Chapter: 360. Tak Sabar Menanti"Duduklah dahulu, Elara. Tenangkan pikiranmu," bujuk Lyra lembut. Ia menuntun Elara untuk kembali duduk di kursi kebesaran kayu ek, lalu berlutut di hadapan sahabatnya itu.Lyra meraih kedua belah tangan Elara, menggenggamnya dengan sangat erat demi menyalurkan kehangatan di tengah hawa kastil yang mendadak terasa begitu menegangkan. "Aku tahu apa yang ada di dalam kepalamu saat ini. Tapi dengarkan aku, aku sangat yakin Valerius sama sekali tidak meminta dirimu untuk datang ke gubug perbatasan itu."Elara menatap Lyra dengan mata yang masih basah oleh sisa air mata kebahagiaan. "Tapi dia terluka, Lyra! Bagaimana bisa aku hanya diam di sini menunggunya?""Karena dia adalah Valerius!" potong Lyra dengan nada tegas namun sarat akan kepedulian seorang sahabat. "Pria itu memiliki harga diri setinggi langit Utara. Dia pasti tidak ingin kau datang ke sana hanya untuk melihatnya dalam keadaan ringkih dan tidak berdaya secara langsung. Dia ingin kembali kepadamu sebagai seorang pelindung, buka
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: 359. Berita yang Mengguncang"K-kau... apa yang baru saja kau katakan?"Elara menganga lebar, seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas laksana dicabut paksa. Sepasang manik mata peralnya menatap tak berkedip pada seorang ksatria berbaju zirah kelabu tanpa lencana, pasukan rahasia milik Duchess Liora yang baru saja berlutut di tengah kegelapan ruang kerja utamanya.Surat dokumen taktis yang sejak tadi digenggamnya terlepas begitu saja, meluncur jatuh ke atas lantai batu kuno."Lord Valerius masih hidup, Yang Mulia," ulang pengawal bayangan itu, suaranya rendah namun sarat akan kepastian yang mutlak."Beliau berhasil selamat dari runtuhnya Puncak Hitam dan saat ini sedang berada di sebuah pondok kecil di wilayah perbatasan Desa Lembah Sunyi untuk proses penyembuhan luka dalamnya."Air mata yang selama dua bulan ini ia bendung dengan topeng ketegasan seorang Duchess kini sudah tak terbendung lagi. Elara menutup mulutnya dengan kedua belah tangan yang bergetar hebat.Dadanya bergemuruh begitu dahsyat, memicu rasa gug
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: 358. Akan Menyampaikan Pesan pada Elara"Valerius?! Demi dewa-dewa di langit Utara... bagaimana mungkin kau masih bernapas?!"Suara itu melengking tinggi, memecah kesunyian gubuk jerami. Duchess Liora von Ravenwood berdiri di ambang pintu dengan mata membola sempurna karena terkejut.Jubah bulu mewahnya yang berwarna biru malam terseret di lantai tanah saat ia melangkah tergesa-gesa mendekati ranjang kayu, menatap tidak percaya pada sosok pria kekar yang dipenuhi perban kering di hadapannya."Liora... kecilkan suaramu. Kepalaku rasanya mau pecah," rintih Valerius, suara baritonnya parau namun tetap membawa aura komando yang tajam. Ia mencoba menegakkan punggungnya, membuat beberapa luka kering di lengan atasnya kembali berdenyut ngilu."Bagaimana aku bisa tenang?! Seluruh wilayah Utara telah menyatakan kau tewas di dasar Jurang Hijau, Valerius!" Liora menumpukan kedua tangannya di pinggiran ranjang, wajah cantiknya memucat."Penobatan Elara baru saja dilakukan beberapa minggu yang lalu! Dan sekarang, keadaan di Drakenhoff s
Terakhir Diperbarui: 2026-06-14
Chapter: 357. Perang Mulut antar Aliansi Licik"Kau pikir kami buta dengan asal-usulmu, Elara?!"Suara menggelegar dari Lord Kenneth memecah keheningan Aula Dewan Kuno yang dingin. Pria paruh baya berjanggut tebal itu melangkah maju, menunjuk tepat ke arah wajah Elara dengan cincin emas klan yang berkilau angkuh.Di sekelilingnya, barisan aliansi politik yang licik dan haus kekuasaan tampak berdiri merapat, membentuk barikade intimidasi visual yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan mental sang Duchess baru."Selama dua bulan ini kami diam karena menghormati masa berkabung," sambung Count Robert dengan senyum culas yang menyebalkan."Namun, bukti-bukti taktis tidak bisa dibohongi. Kau sengaja membiarkan suamimu membawa resimen terkecil ke Puncak Hitam tanpa bala bantuan, bukan? Kau sengaja mengirim Duke Valerius ke dalam perangkap sihir hitam Isolde agar kau, seorang wanita dari Selatan yang miskin, akhirnya bisa duduk manis dan berkuasa mutlak di atas takhta besi Drakenhoff ini!""Jaga bicaramu, Robert!" bentak Lyra dari balik p
