Chapter: Bab 191Suasana di dalam ruang tamu khusus Yayasan Cahaya Alya mendadak senyap seketika. Hawa dingin dari pendingin ruangan seolah membeku, berpadu dengan deru napas tertahan dari Sylvia yang masih terduduk lemas di lantai marmer. Kalimat yang diucapkan Araska barusan bukan sekadar gertakan kosong, itu adalah vonis final dari seorang pria yang menguasai urat nadi perekonomian negeri ini.Alya menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan pandangan yang dalam. Sebagai seorang psikolog, ia bisa melihat kehancuran mental yang paripurna di mata Sylvia. Keangkuhan, kalung berlian puluhan miliar, dan status sosial mentereng yang selama ini diagung-agungkan, musnah dalam sekejap begitu berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa kekuasaan manusia itu sangat rapuh.Alya melepaskan diri secara perlahan dari rangkulan tangan Araska, lalu melangkah maju dua langkah. Ia berjongkok sedikit agar posisinya sejajar dengan Sylvia yang terduduk di lantai."Nyonya Sylvia," ucap Alya dengan suara yang lembut namun
최신 업데이트: 2026-08-01
Chapter: Bab 190Kejadian malam itu di Hotel Mulia menyebar bagaikan api dalam sekam di kalangan elite sosialita ibu kota. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, rekaman video saat Alya yang mematahkan argumen Sylvia dengan begitu tenang, elegan, dan menohok telah menjadi topik perbincangan hangat di berbagai grup pesan eksklusif kalangan atas. Sylvia, yang tadinya dikenal sebagai ratu arisan yang paling ditakuti dan disegani, mendadak menjadi bahan gunjingan. Harga dirinya hancur berkeping-keping tanpa Alya perlu mengangkat satu jari pun untuk membalas dendam secara kasar.Dua hari setelah insiden tersebut, di ruang kerja pribadinya yang luas berlantai marmer hitam di gedung pencakar langit Adiguna Tower, Araska sedang memeriksa beberapa dokumen laporan keuangan bulanan ketika pintu diketuk pelan. Rendy melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang menyiratkan ketegangan."Tuan Araska, maaf mengganggu waktu pagi Anda," ucap Rendy seraya membungkuk hormat, lalu meletakkan sebuah map merah teb
최신 업데이트: 2026-07-30
Chapter: Bab 189"Maaf mengganggu jalannya acara yang sangat khidmat ini," suara Sylvia melengking tajam melalui mikrofon ruangan, sengaja mengeraskan volumenya agar seluruh tamu undangan mendengarkan. Ia berdiri dari kursinya, merapikan gaun emasnya, lalu melemparkan senyuman sinis ke arah meja tempat Alya dan Araska duduk.Suasana ballroom mendadak hening. Semua mata tertuju pada Sylvia."Saya sangat mengapresiasi laporan dari Yayasan Cahaya Alya yang dipimpin oleh Nyonya Alya Adiguna," lanjut Sylvia dengan nada sarkastis yang dibungkus senyuman manis palsu."Namun, sebagai salah satu pendiri senior di yayasan amal ini, saya merasa ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi secara transparan di hadapan publik dan para donatur terhormat."Alya tidak menunjukkan sedikit pun gestur kaget. Ia tetap duduk tenang, menyesap sedikit air putih dari gelas di depannya, lalu menoleh pelan menatap Sylvia dengan pandangan mata yang tajam, tatapan khas seorang sarjana ps
최신 업데이트: 2026-07-28
Chapter: Bab 188Kemewahan Ballroom Hotel Mulia malam itu berpendar lewat pantulan lampu crystal chandelier raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi. Alunan musik klasik dari kuartet gesek mengalun lembut, berpadu dengan derap langkah sepatu berhak tinggi dan gemerincing gelas kristal tempat bersatunya para kaum elite, pejabat tinggi, serta para sosialita papan atas ibu kota.Di salah satu sudut ruangan, sekelompok wanita sosialita tampak berkumpul melingkar di atas sofa velvet merah marun. Topik perbincangan mereka tidak jauh-jauh dari pameran koleksi perhiasan terbaru, tas designer edisi terbatas, hingga gosip seputar donasi fantastis yang digelontorkan demi mendongkrak status sosial di hadapan publik.Di tengah lingkaran itu berdiri Sylvia, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal, balutan gaun malam berpayet emas rancangan desainer internasional, dan kalung berlian yang melingkar angkuh di leher jenjangnya. Sylvia dikenal sebagai salah satu donatur tetap Elite Circle Foundation yang k
최신 업데이트: 2026-07-27
Chapter: Bab 187Malam perayaan kemenangan Zayyan telah berlalu, meninggalkan kedamaian di kediaman Adiguna. Keesokan paginya, setelah memastikan Zayyan berangkat ke sekolah dengan kepala tegak dan senyuman penuh percaya diri, Alya memfokuskan kembali perhatiannya pada salah satu hal yang paling ia cintai, Yayasan Cahaya Alya.Bau kertas buku baru, aroma cat dinding yang masih segar, dan riuh rendah suara tawa anak-anak mengisi setiap sudut yayasan sekolah gratis yang berdiri megah di kawasan pinggiran Jakarta Selatan tersebut. Di lantai dua gedung itu, Alya berjalan menyusuri koridor ditemani oleh Mutia, sahabat karibnya sejak masa kuliah psikologi dulu.Mengenakan setelan blazer putih gading dipadu celana bahan berpotongan longgar, Alya tampak begitu anggun. Namun, di balik senyuman ramahnya saat menyapa anak-anak asuh yang berlarian kecil membawa buku tulis baru, terpancar ketegasan seorang wanita yang tahu betul rasanya berada di titik terbawah kehidupan."Al, laporan bulana
최신 업데이트: 2026-07-26
Chapter: Bab 186Matahari sore perlahan meredup di ufuk barat, meninggalkan bias jingga yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit ibu kota. Zayyan masih memangku piala perak kemenangannya. Jemarinya berulang kali meraba ukiran logam di plakat kecil pada badan piala tersebut, Juara Pertama Kategori Robotika Menengah - Zayyan Mahendra.Alya menatap putranya dari samping dengan mata yang masih menyisakan binar kebahagiaan. Ibu itu merapikan rambut Zayyan yang sedikit berantakan akibat keringat siang tadi. "Kamu tahu, Zayyan," ucap Alya lembut, suaranya memecah keheningan. "Tadi saat Bunda melihatmu di atas panggung, Bunda teringat pertama kali kamu mencoba merakit mainan robot balok waktu usia tujuh tahun. Kamu menghabiskan waktu berjam-jam di lantai ruang keluarga sampai tertidur karena frustrasi mainannya tidak mau jalan. Dan lihat dirimu sekarang ... kamu berdiri di panggung besar, membawa pulang piala atas inovasi yang kamu buat sendiri."Zayyan mendongak, menatap ibunya dengan senyuman tipis
최신 업데이트: 2026-07-25