya yang berdiri bebas tanpa celana itu ikut melompat tinggi seperti rudal balistik yang baru saja diluncurkan.'Nana nggak pakai beha sama CD?! Ada-ada aja sih tuh anak!' tangan Teja meraih ponsel di samping bantal, berniat menghubungi Nana.Namun setelah itu ia meletakkan kembali ponselnya karena tak ingin Nana menjadi penasaran sendiri atau bahkan menuduhnya meng

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   37. Kuning Mencolok

    “Gampangnya, kita langsung praktik saja. Coba kamu baca apa karakter ayah!“ perintah Toni kemudian.Teja terdiam. Menatap wajah ayahnya dan berkonsentrasi.“Pusatkan pikiranmu pada fisik dan wajah ayah. Nanti akan muncul jawaban yang berupa kata hati. Rasakan itu dalam dadamu,” imbuh sang ayah memberikan tuntunan.Teja melakukan seperti apa yang diperintahkan ayahnya. Perlahan muncul cerminan perasaan dalam hatinya yang kemudian membentuk gambaran abstrak di dalam pikirannya.“Ehmm, weton pon. Ayah adalah tipe petarung solo dalam banyak hal mau itu pertarungan sebenarnya ataupun pertarungan hidup buat nyari nafkah. Ayah bukan orang yang suka bergerombol atau berkelompok buat berjuang,” ungkap Teja mencoba membaca gambaran abstrak di dalam pikirannya tersebut.Toni mengangguk dan tersenyum senang. “Bagus, lanjutkan!“Teja kembali memusatkan perhatian dan konsentrasinya. Lamat-lamat gambaran abstrak itu muncul lagi dan kini jauh lebih jelas daripada sebelumnya.“Ayah adalah sosok pemiki

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   36. Cenayang

    “Dua tamparan itu buat imbalan karena kamu sudah berani menyewa Bintang dan ngerusak rumahku!“ seru Teja tegas.Bibir Prapto pecah. Beberapa giginya juga copot dari akarnya. Darah mengalir semakin banyak dari bibirnya.Tamparan Teja memang tidak terlihat terlalu keras. Namun lambaran energi Qi yang menyertainya membuat tamparan itu menjadi berkali-kali lipat daya gempurnya.Kepala Prapto terkulai. Tubuhnya masih terkunci erat oleh anak buah Bintang. “Sudah, Teja, sudah… ampunnn!“ lirih Prapto kehilangan daya sokong tubuhnya karena rentetan tamparan tadi.Teja menanggapinya dengan gelengan pelan. “Apa kamu pikir aku bakal percaya gitu aja? Enggak, Pak Prapto. Kemarin, aku melepaskanmu tapi kamu justru ngasih ancaman ke aku, bahkan berani nyewa kelompoknya Bintang!“ semburnya.“Nggak, Ja. Kali ini aku jujur. Aku kapok!“ balas Prapto dengan tatapan menghiba.“Kamu kapok sama aku, tapi nanti Bu Septa kamu sakiti lagi?!“ desak Teja mengejar sikap tunduk Prapto secara menyeluruh.“Enggak, J

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status