Masuk21+ Cerita ini terdapat banyak kata umpatan kasar serta adegan dewasa. ******* Valerie salah. Seharusnya ia tidak masuk ke dalam kehidupan pria itu hanya untuk membalas rasa sakit hati kepada saudaranya. "Hai Demiral, I love you." "But I do not. You're just a doll."
Lihat lebih banyak"Apa yang dia lakukan? Berani-beraninya dia berkata hal seperti itu tentangku?"
Valerie tengah melakukan pemotretan pertamanya pagi ini. Saat tiba-tiba saja dia mendengar beberapa staf yang sedang menggunjingkannya. Model cantik ini bertanya-tanya apa yang telah terjadi sampai mereka bergosip seperti itu. Gosip-gosip itu beredar dari salah satu stasiun TV yang telah menampilkan konferensi pers yang dilakukan oleh Nolan Hugo, aktor baru naik daun yang menyandang status sebagai kekasih Valerie. Di dalam konferensi pers tersebut, Nolan menyatakan jika hubungannya bersama Valerie hanyalah gimmick semata. Dikatakan bahwa kekasihnya yang asli dari pria tersebut adalah wanita yang kini tengah berada di dalam satu project film bersamanya. "Bagaimana hubungan anda dengan Valerie?" "Apakah anda meninggalkannya demi wanita ini?" "Hubunganku bersama Valerie hanya sebuah pengaturan semata. Aku membantunya untuk mempromosikan sebuah produk yang sedang dia kerjakan, juga membantunya agar berhasil mendapatkan penghargaan model terbaik tahun ini." Nolan menjelaskan secara lugas, tersenyum pun sangat percaya diri sembari terus merangkul bahu wanita barunya. "Jadi maksud anda Valeri menggunakan hubungan kalian untuk membuat namanya semakin melejit?" Nolan terkekeh pada konferensi pers tersebut. "Tidak perlu dijelaskan seperti itu, itu sedikit tidak enak didengar. Aku dan Valeri, kita berdua hanya berteman." Pertanyaan dari beberapa wartawan serta jawaban yang Nolan layangkan benar-benar membuat Valerie mendengus kesal. Hampir saja ia melemparkan ponsel asistennya yang tadi ia pakai untuk menonton konferensi pers tersebut. "Di mana bajingan itu berada sekarang! Aku akan menemui pria sialan itu." "Tapi Valeri, kau masih memiliki beberapa pemotretan." Asisten Valerie-Lidya-lumayan panik dengan amarah bosnya itu. Takut-takut jika Valerie pergi begitu saja dari jadwal pemotretannya. "Aku tidak peduli. Sekarang, sangat ingin kuinjak kepala keparat itu!" Valeri bergegas pergi meninggalkan ruang ganti. Wanita cantik ini masih memakai baju yang ia pakai untuk memotretan sebelumnya. Sebuah mini dress berwarna putih tanpa lengan yang memperlihatkan tulang selangkanya, menonjol pun seksi. Dress di atas lutut menampilkan paha yang putih mulus serta kaki jenjangnya terlapis high heels setinggi 10 cm, riasan pada wajah yang masih begitu mencolok, eyeliner bersayap pada siren eyenya, lipstik nude tebal pada bibir sintal dan rambut hitam legamnya yang dikuncir kuda ke atas. Wanita cantik ini melenggang keluar dari gedung perusahaan yang menaunginya sebagai model selama beberapa tahun ini. Dia masuk ke dalam mobil sport miliknya berwarna hitam legam, dengan suara gas yang menggerung sangar. Langsung saja Valerie menginjak pedal gas, melesatkan mobilnya pun melaju kencang membelah jalanan kota yang cukup ramai pada pagi hari itu. ***** Hari ini pagi sangat cerah, matahari bersinar lebih terang dari biasanya. Satu keluarga Hugo sedang berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan bersama. Beberapa dari mereka sibuk membicarakan mengenai bisnis di perusahaan, dan sebagian lagi hanya fokus dengan sarapan mereka. Sementara satu orang yang duduk di kursi utama meja makan paling ujung, dia tengah melihat layar ponselnya membaca beberapa email pekerjaan yang masuk. Pria dengan setelan kemeja hitam rapih lengan panjang yang dilipat sampai