تسجيل الدخولWarning ❗ ❗ Penuh dengan Konten Dewasa 21+ ( Bijak dalam membaca) Elian sedang mencari wanita Sewaan untuk di kenalkan kepada Ibunya sebagai kekasih, agar Ibu nya tidak terus memaksanya menerima perjodohan. Elian perlu seorang wanita yang binal, sexy dan berpenampilan berani. Seorang wanita yang sama sekali bukan tipe Ibunya. Dan pilihan itu jatuh kepada Vior , staff admin nya yang teladan dan baru saja putus cinta. "Ubah penampilanmu. Dan ingat, begitu bertemu dengan Ibuku, jangan ada lagi rasa malu. Kau adalah wanita sewaan yang tidak punya harga diri, paham?"
عرض المزيدVior menyemprotkan parfum dengan wangi musk yang sangat kuat dan menyengat, hampir membuat hidung siapa pun yang menciumnya merasa pening.
Nyonya Saraswati, sudah menunggu di meja makan yang penuh dengan hidangan berkelas. Begitu pintu terbuka, wanita paruh baya yang terkenal sangat menjunjung tinggi etika itu mematung. Matanya membelalak menatap sosok blonde yang menggandeng putranya. "Kau... kau Vior, kan??" tanyanya dengan suara bergetar. Vior tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyeringai lebar, memperlihatkan lipstik merahnya yang mencolok. Elian menarikkan kursi untuk Vior di samping ibunya. "Vior... penampilanmu agak... berbeda" Nyonya Saraswati mencoba menahan diri, meski matanya terus melirik ke arah dada Vior yang terekspos karena jas Elian sudah diletakkan di sandaran kursi. "Oh, maaf ya, Tante. Eh, Ibu maksud saya," Vior tertawa dengan nada yang sengaja dibuat cempreng. "Di kantor saya memang harus pakai setelan pakaian kerja membosankan itu demi gaji. Tapi beginilah saya kalau sedang ingin bersenang-senang. Elian suka kok kalau saya tampil berani begini, ya kan, Sayang?" Vior mengedipkan sebelah matanya pada Elian. Elian sedikit tersentak, akting Vior jauh lebih natural dari yang ia bayangkan. Ia merasa bangga, sekaligus sedikit kesal melihat cara ibunya memandang Vior dengan jijik. "Makanlah dulu. Chef sudah menyiapkan steak dan wine terbaik," ucap Nyonya Saraswati, suaranya mendingin. Sandiwara dimulai. Vior langsung menyambar pisau dan garpu tanpa memperhatikan urutan etika makan fine dining. Ia mengambil potongan daging besar, memasukkannya ke mulut, dan mulai mengunyah dengan suara mengecap yang nyaring. Cap, cap, cap. Nyonya Saraswati meletakkan garpunya sendiri dengan denting pelan di atas piring porselennya. Ia tampak benar-benar kehilangan selera makan. "Ah, enak sekali! Maaf ya Bu, selera makan saya memang tinggi kalau habis 'main' sama Elian," ucap Vior tanpa malu, sengaja memberikan implikasi kotor dalam kalimatnya. Wajah Nyonya Saraswati memucat. Ia menatap Elian dengan pandangan menuntut penjelasan. Elian hanya diam, menyesap wine-nya dengan tenang, seolah perilaku Vior adalah hal yang wajar. *** Dua Minggu sebelumnya kejadian itu, undangan pernikahan berwarna perak itu tergeletak di atas meja kerja Vior, tampak kontras dengan tumpukan dokumen yang berantakan. Kertas bertekstur mahal itu memancarkan aura yang menyesakkan Nama Rio dan Enzy tercetak dengan tinta emas timbul yang berkilauan, seolah mengejek di bawah lampu kubikal kantor yang dingin. Vior terpaku. Dunianya seolah menyusut hanya sebatas meja kerja dan benda terkutuk di hadapannya. Tujuh tahun. Angka itu berputar di kepalanya seperti film rusak. Dua ribu lima ratus lima puluh lima hari yang ia lalui bersama Rio—pria yang mengenalnya lebih baik daripada dirinya sendiri, pria yang tahu persis takaran kayu manis dalam kopi paginya, pria yang dulu menggenggam tangannya di bawah meja perpustakaan kampus—kini telah menjadi orang asing. Dan yang lebih menyakitkan, pria itu memilih Enzy, rekan kerja satu divisi yang baru ia kenal beberapa bulan lalu. Ingatan tentang perpisahan mereka kembali menyerang. Rio mengakhiri tujuh tahun itu dengan kalimat klasik yang klise "Kita sudah tidak cocok lagi." Yang lebih perih adalah rahasia yang disimpan Rio selama ini. Pria itu tidak pernah mengunggah foto Vior di media sosial dengan alasan privasi—bahwa hubungan bukan konsumsi publik. Namun, lihatlah sekarang. Enzy dirayakan, diratukan, dan dipamerkan ke seluruh penjuru dunia maya. Enzy mendapatkan segalanya yang selama tujuh tahun Vior nanti-nantikan tanpa perlu menunggu lama. "Laporan kuartal terakhir, Vior. Sudah selesai?" tanya Elian. Suaranya datar, namun ada tekanan yang membuat Vior merasa terpojok. Vior menatap layar komputernya yang kosong, lalu beralih ke undangan perak itu. Pertahanan emosinya hampir runtuh. "Saya... saya minta waktu tambahan sedikit lagi, Pak. Hari ini saya agak sulit berkonsentrasi." Biasanya, jawaban seperti itu akan memicu badai. Vior sudah menyiapkan kupingnya untuk mendengar rentetan sindiran tentang profesionalisme. Namun, kali ini sunyi. Elian terdiam, tatapannya sedikit melunak saat melihat undangan yang masih terbuka di meja Vior, lalu beralih ke wajah wanita itu yang terlihat pucat. "Baik," jawab Elian singkat. Kemudian masuk kembali ke ruangannya. Vior menghembuskan nafas lega. Dengan gerakan perlahan namun mantap, Vior mengambil undangan pernikahan itu. Ia tidak merobeknya dengan penuh amarah seperti adegan film drama yang murahan. Ia justru melipatnya dengan rapi, lalu memasukkannya ke dalam laci meja paling bawah, di bawah tumpukan dokumen kerja yang akan ia selesaikan malam ini. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu Elian, yang entah mengapa kembali lagi ke meja Vior. Pria itu membawa dua cangkir kopi panas di tangannya. "Kamu masih di sini?" tanya Elian sambil meletakkan salah satu cangkir di meja Vior. Vior mendongak, terkejut. "Saya sedang menyelesaikan laporan, Pak." "Istirahatlah sebentar," ujar Elian seraya menarik kursi kosong di depan meja Vior. "Kopi ini dengan satu sendok gula, karena saya dengar kamu tidak suka jika kopimu terlalu manis." Vior terpaku menatap cangkir itu. Bagaimana mungkin atasannya yang bengis tahu detail kecil tentang seleranya? Elian tersenyum tipis—sebuah pemandangan yang hampir tidak pernah dilihat karyawan lain di kantor ini. "Dunia tidak berakhir karena sebuah undangan pernikahan, Vior," lanjut Elian dengan nada yang jauh lebih manusiawi.Vior pamit sebentar kepada Sarah untuk ke toilet, meninggalkan kopi yang mulai mendingin dan beban pikiran yang kian menumpuk. Lorong kafe itu cukup panjang dan sepi, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan eksklusif. Saat ia sedang berjalan santai, pikirannya masih berkelana pada percakapan tentang keluarga Elian tadi, seseorang yang tampak terburu-buru muncul dari tikungan dan menabrak Vior dengan cukup kencang."Ah, maaf, Mbak... saya benar-benar tidak sengaja!" seru suara wanita yang terdengar halus namun panik.Vior terhuyung ke belakang, namun sebelum ia sempat jatuh, wanita itu sigap menahan lengannya. Vior mendongak, menatap seorang wanita mungil dengan proporsi tubuh yang begitu indah—otot-ototnya tampak kencang, bahunya tegap dan ramping, jelas hasil dari disiplin tinggi di tempat gym atau studio pilates. Aroma parfum vanila yang manis namun elegan seketika menyeruak, menyelimuti indra penciuman Vior."Tidak apa-apa, saya yang kurang memperhatikan jalan," Vior terse
Sore menjelang, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Vior sesekali melirik jam dinding di kantornya yang berdetak pelan, seolah ikut merasakan beban pikirannya yang tak kunjung usai. Sejak insiden memalukan di apartemen Elian kemarin, Nyonya Saraswati tidak muncul di kantor. Vior sempat berharap, mungkin kejadian itu adalah sebuah titik akhir yang akan memutus hubungan paksa antara dirinya dan keluarga konglomerat tersebut. Ia merasa tidak punya muka untuk menatap mata wanita itu lagi. Bayangan wajah tenang namun menghakimi Nyonya Saraswati saat memergoki mereka di sofa terus menghantuinya."Vior, sore ini nongkrong sebentar, yuk. Suntuk sekali ini akhir bulan," ajak Sarah, rekan kerjanya, sambil membereskan tumpukan berkas. Vior merasa ia memang butuh udara segar. Kepalanya terasa penuh dan berat."Boleh, Sarah. Aku juga butuh penyegaran," jawab Vior pelan.Mereka pun beranjak keluar dari kantor, meninggalkan hiruk pikuk pekerjaan menuju sebuah kafe yang cukup
Keesokan harinya, suasana di lantai lima kantor itu terasa menyesakkan bagi Vior. Begitu ia melangkah masuk, tatapan mata rekan-rekannya seolah menjadi sorotan lampu tajam yang membedah setiap inchi wajahnya. Berita tentang video viral di kafe itu telah menyebar seperti api di padang rumput, dan hampir semua orang di lantai itu telah menontonnya."Vior! Kau baik-baik saja?" tanya Sarah, salah satu rekan kerjanya, dengan wajah yang sarat akan rasa kasihan dan penasaran. "Kami semua melihat videonya. Itu sangat keterlaluan, Rio benar-benar tidak punya hati!"Vior berusaha menampilkan senyum setenang mungkin, meski hatinya terasa tercabik-cabik. "Aman. Kemarin aku hanya syok, makanya aku izin kerja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawabnya singkat.Tiba-tiba, Pak Rizal, pria paruh baya yang paling senang bergosip di kantor, mendekat dengan mata berbinar-binar. "Oh, Vior! Kau tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Temanku yang bekerja di divisi Rio bilang, kemarin Pak Elian tib
Suara pintu yang terbanting keras di kamar Elian masih menyisakan getaran di dinding apartemen, namun Nyonya Saraswati tidak membiarkan emosinya mereda. Ia justru melangkah tenang ke tengah ruangan, aura dominasi yang selama puluhan tahun membesarkan Group J Empire terpancar dari setiap gerak-geriknya."Cukup sandiwara ini, Elian," ucap Nyonya Saraswati tanpa menoleh ke arah pintu kamar putranya. Ia justru menatap ke arah sofa, tempat di mana pakaian Vior yang berantakan masih berserakan.Elian yang baru saja membanting pintu keluar kembali dengan wajah merah padam, namun langkahnya terhenti saat melihat ibunya justru memeriksa meja kerjanya."Kau pikir Ibu tidak tahu?" lanjut Nyonya Saraswati dengan tawa kecil yang terdengar meremehkan. "Sejak awal, Ibu sudah mengamati. Elian, kau adalah putraku. Kau tidak mungkin membiarkan wanita kelas rendah seperti dia masuk ke lingkaran batinmu jika bukan karena satu alasan: kau sedang menyewa 'aktris' untuk menutupi ketidakmampuanmu mencari pe


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات