LOGINLaju kendaraan mewah berwarna hitam pekat itu meluncur mulus membelah kepadatan lalu lintas sore, melintasi jajaran gedung tinggi sebelum akhirnya memasuki kawasan perumahan elit tempat tinggal sang pengusaha terpandang.Tak lama kemudian tibalah Teja di sana. Ia memarkirkan Maserati hitamnya dengan rapi di area pelataran parkir yang luas, lalu melangkah tenang menuju daun pintu utama kediaman yang megah tersebut.Bob menyambut Teja dengan senang. Pria paruh baya yang selalu berpenampilan sederhana itu langsung merangkul pundak Teja dengan kehangatan seorang bapak. "Kamu itu ke mana aja? Ayah kira kamu udah lupa sama ayah!" seru Bob terkekeh renyah."Lagi latihan intensif, Yah," sahut Teja menyunggingkan senyum tipisnya yang sopan."Latihan? Latihan apa, Ja?" tanya Bob heran. Dahinya berkerut tipis, penasaran akan kesibukan fisik yang sanggup menyita waktu sang pemuda penyembuh penyakitnya."Bela diri, Yah," jawab Teja jujur dan lugas."Kamu bisa bela diri, Ja?" tanya Susan yang tiba
Pemuda itu mengabaikan tatapan kagum Panda, berfokus pada kesiapan susunan formasi tim yang tengah mereka susun untuk ajang nasional mendatang."Setuju banget, Ja," jawab Linda tanpa ragu sedikitpun. Gadis itu menyunggingkan senyuman tipis, meyakini bahwa kemampuan bertarung Panda yang lincah dan berdaya ledak tinggi memang menjadi pelengkap sempurna bagi skuat utama mereka.Teja menatap Panda lagi. Tatapannya teduh namun menuntut kepastian dari calon anggotanya tersebut. "Kalau kamu, minat nggak nih, Nda?"Panda tak langsung menanggapi. Ia tampak berpikir keras. Keraguan melintas sejenak di raut wajah cantiknya tatkala membayangkan skala kompetisi tingkat nasional yang begitu besar dan dipenuhi petarung-petarung tangguh dari berbagai pelosok negeri. Jemari tangannya meremas pelan botol air mineral di pangkuannya, mempertimbangkan secara matang segala konsekuensi serta kemampuan dirinya sendiri sebelum memberikan jawaban pasti."Tapi aku kan bukan anggota perguruan bela diri mana p
Milik Teja beranjak membesar kembali!Perubahan bentuk itu terjadi secara instan di bawah kendali penuh hawa murninya. Lingkar diameter serta panjang bagian vitalnya terus merenggang dan membesar, melampaui batas ukuran standar sebelumnya dan berkembang pesat secara signifikan di depan mata kepala Teja sendiri.Ukuran yang sebelumnya SNI kini sudah bertransformasi ke bentuk terbesar se-Indonesianya. Batang pejal yang kokoh dan tegang sempurna itu kini telah kembali pada wujudnya yang asli.Bentuk milik Teja terlihat panjang, tebal, dan memancarkan wibawa kekuatan yang luar biasa. Pengaruh efek hukuman lilitan kain leluhur yang sempat menyusutkan ukurannya berhasil diluruhkan sepenuhnya oleh kombinasi pijat saraf master dan manipulasi energi Qi tingkat tinggi milik sang master pijat muda.Teja tertawa riang. 'Berhasil!' soraknya penuh kemenangan sembari menatap puas pada hasil pemulihan mandirinya yang kini telah kembali sempurna seperti sedia kala.—Hari-hari berikutnya, Teja teru
"Aku berlebihan ya, Ja?" tanya Linda lirih. Matanya bergerak sayu menatap Teja, penuh penyesalan atas riak cemburu yang sempat ia utarakan.Belum sempat Teja menjawab, terdengar ketukan di pintu kamarnya. Suara ketukan teratur itu memecah suasana atmosfer intim yang menyelimuti area dalam ruangan.Teja segera turun dari ranjang dan membukanya. Daun pintu kayu jati berukir itu mengayun terbuka, memperlihatkan sosok Toni yang berdiri santai di balik ambang pintu. "Lho, Ayah sudah pulang?" tanya Teja terkejut melihat kepulangan sang ayah yang lebih cepat dari perkiraannya."Iya, Ja. Sungkan dong sama teman ayah kalau bertamu kelamaan. Eh iya, kamu sama Linda ya di dalem?" jawab Toni sembari mengintip ke dalam kamar, menyadari kehadiran aroma parfum yang khas dari tubuh Linda."Iya, Yah. Linda tadi ngeluh capek, jadi aku pijat dia," terang Teja santai tanpa menunjukkan gestur canggung sedikitpun.Linda yang berada di dalam segera merapikan posisi duduknya di tepi ranjang lalu melangkah
"Ampun, Ja, aku nggak sanggup lagi, lemes banget," keluh Linda menolak tawaran Teja. Suaranya terdengar lirih dan serak usai diterjang gelombang orgasme beruntun yang menguras seluruh pasokan tenaga di dalam tubuhnya.Namun sesaat kemudian Linda menatap Teja lagi. Matanya menatap pemuda berambut gondrong itu dengan rasa bersalah yang terlihat jelas. "Eh, tapi kan kamu belum orgasme, Ja?! Aduhh, ya udah sini aku bantuin pakai tangan dan mulut," ujarnya berusaha menebus rasa bersalahnya.Linda memaksakan tubuhnya untuk bangkit di ranjang, namun tangan Teja menahannya. Usapan lembut jemari Teja pada bahu mulus sang gadis menahan pergerakan tersebut."Nggak usah, Sayang. Kamu kocok sampai tanganmu kram juga nggak bakal bisa muncrat," tolak Teja jujur sembari menyunggingkan senyuman hangat. Pemuda itu juga belum bisa menemukan jawaban dari hambatan orgasme yang terjadi pada dirinya sejak awal mengenakan lilitan kain leluhurnya.Lambat laun hidup tanpa orgasme, Teja pun mulai terbiasa,
Teja terus menusuk dan menambah tempo kecepatan dorongannya. Ayunan pinggul pemuda berambut gondrong itu bergerak kian liar dan bertenaga, meluncurkan dorongan demi dorongan yang kuat dan bertenaga ke dalam liang kewanitaan Linda yang begitu sempit dan rapat.Meski berukuran SNI, milik Teja tetap sekeras beton. Sangat kaku dan keras. Hukuman yang diberikan warisan lilitan kain leluhur Teja hanyalah sebatas lada pengecilan ukuran saja. Kekuatan, daya tahan, serta kekerasannya tetap berada pada kondisi semula tanp adanya penurunan."Ufh, biar berubah ukuran, tetep enak dan kerass banget, Sayang. Oh, ampun!" teriak Linda parau. Gadis dari Perguruan Teratai Kembar itu membiarkan kepalanya menggeleng pasrah di atas bantal, tak sanggup membendung gelombang kenikmatan luar biasa yang menghantam dinding-dinding dalam dirinya secara bertubi-tubi.Teja mengangguk senang sambil mengecupi wajah Linda yang cantik jelita. Bibirnya menyapa dahi, kedua pipi merona, hingga leher jenjang Linda yang
"Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di
“Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter
BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T







