Masuk“Kalau kita berhenti sekarang, kau bisa melupakanku?” Alea tak pernah membayangkan satu pertemuan singkat akan menyeretnya ke wilayah paling berbahaya dalam hidupnya. Arjuna Diwangsa—seorang CEO berusia matang, berwibawa, dan tak tersentuh—adalah godaan yang seharusnya tak pernah ia pandang dua kali. Terlalu berkuasa. Terlalu dingin. Terlalu terlarang. Ketertarikan mereka tumbuh perlahan, penuh tatapan tertahan, batas yang diuji, dan kendali diri yang terus retak. Di balik sikap tenangnya, Arjuna menyimpan intensitas yang membuat Alea mempertanyakan keinginan terdalamnya sendiri. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kabur garis benar dan salah. Masalahnya, Arjuna bukan sekadar pria berbahaya. Ia adalah ayah dari sahabat Alea. Di dunia urban kelas atas yang menuntut citra sempurna, satu rahasia bisa menghancurkan segalanya—termasuk hati yang telanjur terikat.
Lihat lebih banyakLima ratus. Seribu. Dua ribu lima ratus.
Aku menatap tumpukan koin di telapak tangan. Logam-logam dingin ini berbau apek, sama seperti udara lembap di dalam kontrakan sempit yang terpaksa kuhuni tiga bulan terakhir.
Listrik mati sejak sore. Meteran di luar menampilkan angka nol, dan dua ribu lima ratus rupiah di genggamanku tidak cukup untuk mengubah angka itu menjadi satu pun.
DUAR!
Suara gedoran benda keras menghantam pintu kayu rapuh di depanku. Jantungku serasa berhenti berdetak sedetik, sebelum memacu gila-gilaan menabrak rusuk.
"Buka! Gue tahu lu di dalem, Bangsat!"
Suara teriakan laki-laki. Kasar. Parau. Penuh ancaman.
Aku membekap mulutku sendiri, menahan isak tangis yang mendesak keluar. Tubuhku gemetar hebat di sudut ruangan, di atas kasur lipat tipis yang sudah tak berbentuk.
Hujan di luar turun semakin deras, seolah berlomba dengan suara gedoran di pintu untuk memecahkan gendang telingaku.
"Keluar dalam hitungan tiga, atau gue bakar tempat ini sama lo!"
Bau bensin merembes lewat celah bawah pintu. Mereka tidak mengancam — mereka berjanji.
Tanganku meraba lantai gelap. Jari-jariku menyentuh sudut tajam layar retak — ponsel dengan baterai 15%. Dalam kondisi ini, satu-satunya koneksi ke dunia yang mungkin bisa menolong.
Aku menekan kontak di Speed Dial 1. Luna.
Tuuut... Tuuut...
"Angkat, Lun... Please, angkat..." bisikku parau. Air mata mulai menetes, panas di pipi yang dingin.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Sial. Luna pasti sedang di pesawat menuju Paris. Dia sedang liburan semester, hidup di dunia yang jauh berbeda dari neraka ini.
BRAK!
Pintu kayu itu retak. Engsel tua di bagian atas mulai longgar. Kayu lapuk berjatuhan ke lantai.
"Satu!" Teriakan di luar makin keras.
Aku menggulir kontak dengan panik. Siapa? Siapa yang bisa menolongku detik ini juga? Ibu masih di rumah sakit, tidak mungkin kubebani.
Saudara? Mereka semua menjauh sejak Ayah bangkrut dan kabur. Rian? Dia cuma mahasiswa sepertiku, dia tidak akan berani melawan preman-preman itu.
Jariku berhenti di satu nama. Kontak yang tersimpan paling bawah, yang tidak pernah berani kuhubungi seumur hidupku kecuali untuk urusan sangat darurat menyangkut Luna.
Om Arjuna.
Arjuna Diwangsa. Ayah Luna.
Rasa malu menikam ulu hatiku. Meminta tolong padanya sama saja dengan menelanjangi harga diriku. Dia pria terhormat, konglomerat yang melihatku hanya sebagai "teman kecil Luna yang manis". Apa yang akan dia pikirkan jika tahu aku dikejar lintah darat seperti buronan?
BRAK!
"Dua!"
Pintu itu melengkung ke dalam. Kunci grendel murahan itu tidak akan bertahan lima detik lagi.
Persetan dengan harga diri. Aku ingin hidup.
Aku menekan tombol panggil. Napasku tercekat di tenggorokan.
Dering pertama. Dering kedua.
"Halo."
Suara itu. Bariton, dalam, datar, dan dingin. Suara yang biasa kudengar memberi perintah di ruang rapat atau memarahi pelayan restoran bintang lima karena kesalahan kecil. Suara kekuasaan.
"Om..." Suaraku pecah, hampir tak terdengar karena isak tangis. "Om Arjuna... tolong..."
Hening sejenak di seberang sana. Tidak ada nada kaget, tidak ada nada khawatir. Hanya sunyi yang mencekam.
"Siapa ini?" tanyanya datar. Tentu saja dia tidak menyimpan nomorku.
"Alea, Om. Teman Luna..."
KRAAAK!
Pintu depan jebol. Potongan kayu terlempar ke dalam ruangan. Cahaya senter menyilaukan mata menerobos masuk, diikuti bayangan tiga pria berbadan besar.
"Itu dia! Tangkap!"
Aku menjerit. Ponsel di telingaku terlepas, tapi aku tidak peduli lagi. Aku melempar tumpukan koin ke arah mereka—usaha perlawanan yang menyedihkan—lalu berbalik badan.
Jendela kaca nako di belakang — sebagian sudah pecah sejak bulan lalu — satu-satunya jalan.
Kaca yang tersisa mengoyak lengan dan pahaku saat aku menerobos. Aku tidak merasakan perihnya sampai kakiku menghantam lumpur gang di belakang kontrakan.
Adrenalin adalah anestesi terbaik yang pernah ada.
Aku mendarat di gang becek di belakang kontrakan, lututku menghantam lumpur.
Hujan langsung menampar wajahku. Dingin. Menusuk tulang.
"Jangan lari lu!"
Derap langkah kaki berat terdengar mengejar. Aku bangkit, mengabaikan darah yang mulai merembes bercampur air hujan di kakiku. Lari. Aku harus lari ke jalan raya. Di sana ada orang. Di sana ada lampu.
Gang itu gelap dan licin. Sandalku putus satu, membuatku terpincang-pincang. Napasku memburu, paru-paruku terasa terbakar.
Di ujung gang, cahaya lampu jalan raya terlihat samar.
Sedikit lagi.
Aku memaksakan kakiku yang lemas. Suara teriakan preman di belakang semakin dekat.
Aku menghambur keluar dari mulut gang, langsung memotong jalan aspal tanpa menoleh.
CIIIT!!!
Bunyi decit ban beradu dengan aspal basah memekakkan telinga. Cahaya putih menyilaukan menelan seluruh pandanganku. Klakson panjang berbunyi nyaring.
Aku membeku. Kakiku kaku.
Moncong sebuah mobil besar berwarna hitam mengkilap berhenti tepat dua sentimeter dari lututku. Panas mesinnya menerpa kulitku yang basah kuyup.
Aku jatuh terduduk di aspal, menutupi wajah dengan kedua tangan, menunggu benturan yang tak kunjung datang atau teriakan makian dari supir.
Tapi hening.
Hanya suara hujan dan deru halus mesin mobil di depanku.
Perlahan, aku menurunkan tangan. Mataku menyipit di balik tirai hujan, menatap logo mobil di depanku. Dua huruf M yang saling bertaut dalam bingkai segitiga. Maybach.
Pintu penumpang belakang terbuka. Sebuah payung hitam besar mengembang, melindungi sosok yang keluar dari sana. Sepatu pantofel kulit mengkilap menapak di aspal basah, tak peduli pada genangan air kotor.
Wangi Oud Wood dan tembakau mahal samar-samar tercium, melawan bau amis hujan dan sampah jalanan.
Sosok tinggi tegap itu berdiri menjulang di depanku yang terduduk menyedihkan di aspal. Dia tidak mengulurkan tangan.
Dia hanya menatapku ke bawah, dengan sorot mata tajam dan dingin yang lebih menakutkan daripada preman yang mengejarku tadi.
Di tangannya, sebuah ponsel menyala, masih tersambung panggilan yang belum diputus.
"Alea."
Bukan pertanyaan. Bukan ajakan. Sebuah klaim atas nama.
"Masuk."
Suhu pendingin ruangan kafe ini menyentuh angka dua puluh derajat. Udara dingin berputar dari langit-langit, menabrak langsung kulit wajahku secara konstan.Laras duduk tepat di seberangku. Meja kayu bundar berdiameter enam puluh sentimeter memisahkan posisi kami. Permukaan kayunya kasar, dipenuhi goresan asimetris bekas pemakaian pengunjung selama bertahun-tahun.Hanya ada dua cangkir keramik berisi kopi hitam tanpa gula di atas meja ini.Tidak ada tumpukan kertas fisik. Tidak ada map plastik merah dari editor penerbit yang membatasi jarak pandang di antara kami berdua."Ingat pertama kali kita duduk di meja ini?" Laras membuka percakapan. Suaranya memotong kebisingan mesin espresso dari arah bar di belakangku."Tentu," balasku cepat. "Satu tahun lalu. Dulu ada map editor di antara kita. Kita sangat berhati-hati menyusun kata demi kata.""Kita saling mengukur seberapa besar ancaman yang dibawa satu sama lain lewat draf naskah itu," tambah Laras lugas. "Kita datang membawa posisi defe
Layar laptop menyala di atas meja makan. Cahaya putihnya memantul langsung ke wajahku. Edisi lengkap dengan empat bab resmi rilis pagi ini.Arjuna menuangkan air mendidih ke dalam dua cangkir teh. Uap panas mengepul ke udara, menabrak suhu pendingin ruangan yang disetel pada angka sembilan belas derajat."Ada ulasan baru yang masuk," ucapku tanpa basa-basi pembuka.Mataku menelusuri rentetan teks hitam di platform ulasan daring.Arjuna meletakkan teko kaca ke atas meja. Dia menarik kursi kayu dan duduk tepat di seberangku."Ulasan tentang keseluruhan buku edisi baru?" tanya Arjuna."Dari pembaca yang sudah baca tiga bab awal sebelumnya," jawabku cepat. Jariku menggeser trackpad ke bawah. "Dia bilang bab empat menunjukkan hal yang jauh lebih dalam.""Tentang bagian Elang?" Arjuna langsung memotong ke sasaran. Otaknya bekerja dengan presisi tinggi memetakan inti draf finalku."Iya," balasku lugas. Aku menyorot satu kalimat spesifik di layar. "Dia menulis: 'Cara Ibu menulis tentang anak
Layar laptop memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Kursor panah hitam diam tak bergerak tepat di atas tombol biru bertuliskan 'Kirim'.Suhu perpustakaan kecil ini tertahan di angka delapan belas derajat. Udara dinginnya menyentuh kulit lenganku secara konstan.Tiga ratus empat puluh dua halaman naskah sudah dikonversi menjadi dokumen PDF statis. File itu sudah terlampir. Alamat email editor utama di London sudah terisi di kolom tujuan.Aku tidak menggerakkan jariku di atas trackpad."Arjuna," panggilku datar. Suaraku memecah keheningan ruangan.Langkah kaki terdengar dari arah lorong. Arjuna melangkah masuk tanpa jeda. Dia tidak memakai jas. Hanya kemeja katun hitam yang digulung hingga batas siku.Pria itu berjalan lurus dan berhenti tepat di belakang kursiku. Panas tubuhnya langsung menetralisir suhu dingin di sekitar bahuku."Ini file finalnya," ucapku, menunjuk layar dengan dagu. "Format permanen. Siap menuju London."Arjuna menatap layar itu dari atas bahuku. Matanya meminda
Pagi hari di perpustakaan kecil. Suhu udara terkunci di angka delapan belas derajat.Secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap tipis di sebelah buku catatan bersampul kulit gelap.Ujung pena logamku menekan kertas bergaris itu. Suara gesekan logam dan kertas terdengar nyaring, berulang, dan sangat cepat.Aku tidak sedang menyusun kerangka draf buku kedua. Teks final internasional sudah kuserahkan pada agensi London kemarin sore. Pekerjaan mentalku untuk ranah publik sudah selesai.Goresan pena ini murni ekskresi logis. Otakku butuh ruang untuk memuntahkan sisa-sisa residu observasi sebelum memulai hari."Dua tahun lalu, kita bergerak karena panik," ucapku keras-keras pada diriku sendiri di ruangan kosong ini. Suaraku tidak memantul.Tanganku mencetak satu garis lurus yang tebal di bawah deretan huruf itu."Kita mencari stabilitas dengan cara menghancurkan orang lain," gumamku lagi.Dulu, setiap keputusan yang kuambil didorong oleh insting bertahan hidup dari ancaman kematian kar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak