تسجيل الدخولTiga tahun pernikahan Althea hanya diisi dengan penolakan dan sikap dingin suaminya setiap kali mereka berada di atas ranjang. Althea harus menanggung malu mama mertuanya karena tak kunjung hamil. Namun sebuah pemeriksaan medis membuat Althea menemukan sebuah rahasia besar yang sengaja ditanam di dalam rahimnya tanpa izin. Rasa dikhianati dan haus akan sentuhan yang tulus membuat pertahanan Althea mulai runtuh saat sahabat suaminya hadir memberikan perhatian yang berbeda. Kaelen Ardhani Dirgantara, bos besar sekaligus pemilik Dirgantara Group Kael tidak hanya menawarkan telinga untuk mendengar, tapi juga sentuhan yang membangkitkan gairah Althea yang selama ini dipadamkan oleh suaminya. Kini Althea terjebak dalam pilihan sulit untuk tetap setia pada suami yang memanipulasi tubuhnya atau menyerahkan diri sepenuhnya pada gairah terlarang bersama sahabat suaminya sendiri.
عرض المزيد“Kenapa ada IUD di dalam rahim kamu?”
Suara Dokter Sarah membuat tubuh Althea membeku di atas ranjang periksa. “IUD?” bibirnya bergetar. “Alat kontrasepsi itu?” “Iya,” jawab dokter itu serius. “Dan posisinya sangat rapi. Jelas dipasang oleh tenaga profesional.” Jantung Althea berdetak kacau. Kepalanya terasa kosong, seolah tubuhnya menolak memahami apa yang baru saja ia dengar. “Dok, ini bercanda ya?” tanyanya lagi, “Maksudnya gimana? Aku tidak pernah pasang apa pun.” Dokter Sarah tidak tersenyum. Wajahnya tetap serius. “Pemasangan IUD adalah prosedur medis yang harus dilakukan dengan persetujuan tertulis, penjelasan risiko, dan kesadaran pasien. Kamu benar-benar tidak tahu ada benda ini di dalam tubuh kamu?” Napas Althea tercekat. Jemarinya mencengkeram seprai kuat-kuat seolah tubuhnya nyaris kehilangan keseimbangan. “Tidak, Dok. Seperti yang Dokter tahu, saya dan suami mengharapkan anak. Jadi, mana mungkin aku pasang kontrasepsi…” lirihnya gemetar. Dokter Sarah mengangguk pelan. “Prosedur seperti ini biasanya melibatkan persetujuan dari pasangan, terutama jika ada riwayat kesehatan. Saya lihat di catatan medis kamu ada bekas operasi usus buntu setahun lalu. Mungkin saat itu ada prosedur tambahan. Kamu bisa konfirmasikan lagi dengan suami, ya.” Althea hanya bisa mengangguk pelan, meski dunia terasa runtuh. Setelah pemeriksaan selesai, Althea berjalan keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai dan pikiran kosong. Di dalam tasnya, tersimpan foto USG yang menunjukkan benda berbentuk T di dalam rahimnya. Ia ingat operasi usus buntu itu. Suaminya yang mengurus semuanya. Zayyan yang memilihkan rumah sakitnya, Zayyan yang mengurus semua dokumen, dan Althea dalam kondisi bius total saat itu. Althea ingat ia bangun dengan luka kecil di perut. Tapi IUD? Ia tidak ingat pernah setuju melakukannya. Tak lama, ponselnya bergetar di dalam tas. Nama Mama Mertua muncul di layar. Althea menatap nama itu beberapa detik, jari-jarinya gemetar. Akhirnya ia menekan tombol terima dengan napas tertahan. “Gimana, Thea? Sudah diperiksa total kan? Dokter bilang apa? Rahim kamu aman, kan?” Suara Mama Mertua langsung menyerbu tanpa jeda. Althea berusaha menjawab dengan suara normal, tapi lidahnya terasa kelu. “Sudah, Ma. Masih observasi,” katanya pelan. “Jangan santai-santai begitu, Thea. Ini sudah berulang kali Mama ingatkan,” lanjut Mama di seberang telepon. “Bulan depan ulang tahun pernikahan kalian yang ketiga. Mama malu terus ditanya saudara-saudara soal cucu. Kalau memang ada masalah, bilang sekarang. Jangan sampai Zayyan yang rugi punya istri tidak bisa kasih keturunan. Mama capek nunggu, tahu?” Althea menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa sakit. Emosi kemarahan, sedih, dan kebingungan berdesak-desakan di dada. Tapi ia menahannya rapat-rapat. Kepalanya masih penuh dengan bayangan IUD di layar USG. “Iya, Ma. Aku mengerti,” jawabnya pelan, suaranya hampir hampa. “Mengerti saja tidak cukup, Thea. Harus ada hasilnya. Mama sudah bilang berkali-kali. Zayyan butuh pewaris. Keluarga ini butuh cucu laki-laki. Atau mau Mama bicara langsung sama Zayyan supaya dia lebih tegas?” Althea merasakan dada semakin sesak. Air mata menggenang di mata, tapi ia cepat-cepat mengedipkannya. “Nggak usah, Ma. Aku diskusikan sama Zayyan berdua. Kita usahakan yang terbaik,” jawabnya lagi. “Mama tunggu kabar baiknya, Thea. Jangan bikin Mama kecewa lagi,” kata Mama Mertua sebelum menutup telepon dengan nada puas. Althea mematikan sambungan itu tanpa kata. Ponselnya ia pegang erat di tangan yang gemetar. Di balik kebingungan yang masih menyelimuti, kemarahan mulai menyala pelan. Ia tahu persis siapa pelakunya. Hanya satu orang yang selama ini punya akses penuh dan kendali atas tubuhnya. Yang selalu mengatur segalanya di belakangnya. “Zayyan…” suara Althea pecah pelan. Dadanya terasa sesak hanya dengan menyebut nama suaminya sendiri. “Untuk apa kamu melakukan ini semua padaku?” Jemarinya gemetar menggenggam hasil USG itu erat-erat. Ia tidak mengerti bagaimana pria yang selalu terlihat begitu tenang dan perhatian di depannya ternyata bisa menyembunyikan sesuatu sebesar ini. “Kamu sengaja mencegah aku punya anak?” Althea menghapus air matanya dengan kasar. Ia tidak boleh terlihat hancur di pinggir jalan. Begitu sampai di depan gerbang rumahnya yang megah namun terasa dingin, sebuah mobil yang sangat ia kenali terparkir di sana. Itu bukan mobil Zayyan. Ada tamu? Althea mengusap kasar air mata di wajahnya lalu memaksa diri berjalan tegak. Meski begitu, dadanya masih berdebar tidak karuan seolah emosinya bisa runtuh kapan saja. Saat ia berjalan ke depan pintu rumah, dunia terasa berputar. Althea oleng, tubuhnya hampir jatuh, tapi sepasang lengan yang kuat segera mendekapnya. Saat mendongak, ia melihat wajah seorang pria dengan garis wajah tegas, tampak ekspresi khawatir di wajahnya yang rupawan. “Thea…” pria itu menahan tubuhnya agar tidak jatuh, tatapannya penuh khawatir. “Kamu tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali.” Althea buru-buru berdiri menyadari pria ini bukan Zayyan, melainkan sahabat dekat suaminya yang sudah ia kenal sejak lama. Kaelen Ardhani Dirgantara, bos besar sekaligus pemilik Dirgantara Group. “Kael?”Mata Althea tak lepas dari amplop hitam yang dicengkeram Kael. Perubahan ekspresi suaminya yang mendadak dingin memicu kepanikan halus di dalam dadanya.Kael melipat kembali kertas di tangannya dengan gerakan sangat cepat. Senyum tipis yang penuh kepalsuan terukir di wajah tampannya saat dia menoleh menatap Althea."Bukan apa-apa, Sayang," ujar Kael tenang. Suaranya melunak drastis, menyembunyikan amarah yang memuncak di balik tatapan matanya. "Hanya surat penawaran investasi biasa dari perusahaan luar. Pengirimnya saja yang sedikit tidak sopan memakai kurir pribadi."Althea mengerutkan dahi, tidak mudah percaya begitu saja. "Tapi raut wajahmu tadi kelihatan marah sekali, Kael. Boleh aku lihat?"Althea mengulurkan tangannya, hendak meraih surat itu. Namun Kael dengan sigap menggeser tangannya, lalu menyerahkan amplop tersebut kepada pelayan yang masih berdiri di dekat mereka."Buang ini," perintah Kael dingin kepada pelayan, memberikan kode mata yang tak membantah.Pelayan itu mengang
