Chapter: Bagian 260Brummm! Khhhk!Desing mesin ekskavator berukuran jumbo menggelegar memecah keheningan lokasi proyek. Moncong besi berukuran raksasa itu mulai menancap tajam, mengeruk tanah sektor A sesuai perintah Pak Mikel.Di tepi galian, kerumunan petinggi proyek berdiri menahan napas. Pak Mikel mengelap keringat di pelipisnya berulang kali, sementara Pierre berdiri tegang dengan kedua tangan mengepal kaku di samping paha. Agus sendiri cuma santai menyandar di kap mobil."Keruk terus! Masuk dua meter!" teriak Pak Mikel pada operator.Srekkk!Kerukan pertama dan kedua melemparkan gundukan tanah cokelat keperakan yang tampak agak becek dan lembek.Pierre langsung tersenyum miring, menatap Agus penuh kemenangan. "Lihat itu! Baru dua meter tanahnya sudah becek begitu! Teori saya terbukti kan?! Ini tanah gembur berbahaya!""Sabar, Bro. Jangan seneng dulu," sahut Agus tenang tanpa mengalihkan pandangan. "Gue bilang kan kedalaman tiga meter. Itu baru dua meter, baru kulitnya doang. Masih ingusan.""H
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bagian 259"Aduh, aduh... Pak Pierre, Pak Agus, tolong tenang dulu! Jangan pakai emosi gini, dong!"Pak Mikel mengusap dahi lebar yang terus basah oleh keringat dingin. Pria paruh baya yang memiliki mega proyek bernilai triliunan itu kelihatan sibuk mengurut dadanya, bingung setengah mati terjepit di antara dua pria yang sedang adu gengsi di depannya."Proyek tiga triliun ini bisa berantakan kalau kalian malah ribut di sini!" lanjut Mikel panik.Melihat ekspresi panik Mikel, Pierre semakin sombong. Dada arsitek klimis itu makin membusung, menatap Agus seolah-olah Agus cuma serangga kecil yang gampang dilindas."Saya tidak ada waktu buat melayani orang enggak jelas begini, Pak Mikel!" bentak Pierre seraya berkacak pinggang. "Kalau Anda masih mau proyek ini jalan lurus dan dipercaya investor internasional, usir preman ini dari lokasi sekarang juga! Pilih saya atau kuli ini?!"Beberapa staf teknis dan supervisor lapangan yang mengelilingi meja ikut menahan napas. Pierre benar-benar memanfaatkan po
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bagian 258Keesokan harinya, matahari pagi membakar lokasi mega proyek kawasan resort komersial bernilai tiga triliun rupiah. Suasana di lapangan riuh oleh raungan mesin alat berat dan mondar-mandir kuli bangunan.Agus melangkah santai memasuki area proyek. Pemuda itu tampil sederhana tapi tegap, mengenakan kaus kerah berwarna hitam yang membungkus ketat dada bidang dan lengan kekarnya, dipadu celana jeans gelap. Dari kejauhan, Agus melihat Pak Mikel sedang berdiri di samping meja lipat besar yang dipenuhi cetak biru. Di sebelahnya, berdiri seorang pria paruh baya klimis berpenampilan necis, mengenakan rompi proyek mahal, kacamata bingkai emas, dan helm proyek bersih kinclong. Pria itu adalah Pak Pierre, arsitek senior lulusan luar negeri yang disewa khusus buat proyek ini."Nah! Itu dia orang yang saya tunggu-tunggu!" seru Pak Mikel begitu melihat sosok Agus mendekat. Wajah pengusaha kaya itu terlihat lega.Pak Mikel langsung menyambut Agus dan menepuk bahu kokohnya. "Pak Agus, kenalin. Ini
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bagian 257 Agus yang cuma memakai celana kolor santai sedang sibuk mengaduk nasi goreng spesial di atas wajan. Bau harum bumbu tumis dan telur langsung menguar, memancing selera. "Wow, wangi bener sarapan buatan Papa," puji Rosa yang mendadak muncul dari belakang. Bodi seksinya tertutup baju tidur tipis yang tanpa dalaman. Wanita yang dulu angkuh itu kini berubah seratus persen jadi sangat manja. Dia merangkul pinggang kekar Agus dari belakang, menempelkan dada empuknya tanpa jarak. "Eits, Nyonya Besar katanya mau tidur lagi?" Agus menyengir, mematikan kompor. "Gus... aku mau makan, tapi ada syaratnya," bisik Rosa sambil menggesekkan hidungnya ke punggung mulus Agus. "Syarat apaan lagi toh, Rosa?" “Nanti suapin aku, tapi kamu enggak boleh pakai baju. Aku mau makan sambil digendong kamu, liatin otot sixpack kamu yang berkilat begini. Si utun yang ngidam, bukan aku!" Rosa memo
Terakhir Diperbarui: 2026-07-30
Chapter: Bagian 256Pagi yang cerah di vila luar kota, Agus melangkah santai ke teras sambil memegang cangkir kopi hitam yang masih ngebul. Udara sejuk pegunungan bikin otaknya makin jernih. Pemuda kampung yang menjadi miliarder itu merogoh ponsel di saku celana, menekan nomor Maya."Halo, May? Lu masih di rumah kan?" sapa Agus tanpa basa-basi."Iya, Gus! Ini aku lagi santai di ruang tengah. Udah ngepel sama bersihin debu tuh. Ada apaan nih pagi-pagi telepon? Kangen ya?" goda Maya di seberang sana dengan suara centilnya."Halah, kangen dari Hongkong," celetuk Agus terkekeh. "Gini, May. Lu mau duit jajan lima puluh juta tunai kagak?"Suara Maya mendadak heboh. "Hah?! Lima puluh juta?! Beneran kamu, Gus?! Mau banget lah! Tugasnya apaan, cepat kasih tahu!""Tugas lu gampang bener. Gua udah kirim satu video ke WA lu. Sekarang lu samperin si Hendro di kamarnya, terus stel itu video persis di depan mukanya. Sampe tuntas, jangan dikasih lepas," perintahkan Agus dengan nada dingin dan penuh penekanan.Maya yang
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29
Chapter: Bagian 255“Lu bisa apa Hendro? Mending lu kasih tanda tangan buat surat cerai, kelar semua! Atau gua bikin lu nyesel.” Agus yakin ini akan mudal."H-hah! B-bajingan l-lu, G-gus!" Hendro tertawa terkekeh-kekeh, suaranya cadel dan tersengal-sengal karena strokenya. Air liurnya nyaris cipratan dari bibirnya yang miring. "K-kalau l-lu b-bunuh g-gua, l-lu b-bakal m-masuk p-penjara! D-dan R-rosa... R-rosa b-bakal t-tetep j-jadi i-istri s-sah g-gua s-selamanya di m-mata h-hukum! T-takdir l-lu c-cuma b-babu. Ha-rta lu ja-di m-i-lik gua.!"Agus sama sekali tidak terpancing emosi. Pemuda yang besar di kampung itu malah menyunggingkan senyum miring mengejek yang bikin mental Hendro semakin mendidih. Otak buaya dan liciknya berputar cepat, membunuh tua bangka ini terlalu mudah dan cepat. Siksaan fisik tak ada artinya dibanding hancurnya harga diri seorang pria."Istri lu kata? Status itu udah kadaluarsa, Hendro," bisik Agus dingin persis di depan wajah pucat sang mantan majikan. "Kita lihat aja nanti, Tu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-29