로그인"Hei Baby, aku berada di depan kediamanmu."Demiral mengirimkan Valerie pesan, yang saat ini Valerie baru saja menyelesaikan acara mandinya. Ia memerlukan waktu guna bersiap memilih baju serta memoleskan make up.Pria itu datang lebih cepat setengah jam dari waktu yang telah mereka janjikan. Janji temu Demiral dengan kedua orang tuanya untuk datang melamar Valerie, meminta restu untuk menikah dengan putri semata wayang keluarga Yoxavos.Valerie tidak menjawab pesan itu. Ia membiarkannya. Biarkan Demiral menunggu sebentar dirinya bersiap-siap dan pasti di bawah Alba dan Latina juga akan menyambutnya. Mereka akan berbincang bersama.Ini kali pertama seorang pria masuk ke dalam kediaman datang untuk melamarnya. Jujur hal tersebut membuat jantung Valerie berdegup kencang takut-takut jika Demiral dan kedua orang tuanya bukan orang yang cocok. Namun di sisi lain Valerie percaya, sekeras apapun ayahnya, ia amat menyayangi Valerie dan tidak mungkin merusak kebahagiaan putrinya.Sementara di l
“Kudoakan semoga senantiasa kau berbahagia, Valerie.”“Tentu aku akan berbahagia, Nolan.”Nolan menatap wajah cantiknya, lalu pandangannya turun pada kalung indah yang bertengger pada leher jenjang wanita itu.“Kau cocok mengenakannya. Tapi tahukah dirimu?”“Apa?” Valerie menaikan dagunya.“Orang terakhir yang mengenakannya telah tewas. Kuharap kau tidak dihantui oleh pemilik lamanya,” lugas pria itu, kontan membuat alis Valerie berkerut menyatu.“Aku tidak percaya hantu,” sungut Valerie.“Bukan hantu, bayang-bayang masalalu lebih mengerikan daripada itu.”“Apa maksudmu, Nolan?”“Semoga pernikahanmu lancar, Ms.Valerie Yoxavos.”Nolan berbalik pergi sebelum Valerie mendapatkan penjelasan atas apa yang pria itu katakan. Begitu ambigu membuat dirinya bingung dengan semua itu. Orang terakhir? Siapa? Bayang-bayang masalalu?Terdengar suara langkah kaki dari belakang, langsung Valerie berbalik dan melihat Demiral gontai mendekatinya. Pria itu meraih, merangkul pinggang wanitanya sensitif.“
Menjuntai indah kalung dengan liontin cantik batu zamrud berwarna hijau tua itu pada leher jenjang sang pemakai. Cantik bertengger dengan warna yang menyatu dengan kulit putih cerahnya.Valerie menatap dirinya di sebalik cermin, memegang kalung berharga milik satu keluarga yang kini berakhir pada dirinya. Ia tidak menyangka jika pria itu begitu cepat mengutarakan perasaanya."Menikahlah denganku."Demiral memeluknya dari belakang, mencium ceruk leher wanitanya lalu menyimpan wajahnya di sana. Ia menatap lurus ke depan pada tampilannya bersama Valerie dari balik cermin.Velerie merasakan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, perasaan gugup sekaligus senang bercampur menjadi satu. Tidak pernah ia sangka jika kedekatannya bersama Demiral malah membawanya kepada hubungan yang lebih serius, pun pria itu kini telah melamarnya. Tidak pernah ia sangka juga dirinya akan jatuh cinta kepada paman dari mantan kekasihnya, yang awalnya ia mendekati Demiral hanya ingin m
Gontai berjalan pada lorong gelap menuju sebuah ruangan di ujung sana. Sosoknya tegap melangkah tersorot oleh cahaya bulan yang menembus dari jendela-jendela di setiap sisi lorong. Bayangan hitamnya bergerak, gelap mencekam bak aura yang dipancarkan.Demiral berjalan bersama Lucas serta dua algojo bertubuh besar di belakang. Masuk ke dalam ruangan setelah pintu dibuka oleh sang penjaga. Pandangannya mengedar menatap satu-persatu pada semua wajah garang yang berada di ruang tersebut dengan holster-holster desertai Glock yang terpatri pada pinggang mereka. Seorang algojonya menarik kursi dengan letak berhadapan dengan seorang pria yang telah menunggunya beberapa waktu.“Maaf terlambat, aku harus menidurkan bayiku terlebih dahulu,” tutur pria itu lantas membuat tatapan pria di hadapannya semakin tersorot tajam. “Dia sedikit manja malam ini sebab menginginkan sebuah sentuhan,” imbuh Demiral sengaja.Seorang penjaga pria di hadapanya siap dengan senapan laras panjang yang jika saja pelurun
Setelah kejadian traumatis yang di alami Valerie, wanita cantik itu kini masih berada di penthouse milik Demiral dan menghabiskan hari-harinya di dalam kediaman pribadi milik pria itu. Tidak bekerja ataupun pulang ke rumahnya sendiri, ia berpamitan pada keluarga serta Lidya jika dirinya perlu melakukan healing sementara agar tidak stress dengan pekerjaan yang menumpuk. Dirinya sudah berada di penthouse Demiral selama satu Minggu penuh, tidak ada yang ia lakukan kecuali diam dan beristirahat guna memulihkan luka tubuhnya yang cukup parah.Sementara itu Demiral sendiri sangat jarang berada di sana. Dalam satu Minggu ini pria itu hanya berkunjung satu kali untuk melihat perkembangan keadaan Valerie. Membuat Valerie sendirian pada malam hari karena perawat yang dipekerjakan Demiral hanya memiliki waktu kerja dari pagi hingga sore.Ia berada di ruang utama penthouse, duduk pada sofa berwarna hitam gelap sembari menonton saluran di televisi. Di hadapannya telah tersedia beberapa iris buah d
Demiral mengangkat Glock 19 miliknya, membidik para Pirate yang mencoba masuk menyerang. Handal pria itu melesatkan peluru panas yang langsung ia arahkan tepat pada sang mangsa, menembus kepala dingin pun dada yang bergemuruh langsung menghancurkan tulang keras yang kontan berdarah hancur berceceran.Auranya yang gelap menguar kuat amat mendominasi. Wajah dinginnya terpasang halus saat ia menembakan banyak peluru pada manusia bernyawa yang langsung mati di hadapannya tanpa ekspresi sedikitpun. Dingin, tanpa tekanan, pun rasa gentar. Itulah Demiral Hugo, pembunuh berdarah dingin.Puluhan mayat serta lautan darah segar mengalir memenuhi aula kapal pesiar. Acara lelang mewah yang seharusnya diadakan semeriah mungkin hancur karena para perompak masuk tanpa undangan, membunuh serta mencuri harta berharga dari sang mangsa tanpa pandang buluh. Mayat-mayat tergeletak di atas lantai, berpuluh-puluh banyaknya tubuh dingin sang perompak pun para tamu undangan acara lelang itu sendiri yang mengha







