Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
“Kalau kita berhenti sekarang, kau bisa melupakanku?”
Alea tak pernah membayangkan satu pertemuan singkat akan menyeretnya ke wilayah paling berbahaya dalam hidupnya. Arjuna Diwangsa—seorang CEO berusia matang, berwibawa, dan tak tersentuh—adalah godaan yang seharusnya tak pernah ia pandang dua kali. Terlalu berkuasa. Terlalu dingin. Terlalu terlarang.
Ketertarikan mereka tumbuh perlahan, penuh tatapan tertahan, batas yang diuji, dan kendali diri yang terus retak. Di balik sikap tenangnya, Arjuna menyimpan intensitas yang membuat Alea mempertanyakan keinginan terdalamnya sendiri. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kabur garis benar dan salah.
Masalahnya, Arjuna bukan sekadar pria berbahaya.
Ia adalah ayah dari sahabat Alea.
Di dunia urban kelas atas yang menuntut citra sempurna, satu rahasia bisa menghancurkan segalanya—termasuk hati yang telanjur terikat.
Leer
Chapter: BAB 543Suhu pendingin ruangan kafe ini menyentuh angka dua puluh derajat. Udara dingin berputar dari langit-langit, menabrak langsung kulit wajahku secara konstan.Laras duduk tepat di seberangku. Meja kayu bundar berdiameter enam puluh sentimeter memisahkan posisi kami. Permukaan kayunya kasar, dipenuhi goresan asimetris bekas pemakaian pengunjung selama bertahun-tahun.Hanya ada dua cangkir keramik berisi kopi hitam tanpa gula di atas meja ini.Tidak ada tumpukan kertas fisik. Tidak ada map plastik merah dari editor penerbit yang membatasi jarak pandang di antara kami berdua."Ingat pertama kali kita duduk di meja ini?" Laras membuka percakapan. Suaranya memotong kebisingan mesin espresso dari arah bar di belakangku."Tentu," balasku cepat. "Satu tahun lalu. Dulu ada map editor di antara kita. Kita sangat berhati-hati menyusun kata demi kata.""Kita saling mengukur seberapa besar ancaman yang dibawa satu sama lain lewat draf naskah itu," tambah Laras lugas. "Kita datang membawa posisi defe
Última actualización: 2026-07-31
Chapter: BAB 542Layar laptop menyala di atas meja makan. Cahaya putihnya memantul langsung ke wajahku. Edisi lengkap dengan empat bab resmi rilis pagi ini.Arjuna menuangkan air mendidih ke dalam dua cangkir teh. Uap panas mengepul ke udara, menabrak suhu pendingin ruangan yang disetel pada angka sembilan belas derajat."Ada ulasan baru yang masuk," ucapku tanpa basa-basi pembuka.Mataku menelusuri rentetan teks hitam di platform ulasan daring.Arjuna meletakkan teko kaca ke atas meja. Dia menarik kursi kayu dan duduk tepat di seberangku."Ulasan tentang keseluruhan buku edisi baru?" tanya Arjuna."Dari pembaca yang sudah baca tiga bab awal sebelumnya," jawabku cepat. Jariku menggeser trackpad ke bawah. "Dia bilang bab empat menunjukkan hal yang jauh lebih dalam.""Tentang bagian Elang?" Arjuna langsung memotong ke sasaran. Otaknya bekerja dengan presisi tinggi memetakan inti draf finalku."Iya," balasku lugas. Aku menyorot satu kalimat spesifik di layar. "Dia menulis: 'Cara Ibu menulis tentang anak
Última actualización: 2026-07-31
Chapter: BAB 541Layar laptop memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Kursor panah hitam diam tak bergerak tepat di atas tombol biru bertuliskan 'Kirim'.Suhu perpustakaan kecil ini tertahan di angka delapan belas derajat. Udara dinginnya menyentuh kulit lenganku secara konstan.Tiga ratus empat puluh dua halaman naskah sudah dikonversi menjadi dokumen PDF statis. File itu sudah terlampir. Alamat email editor utama di London sudah terisi di kolom tujuan.Aku tidak menggerakkan jariku di atas trackpad."Arjuna," panggilku datar. Suaraku memecah keheningan ruangan.Langkah kaki terdengar dari arah lorong. Arjuna melangkah masuk tanpa jeda. Dia tidak memakai jas. Hanya kemeja katun hitam yang digulung hingga batas siku.Pria itu berjalan lurus dan berhenti tepat di belakang kursiku. Panas tubuhnya langsung menetralisir suhu dingin di sekitar bahuku."Ini file finalnya," ucapku, menunjuk layar dengan dagu. "Format permanen. Siap menuju London."Arjuna menatap layar itu dari atas bahuku. Matanya meminda
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: BAB 540Pagi hari di perpustakaan kecil. Suhu udara terkunci di angka delapan belas derajat.Secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap tipis di sebelah buku catatan bersampul kulit gelap.Ujung pena logamku menekan kertas bergaris itu. Suara gesekan logam dan kertas terdengar nyaring, berulang, dan sangat cepat.Aku tidak sedang menyusun kerangka draf buku kedua. Teks final internasional sudah kuserahkan pada agensi London kemarin sore. Pekerjaan mentalku untuk ranah publik sudah selesai.Goresan pena ini murni ekskresi logis. Otakku butuh ruang untuk memuntahkan sisa-sisa residu observasi sebelum memulai hari."Dua tahun lalu, kita bergerak karena panik," ucapku keras-keras pada diriku sendiri di ruangan kosong ini. Suaraku tidak memantul.Tanganku mencetak satu garis lurus yang tebal di bawah deretan huruf itu."Kita mencari stabilitas dengan cara menghancurkan orang lain," gumamku lagi.Dulu, setiap keputusan yang kuambil didorong oleh insting bertahan hidup dari ancaman kematian kar
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: BAB 539Ujung pena hitamku mencetak garis tebal di atas kertas buku catatan bersampul kulit. Bunyi gesekan logam dengan kertas terdengar kasar dan cepat di perpustakaan kecil yang sunyi ini.Suhu pendingin ruangan terkunci di angka delapan belas derajat, menjaga udara tetap tajam."Penjelasan silsilah Elang," ucapku pada ruang kosong.Aku menekan pena itu. Coret."Respons publik dan media."Coret."Makan siang enam piring," gumamku lagi.Coret.Semua rentetan peristiwa berat dari minggu-minggu sebelumnya resmi kutandai selesai dengan tinta hitam pekat. Fondasi rumah tangga kami sudah solid. Tidak ada lagi rahasia berdarah yang menggantung di atas meja makan kami.Tapi otakku menolak melambat. Mekanisme kewaspadaan yang ditanamkan oleh sistem Diwangsa tidak bisa dimatikan dengan satu jentikan jari.Mataku memindai bagian bawah daftar to-do-list yang masih bersih dari coretan. Ada tiga hal mendesak yang belum rampung dan menuntut penyelesaian absolut.Pertama, naskah final internasional. Pihak
Última actualización: 2026-07-30
Chapter: BAB 538Aku melangkah masuk ke ruang makan. Langkahku terhenti tepat di ambang pintu.Enam piring keramik putih sudah tertata rapi di atas meja kayu. Lengkap dengan sendok dan garpu di setiap sisinya. Enam gelas kaca berjejer presisi di samping piring."Siapa yang siapkan ini?" tanyaku datar.Arjuna turun dari tangga di belakangku. Pria itu memakai kaus abu-abu polos. Dia melihat ke arah meja dengan dahi berkerut tajam."Bukan aku," bantah Arjuna cepat. "Aku baru selesai mandi.""Elang!" Suara cempreng membelah udara dari arah dapur.Elang berlari kecil menghampiri kami. Tangan kanannya menggenggam erat ponsel pintarku. Layar kaca ponsel itu menyala terang, menampilkan log panggilan keluar."Elang pakai HP Ummi buat telepon Ka, Ci, sama Dewi," lapor bocah lima tahun itu tanpa sedikit pun rasa bersalah.Aku merebut ponsel itu dari tangannya. Aku memeriksa layarnya secara cepat. Tiga panggilan keluar sukses dilakukan lima belas menit yang lalu. Durasi panggilannya sangat singkat. Hanya belasan
Última actualización: 2026-07-30