MasukSelalu saja membuat masalah dan membuat orang lain kerepotan. Nabil namanya. Dia adalah berandalan sekolah yang selalu membuat onar dan membuat orang lain kesusahan. Namun, tak disangka hidupnya berubah, ketika kekuatan yang dia sebut kutukan itu rupanya memiliki tujuan lain. Nabil tidak pernah percaya dengan hal-hal supranatural, sampai akhirnya dia terlibat sendiri, dan menjadi salah satu manusia yang bertanggung jawab untuk membasmi para iblis!
Lihat lebih banyak"I-Itu Nabil" ucapan dari salah seorang siswa yang berada di kantin sekolah yang sedang mengantri, namun karena kedatangan seorang siswa bernama Nabil itu, antrian itu pun menjadi buyar, tidak ada yang berani mencegat langkahnya.
Mereka semua menoleh ke arah siswa bernama Nabil yang berjalan ke arah tempat memesan makanan, tidak ada yang berani memprotes saat dia menyerobot antrian. ______ Nabil memesan makanan yang dia inginkan, setelah pesanannya jadi dia langsung membayarnya dan pergi dari sana. Nabil menuju ke atap sekolah, tempat favoritnya untuk menyendiri setelah menghabiskan makanannya. Dia berbaring di atas sebuah bangku yang ada di sana sambil memandang langit yang cerah. Dia berharap tidak ada orang yang datang mengganggu ketenangannya itu, namun ternyata harapannya buyar saat seseorang berdiri di dekatnya. "Menikmati hari indahmu ya, Nabil?" ucap seorang perempuan berambut hitam di ikat ponytail. "Cihh, mengganggu saja" Nabil hanya mendecih kesal karena ketenangannya di ganggu. "Kau tau Nabil, ini sudah ke 3 kalinya aku mendapatimu bolos pelajaran, jadi kau sudah tau konsekuensinya kan?" Sona berjalan pelan mendekati Nabil yang sedang berbaring sambil memejamkan mata seolah tidak perduli dengan kedatangan Sona, namun tiba - tiba.... Braaumm !! Braaumm !! Sona terkejut dengan suara raungan sepeda motor itu, dia menuju ke sisi atap dan melihat 4 orang dengan 2 motor menggeber - geberkan motornya di depan gerbang. "Woyyy Nabiiill, keluar kau!" teriak salah seorang dari mereka. Sayup - sayup Sona mendengar nama Nabil di teriakkan, dia kemudian melihat ke arah Nabil yang hanya diam, namun kali ini dengan posisi duduk. "Ini tidak bisa di biarkan" Sona berniat turun ke bawah untuk mengatasi masalah itu, namun sebuah tangan memegang pergelangan tangannya yang membuat Sona berhenti dan menatap ke belakang, ke arah Nabil yang menghentikannya. "Mau kemana kau cebol?" sebuah perempatan langsung muncul di dahi Sona saat dia mendengar Nabil memanggilnya dengan julukan yang menurutnya sangat menyebalkan. "Siapa yg kau bilang cebol hah?" teriak Sona dengan sangat kesal. "Ku bilang kau mau kemana?" untuk kesekian kalinya Nabil bertanya, dan Sona sangat kesal mendengarnya. "Kau buta ya, ya ke bawah lah menyelesaikan masalah yang kau buat" jawab Sona. "Urusi saja urusanmu, mereka adalah urusanku, jadi kau tidak perlu ikut campur" Setelah mengatakan itu, Nabil langsung naik ke atas pagar pembatas rooftop itu. "Mau apa kau?" tanya Sona. " Bersenang-senang" Setelah mengatakan itu, Nabil langsung melompat turun yang tentu saja membuat Sona membelalakkan matanya terkejut. "Ckk... dia itu..." Sona langsung berlari turun untuk melihat hal gila apalagi yang akan di lakukan oleh Nabil. ________ Nabil berjalan santai ke arah pintu gerbang sekolah itu, dia meminta satpam untuk tidak ikut campur dan langsung mengunci gerbang itu agar tidak ada yang masuk. Seluruh anggota geng tadi tersenyum karena orang yang mereka cari - cari kini ada di hadapan mereka. "Akhirnya kau muncul juga, Nabil." pernyataan itu muncul dari mulut salah seorang di sana. "Jadi, apa yang kalian inginkan?" tanya Nabil dengan santai dan terkesan bosan. "Apa yang kami inginkan katamu? tentu saja kami menginginkan kepalamu." ujar pria itu yang merupakan ketua dari 4 orang itu. Pria itu langsung