Chapter: Rahasia Pak BaskaraVior pamit sebentar kepada Sarah untuk ke toilet, meninggalkan kopi yang mulai mendingin dan beban pikiran yang kian menumpuk. Lorong kafe itu cukup panjang dan sepi, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan eksklusif. Saat ia sedang berjalan santai, pikirannya masih berkelana pada percakapan tentang keluarga Elian tadi, seseorang yang tampak terburu-buru muncul dari tikungan dan menabrak Vior dengan cukup kencang."Ah, maaf, Mbak... saya benar-benar tidak sengaja!" seru suara wanita yang terdengar halus namun panik.Vior terhuyung ke belakang, namun sebelum ia sempat jatuh, wanita itu sigap menahan lengannya. Vior mendongak, menatap seorang wanita mungil dengan proporsi tubuh yang begitu indah—otot-ototnya tampak kencang, bahunya tegap dan ramping, jelas hasil dari disiplin tinggi di tempat gym atau studio pilates. Aroma parfum vanila yang manis namun elegan seketika menyeruak, menyelimuti indra penciuman Vior."Tidak apa-apa, saya yang kurang memperhatikan jalan," Vior terse
Terakhir Diperbarui: 2026-06-16
Chapter: Nyonya SaraswatiSore menjelang, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Vior sesekali melirik jam dinding di kantornya yang berdetak pelan, seolah ikut merasakan beban pikirannya yang tak kunjung usai. Sejak insiden memalukan di apartemen Elian kemarin, Nyonya Saraswati tidak muncul di kantor. Vior sempat berharap, mungkin kejadian itu adalah sebuah titik akhir yang akan memutus hubungan paksa antara dirinya dan keluarga konglomerat tersebut. Ia merasa tidak punya muka untuk menatap mata wanita itu lagi. Bayangan wajah tenang namun menghakimi Nyonya Saraswati saat memergoki mereka di sofa terus menghantuinya."Vior, sore ini nongkrong sebentar, yuk. Suntuk sekali ini akhir bulan," ajak Sarah, rekan kerjanya, sambil membereskan tumpukan berkas. Vior merasa ia memang butuh udara segar. Kepalanya terasa penuh dan berat."Boleh, Sarah. Aku juga butuh penyegaran," jawab Vior pelan.Mereka pun beranjak keluar dari kantor, meninggalkan hiruk pikuk pekerjaan menuju sebuah kafe yang cukup
Terakhir Diperbarui: 2026-06-16
Chapter: Pikiran Liar ElianKeesokan harinya, suasana di lantai lima kantor itu terasa menyesakkan bagi Vior. Begitu ia melangkah masuk, tatapan mata rekan-rekannya seolah menjadi sorotan lampu tajam yang membedah setiap inchi wajahnya. Berita tentang video viral di kafe itu telah menyebar seperti api di padang rumput, dan hampir semua orang di lantai itu telah menontonnya."Vior! Kau baik-baik saja?" tanya Sarah, salah satu rekan kerjanya, dengan wajah yang sarat akan rasa kasihan dan penasaran. "Kami semua melihat videonya. Itu sangat keterlaluan, Rio benar-benar tidak punya hati!"Vior berusaha menampilkan senyum setenang mungkin, meski hatinya terasa tercabik-cabik. "Aman. Kemarin aku hanya syok, makanya aku izin kerja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawabnya singkat.Tiba-tiba, Pak Rizal, pria paruh baya yang paling senang bergosip di kantor, mendekat dengan mata berbinar-binar. "Oh, Vior! Kau tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Temanku yang bekerja di divisi Rio bilang, kemarin Pak Elian tib
Terakhir Diperbarui: 2026-06-16
Chapter: TerhinaSuara pintu yang terbanting keras di kamar Elian masih menyisakan getaran di dinding apartemen, namun Nyonya Saraswati tidak membiarkan emosinya mereda. Ia justru melangkah tenang ke tengah ruangan, aura dominasi yang selama puluhan tahun membesarkan Group J Empire terpancar dari setiap gerak-geriknya."Cukup sandiwara ini, Elian," ucap Nyonya Saraswati tanpa menoleh ke arah pintu kamar putranya. Ia justru menatap ke arah sofa, tempat di mana pakaian Vior yang berantakan masih berserakan.Elian yang baru saja membanting pintu keluar kembali dengan wajah merah padam, namun langkahnya terhenti saat melihat ibunya justru memeriksa meja kerjanya."Kau pikir Ibu tidak tahu?" lanjut Nyonya Saraswati dengan tawa kecil yang terdengar meremehkan. "Sejak awal, Ibu sudah mengamati. Elian, kau adalah putraku. Kau tidak mungkin membiarkan wanita kelas rendah seperti dia masuk ke lingkaran batinmu jika bukan karena satu alasan: kau sedang menyewa 'aktris' untuk menutupi ketidakmampuanmu mencari pe
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: KetahuanSuara bentakan itu memecah atmosfir yang sudah panas membara, memukul pendengaran Elian dan Vior bagaikan palu godam. Keduanya tersentak hebat, seolah baru saja disiram air es di tengah puncak gairah. Elian dengan sigap menyambar kemeja yang baru saja terbuka separuh, menutupi tubuh Vior yang masih setengah terbuka dengan posesif, lalu bangkit berdiri dengan napas yang masih memburu.Di ambang pintu, seorang wanita paruh baya dengan gaun sutra berwarna emerald dan tatapan yang mampu membekukan darah berdiri tegak. Ibunda Elian. Matanya yang tajam menatap pemandangan di sofa dengan kilatan amarah yang tidak bisa ditutupi. Di belakangnya, seorang pria berpakaian rapi—asisten pribadi sang Ibu—tampak canggung, menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang dari ruangan itu."Elian! Apa yang sedang kau lakukan?" suara wanita itu bergetar, bukan karena takut, melainkan karena murka yang tertahan. "Kau membawa wanita ini ke sini? Ke tempat yang seharusnya menjadi privasimu, dan melakukan hal.
Terakhir Diperbarui: 2026-06-15
Chapter: Warning 21+ / Gairah Liar #14Vior mendongak, menatap mata Elian yang kini berkabut oleh gairah dan emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Pria yang selama ini dingin dan penuh perhitungan itu kini terlihat begitu manusiawi, begitu haus akan dirinya. Saat bibir Elian mulai menelusuri leher jenjangnya dengan sentuhan lembut, Vior merasakan desiran halus yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Setiap ciuman Elian terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kewarasannya. Elian melingkarkan lengannya dengan posesif di pinggang Vior, merebahkan gadis itu perlahan ke atas sofa yang empuk. Ia menciumi setiap inci kulit Vior, menciptakan jejak kehangatan yang membuat Vior merasa seolah ia adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini. "Saya sudah sadar dari dulu, kalau kamu itu... cantik sekali, Vior," bisik Elian di sela ciumannya. Suaranya serak, penuh dengan kekaguman yang tulus. Vior, yang masih terpaku oleh luapan emosi setelah tangisannya tadi, hanya bisa pasrah. Di bawah tatapan Elian, ia merasa tidak lagi
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12