Chapter: BAB 7 – Jalan Menuju Gunung AgniLangit timur perlahan berubah jingga. Malam yang dipenuhi kobaran api mulai menyerah pada cahaya fajar, tetapi Desa Wukir Sari belum benar-benar terbebas dari luka. Asap masih mengepul dari sisa-sisa rumah panggung yang hangus. Bau kayu terbakar bercampur dengan tanah basah memenuhi udara, sementara suara tangis dan rintihan terdengar dari berbagai penjuru desa.Beberapa warga sibuk memadamkan bara yang masih menyala menggunakan ember-ember bambu. Sebagian lain berusaha mengangkat balok-balok kayu yang roboh, berharap masih ada anggota keluarga yang dapat diselamatkan.Wisanggeni berdiri mematung di tengah halaman desa. Tatapannya menyapu setiap sudut yang porak-poranda. Seorang anak kecil menangis sambil memeluk tubuh ibunya yang terluka. Di sisi lain, beberapa lelaki berusaha memperbaiki kandang ternak yang runtuh. Tidak jauh dari sana, seorang kakek terduduk lemas di depan rumahnya yang kini hanya menyisakan tiang-tiang gosong.Semua pemandangan itu seakan be
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: BAB 6 : BARA DALAM DADAMalam di dalam gua terasa panjang dan penuh kegelisahan. Wisanggeni terbaring di atas hamparan daun kering yang Ratna kumpulkan, tapi matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, kilasan-kilasan pertempuran dengan prajurit bayangan muncul kembali. Pedang cahaya, cambuk api hitam, dan tali bayangan yang mencabik-cabik dadanya. Yang paling mengganggu adalah api biru yang muncul tanpa ia panggil. Api itu terasa asing, seperti suara dari masa lalu yang berbisik dalam bahasa yang tidak ia mengerti.Ratna duduk bersila di dekat mulut gua, menjaga tirai cahaya keperakan yang ia ciptakan. Matanya sayu, tapi ia berusaha keras untuk tetap terjaga. Di pangkuannya, lonceng perak kecil yang ia gunakan tadi sudah mulai kehilangan kilaunya. Menggunakan alat suci seperti itu dua kali berturut-turut dalam waktu singkat hampir menguras seluruh cadangan energi spiritualnya.“Kau tidak perlu berjaga sendirian,” suara Wisanggeni terdengar dari dalam gua. “Aku bisa bergantian.”Ratn
Last Updated: 2026-07-06
Chapter: BAB 5 : RATNA DARI CANDI TUA (2)Mereka telah berjalan beberapa jam ketika matahari mulai tinggi. Kabut telah menyusut, memperlihatkan pemandangan hutan yang luas di sekeliling mereka. Di kejauhan, Gunung Agni terlihat samar-samar, puncaknya diselimuti awan putih.“Kita akan beristirahat sebentar di sana,” kata Ratna, menunjuk ke sebuah gua kecil di sisi bukit. “Ada mata air di dalamnya, dan tempat itu cukup tersembunyi.”Mereka masuk ke dalam gua yang sejuk dan gelap. Ratna menyalakan lentera kecil dari tasnya, menerangi dinding batu yang basah oleh tetesan air. Di bagian dalam, memang ada mata air kecil yang mengalir jernih.Saat Wisanggeni minum, ia tiba-tiba merasakan getaran aneh di dadanya. Api suci berdenyut lebih cepat, seperti peringatan.“Ada yang tidak beres,” katanya, berdiri tegak.Ratna juga merasakannya. “Energinya berat. Seperti ada sesuatu yang mengintai.” Ucapnya dengan waspada.Dari luar gua, terdengar suara langkah kaki yang banyak dan berat. Lalu suara yang serak dan dingin, yang jelas bukan bera
Last Updated: 2026-07-05
Chapter: BAB 4 : RATNA DARI CANDI TUAFajar belum sepenuhnya merekah ketika Ratna sudah sibuk di ruang dalam candi. Tas kain sederhana sudah tergeletak di atas tikar, berisi bekal makanan kering, gulungan naskah pilihan, botol air, dan beberapa ramuan penyembuh. Ia bergerak dengan cepat namun efisien, setiap gerakannya penuh ketenangan yang lahir dari tahun-tahun hidup sebagai penjaga tempat suci. Namun di balik ketenangan itu, ada getaran halus kegelisahan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terbiasa membaca tanda-tanda alam. Sedangkan Wisanggeni menunggu di pelataran candi, menatap langit timur yang perlahan berubah dari hitam menjadi ungu, lalu jingga pucat.Pikirannya masih penuh dengan kata-kata ayahnya semalam. “Keberanian tanpa kebijaksanaan adalah bencana.” Apakah keputusannya membawa Ratna ikut dalam perjalanan ini adalah bijaksana? Atau justru egois? Ia tahu bahaya yang mengancam, tahu Batara Kala tidak akan berhenti. Tapi di sisi lain, Ratna adalah satu-satunya orang yang me
Last Updated: 2026-07-04
Chapter: BAB 3 : ANAK DARI DUA DUNIAHari-hari berlalu dengan lambat di candi Gunung Arum. Wisanggeni perlahan pulih, meski kekuatannya masih jauh dari normal. Api di dadanya kini stabil, berdenyut dengan ritme yang teratur seperti detak jantung, tetapi warnanya masih pucat. Campuran antara oranye dan abu-abu, seolah masih mencari bentuk yang sebenarnya. Ratna sibuk merawatnya sekaligus meneliti naskah-naskah kuno yang tersimpan di ruang bawah candi. Ruangan itu gelap, penuh dengan debu dan aroma apek kertas usang. Di sana, ia menemukan gulungan-gulungan lontar yang menceritakan sejarah Kahyangan dan Naraloka dalam bahasa yang hampir punah. Bahasa Dewa Bisa, bahasa yang hanya dipahami oleh para pendeta tinggi.Suatu pagi, ketika kabut masih menyelimuti hutan di sekitar candi, Ratna duduk di samping Wisanggeni dengan sebuah gulungan terbuka di pangkuannya. Wajahnya tampak sangat serius. “Aku menemukan sesuatu,” katanya, suaranya bergetar sedikit. “Tentangmu, Wisanggeni. Tentang mengapa kau berbe
Last Updated: 2026-07-03
Chapter: BAB 2 : KEPUTUSAN KAHYANGANLangit di atas Bale Sidang Kahyangan masih berwarna jingga gelap, seperti bekas luka bakar raksasa yang belum sembuh seutuhnya. Pusaran api suci Simbar Agni telah padam, tapi sisanya masih berserakan di udara. Percikan cahaya merah yang perlahan mendingin dan jatuh seperti salju api. Para dewa belum beranjak sedikit pun, mereka masih duduk dalam formasi melingkar, wajah-wajah mereka disinari cahaya temaram dari lampu-lampu angkasa yang menggantung di langit-langit ruangan sidang.Batara Guru masih duduk di singgasananya, kedua tangannya memegang erat tongkat suci Kayu Kalimasada. Matanya tertutup, tapi semua yang hadir tahu bahwa pikirannya sedang melesat jauh, menimbang, menganalisis, meraba konsekuensi dari keputusan yang baru saja dijatuhkan. Di sisinya, Batara Narada berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk, gulungan kitab suci terbuka di tangannya, tapi matanya menatap kosong ke arah tempat Wisanggeni berdiri tadi.Gatotkaca masih berada di posisinya, di sisi barat
Last Updated: 2026-06-24