Chapter: Bab 182: Rumah yang Tak Lagi HangatFajar datang tanpa warna, Langit masih diselimuti awan kelabu. Gerimis semalam menyisakan embun yang menempel di dedaunan taman, sementara udara dingin merayap masuk melalui celah jendela kamar yang belum tertutup rapat, Viktor membuka mata perlahan.Hal pertama yang ia lakukan setiap pagi adalah mencari tangan Arunika, Namun kali ini Yang disentuhnya hanyalah seprai yang telah dingin.Jantungnya langsung berdegup lebih cepat."Aru..."Ia bangkit tergesa, tatapannya menyapu seluruh kamar, Pintu kamar mandi terbuka tapi kosong, Balkon juga kosong. Perasaan tidak enak kembali memenuhi dadanya, Ia segera melangkah keluar.Suasana rumah begitu sunyi. Tak terdengar suara televisi, tak ada denting peralatan makan dari dapur. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, memecah keheningan. Viktor menemukan Arunika di ruang makan, Perempuan itu duduk di kursi yang sama seperti kemarin Masih mengenakan piyama berwarna krem, rambut panjangnya dibiarkan terurai tanpa disisir. Di hadapannya terle
Last Updated: 2026-07-20
Chapter: Bab 181: Retakan yang Semakin DalamHujan turun sejak dini hari, Butiran air membentur kaca-kaca besar rumah itu, meninggalkan jejak bening yang perlahan meluncur ke bawah. Langit kelabu membuat seluruh ruangan terasa lebih suram dari biasanya. Di meja makan yang panjang, hanya terdengar bunyi sendok yang sesekali menyentuh piring.Arunika duduk diam, Semangkuk sup hangat di depannya masih utuh. Uapnya perlahan menghilang, sama seperti selera makannya yang seolah ikut lenyap sejak malam itu. Viktor memperhatikannya tanpa berkedip."Aru..."Pria itu mendorong pelan mangkuk sup itu sedikit lebih dekat."Coba makan beberapa sendok saja."Arunika mengangkat wajah, Ia tersenyum.Senyum kecil, Senyum yang begitu dipaksakan hingga membuat dada Viktor terasa nyeri."Aku belum lapar.""Kau belum makan sejak semalam.""Aku bilang belum lapar." Jawabannya tetap lembut, Tetapi cukup untuk membuat Viktor menghela napas panjang, Ia tidak memaksa lagi.Beberapa detik kemudian, Arunika berdiri."Kupikir aku ingin kembali ke kamar.""Tu
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 180: Suara yang Tak Sengaja Kudengar"Viktor...?"Suara lirih itu menghilang begitu saja di dalam kamar yang masih diselimuti gelap. Arunika membuka matanya perlahan. Cahaya remang dari lampu tidur memantulkan bayangan samar di langit-langit kamar. Selimut yang semalam menutupi tubuhnya kini hanya tersisa di pinggang, sementara sisi ranjang di sebelahnya terasa dingin ketika telapak tangannya meraba perlahan, dan Kosong.Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berharap Viktor hanya sedang berada di kamar mandi.Namun suara gemericik air tak terdengar, Pintu kamar mandi terbuka, Tidak ada siapa pun di sana. Dadanya langsung dipenuhi kegelisahan yang sulit dijelaskan.Sejak kejadian itu...Sejak darah membasahi pakaiannya dan dokter menyatakan bahwa anak mereka tak lagi bisa diselamatkan, Arunika tak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak. Sedikit saja Viktor menjauh dari sisinya, rasa panik itu kembali datang tanpa permisi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri."Viktor pasti hanya turun ke bawah..."Ia
Last Updated: 2026-07-19
Chapter: Bab 179: Rumah yang Terlalu Sunyi"Kenapa... justru aku yang masih hidup...?"Suara lirih itu memecah keheningan dini hari.Viktor yang baru saja membuka pintu kamar langsung menghentikan langkahnya. Jemarinya masih menggenggam gagang pintu, tetapi tubuhnya seolah membeku di tempat.Di bawah cahaya temaram lampu tidur, Arunika duduk di lantai, bersandar lemah pada sisi ranjang. Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah yang basah oleh air mata.Di pangkuannya, tergenggam sebuah amplop putih.Dengan tangan yang gemetar, ia mengeluarkan selembar foto kecil dari dalamnya.Foto USG.Benda sederhana yang kini menjadi kenangan dari anak yang tak pernah sempat ia dekap.Arunika mengusap permukaan foto itu dengan ujung jarinya, seolah takut gambar kecil itu akan menghilang jika disentuh terlalu keras, Air matanya kembali jatuh. "Ayah..." bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan di luar jendela. "aku gagal..." Dadanya naik turun menahan sesak yang tak kunjung reda. "Aku gagal menjaga cucumu..."Kali
Last Updated: 2026-07-17
Chapter: Bab 178 : Berhasil BangkitSirene ambulans meraung memecah malam. Lampu rotator berkelip cepat, membelah lalu lintas yang mulai menyingkir memberi jalan. Di dalam ambulans, suasana berubah tegang. Arunika terbaring di atas brankar dengan wajah yang semakin pucat. Napasnya terdengar pendek dan tidak teratur, sementara Viktor tak pernah melepaskan genggaman tangannya. "Aru..." Viktor membelai punggung tangan perempuan itu. "Dengar suaraku." "Kita hampir sampai." Arunika berusaha membuka matanya, tetapi kelopak itu terasa begitu berat, Pandangannya mulai kabur. Suara-suara di sekitarnya perlahan menjauh. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram erat kemeja Viktor mulai kehilangan tenaga. Sedikit demi sedikit, Genggaman itu mengendur. Lalu terlepas. Tangan Arunika jatuh lemas di sisi tubuhnya. "Aru?" Nada suara Viktor berubah panik. Ia segera menggenggam kembali tangan itu, Kulitnya terasa dingin, Sangat dingin sampai Bibir Arunika yang tadi masih bergerak kini terkatup lemah, nyaris tanpa warna. Matanya te
Last Updated: 2026-07-12
Chapter: Bab 177 : Jalan Yang TerpisahRuangan itu tenggelam dalam keheningan yang mencekam, Tak ada lagi yang perlu disembunyikan, dan kebohongan yang tersisa. Semua topeng telah runtuh, Bisma masih berlutut di lantai. Bahunya berguncang hebat. Air mata terus menetes tanpa mampu ia hentikan. Sementara itu, Arunika berdiri membatu, Tatapannya kosong. Kosong yang jauh lebih mengerikan daripada tangisan. Ia menatap lelaki di hadapannya begitu lama, hingga semua orang di ruangan itu mulai menyadari sesuatu. Tatapan itu Perlahan berubah. Kesedihan yang sejak tadi memenuhi matanya menghilang sedikit demi sedikit. Digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih gelap. Kebencian, yang telah dipendam terlalu lama, Suara Arunika terdengar lirih. "Ayahku kehilangan segalanya..." "Karena kalian." Ia melangkah satu langkah. "Ibuku meninggal dengan hati yang hancur..." Satu langkah lagi. "Aku dijual oleh suamiku sendiri..." Langkah berikutnya. "Aku kehilangan anakku..." Air mata kembali jatuh. "Ternyata..." Ia tersenyum tipis.
Last Updated: 2026-07-12