Chapter: Bab 29. MaluDalam hati Kieran tersimpan tanda tanya besar, dengan ucapan Alena. “Apa-apaan ini, ia memanggilku monster?” gerutu Kieran. Alena tak kunjung bangun hingga ia di letakkan di atas kasur, Kieran langsung menyelimutinya. Kieran kembali menatap wajah gadis cantik itu, bahkan tangannya reflek memegang pipi imutnya. Hingga Kieran tak sadar rupanya ia sudah terbawa perasaan pada Alena, Alena mengambil tangan Kieran dan di dekapnya di dada. Membuat jantung Kieran semakin berdetak dengan cepat, hingga ia tak mampu mengendalikan dirinya. Kieran semakin mendekatkan wajahnya, tangannya sedang mengelus bibir mungil milik Alena. Hingga ia hampir saja menciumnya. Untungnya Kieran berhasil menepis rasa itu semua, dengan jantung yang tak kunjung berdetak normal. Kieran memilih pergi meninggalkan Alena yang masih tertidur dengan lelap. Malam itu Alena tidak lagi bermimpi tembakan, tapi ia bermimpi mata Kieran yang kosong dan dingin. Namun untuk pertama kalinya, mata itu melihat dia bukan sebaga
Última actualización: 2026-06-29
Chapter: Bab 28. Tidak Tahu Cara Menunjukkan CintaTanpa basa-basi dan mengabaikan rasa sakit, Alena tetap merangkak masuk. Lumpur, oli, bahkan hampir ada peluru di atas kepalanya meleset. Tang! Tang! Dari bawah kolong Alena melihat ada sepatu, sepertinya dua orang sudah mendekat ke arahnya. Membuat Alena gemetar hebat, karena Jaxon telat mendorongnya. Alena menutup matanya karena takut, tapi yang ia ingat di kepala adalah kata Kieran. “Kalau perlu, jangan ragu!”Akhirnya Alena memberanikan diri untuk mengangkat pistolnya, ia mengarahkan ke kaki mereka dari kolong truk. Dor! Orang itu teriak kesakitan lalu terjatuh, hingga membuat temannya satu lagi menoleh ke bawah. Dor! Dor!Jaxon langsung menembak kepalanya.Hening!Jaxon mengulurkan tangan dan menarik Alena untuk keluar. "Kamu nembak?"Alena muntah, karena baru saja ia menembak orang. Ia kembali melihat kakinya sendiri yang berlumuran lumpur dan darah orang lain.Kieran akhirnya datang setelah melewati kejadian yang hampir merenggut nyawa Alena, baju Kieran penuh dengan nod
Última actualización: 2026-06-29
Chapter: Bab 27. Gudang Utara‘Kenapa dia pindah?’ tanya Alena dalam hati. Konvoi lima mobil melaju dengan sangat cepat, membuat orang-orang yang melihat menjadi ketakutan.Kieran di mobil depan dan Alena di mobil ketiga, diapit oleh Jaxon dan satu pengawal. Kaca mobil itu gelap, karena sudah dilapisi beberapa kaca pelindung.Jalanan yang teramat macet itu berhasil disingkirkan secara paksa oleh mobil pengawal yang pertama berada paling depan.Alena menggenggam pistol itu, tangannya basah dan gemetar. Matanya tak henti menatap pistol itu, di depannya ada layar kecil di sandaran kursi sedang menayangkan drone.Gudang tua di utara pelabuhan, ada dua puluh titik merah tampan bergerak di dalamnya. Suara Kieran terdengar masuk lewat radio yang di pegang oleh Jaxon. "Jaxon, status?""Siap, tuan aset aman," jawab Jaxon. ‘Apa-apaan’ gerutu Alena dalam hati.Aset tentu bukan namanya tapi Alena sudah terbiasa dengan kata-kata itu."Begitu masuk, perintahkan dua orang berjaga di mobil dan jangan keluar sampai aku panggil,
Última actualización: 2026-06-28
Chapter: Bab 26. Terjerumus Mengikuti KieranAlena tak mengerti apa maksud dari perkataan Kieran. Namun akhirnya Alena tidak dikurung lagi di penthouse, ia tidak lagi bekerja di ruang kerja pribadi milik Kieran. Walau nantinya ia pasti sesekali masih diminta untuk datang ke ruang kerja pribadinya. ‘Setidaknya kamu bisa melihat dunia luar Alena!’ gumamnya dalam hati. Tampak mobil sudah menunggu diluar, tapi bukan mobil mahal limosin. Melainkan mobil sedan hitam biasa, tapi kacanya sudah di lapisi anti peluru. Kieran ternyata sudah ada di dalam, sedang membaca dokumen. Ia tidak melihat Alena masuk dan duduk. Perjalanan sekitar dua puluh menit ke gedung kantor Kieran, dari luar tampak seperti firma legal biasa. Banyak staff yang sudah berada di dalam, lantai atasnya sangat steril, dingin dan semua orang memakai jas disana. Tidak ada yang menatap Alena lebih dari sedetik, karena mereka takut pada Kieran, tapi mereka juga tampak penasaran dengan wanita yang dibawa oleh Kieran. Kieran langsung membawa Alena ke ruangannya. Alen
Última actualización: 2026-06-27
Chapter: Bab 25. Latihan BerikutnyaJaxon menatap Alena dengan wajah yang tidak setuju, tapi dia tidak bicara. Jaxon hanya menyerahkan stopwatch ke pengawal lain. "Mulai!”Alena tidak langsung lari ia mengamati sekitar lebih dulu, karena ia belajar dari kesalahan kemarin. Setelah mengamati selama beberapa detik, Nero terlihat tidak menggonggong tapi ia mengendus. Alena mengerti ternyata anjingnya itu mengandalkan penciuman, bukan suara.Dor!Pengeras suara terdengar menyala, Alena dibuat tersentak, untungnya ia tidak terjatuh. Alena mulai bergerak, membentuk zigzag di antara semak-semak. Alena mengambil lumpur dari tanah,ia mengoleskannya ke pergelangan kaki dan leher.Ia yakin bahwa keringat dan tanah bisa membuat kacau penciuman anjing, karena Alena pernah membaca buku dahulu. Kieran melepas tali yang mengikat Nero. "Cari!”Nero melesat begitu saja tanpa ada gonggongan, hanya terdengar derap kaki dan napas.Alena berlari ke arah gudang kosong di ujung taman, disana terlihat ada selang air. Ia membuka keran, membiar
Última actualización: 2026-06-26
Chapter: Bab 24. Teknik Militer"Tepat," Jaxon bangkit dari duduknya. "Tulis evaluasimu dan segera tidur, besok jam enam lagi!”Setelah Jaxon pergi, Alena membuka buku itu. Ia mulai berpikir untuk menulis apa di dalamnya, akhirnya Ia menulis berisi. Kesalahan yang pertama yaitu “Aku manusia” Kesalahan yang kedua adalah “Aku takut mati”Dan kesalahan ketiga “Aku masih berharap bisa kabur!”Walaupun sedikit lebih berani dari sebelumnya, Ia tetap tenang Dan menarik napas dengan pelan. Alena menutup buku itu Dan bersiap untuk istirahat, karena besok Ia harus bangun pagi lagi dan jangan sampai telat. Ia tidak peduli Kieran akan marah saat membacanya. Esok hari, tepat jam enam Alena kembali untuk latihan lagi. Kali ini Alena tepat waktu, tetapi kali ini Kieran yang turun langsung. Ia sedang berdiri di tengah taman, di antara Alena dan Jaxon."Aturan baru," kata Kieran. "Aku yang jadi pemburu, Jaxon tetap di titik aman dan waktu lima menit, jika aku dapat sebelum kamu sentuh Jaxon, hukumannya akan bertambah!”Alena men
Última actualización: 2026-06-26
Chapter: Bab 47. Perang dengan Iblis yang Menyerupai“Kamu kira setelah memotong itu akan benar-benar bebas?” kata Buyut. “Setiap benang yang kamu potong, akan menarik ke dirimu sendiri lihat tanganmu!”Sumi melihat. Benang hitam di pergelangannya kini punya bintik-bintik, yaitu bintik merah dari Sophia. Bintik kuning dari Tio dan bintik abu dari gangguan. “Kamu hanya jadi penampung,” lanjut Buyut. “Suatu hari, benang itu akan mencekikmu sendiri!”Naya mundur selangkah karena takut, matanya lebar menatap Buyut. Sumi maju selangkah. “Kalau begitu, aku akan potong benang itu juga termasuk milikmu!”Buyut itu tertawa suaranya kering. “Anak bodoh, aku yang menulis buku itu aku yang mengikat ilmu ini ke darah kita, kamu tidak bisa memotongku tanpa memotong dirimu sendiri!”Benang hitam Buyut itu muncul, panjang benangnya tampak sudah tua. Berwarna kelabu seperti asap, ujungnya bercabang ke banyak arah termasuk pada Sumi. Jadi selama ini, Sumi tidak pernah benar-benar bebas. Sumi mengangkat benangnya. “Kalau begitu kita potong simpulnya di
Última actualización: 2026-06-29
Chapter: Bab 46. Perlawanan“Tidak ada yang perlu didengar,” kata Sumi. Suaranya datar, tidak ada nada. Ia mendekat kearah Sophia mengangkat benang hitam yang tidak bisa mereka lihat. Sophia berteriak takut jika Sumi melakukan sesuatu padanya. “Jangan! Tio, lakukan sesuatu!” Tio tidak bergerak, kakinya terasa seperti terpaku. Benang kuningnya tiba-tiba menegang, menarik pergelangan kakinya ke belakang. Sumi memotong, satu. Benang merah antara Tio dan Sophia putus. Tidak ada darah, tidak ada teriakan yang ada hanya suara seperti kain robek yang sangat pelan. Sophia tertekuk, ia memegangi dadanya. Napasnya tercekat, ia panik jika Sumi melakukan sesuatu pada bayinya bahkan wajahnya berubah. Cantiknya menjadi luntur yang tersisa hanya kosong. Sama seperti Sumi seminggu lalu. “Apa yang kamu lakukan?” bisik Sophia. “Aku mengambil kembali tempat yang kamu curi,” kata Sumi. Kedua, benang kuning Tio putus. Tio jatuh terduduk, matanya membelalak. Ia menatap tangannya dengan telapaknya yang kosong. Rasanya sepert
Última actualización: 2026-06-28
Chapter: Bab 45. Membersihkan yang TersisaBenang-benang di sekeliling desa tampak seperti jaring laba-laba raksasa yang dibentangkan, ada benang kuning tipis dari warung kopi, itu artinya ikatan hutang. Ada benang hijau dari rumah bidan, itu artinya ikatan nyawa yang baru lahir. Ada benang hitam pekat dari arah makam, itu adalah ikatan dendam yang belum selesai.Matanya tidak berkedip, otaknya tidak merasa lelah. Sumi mengikuti benang merah itu, benang itu membawanya melewati pematang sawah, melewati jembatan kayu yang kayunya sudah lapuk. Setiap langkahnya meninggalkan jejak abu tipis di tanah, jejak dari benang hitam yang dililitkan di tangan.Di ujung pematang, benang itu berhenti di sebuah rumah panggung tua. Catnya sudah mengelupas, di teras sedang duduk seorang anak perempuan berumur sekitar sembilan tahun. Sedang memeluk boneka kain. Dari dada anak itu keluar benang merah, tapi benang itu dicekik. Ada tangan yang tak terlihat yang menariknya dari dalam rumah.Anak itu menatap Sumi, matanya lebar ia tampak tidak taku
Última actualización: 2026-06-28
Chapter: Bab 44. Melawan Diri Dari Rantai IblisSumi mendorong pintu itu. Di baliknya bukanlah sebuah ruangan, melainkan sebuah sumur. Sumur tua miliknya, tapi airnya bukanlah air melainkan wajah-wajah. Wajah Ibu yang terlihat tenang. Wajah Tio yang terlihat palsu. Wajah Sophia yang terlihat mengejek. Satu wajah lagi yaitu wajah Sumi sendiri, tapi matanya kosong tidak ada harapan, tidak ada luka hanya datar.Itu Sumi dirinya sendiri, setelah menyerahkan rasa dicintai.“Jadi ini yang ikut keluar,” gumamnya. Benang putih di tangannya tiba-tiba menegang, seakan tertarik dari arah sumur. Seseorang, atau sesuatu, menarik ujung benang itu dari dalam.Sumi melawannya Ia menanam kakinya dengan erat, hingga bekas biru di tangannya terlihat menyala. “Kalau kamu ingin keluar, sebut namamu,” katanya. Suaranya tidak keras, tapi setiap kata jatuh seperti batu.Air sumur beriak, wajah Sumi yang kosong itu muncul ke permukaan. Bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu ia berbicara, memakai suara Sumi juga. “Aku adalah kamu tanpa harapan, aku ad
Última actualización: 2026-06-28
Chapter: Bab 43. Saatnya Benang Mulai Terlihat.Air di mangkok itu berhenti mendidih, tapi terlihat tidak tenang. Sumi membuka matanya, mangkok tanah liat itu kini kosong. Airnya habis, menguap tanpa sisa yang tertinggal hanya satu helai benang tipis di dasar mangkok. Benangnya hitam, hampir tidak terlihat, tapi ketika Sumi menyentuhnya dengan ujung jari, benang itu hangat, berdenyut seperti urat.Bekas genggaman di pergelangan tangannya ikut berdenyut bersamaan, biru kehitaman itu kini bergerak pelan di bawah kulit, membentuk pola garis halus yang menjalar sampai ke nadinya.Keris tumpul di tangannya kini terasa berat, lalu kemudian ringan. Seperti ada yang mengambilnya dari dalam.“Jadi… sudah,” bisik Sumi. Tidak ada jawaban, tidak ada suara Ibunya. Gubuk belakang rumah benar-benar hening, jangkrik pun tidak mengeluarkan suara. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dada Sumi tidak sakit tapi kosong. Benar-benar kosong, tidak ada harapan lagi dan tidak ada rasa takut ditinggal. Ia mengangkat buku bersampul kulit kambing itu, hal
Última actualización: 2026-06-28
Chapter: Bab 42. KosongCengkraman tangan itu lepas, kini Sumi mendengar ada suara mendesis marah, lalu menghilang seperti diseret ke dalam tanah.Malam ketujuh, adalah malam terakhir ia disana. Sumi sudah terbiasa melewati malam yang penuh gangguan disana, kini ia tidak merasa dingin badannya benar-benar merasa kosong, tapi enteng. Jam 12 malam, Sumi melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahwa kain mori di nisan itu bergerak sendiri. Bayangan Ibunya muncul sesaat, tampak lengkap dan utuh. Tidak sepertu bayangan-bayangan sebelumnya. Kali ini dia berdiri, memakai kebaya yang sama waktu dimakamkan. “Selamat,” katanya. Suaranya lembut, tapi masuk langsung ke kepala Sumi. “Sekarang kamu bisa melihat!”Sumi tidak menjawab, ia hanya menunggu. Ia melihat Ibunya berjongkok di depannya, tangannya dingin waktu menyentuh pipi Sumi. “Lihatlah dengan hati yang sudah kosong, jika masih ada dendam, yang kamu lihat cuma bayanganmu sendiri!” Sumi mengerti, selama 7 malam ia tidak cuma diuji dengan “yang tak te
Última actualización: 2026-06-28