MasukNana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja.
Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab Teja ikut berbisik. “Kamu bakal nyesel karena sudah berani ikut campur urusan kami!“ teriak pria gondrong sembari bergerak cepat menerjang ke arah Teja. Teja menyambutnya dengan satu tangan yang bergerak lincah menangkis pukulan tersebut. TAP! Kaki kanannya bergerak maju satu langkah sembari mengirimkan telapak tangannya yang terkembang. BLAMM! Meski terlihat ringan dan tanpa tenaga, telapak tangan Teja membentur dada pria gondrong dengan sangat kuat. Pria itu bahkan sampai terpelanting ke tanah! Darah mengalir di sela bibir pria itu. “Ughh! Kurang ajar!“ raung pria gondrong kesakitan. Pria lain yang bertubuh gempal segera datang membantu. Ia merangsek ke arah Teja dengan cepat sambil mengirimkan beberapa tendangan sekaligus. Tendangan kakinya memburu posisi Teja yang masih berdiri santai. TAPP. TAP! Beberapa tangkisan diberikan oleh Teja sehingga tak ada satupun tendangan pria itu yang mengenai sasaran. Tanpa menunda, balasan dari Teja menyusul. Ia melakukan gerakan siku yang sangat kuat ke arah bawah dan membentur lutut pria tersebut yang masih terayun. KLAKK! Tempurung lutut kanan pria gempal itu berubah menjadi tak wajar—bergeser ke arah samping kakinya! “Arrrggghhh!“ pria itu meraung sangat kesakitan sambil berguling-guling di tanah karena kehilangan kekuatan tumpuan kakinya. Semua terkesiap, pun juga dengan Nana yang berubah melongo bercampur kagum menatap kehebatan Teja. Tiga pria tersisa tak berani lagi mengambil tindahan sembrono. Mereka segera berlari menolong dua pria yang ada di tanah. “Ka-kamu mengusai ilmu bela diri?! Si-siapa kamu sebenarnya?“ pria gondrong gemetar menatap Teja. Wajahnya yang tadi sangat angkuh kini berubah pias. Teja hanya tersenyum singkat. “Ck. Kan sudah aku bilang tadi, jaga sikap kaliann!“ cebiknya. Pria gempal berusaha bangkit dengan dipapah dua orang lainnya. “Siapa namamu? Jangan pikir masalah bakal berhenti sampai di sini!“ “Namaku Teja Surya. Silakan kalau masih nggak terima, aku tunggu,” ucap Teja dingin sembari menggamit pinggang ramping Nana untuk beranjak memasuki mobil. Mobil mewah Nana kemudian meluncur pergi diikuti tatapan penuh dendam dari mereka berlima. — Mobil Nana melesat cepat kembali ke kota asal mereka, lalu berhenti tepat di depan halaman rumah Teja. “Jo, makasih ya buat yang tadi. Aku nggak nyangka kalau kamu sehebat itu,” ucap Nana tulus. Tatapan matanya menyiratkan rasa kagum yang luar biasa. “Kan memang tugasku tadi jagain kamu, Na. Ya sudah, aku turun dulu. Jangan lupa transfer ongkos pijat dua kali lipat sesuai janjimu,” Teja beranjak akan membuka pintu mobil. Namun, lengan kekar Teja segera ditahan oleh Nana. “Tunggu sebentar, Jo!“ Teja kembali menatap wajah cantik Nana. “Ada apa lagi, Na. Aku capek, gerah, mau mandi.“ Tiba-tiba Nana memajukan tubuhnya, sangat dekat, hingga balon udara besar di dadanya menyentuh erat lengan Teja. “Sekali lagi makasih ya, Jo.“ CUPP! Satu kecupan hangat Nana mendarat tepat di pipi kanan Teja. Seketika Teja membeku! Seumur-umur, ia belum pernah dicium oleh wanita, bahkan oleh mendiang ibunya sendiri yang meninggal saat melahirkannya. Jantung Teja berdetak kuat, bergemuruh! Perlahan tangan Teja bergerak meraba pipinya sendiri yang menyisakan sedikit sensasi basah dari perpaduan saliva dan lipstik Nana. Dengan sangat gugup dan canggung Teja langsung meraih handel pintu mobil. “Aku turun.