LOGINHanya karena makeup flawless yang dipilihnya, Yasmin dituduh tak lagi perawan oleh suami dan ibu mertuanya. Dia bahkan langsung diceraikan saat itu juga dan harus pulang ke Jakarta sendirian! Namun, tanpa sengaja, Yasmin bertemu dengan seorang dokter yang ternyata adalah tetangga mantan suaminya. Pertemuan tak terduga itu ternyata membawa Yasmin untuk kembali tinggal di kampung Radit. Hal itu pun membuat mantan suami dan mantan mertuanya panas! Bagaimana kisah Yasmin, Dokter Radit, dan si mantan yang menalaknya karena hanya makeup?
View MoreGlossary
Acelin Billard- Former Incubus Prince. Lancelin’s older brother.
Alina- Human turned vampire. Erick’s bride and vampire queen.
Ancients- Five of the most powerful mages in the world who had created the dimensions. They were Tuhin, Alexander, Pallatos, Verna and Shinou.
Asmara- Succubus.
Aqua- Immortal water shifters. Species, looks and characteristics unknown.
Chrone- Leader of a Mage coven.
Coven- A group of mages living together, usually consists of thirteen families.
Dark Council- A council consisting of all the Kings and Queens of the eleven dimensions. It holds the peace between dimensions and solves inter-dimensional conflicts.
Dimensions- Parallel worlds/universes. There are eleven and half dimensions in total.
Erick Stayton- Vampire King, Dark Council member and Alina’s husband.
Incubus- Demons that feed on life energy of humans through sex.
Kenna Stayton- Erick’s mother and previous Queen.
Lancelin Eustein- Incubus King.
Mages- Immortals who can draw power from the earth’s resources and cast spells.
Miaka Weller- Demon King.
Nathaniel Eustein- Former Incubus King.
Portals- Magical doorways between dimensions. Can occur naturally or be created by mages.
Sanctium- A peaceful dimension where all the kings and queens of the Dark council reside. Neutral territory.
Scribt- A servant/secretary who works for an Incubus.
Shadowland- An unfinished dimension. No one knows what’s inside or if any creatures live there.
Vampire- Immortals that drink blood.
Valroy Stayton- Erick’s father and former Vampire King.
Valleria Eustein- Former Incubus Queen.
Prologue:
Acelin’s P.O.V
I watched the sun set over the Hudson, the skyline turn from a bright molten gold to a dark indigo as the stars lit up one by one, like fireflies coming to life.
New York City has always intrigued the supernatural. Not only was it filled with overflowing life energy, but the sheer hustle and bustle of the daily life of the commoners left little time for people to speculate. Which was a huge advantage for the supernatural creatures.
No one cared when someone staggered home at five in the morning. No one asked questions when a teenager, barely an adult, got into a fancy car with a stranger, wearing next to nothing and yet still succeeding in sparkling brighter than the sun. And most importantly, there was unlimited supply of fresh feeds. People were drawn to New York like moths drawn to a flame.
“Sir?”
The velvety politeness of the voice turned my attention to the dark haired woman standing behind my desk. She was wearing a white full sleeve shirt with a baby pink pencil skirt, exposing some long, slender legs that stretched for miles. As usual, her hair was in a tight bun on top of her head with not a single strand out of place even though it was seven in the evening. Her golden olive complexion was illuminated under the artificial light glowing on my desk and her lips were devil red, enough to tempt monks into sin.
But as long as I’ve known Sanaya Johnson, she’d never shown interest in me or any of my friends or family members who had visited my company. Maybe because she was immune to our supernatural charm or maybe because she knew exactly what we were and how dangerous it was for her to mix with us. Or maybe she was playing hard to get in the most intriguing manner I’d seen anyone play. Who knows? This woman was full of mysteries that dared men to try and solve them. But as far as I’ve known, Sanaya Johnson had been happily single for the last five years that she’d been working for BlueStar.
“Yes?” I answered when I saw she had her planner in her hands.
“Your dinner reservation is in an hour at your favorite restaurant, and you are to pick your date up in about thirty five minutes. The wine and dinner menu has already been ordered as per your and Ms. James’s taste.” Sanaya used a slender finger to lift up her reading glasses as she continued to narrate the list. “I’ve taken care of any last-minute changes to you schedule, and the penthouse suite has been book at The PinkStone Villa for the weekend. I’ve also informed your housekeeping staff to pack your luggage accordingly. Everything is ready and waiting in your car.”
“Thank you, Sanaya.” I smiled politely at the woman that I had come to admire for the course of the last five years. “It’s truly been a pleasure having you here.”
“I should be the one thanking you, Sir, for trusting me despite my shortcomings.” Sanaya bowed her head slightly out of respect.
Shortcomings? I didn’t think she had any, but I didn’t refute her. Sanaya was one of the few people who knew our secret and worked accordingly to make our life easier. Over the years, I’ve had several secretaries, but none as efficient as Sanaya. It would be tough to watch her go as her term with our company would end next week. But Sanaya has been ordered to transfer to my brother’s company and that was one decision that I was completely okay with.
“Have you read the files regarding my brother?” I asked her as I grab my jacket from the back of my chair, and Sanaya immediately came over to help me put it on.
“Yes. I’ve been very thorough about all the details provided.” Sanaya said as she stepped back. “But I’m guessing there’s a lot more to Mr. Eustein than what the file provided.”
“Remember to observe and study him in person. Lance is known to be quite difficult when he wants to be.” I warned her, remembering the long list of Secretaries that he had fired in the last three months alone.
“Oh, don’t worry, Sir. I’ll be on the lookout for anything and everything.”
That, I had no doubt about. Sanaya was always very observant and was prone to notice the tiniest of details that even I had failed to notice. It’s part of what made her so efficient and valuable.
I smiled as I gave Sanaya an early leave and headed out of my office. It will be interesting to see Lancelin the untamable and Sanaya Johnson clash heads. My brother has been in a sore mood for as long as I could remember but he’d always been very observant of Sanaya, whenever they had had a chance to come face to face, which wasn’t all that often. But now he better watch out for her, because if there was one thing I was sure of, it was the fact that Sanaya was no ordinary woman. She was meant for greater things and her journey has only just begun.
“Tak perlu basa basi,” jawab ibunya Hanif terlihat emosi. Dia sangat kesal karena melihat Maria yang terlihat mewah. Sementara dirinya justru terlihat kumal.“Baiklah kalau tidak boleh berbasa basi. Sepertinya kalian tetap saja sial walaupun sudah mengusir Maria.” Denis tersenyum miring.Mata Hanif langsung melotot, begitu juga dengan ibunya.“Enak aja kamu bilang kami sial. Hanif ini sekarang bekerja di perusahaan bonafid. Dia ini jadi manager,” balas ibunya Hanif dengan mata melotot.Denis tersenyum miring. “Oh ya? Benarkah? Anak Ibu bilang jadi manager?” tanyanya dengan nada mencibir.“Ya, tentu saja. Bukan begitu, Hanif?” ujar wanita paruh baya itu dengan dagu yang mendongak.“I-iya, tentu saja,” jawab Hanif tergagap.“Oh begitu. Baguslah kalau memang dia sudah jadi manager. Permisi, kami mau mencari peralatan bayi,” pamit Denis yang lalu menuntun Maria untuk memasuki toko.Istrinya Hanif pun ikut mengekor sambil menarik Hanif untuk segera masuk ke dalam toko. Namun, lelaki itu me
Maria tersipu malu saat bangun keesokan harinya. Dia merasa berbunga-bunga karena telah menjadi seorang istri yang utuh bagi Denis. Dia menutupi tubuhnya yang polos dengan handuk yang terserak di lantai.“Mbak, Mbak Maria.” Terdengar panggilang dari Bi Noneng.“I-iya, Bi?” Maria gegas membuka pintu itu sedikit. Ternyata wanita itu tengah menggendong Amanda yang habis menangis.“Astagfirullah, Sayang maafin Mama,” ujar Maria yang langsung membuka pintu dan mengambil Amanda dari tangan Bi Noneng.Wanita paruh baya itu tak sengaja melihat ke dalam kamar di mana ada Denis yang masih terlelap di atas kasur milik Maria.“Eh.” Maria tampak malu karena kepergok telah sekamar.Bi Noneng malah tersenyum dan mengelus pundak Maria. “Sudah sewajarnya, toh? Pak Denis itu suamimu, Mbak. Dia seperti orang gila sewaktu Mbak Maria pergi dari rumah. Dia sering melamun dan gelisah,” ucapnya.“Kalian berhak bahagia. Saya ikut senang, Mbak,” pungkasnya sebelum beranjak pergi.Maria masih terpaku setelah me
Maria gegas menyilangkan kedua tangan pada dua area sensitifnya. Dia begitu malu dengan perlakuan Denis padanya. Maria hendak jongkok untuk mengambil lagi handuknya, tetapi tangan Denis lekas menahannya.Maria mendongak melihat pada lelaki yang menggelengkan kepalanya. Denis lalu menarik Maria agar kembali tegak berdiri.“Ba-pak, saya ….” Wajah Maria sudah merah saking malunya.“Ini bukan pertama kali kamu melakukannya, bukan? Seharusnya aku yang mesti malu, karena ini adalah hal yang pertama buatku,” ucap Denis yang semakin membuat Maria tersipu malu. Wanita itu menunduk dalam.“Saya … rasanya tidak pantas untuk Bapak. Saya ini hanya perempuan miskin pembawa sial,” ucap Maria dengan suara tercekat. Namun, Denis justru menarik dagu Maria agar kembali menatapnya.“Aku akan buktikan jika kamu adalah wanita yang penuh keberuntungan,” balas Denis dengan tatapan lekat. Dia berusaha memupuk cinta itu agar semakin subur. Maria bukan wanita yang sulit untuk dicintai. Wanita itu begitu tulus
Maria hanya diam selama perjalanan. Dengan hati terpaksa Maria ikut pulang dengan Denis. Mau bagaimana lagi, Amanda tak bisa lepas darinya. Anak itu menangis keras saat Maria menyerahkan pada Denis.Entah apa yang akan terjadi nanti, mungkin Maria akan minta Denis untuk mencarikan baby sitter baru, lalu dirinya akan meminta cerai dan pergi.Denis sesekali melirik ke samping kirinya dan melihat Maria yang memangku Amanda yang tertidur lelap.“Kamu sudah makan?” tanya Denis yang merasa kasihan sekali melihat istrinya itu begitu kurus.Maria mengangguk pelan.“Makan apa?” telisik Denis penasaran.Maria terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku makan bubur sisa Amanda tadi.”Denis memejamkan matanyanya sejenak dan menggeleng. Pantas saja wanita itu begitu kurus, karena hanya makan makanan sisa anaknya. Lelaki itu beristigfar dalam hatinya.Benar kata Amanda, jika Maria adalah wanita terbaik yang bisa menggantikannya.“Kita makan dulu,” ujar Denis lalu membelokan mobilnya menuju sebu
Denis sungguh kerepotan, saat dia membuat susu sambil menggendong bayi kecilnya yang terus-terusan menangis mencari sang ibu susu.“Cup, cup, cup. Sabar, ya, Sayang. Papa buatkan susu dulu buat kamu.” Denis menggoyangkan timangannya sementara tangan kanannya berusaha membuka kaleng susu. Sungguh san
“Kamu kenapa menangis?” tanya Denis yang merasa tak enak hati. Dia takut jika Maria tersinggung karena tadi dia menanyakan soal kaleng-kaleng susu itu.Maria menggeleng pelan. “Nggak, Pak. Saya hanya merasa takut dan bersalah saja tadi. maaf karena saya sudah lancang memberikan barang-barang tanpa se
Denis merasa terbantu dengan kehadiran Maria. Amanda kecil begitu anteng tak pernah rewel. Bahkan jika malam terbangun pun, anak itu hanya menangis sebentar. Denis kagum dengan kepiawaian Maria dalam mengurus bayi.Pagi-pagi, Denis sengaja membuat sarapan untuknya juga Maria. Dia tahu jika wanita it
Suci terdiam saat mendengar penjelasan Fery tentang Amanda kecil yang diminta Denis untuk merawatnya.“Dia itu anakmu yang sah, Mas. Bu Manda hamil di saat masih menjadi istrimu,” ucap Suci yang sedih karena suaminya akan meninggalkan bayi itu dengan Denis.“Aku tau, Ci. Aku juga inginnya bawa Amanda












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore