LOGINBerita penerimaan lamaran Rina oleh Rendra menyebar perlahan, namun tidak semua orang menyambutnya dengan sukacita. Bagi Rina, hari itu adalah awal babak baru kehidupan, namun bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya lenyap. Sementara Rendra dan Bu Widya sibuk mempersiapkan segalanya dengan penuh kebahagiaan, dari arah yang tak terduga, gangguan mulai datang kembali—seolah tak ingin membiarkan Rina menikmati ketenangan yang baru saja ia temukan. Pagi itu, Rina sedang duduk di ruang kerjanya, memeriksa desain gaun pengantin yang akan ia buat untuk dirinya sendiri. Ujung jarinya menyentuh kertas dengan hati-hati, menggambar pola yang melambangkan ketabahan dan kebangkitan. Pintu ruangan terbuka tiba-tiba dengan kasar, dan mantan ibu mertuanya—muncul dengan wajah merah padam, diikuti Dimas yang berjalan enggan di belakangnya. “Jadi benar apa yang kudengar? Kau berani-beraninya mau menikah lagi dengan anak orang kaya lagi, hah?” seru nya tanpa sopan santun, berdiri tegak di tengah ruang
Angin sore berhembus lembut menyapu halaman rumah Rina yang luas dan indah. Di teras rumah yang kini berdiri megah bak istana itu, Rina duduk sendirian memandang ke arah taman yang tertata rapi. Di tangannya tergenggam sebuah kotak perhiasan kecil berisi cincin lamaran yang diberikan Rendra sebulan yang lalu. Wajahnya yang cantik, berkilau dengan kecerdasan dan keanggunan yang kini menjadi ciri khasnya, terlihat penuh keraguan. Meski ia telah bangkit dari keterpurukan, menjadi perancang busana ternama dan duta merek yang dikagumi banyak orang, bayangan masa lalu masih menari-nari di sudut hatinya. Ingatan tentang Dimas—laki-laki yang di awal pernikahan tampak penuh janji manis, namun akhirnya menjadi sumber luka dan penghinaan—masih membekas dalam ingatan. Rina takut, takut kisah pahit itu akan terulang kembali. Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Rendra muncul membawa dua cangkir teh hangat, wajahnya yang tenang dan lembut selalu memancarkan ketulusan yang jarang ditemui orang
Mobil ibu Dimasi melaju kencang menuju kawasan perumahan elit di Cikarang. Hatinya masih mendidih menahan amarah dan rasa malu setelah diusir halus namun tegas dari rumah Rina. Sepanjang jalan, bayangan wajah tenang Rina, tatapan tajam Ibu Widya, dan genggaman tangan Rendra pada Rina terus berputar di kepalanya. Ia tidak habis pikir—bagaimana bisa wanita yang dulu dianggap sampah oleh keluarganya, kini hidup berkelas dan dilindungi orang sekuat itu? Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil berhenti di depan rumah Dimas dan Sari. Bangunannya memang megah dan luas, bergaya modern mewah dengan halaman yang bersih dan rapi. Ini adalah rumah yang didapat Dimas berkat dukungan finansial keluarga Sari saat mereka baru saja menikah dulu. Bu Sumiati menarik napas panjang, berusaha menyusun wajahnya agar tidak terlihat terlalu kusut, lalu melangkah masuk. Begitu masuk ke ruang tengah yang luas dan sejuk, ia melihat Sari sedang duduk di sofa empuk. Wanita itu kini mengandung enam bulan, per
Rumah itu kini berdiri tegak di atas lahan luas di salah satu kawasan elit Bekasi, dindingnya berwarna putih bersih dengan sentuhan kaca berkilau yang memantulkan sinar matahari pagi. Taman depan yang asri dipenuhi bunga bermekaran, jalan setapak dari batu alam mengarah ke beranda yang luas. Tidak ada lagi rumah papan sempit yang dulu bocor saat hujan, tidak ada lagi atap yang menekan seolah menahan harapan. Rumah ini bukan sekadar bangunan megah—ini adalah bukti nyata bahwa Rina telah bangkit dari keterpurukan. Dari balik pagar tinggi yang dihiasi tempaan besi indah, tetangga-tetangga yang dulu sering berbisik sinis kini sering berhenti sejenak hanya untuk memandang kagum. Dulu mereka sering berkomentar keras: "Istri si Dimas itu lho, hutang di mana-mana, tidak bisa bayar iuran, mana lagi mandul." Kini mereka menyapa dengan senyum lebar setiap kali melihat Rina keluar dengan mobil mewahnya, atau saat truk bahan baku berhenti di depan rumah untuk mengantar pesanan khusus desainnya.
Satu tahun berlalu begitu cepat, seolah waktu berjalan lebih ringan setelah beban berat itu terangkat dari pundak Rina. Hari itu, di lobi hotel bintang lima di kawasan Cikarang, lampu sorot menyinari deretan tamu yang berdatangan mengenakan busana paling elegan. Acara pertemuan pengusaha besar dan peluncuran merek tekstil ternama se-Indonesia sedang berlangsung, dan di antara kerumunan orang penting itu, ada Rina yang berdiri tegak dengan percaya diri. Ia mengenakan gaun malam berwarna emas tua dengan potongan elegan yang menonjolkan lekuk tubuhnya tanpa terlihat berlebihan, kain berkilau yang ia desain sendiri melilit sempurna di badannya. Rambutnya yang dulu sering diikat asal kini diatur rapi bergelombang jatuh di bahu, wajahnya bersinar dengan riasan yang menonjolkan kecantikan alaminya. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan atau keraguan di matanya; yang terpancar hanyalah ketenangan, keberhasilan, dan keanggunan yang alami. Di sebelahnya berdiri Rendra, mengenakan setelan j
Hari itu matahari bersinar terik di halaman Pengadilan Agama Bekasi, namun tidak ada lagi rasa panas yang menyengat kulit Rina. Selembar kertas putusan tertangkap di tangannya, tertulis jelas: Perceraian antara Dimas Pratama dan Rina Kartika dinyatakan sah sejak hari ini. Tiga tahun pernikahan yang ia bangun dengan air mata, keringat, dan harapan kini hanya menjadi satu dokumen tipis yang menutup semuanya. Ia menghela napas panjang, lalu melipat kertas itu dengan rapi dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak ada tangisan, tidak ada lagi rasa perih yang menyayat hati. Selama proses sidang yang berlarut-larut, Dimas pernah berkata ia tidak pantas menjadi istrinya, ia tidak bisa memberikan apa yang diinginkan keluarga besarnya. Rina awalnya membela diri, namun ketika bukti pernikahan rahasianya dengan Sari sudah terungkap semua, ia sadar: berdebat dengan seseorang yang sudah berniat menghancurkanmu hanya akan membuang sisa tenaga yang dimiliki. "Lupakan saja, Rin," bisiknya pelan pada d
Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa
"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,
Malam itu di rumah sederhana mereka udara mulai terasa sejuk seiring berlalunya matahari. Setelah seharian Dimas beraktivitas di kantor Pak Adi, tubuhnya terasa sedikit lelah, namun ada sesuatu yang lain yang lebih kuat mendominasi pikirannya. Sejak hari ia mulai bekerja kembali, perasaan di dala
Pagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer. Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar







