MasukAku jenius yang menguasai segalanya. Tapi apa gunanya… jika aku hanya punya satu bulan untuk hidup? Li Mingzi adalah anomali dalam dunia kultivasi. Di usia 22 tahun, dia telah menguasai beladiri, feng shui, pengobatan, racun, hingga formasi kuno, pencapaian yang biasanya membutuhkan ratusan tahun. Dia ditakdirkan menjadi pewaris Aula Bintang. Lalu kutukan itu datang. Darah Emas, kekuatan yang seharusnya menjadi berkah, justru berubah menjadi racun yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Waktu tersisa tiga puluh hari. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup… adalah melalui kultivasi ganda dengan tujuh wanita yang telah ditentukan sejak lama. Masalahnya? Li Mingzi, yang tak terkalahkan dalam pertempuran dan tak tertandingi dalam ilmu… tidak tahu apa-apa tentang hati wanita. Tujuh wanita. Tujuh rintangan. Satu nyawa yang terus terkikis. Di saat yang sama, bayang-bayang masa lalu mulai bangkit, pengkhianat di Aula Bintang, musuh yang bergerak dalam diam, dan rahasia ribuan tahun yang perlahan terkuak. Li Mingzi bisa menaklukkan musuh mana pun. Tapi kali ini… bisakah dia menaklukkan tujuh hati sebelum waktunya habis?
Lihat lebih banyak“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api.
Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Tapi, bicara dengan wanita saja tidak pernah. Lalu, bagaimana caranya Li Mingzi bisa menaklukkan wanita-wanita itu?! Li Mingzi adalah seorang jenius. Ilmu beladiri, formasi, feng shui, pengobatan, racun, semua dia kuasai dalam waktu yang bagi orang lain bahkan tidak cukup untuk memahami dasarnya. Dia adalah kandidat sempurna untuk mewarisi Aula Bintang, organisasi terbesar di Negara Pedang yang menguasai dunia hitam dan putih. Namun, takdir justru mempermainkannya. Darah Emas di tubuh Li Mingzi menjadi sebuah anugerah sekaligus kutukan. Energi dalam tubuhnya terlalu besar hingga akhirnya berbalik menyerang dirinya sendiri. Setiap kali kekuatannya meningkat, tubuhnya justru semakin hancur. Pemilik Darah Emas sebelumnya masih bisa bertahan sampai usia 25 tahun. Namun Li Mingzi? Dia bahkan tidak bisa mencapai usia itu. Karena dia memilih melawan kutukannya dengan cara paling bodoh. Yaitu dengan cara menekannya, menghancurkan dirinya sendiri dari dalam. “Ck! Guru sialan. Tua bangka itu pasti sekarang tertawa senang setelah berhasil mengusirku. Dia bisa bebas menggoda para janda,” gerutu Li Mingzi sekali lagi ketika sudah duduk di dalam kereta. Kalau saja semalam Yu Shen tidak mengatakan hal gempar lain pada Li Mingzi, mungkin sekarang Li Mingzi akan lebih memilih tidur dan menghabiskan sisa umurnya dengan damai ketimbang pergi ke Kota Awan. "Aku sudah gagal sebagai Raja Bintang dan sekarang aku juga gagal membuat muridku ingin hidup lebih lama," kata Yu Shen kepada Li Mingzi malam itu. Li Mingzi yang sedang minum teh langsung berhenti. Ekspresinya berubah serius. Raja Bintang bukan gelar sembarangan. Itu adalah julukan bagi pemimpin Aula Bintang yang membuat orang gentar hanya mendengar namanya saja. Li Mingzi tahu, itu adalah gelar yang benar-benar diinginkan oleh gurunya. Dahulu orang akan benar-benar gentar ketika mendengar nama itu. “Guru…” Li Mingzi menyipitkan matanya. “Kau mulai berakting?” Yun Shen tidak tersinggung. Sebaliknya, dia malah memasang wajah semakin sedih. “Bukankah kau selalu ingin tahu, kenapa aku tidak pernah kembali ke Aula Bintang?” Li Mingzi tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup sebagai jawaban. Yun Shen tertawa kecil. Tawa yang pahit, lalu berkata dengan lirih, “Karena aku pengecut.” “Omong kosong,” balas Li Mingzi cepat. “Kau itu orang paling hebat di dunia ini, mana mungkin jadi pengecut!” Li Mingzi tahu betul gurunya orang seperti apa. Selama ini, dia mengenalnya sebagai sosok yang berprinsip, bahkan seluruh penduduk desa sekitar Gunung Sembilan Naga ini sangat menghormatinya meskipun di sini ia menanggalkan identitasnya sebagai Raja Bintang. “Seluruh dunia bilang begitu,” sahut Yu Shen cepat. Li Mingzi langsung mengernyit. Yun Shen melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Dulu, ada perang antara Negara Pedang dan Negara Teratai Salju. Sebuah pertarungan nasib. Formasi raksasa dipasang. Keberuntungan seluruh negara dipertaruhkan. Namun…” Tatapannya menjadi dingin. “Aku tidak muncul.” Li Mingzi mengepalkan tangannya. “Kenapa?” “Karena aku memilih menyelamatkanmu,” jawab Yun Shen tanpa ragu. Suasana langsung hening. Angin pun seakan berhenti berhembus. “Akibatnya…” lanjut Yun Shen, “Formasi kacau. Salah satu anggota inti berkhianat sehingga banyak ahli mati dan terluka akibat pembalikan formasi. Negara Pedang kalah dalam pertarungan itu. Dan aku … menjadi pengecut yang lari dari tanggung jawab.” Yu Shen tersenyum tipis. Sementara itu, Li Mingzi tidak bergerak, tetapi aura di sekitarnya mulai berubah berat dan dingin. “Siapa yang mengacaukan formasi itu?” tanyanya pelan. “Teman lamaku,” jawab Yun Shen. “Hei Wuji.” Nama itu terasa seperti duri. “Dia mengkhianati kami. Dia bekerja sama dengan Negara Teratai Salju. Keberuntungan Negara Pedang… dicuri,” lanjut Yu Shen. Cangkir teh di tangan Li Mingzi hancur. “Jadi selama ini, kau memikul semua itu sendirian?” Yun Shen tertawa kecil. “Sudah kubilang. Aku pengecut.” Li Mingzi berdiri perlahan, tubuhnya gemetar menahan kemarahan. “Aku tidak peduli dengan hidupku,” katanya pelan. “Tapi aku tidak akan membiarkan orang lain menginjak-injak nama Guru.” Sejak kecil, Li Mingzi telah hidup bersama Yu Shen dan dirawat dengan sangat baik. Tak heran jika di balik sikap tengik Li Mingzi, ia benar-benar menghormati gurunya. Jadi, jika ada orang yang menjatuhkan gurunya, jelas Li Mingzi tidak akan segan untuk menghabisi orang itu. Akhirnya, Li Mingzi meninggalkan Gunung Sembilan Naga pagi tadi. GRAK! Tut! Tut! Akhirnya, kereta api itu melaju. Li Mingzi kembali mengusap wajahnya gusar. “Ah! Gimana caranya mendekati wanita?!” lirih Li Mingzi terdengar agak putus asa. Tiba-tiba, seorang pria yang duduk di sampingnya berkata, “Itu mudah anak muda. Kamu hanya perlu bersikap baik pada wanita, manjakan mereka, buat mereka terkesan dengan dirimu. Maka, mereka pasti akan datang kepadamu.” Seketika, Li Mingzi menoleh dan menatap pria setengah baya itu dengan alis tertaut. “Aku sudah berhasil menaklukkan 10 wanita dengan cara itu. Cobalah sendiri,” kata pria itu lagi, membuat Li Mingzi membulatkan matanya. “Semudah itu? Benarkah?” Li Mingzi mendadak percaya diri. Kalau hanya membuat dirinya tampak terkesan, jelas Li Mingzi jagonya. “Lihat saja, setelah membuat umurku lebih panjang, aku akan membalaskan dendam guru!” tekad Li Mingzi dalam hatinya. Ketika matahari belum sempat muncul di ufuk timur, Li Mingzi sudah tiba di Vila Bukit Kuning, sebuah kediaman megah di kaki Gunung Naga Biru yang terpisah dari hiruk pikuk Kota Awan. Itu adalah vila milik Yu Shen yang diurus oleh bawahannya, yaitu Tuan Wang, seorang pria yang jelas disegani di Kota Awan. Tuan Wang, seorang pria paruh baya dengan sikap tegas namun hormat, sudah menunggunya di pintu gerbang jauh sebelum Li Mingzi mengetuk. Begitu melihat sosok pemuda itu, dia langsung membungkuk dalam. "Pewaris telah tiba. Seluruh vila siap melayani," sambut Tuan Wang.Chen Fu memaksakan senyum."Yumeng, mereka tidak bermaksud jahat."Bai Yumeng menatapnya datar."Aku tidak peduli."Satu kalimat itu membuat senyum Chen Fu semakin kaku.Dia menarik napas pelan lalu berkata, "Masuklah. Konser akan segera dimulai."Bai Yumeng tidak menjawab.Sebaliknya, dia menoleh kepada