SENTUHAN YANG SALAH

SENTUHAN YANG SALAH

last updateLast Updated : 2026-07-13
By:  RaraUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Terdesak biaya pengobatan sang adik yang kian kritis, Anya terpaksa menerima tawaran manipulatif Pak Tama untuk menjalin hubungan rahasia demi imbalan uang yang besar. Pengorbanan harga diri ini berhasil menebus obat sang adik, namun meninggalkan rasa bersalah mendalam yang terus menghantuinya di tempat kerja. Kini, situasi menjadi semakin rumit ketika sang bos besar mulai menuntutnya untuk menandatangani sebuah pernikahan kontrak.

View More

Chapter 1

BAB I : PERMULAAN

Anya Redisa adalah seorang perempuan muda yang memiliki bakat dalam mendesain sebuah karya, namun latar belakang yang dimilikinya sangat menyedihkan. Anya hidup tanpa kedua orang tua yang telah lama hilang, meninggalkan ia dan seorang adiknya, Arka Rahendra. Arka adalah satu-satunya kerabat yang Anya miliki.

Sayangnya, Arka tidak dapat tumbuh seperti anak laki-laki pada umumnya. Ia harus bergantung pada obat-obatan yang menunjang hidupnya. Namun lambat laun, Anya mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan obat tersebut.

"Huft... Obat adek hanya cukup untuk satu bulan. Bagaimana untuk bulan berikutnya? Aku harus mencari pekerjaan yang bergaji tinggi supaya bisa beli obat buat adek. Mana stok makanan sudah mulai menipis. Jangan-jangan beras juga habis, astaga!" Anya menggerutu pelan, lalu bergegas menuju tempat penyimpanan beras.

Setelah mengecek persediaan, Anya dapat bernapas sedikit lega karena persediaan beras yang ia miliki setidaknya cukup untuk menopang kehidupan mereka beberapa waktu ke depan. Anya bergegas menyiapkan nasi dan lauk untuk makan malam bersama sang adik. Setelah semuanya siap, ia berjalan menuju kamar Arka untuk mengajaknya makan.

"Adekkk, ayo makan. Kakak udah beres nih masaknya. Kalau lama, kakak habisin, ya!" ucap Anya dengan nada mengejek.

Arka yang mendengar ucapan sang kakak bergegas turun dari kasur dan segera membuka pintu. Anya yang melihat muka cemberut sang adik refleks tertawa kencang.

"Hahaha... Lucu sekali adiknya kakak ini. Bibirnya sampai melengkung ke bawah gitu. Kakak jadi gemas," ucap Anya sembari mencubit kedua pipi sang adik.

Arka yang merasa kesal pun menjawab dengan nada sewot, "Huh... adek kesal ya sama kakak. Untung aja adek nggak jatuh dari kasur. LEPASIN! Pipi adek sakit!" teriak Arka.

Setelah keributan kecil itu, kedua kakak beradik ini segera menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang telah disiapkan. Anya dan Arka menikmati makan malam mereka dalam keheningan malam yang sudah terbiasa mereka rasakan.

Setelah selesai makan, Arka bergegas menuju wastafel untuk membantu sang kakak membersihkan sisa-sisa perabotan. Anya yang melihatnya pun refleks berdiri dan menghampiri sang adik untuk menghentikannya. Namun, bukan Arka namanya jika ia akan langsung menurut pada sang kakak.

"Eits... ini tugas adek. Kakak kan sudah masak sama nyiapin bahan-bahan, sekarang giliran adek yang bersih-bersih ya. Ini nggak bikin adek capek kok. Ya, ya, please, Kakak sayang," ucap Arka sembari merengek.

Anya yang mendengar rengekan sang adik hanya dapat menghela napas panjang. Sebenarnya, Anya memiliki alasan mengapa ia tidak pernah memperbolehkan Arka membantunya melakukan pekerjaan rumah. Bukan karena ia takut hasil cucian adiknya tidak bersih, ia hanya takut jika Arka akan kelelahan.

"Yaudah, adek yang cuci semuanya ya. Kalau nanti capek bilang ke kakak, nanti kakak yang lanjutin. Kakak mau siapin obat kamu dulu, biar nanti kamu tinggal minum sebelum tidur," ucap Anya sembari menyimpan sisa makanan ke dalam kulkas.

Arka yang mendengar ucapan sang kakak refleks memberikan hormat. "Aye, aye, Kapten! Udah sana, Kakak ke kamar," ucapnya sembari mendorong sang kakak perlahan.

Anya yang didorong pun hanya pasrah dan segera masuk ke dalam kamar. Ia mengambil kotak obat Arka untuk menyiapkan dosis yang harus diminum. Ia meletakkan seluruh obat di atas piring kecil dan menaruhnya di kasur sang adik.

Setelah menyiapkan obat, Anya kembali berpikir keras tentang bagaimana cara mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi. Ia pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi sahabat terbaiknya, Radira Rembulan, atau biasa ia panggil Bul.

"Halo, Bul. Lo ada kerjaan nggak buat gue? Apa aja deh gue kerjain. Butuh banget nih buat nebus obat si Arka, soalnya obatnya udah habis, mentok juga sampai bulan ini doang. Gue stres banget mikirin cari duitnya," curhat Anya melalui telepon.

Bulan yang mendengar keluhan sahabatnya pun seketika teringat dengan tawaran pekerjaan dari salah satu kenalannya. Namun, ia ragu untuk menawarkannya kepada Anya karena ia sangat mengenal sahabatnya yang anti dengan pekerjaan berbau dewasa.

"Ada sih, Beb. Cuman aku takut kamu nolak kerjaannya. Soalnya ini kerjaan cukup berbau dewasa," jawab Bulan hati-hati.

Anya yang merasa terdesak pun tanpa pikir panjang mengiyakan tawaran tersebut.

"Nggak apa-apa, Bul. Apapun gue kerjain asal gajinya gede. Gue butuh buat obat adek gue bulan depan," tegas Anya.

Mendengar persetujuan dari sahabatnya, Bulan cukup terkejut. Ia pun memberikan arahan mengenai apa saja yang harus disiapkan.

"Oke kalau gitu. Besok lo pergi ke Aditama Group, bilang aja nama gue, mereka kenal kok. Cuman besok lo harus dandan cantik ya, Beb. Seragam nanti gue siapin, tapi jangan kaget pas coba ya," pesan Bulan.

Anya yang mendengar ucapan sahabatnya pun merasa sangat lega. Setidaknya, uang untuk obat sang adik sudah di depan mata. Masalah ke depannya akan ia hadapi perlahan.

"Makasih banyak ya, Bul. Gue nggak tau kalau nggak ada lo, harus gimana," ucap Anya tulus.

"Aman, Beb. Cuman kerjaan ini nggak sebersih yang lo pikirin. Setelah lihat seragamnya nanti, lo boleh putusin mau lanjut atau batal," balas Bulan.

"Oke, Bul. Gue bakal lakuin apa aja buat kesembuhan adek gue, sekalipun gue harus jual diri gue sendiri. Kalau gitu gue tutup ya teleponnya. Good night."

Bulan yang mendengar ucapan sahabatnya hanya tersenyum tipis. "Good night, Beb."

Setelah mendengar bunyi telepon terputus, Bulan hanya dapat menatap ponselnya dengan perasaan campur aduk. Pekerjaan yang ia tawarkan kemungkinan besar akan mengubah hidup sahabatnya ke depannya.

"Kerjaan ini secara nggak langsung bikin lo ngejual diri lo sendiri, An. Tapi gue pastiin Pak Tama orang yang tepat buat pengalaman pertama lo. Semoga lo nggak nyesel setelah tau semuanya," gumam Bulan sembari menyiapkan seragam yang akan ia berikan kepada Anya besok hari.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status