siku. Wajahnya yang tegas dengan garis rahang yang kuat disertai jambang tipis menonjolkan ketampanan serta aura kepemimpinan yang dominan, rambut hitam miliknya disisir ke belakang namun tetap jatuh. Sorot matanya yang tajam memicing fokus pada layar ponsel yang menyala. "Di mana Nolan?" Valerie berdiri di ujung meja makan. Wanita cantik ini datang dengan penampilan mencolok, kontan membuat semua pasang mata melotot memandangnya. Hanya satu wajah yang terlihat datar dan dingin yang tak lain milik pria yang duduk di ujung meja makan berseberangan dengan Valeri, yang kini tengah menatap Valerie lurus dengan wajah tanpa ekspresi. "Valerie?" Pandangan Valerie menelisik semua wajah yang berada di sana. Tidak ia temukan wajah pria sialan yang dicarinya ini. "Where Nolan?" tanya Valerie. Nafasnya memburu menahan amarah yang meluap-luap dan tak sabar ingin ia keluarkan. "Nolan berada di kamarnya, dia masih ti-" Wanita ini menghentikan kalimatnya saat Valerie langsung berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang makan. Saat itu semua orang terdiam, memandang Valerie sampai bayang-bayang model cantik itu hilang di balik tembok. Valerie menghentakkan kakinya pada pintu berwarna putih yang langsung saja terbuka. Berjalan menuju ranjang, lalu melayangkan sebuah pukulan panas yang mendarat tepat pada kepala Nolan. Spontan pria itu terbangun sembari meringis sakit. "What are you doing, motherfucker?" Amarah wanita ini sudah di puncak ubun-ubun. Tidak sanggup lagi menahannya pun sangat ingin membakar wajah pria sialan yang telah menyebarkan rumor buruk tentangnya. "Benarkah jika aku memanfaatkanmu, huh? Are you serious about that?" teriaknya begitu lantang pada akhir kalimat. Sementara Nolan masih bingung, ia linglung karena nyawanya belum terkumpul akibat dibangunkan secara tiba-tiba oleh Valerie. Pria ini hanya duduk terdiam, menatap Valerie dengan alis yang bertaut menyatu. "O shit!" Valerie mengumpat kesal. Tidak kunjung menerima jawaban dari pria sialannya, ia hampir kehabisan akal. Amarahnya meluap-luap, ingin rasanya melempar Nolan keluar dari jendela kamar pria itu yang berada di lantai tiga. "Heh," dengkus Valerie. Ia dorong bahu Nolan ke belakang, menatap pria itu dengan tajam pun sangar. Nolan mengerjap, akhirnya sadar jika dirinya sedang berhadapan dengan seekor singa betina yang mengamuk. Langsung saja Nolan berdiri, meninggalkan selimut yang membelitnya di atas ranjang. Kini tampillah sudah tubuh atletis pria itu yang bertelanjang dada, sementara bagian bawah tubuhnya hanya mengenakan boxer ketat yang membuat inti tubuhnya menonjol kentara. "Valerie, ke-kenapa kau ada di sini?" tanya Nolan gugup. Pria ini menelan salivanya susah payah saat ia memandang wajah Valerie yang merah padam. "Apa yang kau lakukan di konferensi pers itu, Nolan? Apa kau sudah gila?" tuntut Valerie pada Nolan. "Aku hanya mengatakan fakta, apa yang salah?" "Fakta?" Nada suara Valerie merendah. Sesuatu mencekat tenggorokannya hingga terasa sakit, lingkar matanya mulai memerah panas. Ia tatapi Nolan lekat-lekat penuh amarah pun rasa kecewa. "Ya-ya." Nolan menegaskan. "Aku berpacaran denganmu hanya untuk gimmick semata, Valerie." "Kau memanfaatkanku?" tuduh Valerie langsung. Sementara Nolan hanya menatapnya diam, seolah diamnya pria itu adalah sebuah jawaban. Valerie terkekeh tidak percaya, ia menengadah ke atas untuk menyembunyikan air matanya yang hampir menetes. Tidak mungkin ia keluarkan air matanya yang berharga di hadapan pria itu. "Begitulah kenyataanya," balas Nolan. "Aku tidak pernah berpikir jika kau benar-benar mencintaiku, Valerie. Kau hanya selalu memikirkan dirimu sendiri, jadi perpisahan ini setidaknya