LOGINTerdesak biaya pengobatan sang adik yang kian kritis, Anya terpaksa menerima tawaran manipulatif Pak Tama untuk menjalin hubungan rahasia demi imbalan uang yang besar. Pengorbanan harga diri ini berhasil menebus obat sang adik, namun meninggalkan rasa bersalah mendalam yang terus menghantuinya di tempat kerja. Kini, situasi menjadi semakin rumit ketika sang bos besar mulai menuntutnya untuk menandatangani sebuah pernikahan kontrak.
View MoreSebagai seorang yang memiliki latar belakang di dunia desain, tumpukan laporan keuangan, jadwal investasi, dan penyusunan agenda korporat adalah labirin rumit yang kerap membuatnya pusing tujuh keliling. Namun, demi Arka dan pasokan obat-obatannya yang mahal, Anya memaksakan otaknya untuk bekerja dua kali lebih keras.Pagi itu, suasana di lantai tiga puluh terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pak Tama dijadwalkan untuk memimpin rapat koordinasi tahunan bersama para investor asing melalui video conference skala besar. Semua berkas materi presentasi dan data analitik seharusnya sudah selesai diperiksa dan diunggah ke sistem utama oleh Anya sejak tiga puluh menit yang lalu."Kenapa file-nya bisa rusak? Sial, kenapa data yang ini belum masuk?!" gumam Anya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi. Ia baru menyadari bahwa ada satu folder berisi grafik audit eksternal yang salah ia format, membuat seluruh sistem presentasi tidak bisa membaca data tersebut.Sebelum Anya sempat memperbaiki
Anya masih bisa merasakan bagaimana dadanya berdesir hebat. Di balik pintu ruang kerja Pak Tama yang baru saja ia tutup dengan rapat, ia bersandar pada dinding lorong lantai tiga puluh yang sepi. Ia memejamkan mata erat-erat, dan berharap dalam hati agar diberikan kekuatan untuk melewati hari pertama ini.Hari itu pun berlalu seperti mimpi buruk yang panjang. Jam demi jam ia habiskan dengan mengabaikan pandangan-pandangan penuh arti dari staf lain, membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan berkas komersial hingga matahari terbenam dan digantikan oleh pekatnya malam.Malam telah larut ketika Anya akhirnya melangkah masuk ke dalam rumahnya sendiri. Langkah kakinya terasa begitu berat, seolah ada beban berton-ton yang menggelayuti kedua pergelangan kakinya. Bayangan tatapan predator Pak Tama dan sentuhan berani pria itu di ruang kerjanya terus berputar-putar di kepala, menyisakan rasa bersalah dan kehampaan yang mendalam.Ia merasa kotor. Ia merasa menandatangani kontrak tak tertulis u
Aroma kopi hitam yang pekat menguar dari cangkir porselen putih yang dibawa Anya. Tangannya masih sedikit gemetar, membuat cairan hitam di dalamnya bergoyang-goyang kecil, menciptakan riak yang seolah mencerminkan isi kepalanya saat ini. Lima menit yang diberikan Tama terasa seperti hitungan mundur menuju ruang eksekusi.Dengan langkah perlahan dan penuh kehati-hatian, Anya mendekati pintu kayu jati besar bertuliskan CEO Office. Setelah menarik napas panjang untuk menstabilkan detak jantungnya, ia mengetuk pintu tersebut tiga kali."Masuk," terdengar suara berat dari dalam.Anya memutar kenop pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Tama sangat luas, didominasi oleh warna-warna gelap seperti abu-abu arang dan hitam, dengan dinding kaca besar di satu sisi yang menampilkan panorama gedung pencakar langit kota. Di tengah ruangan, duduk Aditama Saputra di balik meja kerjanya yang megah, tampak fokus menatap layar laptop.Anya berjalan mendekat, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akiba
Lobi utama Aditama Group tampak seperti sebuah kuil kemegahan yang dingin. Tangan Anya yang menggenggam tumpukan berkas sedikit gemetar. Ia terus menarik bagian bawah roknya yang sangat pendek, mencoba menutupi pangkal pahanya yang terpampang jelas. Namun, setiap gerakannya hanya membuatnya semakin sadar betapa tidak nyamannya pakaian ini. Kainnya tipis, transparan di beberapa bagian, dan didesain bukan untuk bekerja, melainkan untuk dipajang.“Jangan ditarik terus, An. Nanti malah kelihatan aneh,” bisik Bulan yang berdiri di sampingnya. Nada suaranya datar, namun ada peringatan keras di sana.Anya menoleh, menatap sahabatnya itu dengan mata yang memohon pengertian. “Gue merasa telanjang, Bul. Ini kantor, bukan tempat tidur.”Bulan mendesah pelan, ia melirik sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar. “Dengar, Anya. Di sini, cara pandang orang tentang ‘pakaian kerja’ berbeda. Kalau lu mau bayaran yang cukup untuk rumah sakit Arka, lu harus berhenti berpikir sebagai de












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.