“ Teja bergegas keluar dan berlari kecil meninggalkan mobil Nana. Nana tersenyum lembut menatap tingkah pemuda polos tersebut sebelum kemudian menginjak pedal gas untuk melanjutkan perjalanan. — Malam harinya, Teja berniat memejamkan mata meski waktu baru menginjak pukul delapan malam. Ia butuh mengistirahatkan pikiran sejenak setelah menghadapi beberapa pria pengganggu Nana tadi. Bukan karena Teja lelah, tapi mood-nya menurun drastis setelah kejadian itu. Namun, mendadak ponselnya berdering menampilkan nama Nana di layar. Teja segera menggeser tombol hijau di layar ponsel tersebut. “Halo, Na, ada apa?“ ucapnya begitu sambungan telepon terhubung. “Jo, tolonggg!“ terdengar suara tangisan Nana di seberang sana. Teja tersentak dan segera bangkit dari posisi rebahnya. “Kamu kenapa, Na? Kok nangis gitu?“ tanyanya cukup panik. “Kakiku... kakiku, Jo, terkilir. Tadi pas habis mandi kepeleset di kamar mandi. Aduhhh, sakitt banget, Joo!“ rengek Nana bercampur suara tangisan. Teja langsung turun dan berdiri di sisi ranjang. “Kamu dimana ini? Biar aku pijat kakimu.“ “Di rumah, Jo. Aku sendirian di rumah. Papa sama Mama lagi ke luar kota sampai besok,” jawab Nana sembari masih meringis kesakitan dan terisak.Laju kendaraan mewah berwarna hitam pekat itu meluncur mulus membelah kepadatan lalu lintas sore, melintasi jajaran gedung tinggi sebelum akhirnya memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal sang pengusaha terpandang.Tak lama kemudian tibalah Teja di sana. Ia memarkirkan Maserati hitamnya dengan rapi di area pelataran parkir yang luas, lalu melangkah tenang menuju daun pintu utama kediaman yang megah tersebut.Bob menyambut Teja dengan senang. Pria paruh baya yang selalu berpenampilan sederhana itu langsung merangkul pundak Teja dengan kehangatan seorang bapak. "Kamu itu ke mana aja? Ayah kira kamu udah lupa sama ayah!" seru Bob terkekeh renyah."Lagi latihan intensif, Yah," sahut Teja menyunggingkan senyum tipisnya yang sopan."Latihan? Latihan apa, Ja?" tanya Bob heran. Dahinya berkerut tipis, penasaran akan kesibukan fisik yang sanggup menyita waktu sang pemuda penyembuh penyakitnya."Bela diri, Yah," jawab Teja jujur dan lugas."Kamu bisa bela diri, Ja?" tanya Susan yang tiba
Pemuda itu mengabaikan tatapan kagum Panda, berfokus pada kesiapan susunan formasi tim yang tengah mereka susun untuk ajang nasional mendatang."Setuju banget, Ja," jawab Linda tanpa ragu sedikitpun. Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis, meyakini bahwa kemampuan bertarung Panda yang lincah dan berdaya ledak tinggi memang menjadi pelengkap sempurna bagi skuat utama mereka.Teja menatap Panda lagi. Tatapannya teduh namun menuntut kepastian dari calon anggotanya tersebut. "Kalau kamu, minat nggak nih, Nda?"Panda tak langsung menanggapi. Ia tampak berpikir keras. Keraguan melintas sejenak di raut wajah cantiknya tatkala membayangkan skala kompetisi tingkat nasional yang begitu besar dan dipenuhi petarung-petarung tangguh dari berbagai pelosok negeri. Jemari tangannya meremas pelan botol air mineral di pangkuannya, mempertimbangkan secara matang segala konsekuensi serta kemampuan dirinya sendiri sebelum memberikan jawaban pasti."Tapi aku kan bukan anggota perguruan bela diri mana p
Milik Teja beranjak membesar kembali!Perubahan bentuk itu terjadi secara instan di bawah kendali penuh hawa murninya. Lingkar diameter serta panjang bagian vitalnya terus merenggang dan membesar, melampaui batas ukuran standar sebelumnya dan berkembang pesat secara signifikan di depan mata kepala Teja sendiri.Ukuran yang sebelumnya SNI kini sudah bertransformasi ke bentuk terbesar se-Indonesianya. Batang pejal yang kokoh dan tegang sempurna itu kini telah kembali pada wujudnya yang asli.Bentuk milik Teja terlihat panjang, tebal, dan memancarkan wibawa kekuatan yang luar biasa. Pengaruh efek hukuman lilitan kain leluhur yang sempat menyusutkan ukurannya berhasil diluruhkan sepenuhnya oleh kombinasi pijat saraf master dan manipulasi energi Qi tingkat tinggi milik sang master pijat muda.Teja tertawa riang. 'Berhasil!' soraknya penuh kemenangan sembari menatap puas pada hasil pemulihan mandirinya yang kini telah kembali sempurna seperti sedia kala.—Hari-hari berikutnya, Teja teru
"Aku berlebihan ya, Ja?" tanya Linda lirih. Matanya bergerak sayu menatap Teja, penuh penyesalan atas riak cemburu yang sempat ia utarakan.Belum sempat Teja menjawab, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Suara ketukan teratur itu memecah suasana atmosfer intim yang menyelimuti area dalam ruangan.Teja segera turun dari ranjang dan membukanya. Daun pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, memperlihatkan sosok Toni yang berdiri santai di balik ambang pintu. "Lho, Ayah sudah pulang?" tanya Teja terkejut melihat kepulangan sang ayah yang lebih cepat dari perkiraannya."Iya, Ja. Sungkan dong sama teman ayah kalau bertamu kelamaan. Eh iya, kamu sama Linda ya di dalem?" jawab Toni sembari mengintip ke dalam kamar, menyadari kehadiran aroma parfum yang khas dari tubuh Linda."Iya, Yah. Linda tadi ngeluh capek, jadi aku pijat dia," terang Teja santai tanpa menunjukkan gestur canggung sedikitpun.Linda yang berada di dalam segera merapikan posisi duduknya di tepi ranjang lalu melangkah
"Ampun, Ja, aku nggak sanggup lagi, lemes banget," keluh Linda menolak tawaran Teja. Suaranya terdengar lirih dan serak usai diterjang gelombang orgasme beruntun yang menguras seluruh pasokan tenaga di dalam tubuhnya.Namun sesaat kemudian Linda menatap Teja lagi. Matanya menatap pemuda berambut gondrong itu dengan rasa bersalah yang terlihat jelas. "Eh, tapi kan kamu belum orgasme, Ja?! Aduhh, ya udah sini aku bantuin pakai tangan dan mulut," ujarnya berusaha menebus rasa bersalahnya.Linda memaksakan tubuhnya untuk bangkit di ranjang, namun tangan Teja menahannya. Usapan lembut jemari Teja pada bahu mulus sang gadis menahan pergerakan tersebut."Nggak usah, Sayang. Kamu kocok sampai tanganmu kram juga nggak bakal bisa muncrat," tolak Teja jujur sembari menyunggingkan senyuman hangat. Pemuda itu juga belum bisa menemukan jawaban dari hambatan orgasme yang terjadi pada dirinya sejak awal mengenakan lilitan kain leluhurnya.Lambat laun hidup tanpa orgasme, Teja pun mulai terbiasa,
Teja terus menusuk dan menambah tempo kecepatan dorongannya. Ayunan pinggul pemuda berambut gondrong itu bergerak kian liar dan bertenaga, meluncurkan dorongan demi dorongan yang kuat dan bertenaga ke dalam liang kewanitaan Linda yang begitu sempit dan rapat.Meski berukuran SNI, milik Teja tetap sekeras beton. Sangat kaku dan keras. Hukuman yang diberikan warisan lilitan kain leluhur Teja hanyalah sebatas lada pengecilan ukuran saja. Kekuatan, daya tahan, serta kekerasannya tetap berada pada kondisi semula tanp adanya penurunan."Ufh, biar berubah ukuran, tetep enak dan kerass banget, Sayang. Oh, ampun!" teriak Linda parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya menggeleng pasrah di atas bantal, tak sanggup membendung gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam dinding-dinding dalam dirinya secara bertubi-tubi.Teja mengangguk senang sambil mengecupi wajah Linda yang cantik jelita. Bibirnya menyapa dahi, kedua pipi merona, hingga leher jenjang Linda yang
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.