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: 356. Tunggu Suamimu Kembali"Minum ini selagi uapnya belum hilang, Lord Duke. Ini ramuan akar salju, bagus untuk mengeringkan luka dalam di dada Anda," ucap nenek tua itu sambil menyodorkan mangkuk tanah liat hitam yang panas.Sang nenek menghampiri Valerius yang sedang duduk bersandar pada tumpukan jerami kering, dengan perban kain rami melilit ketat di sekujur tubuhnya.Wajah kaku sang Duke penuh dengan luka kering yang mulai mengelupas, begitu pula dengan kedua belah tangannya yang biasa menggenggam pedang besi besar, kini dipenuhi guratan parut kemerahan akibat serpihan batu Puncak Hitam.Valerius menerima mangkuk itu dengan jemari yang masih sedikit kaku. "Terima kasih, Nek. Kebaikan desa ini tidak akan pernah kulupakan dalam draf hukum klan kami," ujarnya, lalu meneguk cairan pahit itu dalam sekali helaan napas tanpa mengernyitkan dahi.Valerius menyeka sisa ramuan di bibirnya, matanya yang sehitam arang beralih menatap jendela gubuk yang menampilkan siluet pegunungan batu wilayah tetangga.Kesadaran takti
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: 355. Jiwa yang Telah Kembali"Tuan? Anda sudah bangun?"Suara serak seorang wanita tua memecah keheningan sebuah gubuk jerami yang hangat.Pria itu membuka matanya perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan pendar cahaya dari tungku api di sudut ruangan. Kelopak mata peraknya yang tajam berkedip kaku, membuat para orang tua di desa terpencil tersebut mengelar napas lega secara serentak ketika melihat mata Valerius akhirnya terbuka sepenuhnya.Mereka begitu lega karena setelah hampir dua bulan dalam keadaan kritis antara hidup dan mati, sang ksatria misterius akhirnya kembali dari ambang kegelapan.Valerius menoleh pelan dengan tangan gemetar, merasakan seluruh persendiannya laksana terkunci oleh es abadi. "Elara..." bisik suaranya, parau dan nyaris tak terdengar di antara deru angin malam dari luar dinding kayu. "Di mana... Elara...?"Para tetua di sana saling berpandangan, gundah dan bingung mendengar nama asing tersebut.Salah satu tetua pria yang berambut putih kelabu melangkah mendekat, membetulkan selimut
Terakhir Diperbarui: 2026-06-13
Chapter: THE ENDTiga bulan pertama pernikahan mereka seharusnya menjadi masa transisi yang tenang, di mana Rafael fokus memperkuat fondasi GRB-Enterprises dan Gabby kembali mengelola jaringan restorannya.Namun, alam semesta tampaknya memiliki rencana percepatan untuk keluarga kecil ini.Pagi itu, suasana di kediaman Deveroux yang biasanya teratur berubah menjadi sedikit kacau.Gabby sudah menghabiskan waktu dua puluh menit di dalam kamar mandi utama, suara mualnya terdengar samar hingga ke telinga Rafael yang sedang merapikan dasi di depan cermin.Rafael terdiam, tangannya membeku. Ingatannya melayang pada cerita Gabby tentang masa-masa sulitnya saat mengandung Bianca sendirian di London.“Gabby? Kau baik-baik saja?” Rafael mengetuk pintu dengan cemas.Pintu terbuka pelan. Gabby muncul dengan wajah pucat, namun matanya berbinar dengan cara yang sulit dijelaskan.Di tangannya, dia menggenggam sebuah benda plastik kecil. Tanpa berkata-kata, ia menyerahkannya pada Rafael.Dua garis merah. Tegas dan jel
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: 232. Kebahagiaan yang HakikiPulau pribadi keluarga Deveroux di perairan Kepulauan Seribu menjadi saksi bisu berakhirnya badai delapan tahun yang lalu.Air laut yang biru jernih berkilau di bawah sinar matahari pagi, berpadu dengan dekorasi serba putih yang melilit pilar-pilar kayu ulin di tepi pantai.Tidak ada media, tidak ada kolega bisnis yang datang demi kepentingan politik, hanya keluarga inti dan segelintir sahabat yang menjadi saksi penyatuan kembali dua jiwa yang sempat hancur.Momen yang paling dinantikan tiba saat musik organ mulai mengalun lembut, memainkan melodi yang syahdu. Pintu besar paviliun terbuka, memperlihatkan Bianca yang berjalan lebih dulu.Gadis kecil itu tampak seperti malaikat dalam balutan gaun tutu putih dengan aksen mutiara dan mahkota bunga melati di kepalanya.Dia membawa kotak cincin beludru dengan langkah yang sangat bangga, sesekali melambai ke arah Rafael yang sudah berdiri di altar dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.Lalu, suasana menjadi sunyi saat sosok Gabriella mu
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: 231. Bianca the Big BossDua bulan telah berlalu sejak operasi besar yang hampir merenggut nyawa Rafael.Langit sore itu tampak bersih, memantulkan cahaya matahari pada dinding kaca gedung perkantoran baru di kawasan bisnis bergengsi.Di depan lobi gedung tersebut, sebuah papan nama minimalis namun elegan terpahat: GRB-Enterprises.Nama itu bukan sekadar singkatan; itu adalah simbol dari tiga nyawa yang kini menjadi pusat semesta Rafael: Gabriella, Rafael, dan Bianca.Setelah secara resmi melepaskan nama besar Dirgantara, Rafael benar-benar memulai hidupnya dari titik nadir.Dia meninggalkan kemewahan penthouse-nya, mengembalikan mobil-mobil sport miliknya, dan menutup semua akses rekening yang terhubung dengan R-Corp.Dia keluar dari rumah sakit bukan sebagai putra mahkota sebuah dinasti, melainkan sebagai seorang pria yang hanya memiliki harga diri dan cinta di pundaknya.Namun, membangun bisnis dari nol tidak semudah membalik telapak tangan, terutama di bawah pengawasan ketat Leonardo Deveroux.Di ruang ke