menerjang Nabil. Nabil langsung menunduk saat orang itu menyabetkan tongkat baseball itu ke arah kepalanya. "Oi Oi jangan cuma menghindar dong, aku jadi tidak bisa mengenaimu nih." ujar pria itu dengan nada mengejek. Sementara Nabil tidak perduli dengan perkataan pria itu, dia terus menghindar sampai beberapa serangan tidak bisa mengenainya yang akhirnya membuatnya bosan. Karena sudah merasa bosan, Nabil pun berniat untuk menyelesaikan pertarungan itu dengan cepat, dia kembali menghindari ayunan tongkat baseball itu ke samping dan langsung melayangkan kakinya dan dengan cepat dia hantamkan ke wajah pria itu. Dan siapa sangka, tendangan keras itu membuat gigi pria itu berhamburan, sekitar 8 gigi berjatuhan karena tendangan Nabil barusan. 2 anggota pria itu langsung menyerang dengan melemparkan rantai yang sudah di modifikasi dengan ujung yang tajam, Nabil berhasil menghindarinya, namun ternyata sekali hentakan dari rantai itu merubah jalurnya hingga menggores pipinya. Crashh !! Dari belakangnya, Nabil tidak menyadari sebuah pisau lipat yang sudah di lempar ke arahnya, pisau itu pun menancap di bahu kanannya yang membuat baju putih Nabil berlumuran darah. Nabil menatap luka di bahunya itu, pandangannya datar dan tanpa ekspresi sama sekali, tidak ada rintihan kesakitan atau ekspresi berlebihan lainnya. Semua siswa dan siswi SMA 45 yang melihat kejadian itu merasa prihatin pada Nabil, walaupun mereka membenci laki - laki itu, tapi tetap saja mereka akan sedih bila melihat teman mereka terluka. Sementara itu, pria tadi kembali melemparkan rantainya ke arah Nabil, Nabil yang melihat itu menyeringai dan tanpa di duga dia langsung menangkap rantai itu dengan tangannya, Nabil langsung menariknya sehingga pria itu tertarik ke arah Nabil dan.... Bammm !! Nabil berhasil memberikan bogem mentah tepat di wajah pria itu. Sementara pria yang melempar pisau dari belakang tadi berdiri dengan kaki gemetar, dia tidak menyangka musuhnya akan sekuat ini, apalagi saat ini dia tidak memegang senjata apapun. Saat Nabil hendak menyerang pria itu, tiba - tiba sebuah motor menerjangnya dari belakang, beruntung dia masih sempat berguling ke samping untuk meghindar, kalau tidak bisa di pastikan dia akan menjadi lumpia gepeng. "Menyerang dari belakang, sepertinya itu ciri khas kalian ya." ejek Nabil. Pengendara motor itu berbalik kembali dan dengan cepat menuju ke arah Nabil, Nabil yang melihat itu hanya tersenyum dan langsung berlari menerjang, tepat saat jarak mereka 1 meter lagi, Nabil langsung melompat dan menghantam pengendara motor itu dengan dengkulnya. Jduaakk !! Bruukkk !! Motor pria itu menghantam pohon yang berada di pinggir jalan, sementara pria itu tertahan tepat di hadapan Nabil dengan mulut yang mengeluarkan darah. Tersisa 1 orang lagi yang hanya berdiam menganga melihat teman - temannya di kalahkan, Nabil mencabut pisau yang ada di bahu kanannya kemudian melemparkannya ke arah orang itu. Syuuttt !! Jleebb !! Pemuda itu terkejut dan mengira kalau pisau itu akan mengenainya, namun ternyata Nabil melemparnya ke tanah, tepat di hadapan pria itu. "Aku akan memberimu pilihan, pergi dan bawa teman-temanmu, atau aku akan menghabisimu seperti teman-temanmu." Karena masih sayang nyawa, pemuda itu langsung pergi sambil membawa ke 3 temannya yang sudah pingsan. Nabil yang melihat itu hanya menghela nafas pelan, dia kemudian berbalik untuk pergi namun.... Seseorang sudah berdiri tepat di hadapannya, dan tentu saja itu membuatnya terkejut. "Kauu." "Bisa kau jelaskan ini, Nabil?"Nabil hanya bisa terbengong saat merasakan sensasi kenyal dan basah dari bibir Lilith di pipinya. Dia tidak menyangka jika Lilith akan melakukan itu, dan yang lebih parah lagi di tempat ramai seperti ini. Dengan cepat dia menarik wajahnya dan melihat orang-orang di sekitarnya yang menatap mereka dengan senyum serta beberapa tepuk tangan. "U-untuk apa itu?" tanya Nabil dengan gagap serta wajah yang merah padam. Berbeda dengan Lilith yang tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. "Apa maksudmu? Hal itu biasa di sini sebagai salam perpisahan." jawab Lilith dengan tenang. "Aku bersyukur tidak lahir di tempat ini." tukas Nabil pelan. Dia tidak dapat membayangkan jika tradisi seperti ini ada di negaranya. "Nanti aku akan mampir ke tempatmu, jadi tunggu aku ya." teriak Lilith pada Nabil yang sudah mulai berjalan jauh. "Tidak, kau tidak boleh mampir ke tempatku apapun yang terjadi." balas Nabil dengan berteriak juga dan di tambah dengan lidah terjulur mengejek Lilith. *
Mendengar kata murid mata Lilith langsung berkilat tajam penuh dengan rasa penasaran. "Murid? Jadi anda yang mengajarkan Nabil teknik menembak itu?" tanya Lilith dengan antusias. Kening Azazel mengkerut mendengar pertanyaan Lilith. "Menembak? Apa maksudmu?" Azazel masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di maksud oleh gadis pirang di depannya. "Jadi bukan anda yang mengajarkan Nabil menembak tiga buah peluru sekali ayun dan semuanya tepat sasaran, kalau bukan anda berarti siapa?" Azazel menggaruk kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal sama sekali. "Bahkan jika kau bilang begitu, aku tetap tidak mengerti apa yang kau maksud. Ah begini saja kita pergi ke ruanganku dulu, lalu kalian jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Mereka bertiga pergi ke ruangan yang merupakan tempat kerja dari Azazel. Di sana Nabil berniat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tempo hari serta masalah yang sedang dia hadapi. * * * Azazel mengangguk-angguk pertanda paham d
Nabil keluar dari apotek dengan sebuah kantung plastik berwarna putih yang berisi beberapa botol obat, juga kapsul-kapsul yang cukup banyak jumlahnya. Lilith yang melihat itu menaikkan alis bingung. "Sebenarnya aku ingin menanyakan ini sejak awal tapi kau sebenarnya sakit apa sih?" "Hanya sakit kepala biasa, tidak lebih." bohong Nabil. "Oh..." Entah itu bohong atau tidak Lilith tidak punya hak sama sekali untuk protes, karena dia bukan siapa-siapa pemuda di depannya itu. Dia hanyalah orang asing yang kebetulan kenal di pesawat. Namun dia merasa sakit saat menyadari kenyataan itu. Namun, dia ingin lebih dari sekedar itu, lebih dari sekedar kenalan, teman atau bahkan sahabat. Karena dia sadar jika dia menyukai pemuda itu. Dia tidak melihat pemuda itu dari perawakan maupun penampilannya, melainkan dari sisi yang bahkan Lilith sendiri sulit untuk menjelaskannya. Dia melihat Nabil itu seperti Jack InThe Box yang kadang kala mengeluarkan wujud yang baik dan kadang kala menunjukkan
Namun kali ini, dia meleset dalam jarak tembak yang kurang dari 10 meter. Dan yang lebih parahnya lagi lawannya itu tidak berpindah 1 langkahpun dari tempatnya berdiri. Senyum mengejek Nabil kian lama kian melebar, seolah ingin menambah rasa kesal dari Lilith. "Ehh.. meleset? Kurasa kau harus pergi ke dokter mata dulu untuk memeriksakan keadaan matamu, kurasa kau sudah mulai rabun dekat." ujar Nabil dengan menekankan pada kata 'dekat' dalam kalimatnya. Lilith mengedarkan pandangannya ke segela arah guna melihat apa yang mungkin membuatnya meleset, pasalnya meleset adalah hal yang paling mustahil dalam hidupnya. Dan dia melihat sebutir peluru BB yang berada tepat di samping kakinya. Dia yakin jika pelurunya tadi melesat ke arah Nabil dan melewatinya, lalu peluru siapa ini? Apa mungkin.... Senyum Nabil makin lebar hingga membuat bibirnya berkedut saat melihat Lilith yang menoleh kearahnya dengan sangat cepat dan menatapnya dengan pandangan yang tidak percaya. "Kau...." "Sepert






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.