membuatmu senang, right?" tutur Nolan. Yah. Pria ini sedang melimpahkan segala kesalahannya pada Valerie. Valerie mengangguk-angguk mengerti. Jadi inilah alasan yang dipakai Nolan untuk memutuskan hubungan mereka. Meskipun sikap atau perlakuan Valerie terhadap Nolan tidak begitu baik sebagai kekasih, pria itu tetap saja tidak pantas untuk menjelekan namanya kepada media. Kenyataanya, Valerie salah telah memberikan Nolan kesempatan untuk mendekatinya. Ia benar-benar salah mengenali pria itu. Pria yang malah memanfaatkannya, dan dengan gila kini pria itu membuangnya. Kini yang perlu Valerie lakukan hanya kembali menatap Nolan dengan tegas pun sangar, menyembunyikan kekecewaan besar yang sebenarnya timbul karena pada kenyataanya ia sangat mencintai pria itu. Ximena Valerie tidak akan mengaku kalah pada siapapun, terlebih lagi pada pria bajingan keparat yang tidak berguna. "Jadi kau membalas dendam atas perlakuanku padamu, uh? Membuat namaku buruk, mengatakan pada media jika aku memanfaatkanmu, begitu?" papar Valerie, mengangkat sedikit dagunya ke atas pun sorot matanya yang tajam melucuti setiap inci kulit pria di hadapannya yang kini telah menciut diam. "Meskipun ya, kau tetap tidak pantas mengatakan semua itu, Nolan. Sama sekali tidak pantas! Hidupmu akan menderita dimulai hari ini. Ingat itu, Nolan Hugo!" Berteriak lantang, mengamuk, dan kecewa. Valerie dorong dada Nolan kuat-kuat, menyingkirkan pria bajingan itu dari hadapannya lalu ia berjalan pergi keluar ruangan. Sementara Nolan Hugo, pria ini hanya terkekeh-kekeh melihat tingkah wanitanya seperti itu. Amarah Valerie memang menakutkan, tapi berhasil terlepas dari jerat wanita keras kepala itu membuat Nolan sedikit lega. Maki saja aku sepuasmu, aku tidak masalah. Terpenting kini ialah aku telah terbebas dari dirimu, Ximena Valerie. ****** "Dia menangis." "Ya, aku tahu." Demiral sedang berbicara dengan asistennya-Lucas-saat tiba-tiba Valerie datang dan berjalan dengan cepat melewati mereka. Sambil terisak wanita cantik itu berjalan pun menundukan wajahnya dalam. Dua pria berstelan rapih tersebut menoleh bersamaan, pada Nolan yang berjalan menghampiri mereka di belakang. Pria itu telah berpakaian kini, t shirt polos hitam press bodi, serta celana training panjang. Nolan berjalan santai sembari memasukan satu lengannya ke dalam saku celana. "Baguslah dia sudah pergi," celetuk pria berambut blonde itu. Berdiri dirinya kini di tengah-tengah sang paman-Demiral Hugo, pun asistennya, Lucas. "Kau putus dengannya?" tebak Lucas. Diyakini jika itulah yang telah terjadi. Di antara konferensi pers yang diadakan Nolan kemarin, Valerie pasti merasa dikhianati. "Wanita yang tidak bisa kugapai kehormatannya, untuk apa bersama wanita seperti itu. Ximena Valerie selalu menyombongkan dirinya sendiri," papar Nolan menekankan nada kalimatnya, serta memandang lurus ke depan dengan tatapan tajam melotot seolah di depannya sedang berdiri seorang rival yang teramat ia benci. "Sepertinya kau begitu membenci Valerie," tutur Lucas mengulum senyum, memainkan alisnya ke arah Demiral yang tersenyum miring pun tipis. "Si keras kepala itu, siapa yang tidak membencinya." Nolan berdecih. "Coba saja kau dekati. Kuyakini kau akan melarikan diri setelah bersamanya kurang dari satu Minggu," lugas Nolan penuh percaya diri. . . . Bersambung ....."Hei Baby, aku berada di depan kediamanmu."Demiral mengirimkan Valerie pesan, yang saat ini Valerie baru saja menyelesaikan acara mandinya. Ia memerlukan waktu guna bersiap memilih baju serta memoleskan make up.Pria itu datang lebih cepat setengah jam dari waktu yang telah mereka janjikan. Janji temu Demiral dengan kedua orang tuanya untuk datang melamar Valerie, meminta restu untuk menikah dengan putri semata wayang keluarga Yoxavos.Valerie tidak menjawab pesan itu. Ia membiarkannya. Biarkan Demiral menunggu sebentar dirinya bersiap-siap dan pasti di bawah Alba dan Latina juga akan menyambutnya. Mereka akan berbincang bersama.Ini kali pertama seorang pria masuk ke dalam kediaman datang untuk melamarnya. Jujur hal tersebut membuat jantung Valerie berdegup kencang takut-takut jika Demiral dan kedua orang tuanya bukan orang yang cocok. Namun di sisi lain Valerie percaya, sekeras apapun ayahnya, ia amat menyayangi Valerie dan tidak mungkin merusak kebahagiaan putrinya.Sementara di l
“Kudoakan semoga senantiasa kau berbahagia, Valerie.”“Tentu aku akan berbahagia, Nolan.”Nolan menatap wajah cantiknya, lalu pandangannya turun pada kalung indah yang bertengger pada leher jenjang wanita itu.“Kau cocok mengenakannya. Tapi tahukah dirimu?”“Apa?” Valerie menaikan dagunya.“Orang terakhir yang mengenakannya telah tewas. Kuharap kau tidak dihantui oleh pemilik lamanya,” lugas pria itu, kontan membuat alis Valerie berkerut menyatu.“Aku tidak percaya hantu,” sungut Valerie.“Bukan hantu, bayang-bayang masalalu lebih mengerikan daripada itu.”“Apa maksudmu, Nolan?”“Semoga pernikahanmu lancar, Ms.Valerie Yoxavos.”Nolan berbalik pergi sebelum Valerie mendapatkan penjelasan atas apa yang pria itu katakan. Begitu ambigu membuat dirinya bingung dengan semua itu. Orang terakhir? Siapa? Bayang-bayang masalalu?Terdengar suara langkah kaki dari belakang, langsung Valerie berbalik dan melihat Demiral gontai mendekatinya. Pria itu meraih, merangkul pinggang wanitanya sensitif.“
Menjuntai indah kalung dengan liontin cantik batu zamrud berwarna hijau tua itu pada leher jenjang sang pemakai. Cantik bertengger dengan warna yang menyatu dengan kulit putih cerahnya.Valerie menatap dirinya di sebalik cermin, memegang kalung berharga milik satu keluarga yang kini berakhir pada dirinya. Ia tidak menyangka jika pria itu begitu cepat mengutarakan perasaanya."Menikahlah denganku."Demiral memeluknya dari belakang, mencium ceruk leher wanitanya lalu menyimpan wajahnya di sana. Ia menatap lurus ke depan pada tampilannya bersama Valerie dari balik cermin.Velerie merasakan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, perasaan gugup sekaligus senang bercampur menjadi satu. Tidak pernah ia sangka jika kedekatannya bersama Demiral malah membawanya kepada hubungan yang lebih serius, pun pria itu kini telah melamarnya. Tidak pernah ia sangka juga dirinya akan jatuh cinta kepada paman dari mantan kekasihnya, yang awalnya ia mendekati Demiral hanya ingin m
Gontai berjalan pada lorong gelap menuju sebuah ruangan di ujung sana. Sosoknya tegap melangkah tersorot oleh cahaya bulan yang menembus dari jendela-jendela di setiap sisi lorong. Bayangan hitamnya bergerak, gelap mencekam bak aura yang dipancarkan.Demiral berjalan bersama Lucas serta dua algojo bertubuh besar di belakang. Masuk ke dalam ruangan setelah pintu dibuka oleh sang penjaga. Pandangannya mengedar menatap satu-persatu pada semua wajah garang yang berada di ruang tersebut dengan holster-holster desertai Glock yang terpatri pada pinggang mereka. Seorang algojonya menarik kursi dengan letak berhadapan dengan seorang pria yang telah menunggunya beberapa waktu.“Maaf terlambat, aku harus menidurkan bayiku terlebih dahulu,” tutur pria itu lantas membuat tatapan pria di hadapannya semakin tersorot tajam. “Dia sedikit manja malam ini sebab menginginkan sebuah sentuhan,” imbuh Demiral sengaja.Seorang penjaga pria di hadapanya siap dengan senapan laras panjang yang jika saja pelurun
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.