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: 230. Melepaskan SemuanyaBau antiseptik yang tajam kini bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan di koridor lantai khusus ICU. Dokter spesialis bedah saraf terbaik yang didatangkan Leonardo baru saja keluar dengan gurat wajah yang sangat serius.Penjelasannya singkat namun menghancurkan: pendarahan di bekas luka lama telah menekan saraf pusat. Operasi ulang adalah satu-satunya jalan, namun risikonya sangat fatal.“Peluang keberhasilannya adalah 50:50,” ujar dokter itu dengan nada datar. “Jika gagal, Tuan Rafael mungkin tidak akan pernah bangun lagi, atau mengalami kelumpuhan permanen.”Gabby merasa kakinya lemas, ia nyaris ambruk jika Alessia tidak mendekapnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang perawat keluar dan mengatakan bahwa Rafael ingin bertemu dengan Leonardo Deveroux. Sendirian.Di dalam ruang isolasi yang dingin, Rafael terbaring dengan berbagai alat penunjang hidup.Napasnya pendek, namun matanya terbuka, menatap langit-langit dengan kesadaran yang dipaksakan. Saat pintu terbuka dan Leo
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: 229. Kondisi yang Membuat Leonardo sedikit LuluhHari-hari berikutnya setelah amukan Leonardo di aula besar menjadi periode yang paling sunyi sekaligus paling tegang dalam sejarah kediaman Deveroux.Rafael, yang menyadari bahwa kekuatan finansial dan kemarahan tidak akan mampu meruntuhkan benteng pertahanan Leonardo, mengubah taktiknya menjadi “serangan lembut”.Dia tidak lagi datang dengan pengawal atau tuntutan hukum, melainkan dengan kerendahan hati yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun dari seorang Dirgantara.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah kiriman tiba di gerbang utama.Bunga peony putih langka yang sangat segar untuk Alessia, bunga kesukaannya yang hanya tumbuh di dataran tinggi tertentu dan satu kotak cerutu Cohiba Behike yang sudah tidak diproduksi lagi untuk Leonardo.Setiap kiriman disertai kartu kecil dengan tulisan tangan Rafael yang rapi namun tegas: “Aku tidak meminta harta Anda, aku hanya meminta kesempatan untuk menjadi ayah yang baik.”Alessia mulai luluh. Dia sering menatap bunga-bung
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: 228. Kemarahan LeonardoPagi itu, sinar matahari yang hangat menyapu halaman depan kediaman Deveroux, menciptakan pemandangan yang seharusnya menjadi potret kedamaian.Rafael sedang berdiri di dekat air mancur, menggendong Bianca yang tertawa riang sambil menceritakan tentang proyek sains sekolahnya.Rafael menatap putrinya dengan binar mata yang penuh pemujaan, sementara Bianca melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ayah, merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya.Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping saat suara deru mesin mobil Mercedes-Maybach hitam berhenti mendadak di depan gerbang. Pintu terbuka bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.Leonardo Deveroux melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Tongkatnya yang berujung perak menghantam aspal dengan bunyi dentuman yang mengancam.Leonardo seharusnya masih berada di Singapura untuk pertemuan dewan direksi selama tiga hari lagi.Namun, laporan dari intelijen pribadinya tentang apa yang terjadi di paviliun sema
Terakhir Diperbarui: 2026-02-08
Chapter: 201. Our Happy Ending - TamatDua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal
Terakhir Diperbarui: 2026-03-15
Chapter: 200. Debat Kecil Sebelum PernikahanLampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D
Terakhir Diperbarui: 2026-03-15
Chapter: 199. Pengakuan Diana“Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.
Terakhir Diperbarui: 2026-03-15
Chapter: 198. Garis Merah di Pagi HariTiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un
Terakhir Diperbarui: 2026-03-14
Chapter: 197. Bukan Seorang MonsterJam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin
Terakhir Diperbarui: 2026-03-14
Chapter: 196. Keadilan dalam PengasinganKantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb
Terakhir Diperbarui: 2026-03-14