Aroma kayu cendana yang familiar langsung menyapa indra penciuman Althea begitu kelopak matanya terbuka.Kael masih di sana. Pria itu bersandar pada kepala ranjang dengan satu tangan memangku kepala, menatap Althea yang baru saja terbangun dari tidurnya."Pagi, Sayang," suara Kael terdengar rendah dan serak khas bangun tidur.Althea menyunggingkan senyum tipis. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kael. "Pagi. Kamu tidak ada jadwal penerbangan ke kota hari ini?"Kael mengusap lembut rambut panjang istrinya. "Sudah kubilang, beberapa hari ke depan aku sepenuhnya milikmu."Jemari Kael bergerak turun. Telapak tangannya mengusap perut Althea yang masih tertutup piyama sutra. Usapannya teratur dan amat pelan."Bagaimana rasanya hari ini? Masih mual?" tanya Kael dengan binar mata yang hangat.Althea menggeleng pelan di dada suaminya. "Tidak. Sepertinya bayinya tahu kalau ayahnya sedang menjaga di sebelah."Kael terkekeh rendah. Tawa singkat yang membuat
Kael masih memeluk Althea dalam diam. Telapak tangannya tidak pernah beranjak dari perut datar sang istri, seolah ingin memastikan kehidupan kecil yang baru saja mereka ketahui itu benar-benar ada di sana. Sorot matanya yang biasanya setajam baja kini dipenuhi kehangatan yang sulit disembunyikan, sementara Althea membiarkan kepalanya bersandar nyaman di dada bidang suaminya, menikmati irama detak jantung yang terdengar begitu menenangkan. Beberapa menit berlalu tanpa satu pun dari mereka merasa perlu memecah keheningan. Setelah sekian lama dihantam berbagai ujian, keduanya memilih menikmati momen itu dengan penuh syukur. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang mengusik, hanya rasa damai yang perlahan memenuhi setiap sudut hati mereka. Kael akhirnya mengecup pelipis Althea perlahan. "Mulai hari ini semuanya berubah, Althea. Selama ini aku hanya bertanggung jawab menjaga istriku, tetapi sekarang ada dua nyawa yang menjadi tanggung jawabku. Jangan pernah lagi berpikir aku akan memb
Suasana di dalam vila privat terasa begitu tenang sejak berita kehamilan Althea terkonfirmasi. Jika sebelumnya Kael adalah sosok suami yang sangat perhatian, kini pria itu menjadi jauh lebih protektif. Sinar matahari pagi merambat masuk melalui celah jendela kamar utama. Althea terbangun dan mendapati Kael sudah terjaga di sampingnya. Pria itu bersandar di kepala ranjang, memperhatikan Althea yang mulai mengumpulkan kesadarannya. "Bagaimana perasaanmu pagi ini?" tanya Kael rendah. Tangannya terulur mengusap lembut rambut Althea yang terurai. "Masih merasa mual?" Althea menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum tipis. "Sudah jauh lebih baik. Hanya terasa sedikit pusing, tapi tidak separah kemarin." "Kalau begitu, tetaplah berbaring sebentar," ujar Kael. Dia meraih gelas air putih di atas meja samping dan menyerahkannya pada Althea. "Dokter menyarankan agar kamu tidak langsung beraktivitas berat di minggu-minggu awal kehamilan." Althea menerima gelas itu dan meminumnya perlaha
Lampu koridor kantor mulai dimatikan satu per satu, meninggalkan lorong panjang yang semakin dingin dan sepi. Hanya cahaya redup dari emergency light yang tersisa, menciptakan bayangan panjang di lantai marmer. Zayyan muncul tepat di saat suasana itu paling hening. Ia tidak langsung mendekat.
Pagi itu Althea sudah siap berangkat lebih awal dari biasanya. Ia berdiri di depan pintu utama dengan penampilan rapi dan profesional, tas kerja di tangannya, sementara sopir sudah menunggu di dekat mobil. Suasana rumah masih tenang sampai suara mesin mobil lain terdengar dari luar gerbang. A
Althea baru saja menyelesaikan percakapan singkat dengan Kael ketika suara langkah sepatu yang familiar terdengar mendekat dari arah koridor. Ia menoleh sekilas dan mendapati mamanya Zayyan sudah berdiri di dekat mereka dengan senyum yang terlihat dibuat sehangat mungkin.“Wah ada Kael di sini, apa
Althea tetap duduk di kursi Zayyan. Map di tangannya masih terbuka. Matanya bergerak lebih lambat sekarang, karena setiap baris angka yang ia baca mulai membentuk pola yang terlalu jelas untuk diabaikan. “Dana ini keluar sebelum perusahaan hampir kolaps,” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر