Kejamnya Mulut Suamiku
Matahari pagi baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela kamar yang kacanya sudah mulai berdebu. Rina mengerjap pelan, mengusap sisa kantuk dari matanya, namun rasa lelah yang terasa di sekujur tubuhnya tak kunjung hilang. Sudah tiga tahun ia menikah dengan Dimas, lelaki yang dulu ia anggap sebagai pelindung dan harapan hidupnya, namun kini berubah menjadi beban terberat yang harus ia pikul sendirian.
Dimas duduk di tepi kasur, wajahnya masam seolah dunia ini selalu berbuat salah padanya. Ia tidak pernah mau bekerja. Setiap kali Rina mengajaknya mencari pekerjaan, jawabannya selalu sama: "Pekerjaan apa yang ada di sini? Semuanya rendah dan tidak pantas untukku." Padahal, banyak tetangga yang bekerja sebagai buruh, pedagang, atau tukang ojek demi menafkahi keluarga. Dimas lebih suka duduk di rumah, merokok, dan menunggu uang datang entah dari mana dia dapat.
"
Read
Chapter: Bab 29Beberapa hari kemudian, Dimas kembali datang ke rumahnya hanya untuk mengambil sisa barang-barangnya. Ia datang dengan mobil sewaan, berpakaian sangat rapi dan wangi, jauh berbeda dari biasanya. Saat ia masuk ke rumah itu, ia tidak melihat Rina sedang menangis atau memohon untuk tetap tinggal. Sebaliknya, Rina hanya menyambutnya dengan tatapan dingin dan datar. "Aku sudah mengambil semua barangku yang tersisa. Mulai bulan depan aku sudah tidak akan kembali lagi ke sini," kata Dimas dengan nada yang tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali. "Baik," jawab Rina singkat, tidak menatap wajahnya lama. "Semoga kamu bahagia di tempat baru." Kata-kata itu membuat Dimas sedikit terkejut, tapi ia tidak memikirkannya lebih jauh . Ia mengira Rina akhirnya mengerti dan tidak lagi mengganggunya. Ia hanya mengangguk, lalu berbalik badan dan keluar dari rumah itu tanpa menoleh kembali. Bagi Dimas, rumah itu sudah menjadi masa lalu yang tidak ingin ia ingat lagi. Ia bahkan tidak menya
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 28Setelah malam itu Rina menemukan bukti di ponsel Dimas, suasana di rumah sederhana di Bekasi itu berubah menjadi sunyi namun penuh dengan pertimbangan yang matang. Rina tidak langsung bertindak dengan emosi, tidak berteriak atau mengajak berdebat seperti yang pernah dilakukan Dimas padanya dulu. Sebaliknya, ia memilih untuk menahan segala rasa sakit dan marahnya di dalam hati, memutuskan untuk tidak menunjukkan bahwa ia sudah mengetahui segalanya. Rina memiliki satu keputusan tegas: ia tidak akan mengejar, tidak akan memohon, dan tidak akan membiarkan dirinya terlihat seperti wanita yang lemah. Ia akan membiarkan Dimas menjalani kebahagiaannya sementara waktu bersama wanita baru itu. Biarkan suaminya merasa bebas, merasa bahagia, dan merasa bahwa ia sudah meninggalkan masa lalu dengan mudah. Rina yakin, saat kebahagiaan itu mulai pudar atau saat ia benar-benar siap untuk membuka mata, barulah ia akan datang memergoki semuanya sekaligus. Dan saat itulah, Rina berjanji
Last Updated: 2026-06-30
Chapter: Bab 27Malam itu sudah larut. Hujan yang sempat reda tadi mulai turun kembali dengan gerimis, membuat udara di sekitar perumahan Bekasi terasa dingin dan sunyi. Rina masih duduk sendirian di ruang tengah, menatap pintu depan yang tertutup rapat. Sejak Dimas pergi dan tidak pernah kembali, rumah itu terasa jauh lebih besar dan sepi dari sebelumnya. Setiap sudut ruangan seolah menyimpan kenangan yang dulu indah, namun kini hanya meninggalkan rasa sakit yang semakin dalam setiap kali diingat. Rasa lelah bukan hanya pada tubuhnya, tapi juga pada hati yang terus dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Dimas, mengirim pesan, namun semuanya berakhir dengan kesunyian. Nomor ponsel suaminya sering kali mati, atau jika terkadang menyala, tidak pernah ada jawaban. Rina tidak tahu ke mana Dimas pergi, dengan siapa, dan apa yang sedang ia lakukan. Yang ia tahu hanyalah bahwa suaminya yang dulu ia cintai dan hormati, kini telah berubah menjadi orang asing yang menjau
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Bab 26Hari Sabtu itu matahari baru saja mulai turun, namun di rumah mewah di kawasan Bandung itu, suasana sudah terasa hangat dan tenang. Sesuai janji yang mereka buat sejak lama, hari ini adalah hari di mana Dimas akan datang menemui Sari. Sari sudah menunggunya sejak siang. Ia tampil sangat cantik dan memikat, mengenakan baju tidur berwarna putih lembut yang menyesuaikan bentuk tubuhnya dengan sempurna, terlihat simpel namun sangat seksi dan elegan. Kulitnya masih terlihat bersih dan berkilau, dan aroma parfum khas yang ia gunakan selalu membuat Dimas terasa terbuai setiap kali berada di dekatnya. Rasa rindu yang ia simpan selama berhari-hari terlihat jelas di matanya yang berbinar. Tak lama kemudian, Dimas tiba. Langkahnya terasa lebih mantap, wajahnya terlihat semakin gagah dan tampan berkat perubahan penampilannya yang mulai dijaga dengan baik. Baju yang dikenakannya selalu rapi dan wangi, berbeda jauh dari dulu saat ia hanya berpakaian biasa-biasa saja. Saat pintu terbuka dan D
Last Updated: 2026-06-29
Chapter: Bab 25Malam itu udara di perumahan Bekasi terasa lebih pengap dari biasanya. Hujan sempat turun sebentar siang tadi, membuat udara menjadi lembap dan panas, namun yang membuat suasana menjadi berat bukanlah cuaca, melainkan ketegangan yang sudah menggunung selama berbulan-bulan. Rina baru saja selesai mencuci tumpukan kain bekas jahitan, tangannya masih basah dan sedikit merah karena terkena sabun dan deterjen. Ia masuk ke ruang tengah membawa selembar kain yang sudah selesai dirapikan, berniat memberitahu Dimas bahwa ia sudah menyelesaikan tugas hariannya. Ia ingin berbagi kabar baik, berharap setidaknya malam ini mereka bisa duduk bersama dengan tenang, sebelum Dimas harus pindah ke Bandung bulan depan. Namun saat ia berjalan mendekati Dimas yang sedang duduk bersandar di sofa sambil memegang ponsel, udara di ruangan itu seketika berubah menjadi panas dan berbahaya. "Mas, sudah selesai semua pekerjaan jahitannya hari ini. Coba lihat, semuanya sudah rapi dan siap diantar besok,"
Last Updated: 2026-06-28
Chapter: Bab 24Rapat hari itu berjalan cukup lancar dan terasa berbeda dari biasanya. Setelah pembahasan proyek selesai, suasana di ruangan menjadi sedikit lebih tenang, namun semua mata kembali tertuju pada Bu Sari yang kini berdiri di depan papan tulis, memegang berkas penting di tangannya. Wajahnya tampak tenang namun tegas, sama seperti yang biasa dilihat semua orang "Rekan-rekan sekalian," suara Bu Sari terdengar jelas dan terdengar oleh seluruh hadirin. "Saya ingin menyampaikan sebuah keputusan perusahaan yang telah disetujui. Mulai bulan depan, kami akan membuka kantor cabang baru di Bandung . Untuk memastikan operasional berjalan dengan baik dan memindahkan standar kinerja perusahaan ke sana, kami akan melakukan mutasi bagi beberapa karyawan terpilih." Ruangan itu menjadi hening sejenak. Banyak yang mulai menebak-nebak siapa saja yang akan terpilih untuk pindah ke kota tersebut. Bandung adalah lokasi yang strategis, namun juga berarti harus berpisah dari keluarga dan lingkung
Last Updated: 2026-06-28