author-banner
W.M.G
W.M.G
Author

Novel-novel oleh W.M.G

Terbuai! Jarum Magis Mas Wira

Terbuai! Jarum Magis Mas Wira

Sebagai mantan kuli, Wira hanya ingin melunasi utang peninggalan ayah angkatnya yang bajingan dengan membuat tato ajaib. Ia mewarisi jarum tato emas ajaib yang bisa mengabulkan keinginan terdalam manusia. Syaratnya, ia harus patuh pada dua pantangan: Jangan jatuh cinta pada pelanggan dan Jangan membuat Tato Bintang Merah. Naasnya, karena tangannya yang kasar dan kapalan ia kehilangan kepekaan dan memilih membuat tato tanpa sarung tangan. Sebuah keputusan yang berakibat membuat banyak wanita justru mendamba ingin terus disentuhnya dan merasakan tubuhnya. Godaan terus datang, sampai Senjana datang. Wanita itu membawa luka yang anehnya mirip dengan luka yang Wira lupakan di masa lalu. Dan tiba-tiba, hidup Wira berubah total setelahnya. Ia menjadi sandera sang gubernur demi senjana, menjadi buruan mafia yang menginginkan tato bintang merah, hingga Sekte kuno pencipta jarum magis menuntut nyawa. Saat cinta menjadi racun dan sihir menjadi kutukan, Wira harus memilih. Menjadi dewa dengan kekuatan terlarang... atau menjadi manusia biasa demi satu-satunya wanita yang membuatnya ingin melanggar segalanya.
Baca
Chapter: Bab 57. Rajah Halaman Seribu
Keheningan di dalam kamar luas itu terasa begitu lengang saat Wira kembali melangkah masuk. Jarum-jarum jam seolah bergulir lambat, menahbiskan setiap detiknya dengan ketegangan yang janggal. Senjana kini sudah tidak lagi terduduk kaku di lantai marmer yang dingin. Gadis itu duduk bersandar di tepi ranjang, terbalut gaun mandi berwarna putih polos yang membungkus rapi tubuhnya yang ringkih.Di tangannya, Wira membawa sebuah buku tebal bersampul kulit hitam kusam yang terasa berat di jemarinya."Apa yang akan terjadi padaku setelah tato itu dilukis di tubuhku? Apa aku akan benar-benar melupakan semuanya?" tanya Senjana pelan, matanya menatap lurus pada buku tebal yang berada di pangkuan Wira. Suaranya terdengar begitu pasrah, namun menyimpan celah ketakutan yang dalam.Wira menghentikan jemarinya di atas sampul kulit yang kasar. "Mungkin. Aku belum pernah membuat tato ini."Dengan penuh kehati-hatian, Wira membuka katalog tua miliknya, membalik lembar demi lembar hingga berhenti tepat
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bab 56. Benci yang Tertinggal di Atas Kulit
"Tolong... Hapus ingatanku..." ucap Senjana pelan, suaranya halus seperti helai daun kering yang diterpa angin malam. Tatapan matanya yang kosong melayang menembus bahu Wira, sama sekali tak memfokuskan pandangan pada pria yang berlutut di hadapannya. Darah kental yang merembes dari bibir Senjana, akibat gigitannya sendiri untuk menahan rasa sakit dan hina menetes lambat. Wira bergerak penuh kehati-hati, mengusap darah di bibir Senjana dengan jempolnya, membiarkan noda merah itu berpindah ke kulit tangannya sendiri. "Atau setidaknya hapus bekas sentuhannya dari tubuhku..." Kini Senjana mengalihkan pandangannya, menatap tepat di manik mata Wira. Sorot mata yang mati itu mendadak dihiasi kilatan keputusasaan yang liar. "Sentuh aku, Wira...!" Ucapan Senjana seketika membuat Wira bingung dan tertegun. Napas pria itu tercekat di tenggorokan, tangannya membeku di pipi Senjana. "Aku mohon... Sentuh aku!" Senjana mulai terlihat histeris, jemarinya yang gemetar berusaha melepas selimut
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 55. Pintu yang Terbuka
Di dalam ruang kerja studio yang temaram, Wira duduk mematung di atas kursi tatonya. Tubuhnya kaku bagaikan batu, namun dadanya gemuruh hebat. Satu jam berlalu terasa sangat lambat dan menyiksa, setiap detiknya dipenuhi rekaan pemandangan mengerikan yang baru saja ia saksikan dari balik dinding kaca. Darah masih merembes pelan dari balik perban di telapak tangan kirinya, namun ia sama sekali tak merasakannya. Seluruh indranya terkunci pada langkah kaki yang mulai terdengar mendekat. Dari arah lorong, Haryo Senopati Bawono berjalan menghampiri. Penampilannya telah kembali rapi, mengenakan kemeja batik mewahnya tanpa ada satu pun gurat cela. Bagas berdiri mengekor di belakangnya dengan gestur penuh pengawalan. Melihat sosok tua bejat itu melangkah santai seolah tak terjadi apa pun, amarah Wira yang membendung langsung meledak ke ubun-ubun. Otot-otot di rahangnya menegang keras. Dengan geram, Wira bangkit berdiri, mengepalkan tangan kanannya erat-erat, siap mengarahkan bogem mentah
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bab 54. Puncak Kehampaan
Dari balik dinding kaca tebal yang dingin, Wira terpaku bagaikan patung yang dikutuk untuk menyaksikan neraka dunia secara langsung. Pandangannya mengunci rapat setiap pergerakan di balik celah tirai yang tampak terang itu, tak mampu lagi mengalihkan matanya meski hatinya terus menjerit histeris meminta untuk berpaling. Di dalam kamar itu, kehancuran martabat Senjana bergerak dalam kesunyian yang mencekik. Gadis itu berdiri di hadapan Haryo Senopati Bawono hanya dengan pakaian dalam yang melekat di tubuhnya yang kurus. Di bawah pancaran lampu kuning temaram, pemandangan kulit mulus Senjana kini terhiasi oleh kepiluan yang mengerikan, jejak-jejak memar kebiruan yang kontras, gurat merah tajam bekas tebasan pecut yang baru saja mendarat, serta luka-luka lama yang tak pernah benar-benar disembuhkan. Namun, kini yang paling menyiksa batin Wira bukanlah luka-luka di kulit gadis itu, melainkan kepatuhan yang ditunjukkannya. Jemari Senjana yang gemetar hebat kini telah selesai melepas
Terakhir Diperbarui: 2026-07-27
Chapter: Bab 53. Setan di Balik Kaca
Langkah kaki Wira terasa seberat timah saat ia berjalan menyusuri lorong dingin di sebelah kiri. Suasana studio yang sepi di bawah pengawasan Bagas tak lagi ia hiraukan. Setiap jengkal udara yang ia hirup terasa membakar paru-parunya. Emosi, amarah, dan rasa tak berdaya beradu liar di dalam dadanya, mendorong jiwanya untuk membuktikan firasat paling mengerikan yang sejak tadi menggerogoti pikirannya.Ia berbelok ke lorong sebelah kiri, menuju dinding panel kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman dalam dan jendela kamar Senjana.Jantung Wira berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan ritme yang menyiksa. Begitu matanya mendarat di panel kaca itu, napasnya seketika tertahan di tenggorokan.Tirai tebal berwarna putih di kamar Senjana kembali terbuka.Celahnya lebar, membiarkan cahaya lampu kuning temaram menguar terang membelah kegelapan malam. Celah itu terlalu pas, terlalu sempurna untuk memperlihatkan seluruh sudut tempat tidur gadis itu. Seolah-olah ruangan itu me
Terakhir Diperbarui: 2026-07-26
Chapter: Bab 52. Jejak Langkah di Atas Lorong Dingin
Membayangkan momen ketika tubuh rapuh Senjana dipaksa tunduk di bawah dominasi Haryo membuat seluruh darah di dalam tubuh Wira mendidih hebat. Ia tidak bisa hanya berdiri diam di sini. Tidak lagi. Dengan ketetapan hati yang mendadak liar, Wira membalikkan badan dan bergegas turun melangkahi anak tangga satu per satu. Langkah kakinya yang lebar dan mantap berdentum keras di lorong kayu, menyuarakan kecemasan mendalam yang menyelimuti dadanya. Namun, begitu pijakan kakinya menyentuh lantai utama studio di lantai bawah, langkah Wira mendadak tertahan kaku. Atmosfer di dalam ruang studio terasa begitu membeku, pekat oleh ketegangan yang nyaris tak berudara. Di tengah ruangan, tepat beberapa meter di depan pintu kaca menuju koridor belakang, dua sosok berdiri mematung layaknya patung batu tanpa nyawa. Bagas Pratama berdiri tegak dengan postur tubuhnya yang selalu necis, kedua tangannya terlipat rapi di depan pinggang, namun pandangan matanya yang dingin menatap lurus ke arah pintu ba
Terakhir Diperbarui: 2026-07-25
Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya

Aku Istri Pertama, Tapi Hanya Jadi Simpanannya

Menikahi cinta pertama adalah impian setiap wanita… tapi tidak untukku. Aku menikahi Muhammad Gavin Rusdhan karena sebuah kondisi yang memojokkan ku demi memenuhi wasiat terakhir ayah. Masalahnya, dia sebentar lagi akan menikahi wanita lain—sementara aku terjebak sebagai istri pertama yang tak dianggap. Setiap hari harus bertemu dengannya di kantor, menahan rindu sekaligus sakit hati, membuatku semakin hancur. Apalagi ketika Arwan Kin Dhananjaya, sahabat yang sudah kuanggap kakak sendiri, tiba-tiba mengungkapkan cinta. Belum selesai dengan luka itu, aku kembali terjebak dalam permainan baru: menjadi calon istri pura-pura seorang duda karismatik, direktur utama perusahaan besar sekaligus ayah dari muridku sendiri. Cinta, pengkhianatan, dan rahasia… mampukah aku bertahan dalam pernikahan yang bahkan sejak awal bukan milikku?
Baca
Chapter: 166. Detak Jantung Kecil yang Menyatukan
Pagi itu, Rumah Sakit tidak lagi terasa mencekam bagi Sira. Meski aroma antiseptik masih memenuhi rongga hidungnya, kehadiran Gavin yang menggenggam erat tangannya membuat segalanya terasa berbeda. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan USG untuk memastikan kondisi janin setelah ketegangan hebat yang mereka alami. Gavin mendorong kursi roda Sira dengan sangat hati-hati, seolah-olah guncangan sekecil apa pun bisa membahayakan harta karun mereka. "Gavin, aku bisa jalan sendiri," gerak bibir Sira terlihat di pantulan cermin lift, wajahnya sedikit mengerucut protes. Sebenarnya fisiknya sudah jauh lebih kuat, hanya suaranya saja yang masih enggan keluar. Gavin terkekeh, membungkuk sedikit untuk membisikkan sesuatu di telinga istrinya. "Anggap saja ini layanan sopir pribadi kelas VIP, Ny. Gavin. Lagipula, aku ingin menghemat tenagamu untuk nanti. Siapa tahu bayi kita ingin melihat ibunya pamer senyum paling cantik di depan layar monitor." Sira hanya bisa mencubit lengan Gavin pelan, membua
Terakhir Diperbarui: 2026-05-07
Chapter: 165. Kemarahan yang Indah
Sore itu, semburat jingga dari ufuk barat mulai mengintip masuk ke dalam ruang perawatan, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding. Di atas ranjangnya, Sira masih terbaring miring, memunggungi sisi tempat tidur, tempat suaminya biasa duduk. Pikirannya dipenuhi awan kelabu. Seharian ini ia hanya ditemani Tante Rita. Gavin menghilang tanpa kabar sejak pagi buta, tepat setelah Prabu membawanya pergi ke kantin. Ada rasa sesak yang kekanak-kanakan di dada Sira. Di tengah kerapuhannya, ia merasa takut akan ditinggalkan lagi setelah janji manisnya semalam. Ia tidak tahu bahwa sepanjang hari itu, Gavin sedang bertarung dengan tumpukan dokumen di kantor pengacara dan menghadapi kemarahan keluarganya demi satu tujuan, menyelesaikan perceraiannya dengan Raina secepat mungkin. Suara pintu yang terbuka pelan tidak membuat Sira bergeming. Ia mendengar langkah kaki yang sangat ia kenali, namun ia tetap memilih untuk menatap tembok putih di depannya. "Assalamualaikum, suamimu d
Terakhir Diperbarui: 2026-05-03
Chapter: 164. Gavin dan Prabu
Suasana kantin rumah sakit pagi itu tidak terlalu ramai, namun dengung suara mesin kopi dan denting sendok menciptakan latar belakang yang pas untuk percakapan berat antara Gavin dan Prabu. Setelah Tante Rita datang untuk menjaga Sira, Prabu memberikan isyarat kepada Gavin untuk mengikutinya. Ada beban yang harus segera dilepaskan agar tidak menjadi duri di masa depan. Gavin duduk di hadapan Prabu, menatap cangkir kopi hitamnya yang mengepulkan uap. Prabu memulai dengan kabar mengenai hukum untuk Andre. "Andre Wijaya tidak akan lepas begitu saja," buka Prabu dengan nada dingin yang biasa ia gunakan dalam negosiasi bisnis. "Aku sudah menugaskan tim hukum terbaik. Dengan bukti penculikan, penganiayaan, dan paksaan medis, dia akan mendekam di penjara dalam waktu yang lama. Aku juga akan memastikan dia kehilangan segalanya." Gavin mengangguk pelan. "Terima kasih, Prabu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada di sana semalam." Hening sejenak. Gavin menatap buih yang
Terakhir Diperbarui: 2026-05-01
Chapter: 163. Lili Putih dan Harapan yang Mekar
Sira duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit yang ditinggikan. Setelah gejolak mual di kamar mandi mereda, fokusnya kembali tertuju pada perban putih yang melilit lengan kiri Gavin. Dengan gerakan yang sangat perlahan, ia mengulurkan jarinya, menyentuh tepian luka itu seolah-olah rasa sakitnya bisa berpindah jika ia menyentuhnya cukup lembut. Ia mendongak, menatap mata Gavin dengan pandangan yang dalam dan penuh selidik. Meski bibirnya terkatung dalam kebisuan, sorot matanya bicara lebih keras dari kata-kata apa pun. "Apa kamu baik-baik saja? Lukamu pasti sakit sekali?" Gavin terdiam sejenak, tenggelam dalam samudera kekhawatiran yang terpancar dari mata istrinya. Ia meraih tangan Sira yang baru saja menyentuh lukanya, lalu menarik kursi untuk duduk tepat di hadapan Sira. "Aku baik-baik saja, Ra. Ini tidak sakit. Jangan khawatirkan aku," ucap Gavin dengan suara rendah yang menenangkan. Ia memberikan seulas senyum tulus, jenis senyum yang sudah bertahun-tahun tidak ia tunjukkan
Terakhir Diperbarui: 2026-04-30
Chapter: 162. Rahasia dalam Kebisuan
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai, membawa kehangatan yang kontras dengan dinginnya pendingin ruangan rumah sakit. Sira terbangun lebih dulu. Kesadarannya kembali perlahan, namun kali ini tanpa sentakan ketakutan seperti semalam. Perasaanya sudah lebih tenang, dan hal pertama yang ia rasakan adalah beban hangat yang menindih jari-jarinya.Gavin.Lelaki itu tertidur dengan posisi yang pasti sangat tidak nyaman, duduk di kursi dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Sira memandangi wajah suaminya dalam diam. Gurat kelelahan tercetak jelas di sana, lingkaran hitam di bawah mata dan dahi yang bahkan dalam tidur pun tampak berkerut gelisah.Sira menarik tangannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Gavin. Matanya kemudian tertuju pada lengan kiri Gavin yang tergeletak di atas sprei. Kemeja hitam yang dikenakan suaminya tampak robek di bagian bahu hingga siku. Ada noda darah kering yang tersamar oleh warna gelap kainnya, namun yang paling mencolok adalah perban p
Terakhir Diperbarui: 2026-04-29
Chapter: 161. Runtuhnya Sang Pilar
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian di dalam ruang perawatan itu. Sira akhirnya kembali tertidur, kelelahan setelah badai trauma yang menguras seluruh tenaganya. Namun, meski dalam lelap, jemari kecilnya masih menggenggam erat telapak tangan Gavin. Cengkeramannya begitu kuat, seolah-olah jika ia melonggarkan genggaman itu sedetik saja, Gavin akan meninggalkannya dan Andre akan muncul dari kegelapan untuk menyeretnya kembali ke neraka.Gavin tertegun menatap tangan mereka yang bertaut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran di tangan Sira. Hatinya perih, seperti disiram cuka di atas luka yang menganga."Penderitaan apa saja yang sudah kamu alami, Sira... hingga kamu bahkan takut untuk bicara?" bisik Gavin pelan, suaranya pecah di udara yang dingin.Air mata yang tadinya sempat mengering kini kembali mengalir, jatuh satu per satu membasahi sprei rumah sakit. Gavin menunduk, menempelkan keningnya pada punggung tangan Sira. Di bawah temaram lampu nakas, Gavin mulai merapal rentetan pen
Terakhir Diperbarui: 2026-04-29
Anda juga akan menyukai
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status