Li Mingzi."Masih mau menonton?"Li Mingzi melirik Chen Fu.Jelas sekali pria itu sudah menyiapkan semuanya malam ini. Kemungkinan besar pengakuan cinta.Memikirkan hal itu, Li Mingzi malah tersenyum."Tentu."Bai Yumeng mengangkat alis."Aku penasaran." Li Mingzi menatap Chen Fu. "Aku ingin melihat apakah dia memang sehebat yang mereka katakan."Wajah Chen Fu sedikit membaik.Namun detik berikutnya Li Mingzi menambahkan, "Kalau ternyata biasa saja, aku bisa pulang lebih cepat."Sudut mata Chen Fu berkedut.Bai Yumeng hampir tertawa.Tak lama kemudian mereka memasuki gedung konser.Aula konser sangat besar.Tiket yang dibawa Li Mingzi ternyata berada di baris keempat. Posisi yang sang
"Tentu saja aku akan datang." Li Mingzi menjawab tanpa ragu. Bai Yumeng menatapnya. "Benarkah?" "Benar." Li Mingzi mengangguk serius. Namun entah mengapa, tatapan Bai Yumeng membuatnya merasa kurang percaya diri. Dia segera mengeluarkan dua tiket konser dari sakunya lalu meletakkannya di atas meja. "Aku bahkan sudah menyiapkan ini." Bai Yumeng melirik tiket tersebut. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat. Melihat senyum itu, Li Mingzi justru merasa tidak tenang. "Ada yang lucu?" Bai Yumeng mengangguk pelan. "Kemarin ada teman lama yang memberiku dua tiket yang sama." Senyum di wajah Li Mingzi langsung membeku. "Teman lama?" "Mm," angguk Bai Yumeng. "Siapa?" Li Mingzi merasa penasaran. Bai Yumeng mengambil gelas air dan menyesapnya perlahan. "Chen Fu." Nama itu terdengar asing bagi Li Mingzi. Namun instingnya mengatakan bahwa nama tersebut bukan kabar baik. "Aku tidak kenal." "Teman SMA." Bai Yumeng melihat reaksi tak biasa Li Mingzi. "Oh." Li Mingzi mengangguk. Lal
Keesokan paginya, Li Mingzi meninggalkan Villa Bukit Kuning lebih awal.Semalam Ruan Yin benar-benar membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Untungnya, dia masih memiliki sedikit kendali diri. Mobil berhenti di depan gedung Grup Angkasa Raya.Li Mingzi turun lalu langsung menuju lantai tempat kantor Mo Yan berada.Begitu tiba di depan ruangan itu, dia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.Namun beberapa detik kemudian, samar-samar terdengar suara aneh dari dalam ruangan.Li Mingzi mengernyit.Suara itu terdengar seperti seseorang sedang terburu-buru merapikan sesuatu.Lalu terdengar bunyi kursi bergeser.Disusul suara langkah kaki panik.Pintu terbuka.Seorang sekretaris wanita berwajah merah langsung berlari keluar tanpa berani mengangkat kepala.Saat melewati Li Mingzi, wanita itu bahkan hampir menabraknya.Li Mingzi berdiri terpaku selama dua detik.Kemudian dia masuk ke dalam.Mo Yan sedang duduk di belakang meja dengan ekspresi serius seolah-olah sedang menangani urusan penting
Mendengar itu, mata Wen Long langsung berubah tajam.Bidak catur yang berada di antara jarinya perlahan diletakkan di atas papan.Klik.Suara kecil itu terdengar jelas di ruang baca yang sunyi."Kalau Villa Bukit Kuning dulu bisa memusnahkan Keluarga Yan," ucap Wen Long dengan dingin, "Maka hari ini aku juga bisa memusnahkan Villa Bukit Kuning."Tatapannya tertuju lurus pada Tuan Tua Bai.Tidak ada sedikit pun keraguan dalam sorot matanya."Lalu apakah itu bisa terjadi atau tidak..." Wen Long berhenti sejenak. "Tergantung apakah Tuan Tua Bai bersedia membantuku."Tuan Tua Bai tidak langsung menjawab.Ia hanya menatap papan catur di hadapannya sambil mengelus bidak putih di tangannya.Beberapa saat kemudian, ia meletakkan bidak itu."Untuk menghancurkan Villa Bukit Kuning..." katanya perlahan. "Ada satu masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu."Mata Wen Long langsung berbinar. Ia bukan orang bodoh.Kalimat itu sudah cukup menjelaskan sikap Tuan Tua Bai.Pihak lain tidak menolak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak