Chapter: Bab 240 - Kebohongan Kecil dan Tangan Dingin KaelMata Althea tak lepas dari amplop hitam yang dicengkeram Kael. Perubahan ekspresi suaminya yang mendadak dingin memicu kepanikan halus di dalam dadanya.Kael melipat kembali kertas di tangannya dengan gerakan sangat cepat. Senyum tipis yang penuh kepalsuan terukir di wajah tampannya saat dia menoleh menatap Althea."Bukan apa-apa, Sayang," ujar Kael tenang. Suaranya melunak drastis, menyembunyikan amarah yang memuncak di balik tatapan matanya. "Hanya surat penawaran investasi biasa dari perusahaan luar. Pengirimnya saja yang sedikit tidak sopan memakai kurir pribadi."Althea mengerutkan dahi, tidak mudah percaya begitu saja. "Tapi raut wajahmu tadi kelihatan marah sekali, Kael. Boleh aku lihat?"Althea mengulurkan tangannya, hendak meraih surat itu. Namun Kael dengan sigap menggeser tangannya, lalu menyerahkan amplop tersebut kepada pelayan yang masih berdiri di dekat mereka."Buang ini," perintah Kael dingin kepada pelayan, memberikan kode mata yang tak membantah.Pelayan itu mengang
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-01
Chapter: Bab 239 - Tanda Kecil dan Permainan BaruAroma kayu cendana yang familiar langsung menyapa indra penciuman Althea begitu kelopak matanya terbuka.Kael masih di sana. Pria itu bersandar pada kepala ranjang dengan satu tangan memangku kepala, menatap Althea yang baru saja terbangun dari tidurnya."Pagi, Sayang," suara Kael terdengar rendah dan serak khas bangun tidur.Althea menyunggingkan senyum tipis. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kael. "Pagi. Kamu tidak ada jadwal penerbangan ke kota hari ini?"Kael mengusap lembut rambut panjang istrinya. "Sudah kubilang, beberapa hari ke depan aku sepenuhnya milikmu."Jemari Kael bergerak turun. Telapak tangannya mengusap perut Althea yang masih tertutup piyama sutra. Usapannya teratur dan amat pelan."Bagaimana rasanya hari ini? Masih mual?" tanya Kael dengan binar mata yang hangat.Althea menggeleng pelan di dada suaminya. "Tidak. Sepertinya bayinya tahu kalau ayahnya sedang menjaga di sebelah."Kael terkekeh rendah. Tawa singkat yang membuat
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-01
Chapter: Bab 238 - Mengidam Bubur Ayam di Pulau PrivatKael masih memeluk Althea dalam diam. Telapak tangannya tidak pernah beranjak dari perut datar sang istri, seolah ingin memastikan kehidupan kecil yang baru saja mereka ketahui itu benar-benar ada di sana. Sorot matanya yang biasanya setajam baja kini dipenuhi kehangatan yang sulit disembunyikan, sementara Althea membiarkan kepalanya bersandar nyaman di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung yang terdengar begitu menenangkan. Beberapa menit berlalu tanpa satu pun dari mereka merasa perlu memecah keheningan. Setelah sekian lama dihantam berbagai ujian, keduanya memilih menikmati momen itu dengan penuh syukur. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mengusik, hanya rasa damai yang perlahan memenuhi setiap sudut hati mereka. Kael akhirnya mengecup pelipis Althea perlahan. "Mulai hari ini semuanya berubah, Althea. Selama ini aku hanya bertanggung jawab menjaga istriku, tetapi sekarang ada dua nyawa yang menjadi tanggung jawabku. Jangan pernah lagi berpikir aku akan memb
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: Bab 237 - Perlindungan dan Masa Depan Baru Suasana di dalam vila privat terasa begitu tenang sejak berita kehamilan Althea terkonfirmasi. Jika sebelumnya Kael adalah sosok suami yang sangat perhatian, kini pria itu menjadi jauh lebih protektif. Sinar matahari pagi merambat masuk melalui celah jendela kamar utama. Althea terbangun dan mendapati Kael sudah terjaga di sampingnya. Pria itu bersandar di kepala ranjang, memperhatikan Althea yang mulai mengumpulkan kesadarannya. "Bagaimana perasaanmu pagi ini?" tanya Kael rendah. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Althea yang terurai. "Masih merasa mual?" Althea menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Sudah jauh lebih baik. Hanya terasa sedikit pusing, tapi tidak separah kemarin." "Kalau begitu, tetaplah berbaring sebentar," ujar Kael. Dia meraih gelas air putih di atas meja samping dan menyerahkannya pada Althea. "Dokter menyarankan agar kamu tidak langsung beraktivitas berat di minggu-minggu awal kehamilan." Althea menerima gelas itu dan meminumnya perlaha
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-26
Chapter: Bab 236 - Jawaban atas Air Mata Masa Lalu Kepanikan menyelimuti kamar utama vila privat pagi itu. Kael Dirgantara yang biasanya memancarkan aura dingin dan tak tersentuh, kini tampak sangat cemas. Pria itu berdiri di dekat jendela besar dengan kedua tangan terkepal rapat, sementara matanya tak sekejap pun lepas dari Althea yang terbaring lemas di atas ranjang. Dokter privat keluarga yang kembali dipanggil bergegas melakukan pemeriksaan intensif. Alat pemindai portabel dan sampel darah cepat disiapkan. Melihat gejala mual dan perubahan rona wajah Althea yang sama sekali berbeda dari reaksi racun bahan makanan semalam, dokter paruh baya itu menarik napas panjang dengan ulas senyum tipis yang mulai terukir di bibirnya. "Bagaimana kondisinya, Dokter?" desak Kael dengan suara rendah yang berat, tidak mampu lagi menahan desakan panik di dadanya. "Apakah masih ada sisa kontaminan bahan makanan yang tertinggal di dalam tubuhnya?" Dokter itu mengemas alat pemeriksaannya perlahan, lalu menatap Kael dan Althea bergantian dengan raut
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-26
Chapter: Bab 235 - Kehancuran Total Zayyan & Althea Yang ... Di dalam ruang tahanan pengadilan yang dingin dan remang, Zayyan terduduk kaku di atas bangku kayu keras. Pria yang dulunya selalu tampil rapi dengan setelan jas mahal dan gaya bicara tinggi itu kini terlihat sangat mengenaskan. Kemeja putih yang dikenakannya tampak kusut dan kotor, sementara rambutnya berantakan tanpa tatanan. Suara langkah kaki petugas kepolisian yang tegas memecah keheningan koridor. Pintu besi sel terbuka dengan bunyi derit menyayat hati. "Saudara Zayyan, waktu kunjungan lima menit," ujar petugas itu dingin tanpa penyesalan. Zayyan mendongak perlahan, matanya yang merah dan berlingkar hitam memancarkan keputusasaan yang teramat pekat. Dengan tangan terbelenggu borgol besi yang dingin, dia berjalan lambat menuju ruang kunjungan berbatas kaca tebal. Di seberang kaca, berdiri Inara, ibunya, dengan pakaian lusuh dan wajah yang sembap akibat menangis tanpa henti. Di samping sang ibu, berdiri pengacara keluarga mereka yang menunduk pasrah. Zayyan meraih gagang tel
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-26
Chapter: Bab 8Alina menggeleng kaku, menatap pintu tempat Elang baru saja menghilang."Nggak, Dewa. Aku nggak mau," bisik Alina parau. Dia melangkah mundur, menjauhkan dirinya dari jangkauan Dewa. "Kalau aku membuntuti Mas Elang, aku nggak ada bedanya sama orang gila. Lagipula... aku bahkan nggak punya hak buat menghakimi dia."Dewa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia memperhatikan cara Alina berusaha menjauh, lalu berucap pelan, "Pilihanmu. Tapi menutup mata tidak pernah mengubah kenyataan kalau rumah tanggamu sudah hancur."Tanpa menunggu balasan lagi, Dewa berbalik dan melangkah keluar dari kamar suite.Alina mematung di tengah ruangan, menatap koper-kopernya. Kepala terasa mau pecah. Di satu sisi ada pesan dari kontak 'Hendra Staff' itu, tapi di sisi lain, sekilas ingatan tentang omelan sinis ibu mertuanya mendadak melintas. Tuntutan tajam agar perjalanan ini membuahkan kabar kehamilan tanpa mau mendengar alasan apa pun mendadak menekan dadanya.Niat Alina menuntut penjelasan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-01
Chapter: Bab 7Alina menggeleng kaku, refleks menyangkal kenyataan yang baru saja terpampang nyata di depan matanya. Pikirannya mendadak kacau. Rasa bersalah yang membakarnya sejak terbangun tadi pagi berbenturan hebat dengan rasa terhina akibat pesan di ponsel Elang."Nggak... ini pasti aku cuma salah paham," gumam Alina, suaranya gemetar hebat saat ia melangkah mundur satu tapak dari genggaman ponsel itu."Bisa saja ini salah kirim, kan? Atau orang iseng? Mas Elang tadi bilang dia meeting... dia cuma terjebak macet karena badai..."Dewa mengambil ponsel dari atas sofa dan membaca ulang pesan itu dengan rahang yang makin mengeras."Jadi, Hendra ini nggak mungkin nama pria sungguhan," ucap Dewa datar namun menekan, matanya mengunci wajah Alina yang pucat pasi."Mana mungkin Mas Elang selingkuh dengan laki-laki.""Tapi bisa aja ini cuma pesan nyasar, Dewa!" potong Alina cepat, suaranya melengking menahan keputusasaan. Dia mengangkat kedua tangannya di depan dada, berusaha menahan Dewa agar tidak mend
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-08-01
Chapter: Bab 6Pantas saja dekapan itu terasa berbeda. Suaminya tidak pernah menyentuhnya dengan lembut dan penuh gairah. Tidak pernah membuat Alina terhanyut dalam kenikmatan hingga tuntas.Pria yang membuatnya merasakan itu adalah Dewa.Adik iparnya itu berdiri tegak menatap Alina. Tatapannya tajam dan tenang, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau bersalah setelah apa yang terjadi. "Dewa... kamu, kamu yang barusan...?" bisik Alina parau. Suaranya tercekat. "Kenapa melakukan ini? Kenapa tadi diam saja, Dewa?" Dewa mendengar suara air dari kamar mandi depan, tanda bahwa Elang sedang membersihkan diri. Pria itu justru melangkah tenang, lalu berlutut di hadapan Alina. Tanpa bicara, Dewa menarik tubuh Alina ke dalam pelukannya. Dia memeluk Alina dengan erat, seolah mengunci tubuh wanita itu agar tidak bisa menjauh. Alina kaget dan mencoba mendorong dada Dewa. "Dewa, lepas... jangan begini." Dewa tidak melepasnya. Dia justru semakin merapatkan tubuh Alina ke dadanya, lalu berbisik rend
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-14
Chapter: Bab 5 "Alina! Kamu tuli, ya?! Di mana kamu?!" suara langkah kaki Elang terdengar makin mendekat ke arah area kamar tidur. Di dalam kamar yang gelap gulita, Alina merasa dunianya runtuh seketika. Seluruh sendinya mendadak lemas, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya. "Mas Elang..." panggil Alina dengan suara bergetar. "Alina! Kenapa tidak menjawab dari tadi?!" teriak Elang dari arah ruang tengah. Cahaya putih dari senter ponselnya mulai bergoyang-goyang, memantul di dinding pembatas kamar. Alina buru-buru menyambar jubah tidurnya yang tergeletak di lantai. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia memakai kain itu asal-asalan, mengikat talinya dengan terburu-buru tepat saat sorot lampu senter ponsel Elang menembus area tempat tidur. "Astaga, Alina! Kamu malah enak-enakan tidur di sini?!" Elang mendengus kencang begitu berdiri di ambang pintu kamar. "Aku berteriak-teriak seperti orang gila di luar, dan kamu tidak menyahut sama sekali!" Alina
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-14
Chapter: Bab 4Tubuh tegap yang dia dekap terasa kaku, tapi Alina sama sekali tidak curiga. Dia terlanjur ketakutan karena kamar yang gelap total akibat pemadaman listrik hotel."Mas, jawab aku," bisik Alina, mendongak menembus kegelapan. "Kamu kok diam saja? Kamu ke mana saja dari sore? Aku takut sendirian di sini."Suaminya tetap membisu. Pria itu justru menangkup pipi Alina dengan telapak tangannya yang besar dan hangat.Suara napasnya yang berat mulai terdengar di antara kesunyian kamar, berembus pelan di pucuk kepala Alina. Ibu jarinya bergerak lembut, mengusap sisa air mata di sana.Kecupan hangat mendarat di kening Alina, lama dan terasa sangat dalam. Rasa takut Alina perlahan luruh, berganti dengan debaran lain yang mendadak berkejaran di dalam dadanya.Akhirnya, pikir Alina. Suaminya ini akhirnya luluh juga dan mau menyentuhnya, bahkan mengecupnya dengan intim. Pasti urusan kerja tadi sudah terlanjur membuatnya lelah dan tidak lagi menolak perhatian sang istri."Maaf kalau aku tadi ketidura
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-14
Chapter: Bab 3"Sakit banget..." gumam Alina sambil memijat tumitnya yang lecet dan memerah.Dia duduk di tepi ranjang setelah bersusah payah menyeret tiga koper besar sendirian ke dalam kamar. Badannya terasa remuk dan sangat lelah.Namun, mengingat ancaman ibu mertuanya di telepon tadi, Alina memaksakan diri untuk mandi dan berganti pakaian. Dia memakai lingerie berwarna merah marun yang sengaja dia siapkan untuk malam ini.“Tenanglah, Alina, Mas Elang kayak tadi pasti karena tuntutan kerja. Oke, kamu udah benar sekarang. Baju ini udah pas banget…” gumamnya terhenti.Cklek.Mendengar suara pintu terbuka, Alina langsung berdiri. Jantungnya berdebar cepat. Dia buru-buru membalikkan badan, siap menyambut suaminya dengan senyuman."Mas Elang, kamu sudah kembali?"Ucapan Alina terhenti. Pria yang berdiri di ambang pintu bukan Elang, melainkan Dewa.Dewa yang baru mau melangkah masuk pun langsung mematung. Pandangannya terkunci pada Alina yang berpakaian sangat minim, lekuk tubuhnya terlihat jelas di b
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-14