Compartir

Di Luar Rencana #8

Autor: Gummy_Smile
last update Fecha de publicación: 2026-06-12 13:54:18

Mobil mewah Elian melaju membelah jalanan kota yang mulai basah diguyur sisa hujan. Suasana di dalam kabin terasa kontras dengan dinginnya udara malam di luar. Elian, yang biasanya selalu tenang dan terukur dalam segala hal, sesekali melepaskan tawa renyah yang terasa sangat asing di telinganya sendiri.

"Aktingmu bagus sekali, Vior! Aku hampir percaya kau benar-benar wanita penggoda yang tidak tahu malu," ucap Elian di sela tawanya, matanya sesekali melirik Vior yang duduk canggung di sampingnya.

Vior hanya menunduk dalam, wajahnya terasa panas. Ia masih merasakan sensasi gaun ketat yang sangat tidak familiar bagi kulitnya, ditambah lagi cara ia harus memamerkan bagian tubuhnya yang biasanya ia sembunyikan rapat-rapat. Ia mencoba menarik bagian dada gaunnya ke atas dengan kikuk.

"Oh, maafkan aku. Aku lupa kau merasa tidak nyaman dengan pakaian itu," Elian tiba-tiba menginjak rem, meminggirkan mobilnya ke bahu jalan yang sepi.

Suasana mendadak hening. Elian melepas jasnya, bermaksud menyampirkannya kembali ke bahu Vior. Namun, saat tangannya bergerak, pandangannya terkunci pada belahan dada yang menyembul dari balik gaun ketat tersebut. Kulit Vior yang putih bersih tampak begitu kontras dengan warna merah marun gaun itu. Ada sesuatu yang 'empuk' dan menggiurkan, sebuah pemandangan yang membuat saraf Elian tegang seketika. Tenggorokannya mendadak kering, dan napasnya terasa tertahan di kerongkongan.

"Pak?" suara lembut Vior menyadarkan Elian dari lamunan liar yang sempat menyergapnya.

Elian berdehem keras, menyembunyikan ketertegunannya dengan gerakan cepat menyampirkan jas ke tubuh Vior.

"Ya... ya, maaf. Kau sebaiknya segera pulang dan mengganti pakaian itu. Aku tidak ingin orang lain melihatmu seperti ini," gumamnya, suaranya sedikit parau.

Perjalanan berlanjut dalam keheningan yang sarat akan ketegangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Ketika mereka sampai di depan gang sempit menuju kamar kos Vior, Elian mematikan mesin mobil.

"Besok, aku akan menjemputmu lebih awal. Kita harus menjaga sandiwara ini tetap konsisten, Vior," ucap Elian tanpa menatap mata Vior.

"Tentu, Pak. Terima kasih untuk... segalanya hari ini," jawab Vior singkat sebelum melangkah turun dengan perasaan campur aduk.

Keesokan harinya, saat matahari berada tepat di atas kepala, kantor Elian tampak sibuk seperti biasa. Elian baru saja berangkat untuk sebuah rapat penting di luar kota, meninggalkan Vior yang sedang berkutat dengan tumpukan dokumen di ruang administrasinya. Namun, ketenangan itu terusik saat seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak sangat mahal dan auranya yang mendominasi muncul di depan mejanya.

Nyonya Saraswati.

Tanpa basa-basi, wanita itu memerintahkan Vior untuk mengikutinya. Vior tidak punya pilihan. Ia pun masuk ke dalam mobil mewah milik Nyonya Saraswati dan dibawa menuju sebuah restoran eksklusif di seberang hotel tempat mereka bertemu semalam.

Di restoran itu, Vior sengaja tetap melakukan perannya. Ia makan dengan suara mengecap yang nyaring, benar-benar tidak mengikuti etika makan fine dining yang seharusnya. Ia melihat Nyonya Saraswati menahan amarah setiap kali suara 'cap, cap' itu terdengar.

"Jujur, Vior. Saya tidak suka denganmu," ucap Nyonya Saraswati dingin, meletakkan segelas kristal berisi air putih. "Kau kasar, tidak tahu aturan, dan sama sekali tidak mencerminkan kelas yang seharusnya dimiliki oleh pendamping hidup Elian."

Vior menelan ludah. Ia bersiap untuk skenario klasik: amplop berisi uang tunai agar dirinya pergi.

"Tapi, Nyonya... saya dan Elian saling mencintai. Tidak ada yang bisa mengubah itu," selanya dengan nada yang ia buat sengaja terdengar menantang namun rapuh.

Nyonya Saraswati menghela napas panjang, matanya menatap Vior dengan tajam.

"Saya tidak tahu kalau sifatmu setidak sopan ini, karena sebelumnya saya hanya pernah melihatmu sekilas di kantor. Aku menduga Elian hanya sedang mencoba memberontak padaku dengan memilihmu."

Vior terdiam, menatap wanita di depannya dengan penuh antisipasi.

"Saya akan melatihmu," lanjut Nyonya Saraswati tenang.

Vior terbelalak. "Ya? Maksud Nyonya?"

"Aku tidak bisa membiarkan putraku menikahi wanita yang bahkan tidak tahu cara memegang garpu dengan benar. Jika Elian benar-benar bersikeras memilihmu, maka aku akan memastikan kau memiliki kualitas yang layak. Aku akan melatih tata krama, cara berpakaian, hingga bagaimana kau harus bersikap di depan publik agar kau benar-benar layak menjadi menantu keluarga Elian."

Vior terperangah. Ia benar-benar tidak menyangka ini. Ia mengira akan dimaki atau diusir, bukan justru 'dijadikan proyek' untuk dibentuk sesuai keinginan Nyonya Saraswati.

"Mulai besok, setiap sore setelah jam kerja, kau akan datang ke rumahku. Kita akan mulai dengan pelajaran etika bicara dan sejarah keluarga. Jangan berpikir kau bisa melarikan diri, Vior. Jika kau menolak, aku akan memastikan karirmu di perusahaan Elian berakhir saat ini juga," ancam Nyonya Saraswati dengan suara yang tetap anggun namun mematikan.

Setelah Nyonya Saraswati pergi, Vior duduk terpaku di restoran itu. Ini adalah perkembangan yang gila. Rencana awalnya hanya ingin membuat Rio cemburu dan membalas dendam atas pengkhianatannya. Sekarang, ia justru terjebak dalam permainan yang lebih besar. Ia harus menjalani hidup sebagai wanita 'tidak tahu diri' di depan Elian, namun sekaligus harus bertransformasi menjadi wanita 'berkelas' di depan sang calon ibu mertua yang ternyata sangat manipulatif.

Vior meremas tasnya. Ia tahu ia tidak bisa mundur. Jika ia bisa memenangkan hati Nyonya Saraswati, bukankah itu berarti ia bisa memiliki kontrol penuh atas Elian? Dan mungkin, setelah itu, ia benar-benar bisa menyingkirkan Rio dari kehidupannya selamanya.

Namun, di balik semua perhitungan itu, sebuah pertanyaan muncul di kepala Vior. Apakah Elian tahu bahwa ibunya memiliki rencana 'pelatihan' ini? Dan apakah Elian akan tetap mendukungnya, atau justru ia akan merasa terganggu jika Vior benar-benar berubah menjadi wanita yang diinginkan oleh ibunya?

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Rahasia Pak Baskara

    Vior pamit sebentar kepada Sarah untuk ke toilet, meninggalkan kopi yang mulai mendingin dan beban pikiran yang kian menumpuk. Lorong kafe itu cukup panjang dan sepi, dengan pencahayaan temaram yang memberikan kesan eksklusif. Saat ia sedang berjalan santai, pikirannya masih berkelana pada percakapan tentang keluarga Elian tadi, seseorang yang tampak terburu-buru muncul dari tikungan dan menabrak Vior dengan cukup kencang."Ah, maaf, Mbak... saya benar-benar tidak sengaja!" seru suara wanita yang terdengar halus namun panik.Vior terhuyung ke belakang, namun sebelum ia sempat jatuh, wanita itu sigap menahan lengannya. Vior mendongak, menatap seorang wanita mungil dengan proporsi tubuh yang begitu indah—otot-ototnya tampak kencang, bahunya tegap dan ramping, jelas hasil dari disiplin tinggi di tempat gym atau studio pilates. Aroma parfum vanila yang manis namun elegan seketika menyeruak, menyelimuti indra penciuman Vior."Tidak apa-apa, saya yang kurang memperhatikan jalan," Vior terse

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Nyonya Saraswati

    Sore menjelang, langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga keunguan. Vior sesekali melirik jam dinding di kantornya yang berdetak pelan, seolah ikut merasakan beban pikirannya yang tak kunjung usai. Sejak insiden memalukan di apartemen Elian kemarin, Nyonya Saraswati tidak muncul di kantor. Vior sempat berharap, mungkin kejadian itu adalah sebuah titik akhir yang akan memutus hubungan paksa antara dirinya dan keluarga konglomerat tersebut. Ia merasa tidak punya muka untuk menatap mata wanita itu lagi. Bayangan wajah tenang namun menghakimi Nyonya Saraswati saat memergoki mereka di sofa terus menghantuinya."Vior, sore ini nongkrong sebentar, yuk. Suntuk sekali ini akhir bulan," ajak Sarah, rekan kerjanya, sambil membereskan tumpukan berkas. Vior merasa ia memang butuh udara segar. Kepalanya terasa penuh dan berat."Boleh, Sarah. Aku juga butuh penyegaran," jawab Vior pelan.Mereka pun beranjak keluar dari kantor, meninggalkan hiruk pikuk pekerjaan menuju sebuah kafe yang cukup

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Pikiran Liar Elian

    Keesokan harinya, suasana di lantai lima kantor itu terasa menyesakkan bagi Vior. Begitu ia melangkah masuk, tatapan mata rekan-rekannya seolah menjadi sorotan lampu tajam yang membedah setiap inchi wajahnya. Berita tentang video viral di kafe itu telah menyebar seperti api di padang rumput, dan hampir semua orang di lantai itu telah menontonnya."Vior! Kau baik-baik saja?" tanya Sarah, salah satu rekan kerjanya, dengan wajah yang sarat akan rasa kasihan dan penasaran. "Kami semua melihat videonya. Itu sangat keterlaluan, Rio benar-benar tidak punya hati!"Vior berusaha menampilkan senyum setenang mungkin, meski hatinya terasa tercabik-cabik. "Aman. Kemarin aku hanya syok, makanya aku izin kerja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku," jawabnya singkat.Tiba-tiba, Pak Rizal, pria paruh baya yang paling senang bergosip di kantor, mendekat dengan mata berbinar-binar. "Oh, Vior! Kau tidak tahu apa yang terjadi setelahnya. Temanku yang bekerja di divisi Rio bilang, kemarin Pak Elian tib

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Terhina

    Suara pintu yang terbanting keras di kamar Elian masih menyisakan getaran di dinding apartemen, namun Nyonya Saraswati tidak membiarkan emosinya mereda. Ia justru melangkah tenang ke tengah ruangan, aura dominasi yang selama puluhan tahun membesarkan Group J Empire terpancar dari setiap gerak-geriknya."Cukup sandiwara ini, Elian," ucap Nyonya Saraswati tanpa menoleh ke arah pintu kamar putranya. Ia justru menatap ke arah sofa, tempat di mana pakaian Vior yang berantakan masih berserakan.Elian yang baru saja membanting pintu keluar kembali dengan wajah merah padam, namun langkahnya terhenti saat melihat ibunya justru memeriksa meja kerjanya."Kau pikir Ibu tidak tahu?" lanjut Nyonya Saraswati dengan tawa kecil yang terdengar meremehkan. "Sejak awal, Ibu sudah mengamati. Elian, kau adalah putraku. Kau tidak mungkin membiarkan wanita kelas rendah seperti dia masuk ke lingkaran batinmu jika bukan karena satu alasan: kau sedang menyewa 'aktris' untuk menutupi ketidakmampuanmu mencari pe

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Ketahuan

    Suara bentakan itu memecah atmosfir yang sudah panas membara, memukul pendengaran Elian dan Vior bagaikan palu godam. Keduanya tersentak hebat, seolah baru saja disiram air es di tengah puncak gairah. Elian dengan sigap menyambar kemeja yang baru saja terbuka separuh, menutupi tubuh Vior yang masih setengah terbuka dengan posesif, lalu bangkit berdiri dengan napas yang masih memburu.Di ambang pintu, seorang wanita paruh baya dengan gaun sutra berwarna emerald dan tatapan yang mampu membekukan darah berdiri tegak. Ibunda Elian. Matanya yang tajam menatap pemandangan di sofa dengan kilatan amarah yang tidak bisa ditutupi. Di belakangnya, seorang pria berpakaian rapi—asisten pribadi sang Ibu—tampak canggung, menunduk dalam-dalam seolah ingin menghilang dari ruangan itu."Elian! Apa yang sedang kau lakukan?" suara wanita itu bergetar, bukan karena takut, melainkan karena murka yang tertahan. "Kau membawa wanita ini ke sini? Ke tempat yang seharusnya menjadi privasimu, dan melakukan hal.

  • Wanita Sewaan Pak Elian   Warning 21+ / Gairah Liar #14

    Vior mendongak, menatap mata Elian yang kini berkabut oleh gairah dan emosi yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Pria yang selama ini dingin dan penuh perhitungan itu kini terlihat begitu manusiawi, begitu haus akan dirinya. Saat bibir Elian mulai menelusuri leher jenjangnya dengan sentuhan lembut, Vior merasakan desiran halus yang menjalar ke seluruh saraf tubuhnya. Setiap ciuman Elian terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kewarasannya. Elian melingkarkan lengannya dengan posesif di pinggang Vior, merebahkan gadis itu perlahan ke atas sofa yang empuk. Ia menciumi setiap inci kulit Vior, menciptakan jejak kehangatan yang membuat Vior merasa seolah ia adalah satu-satunya hal berharga di dunia ini. "Saya sudah sadar dari dulu, kalau kamu itu... cantik sekali, Vior," bisik Elian di sela ciumannya. Suaranya serak, penuh dengan kekaguman yang tulus. Vior, yang masih terpaku oleh luapan emosi setelah tangisannya tadi, hanya bisa pasrah. Di bawah tatapan Elian, ia merasa tidak lagi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status