INICIAR SESIÓN“Goyangan Nyonya mantap betul. Tapi beneran suka anu saya? Enggak jijik sama pelayan bau keringat kayak saya?” Agus, pemuda desa yang baru jadi pelayan di rumah mewah, kaget bukan main saat majikan cantiknya minta jatah ranjang. Rahasia panas itu ternyata baru permulaan, karena permintaan gila sang majikan malah membuat Agus semakin terjebak di antara gempuran gairah nyonya rumah.
Ver más"Halah, udah sana keluar kamu, May. Ngapain pakai ngintip-ngintip segala? Mau nyari celah kamu ya?" semprot Agus langsung, tahu benar isi kepala janda gatel satu ini pasti juga penuh siasat licik."Pinter bener kamu ya, Gus. Tahu aja sih urusan orang." Maya kelihatan jengkel minta ampun dan melotot."Iya, May. Keluar sana, ah. Orang lagi pusing malah diganggu." Rosa yang masih lemas di kasur ikut ngobrol dengan ketus."Ih!" Maya menghentakkan kakinya karena kesal, terus dia melengos pergi.Begitu si bodi berdaster macan tutul itu hilang di balik pintu, Agus bergerak cepat.Cklek! Pintu dikunci dari dalam biar aman."Sini, Gus, duduk dekat aku," panggil Rosa yang menepuk kasur di sebelahnya. "Nih, kanu cek sendiri berkasnya. Kalau ada angka yang kamu engga paham, tanya aku aja. Tapi ya emang sih aku juga cuma ngerti dikit sih."Agus duduk di samping Rosa. Baru juga duduk, Rosa langsung menggeser bodi montoknya, mepet ke bahu tegap Agus. Tangannya mulai berani merayap, meraba-raba le
Semakin lama nongkrong di warkop Babeh Ojak, otak Agus justru semakin berisik dan terus berputar iar. Dihantui rasa penasaran setengah mati soal rahasia hitam majikannya, dia langsung menyela si Kukut dan melesat pulang.Sampai di halaman rumah gedong yang sebagian lampunya belum dinyalakan oleh Maya dan Inem. Agus parkirkan motornya di garasi dan mobil sedan mewah meluncur masuk.Pintu kemudi terbuka. Agus melihat Pak Tarno, sopir pribadi itu, kepayahan memegangi lengan Nyonya Rosa yang melangkah dengan tubuh super lemas dan wajah pucat."Weleh-weleh... ada apa toh, Nyah? Kok mukanya layu bener kayak kangkung kurang air begitu?" tanya Agus buru-buru mendekat, insting pelindungnya sebagai super hero langsung aktif."Mending kita bawa ke dalem aja dulu dah, Gus. Kagak enak di mari. Repot bener ini urusannya, bisa puyeng lu dengerinnya.""Udah, Pak Tarno, enggak apa-apa. Biar saya sama Agus aja sekarang. Makasih ya, Pak." Nyonya Rosa mendesah lemah dan meihat pada sopirnya.Pak Tarno ya
Bagian 157Pak Tono bukan kancing seragamnya. Warung kopi ini sangat gerah."Ya lu siap-siap aja, Gus. Kalau lu masih mau tetap bertahan kerja di rumah itu. Selama ini ya gua yang bilang ke orang-orang luar kalau Tuan Hendro udah enggak pernah kelihatan di sekitar sini. Bukan apa-apa, gua kasihan sama bini mudanya yang lagi bunting itu."Mata Agus melebar. "Jadi... semua aman selama dua bulan ini karena Bapak yang pasang badan menutupi?""Iya toh, Gus! Gini-gini gua dulunya pernah dibantu banyak sama Bu Rosa pas anak sakit. Sekarang majikan lu itu belum balik kan? Ada masalah kali di luar, atau musuhnya udah mulai mengendus," bisik Pak Tono."Tapi rumah itu enggak bisa ditinggal gitu aja, Pak. Itu rumah udah jadi punya saya sendiri toh." Agus bersadar di dinding berbata kopong.Pak Tono langsung melotot dan menoyor wajah Agus. "Ah, yang bener lu, Gus?! Ngimpi jangan ketinggian lu, nanti jatuhnya ambyar lho!""Iya, Pak, beneran. Ada buktinya kok. Ya buat amanin aset aja, kalau nanti ad
Agus sudah pasang muka serius menanti kelanjutan cerita, tapi Rian malah tertawa terpingkal-pingkal melihat komuk sobatnya yang mendadak tegang."Eh, malah ketawa lu, Brian! Buruan cerita, jangan bikin gua penasaran toh!" semprot Agus yang jengkel.Rian ngelap air mata karena menertawakan Agus. "Santai aja sih, Gus. Emang beneran kagak tahu lu?""Ya kagak tahu lah! Kan gua baru juga dua bulan kerja di sana gantiin emak gua yang sakit. Emang ada apaan sih sebenarnya?" Agus terus mendesak sambi terus menyedot sisa kopi susunya.Babeh Ojak yang sudah selesai meracik internet pedas pesanan Rian langsung mengantarkan mangkok itu ke meja. Lelaki tua berpeci itu ikut nimbrung, tidak mau ketinggaan obrolan asyik."Hati-hati lu, Gus. Majikan lu itu bukan orang sembarangan. Banyak bener ilmunya dia, pinter ngibul. Lah, urusan duit mah otaknya encer bener, kaga ada tandingannya dah di mari!""Ya namanya juga pengusaha besar toh, Beh. Wajar kalau taktiknya banyak," sahut Agus membela diri seadany
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas