Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan

Dikejar Mantan, Dipeluk Atasan

last updateLast Updated : 2026-07-10
By:  RiichanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
9Chapters
16views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Loraine mengira perceraian adalah akhir dari segalanya. Ternyata bukan. Mantan suaminya — lelaki yang semua orang kagumi — tidak terima kenyataan bahwa Loraine benar-benar pergi. Bunga, hadiah, kunjungan tak diundang. Loraine lelah sekaligus takut. Sampai Nathan muncul dengan tawaran yang tidak masuk akal. "Nikahi aku. Kau butuh perlindungan, aku butuh istri. Kita sama-sama untung." Sederhana. Transaksional. Tidak melibatkan perasaan. Setidaknya begitulah rencananya.

View More

Chapter 1

BAB 1

“Bukankah itu Leon Vale?” ucap salah satu rekan kerja Loraine.

Beberapa orang menatap ke arah luar jendela dari lantai tiga. Lalu beralih ke arah Loraine yang mencoba tetap fokus bekerja.

“Iya, sudah sekitar enam bulan, mantan suami Loraine melakukan itu,” jawab rekan kerja lain.

Beberapa orang melirik ke arah Loraine lagi. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan sinis rekan-rekan kerjanya itu.

“Lagian, kenapa sih kau bercerai dengan pria sebaik dan seromantis Leon Vale?” tanya salah satu rekan kerja yang duduk tepat di samping Loraine.

“Benar, banyak wanita mendambakan untuk menjadi pasangannya. Lalu kau? Malah melepaskannya,” sahut rekan kerja lain.

“Ehm… kembali bekerja,” ucap asisten manajer.

Suasana kembali tenang setelah asisten manajer menegur. Loraine bisa sedikit bernapas lega. Ia sesekali melirik ke arah jam dinding, berharap agar waktu berhenti supaya ia tak pulang.

Lalu rekan kerja di sampingnya kembali berbisik pelan, “apa kau sedang jual mahal? Atau sedang pamer karena seorang Leon Vale tergila-gila padamu meski sudah bercerai?”

Tanpa menunggu respon dari Loraine, rekan kerjanya itu kembali fokus pada layar komputer di depannya.

Ucapan mendadak rekan kerjanya itu terngiang di kepala Loraine. Ia menelan ludah kemudian memejamkan matanya. Mencoba mengalihkan fokusnya untuk mencari cara agar tak bertemu dengan mantan suaminya saat pulang nanti.

“Loraine?” panggil asisten manajer.

Loraine tak menjawabnya, ia terbangun dalam pikirannya sendiri. Asisten manajer kembali memanggilnya untuk kedua kalinya, tetapi tetap tak mendapatkan jawaban dari Loraine. Sampai akhirnya siku rekan kerja di sampingnya Loraine menyenggol dengan kuat sikunya.

Loraine tersentak dan menoleh langsung ke arah rekan di sampingnya.

“Apa telingamu sudah tak berfungsi? Asisten manajer memanggilmu beberapa kali!” bisiknya.

Loraine panik dan berdiri lalu membawa catatan dan bergegas menuju meja asisten manajer. Tatapan tajam asisten manajer membuatnya kembali tak nyaman.

“Ma-maafkan saya, bu. Saya tidak mendengar panggilan anda,” ucapnya akhirnya.

Asisten manajer menghela napas panjang.

“Kinerjamu akhir-akhir-akhir ini memburuk. Banyak kesalahan pada dokumen yang kamu kerjakan. Jadi sebaiknya kamu hari ini lembur dan perbaiki semuanya,” ucap asisten manajer sambil menyodorkan dokumen-dokumen yang perlu perbaikan.

“Ba-baik, bu,” jawab Loraine sambil menunduk.

“Sebaiknya pisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Kalau kinerjamu semakin memburuk lebih dari ini, terpaksa perusahaan akan memutuskan kontrak kerjamu. Yasudah, kamu boleh kembali ke mejamu lagi,” lanjut asisten manajer.

Loraine menunduk pada asisten manajer dan kembali ke meja kerjanya.

“Kali ini aku harus fokus pada kerjaanku,” gumamnya dalam hati.

Ia melihat tumpukan dokumen yang harus diperbaiki lalu tersenyum pelan dan berpikir, “dengan ini, aku bisa pulang terlambat. Leon sudah pasti tak ada di sana lagi saat aku pulang nanti,”

Pikiran itu membuatnya sedikit lega, mengingat tekanan yang ia rasakan sejak enam bulan terakhir.

Waktu berlalu tanpa ia sadari. Saat menoleh ke arah luar jendela, langit sudah gelap. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam.

“Wah… sudah selarut ini,” gumamnya.

Ia menatap ke sekelilingnya, tak ada siapapun dan hanya dirinya sendiri. Ia bergegas menyelesaikan dokumen terakhirnya.

Akhirnya setelah selesai, ia bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, ia melirik ke arah jendela lagi. Memastikan bahwa Leon tak lagi menunggunya.

“Di-dia sudah tak ada,” gumamnya lega.

Lalu ia berjalan keluar ruangan dan menuju ke arah lift. Saat lift berhenti di lantainya, pintu lift terbuka. Ternyata ada seseorang di dalamnya, Loraine sedikit membungkuk padanya.

Nathan hanya mengangguk pelan. Loraine sedikit canggung, sebab untuk pertama kalinya ia satu lift dengan seorang direktur operasional. Terlebih hanya berdua saja.

“Baru selesai lembur?” tanya Nathan memecah keheningan.

“Be-benar, pak,” jawab Loraine.

Pintu lift terbuka di lantai satu, Loraine kembali membungkuk sebelum ia keluar. Nathan kembali mengangguk pelan saat pintu mulai tertutup. Dan pintu lift kembali terbuka di basement, ia keluar dan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu lift.

Di waktu yang sama, Loraine berjalan keluar dari gedung. Karena yakin Leon sudah tak ada, ia merasa lega. Baru beberapa langkah dari pintu gedung, tiba-tiba lengan nya ditarik paksa.

“Lepaskan aku!” ucapnya.

Leon tak menghiraukan ucapan Loraine. Dia tetap menariknya paksa.

“A-aku akan berteriak jika kau tak melepaskanku,” kata Loraine.

“Teriak saja, lihat sekelilingmu. Apa ada orang yang akan menolongmu?” jawab Leon dengan santai.

Loraine melihat sekeliling dan sepi. Tak ada orang lewat atau siapapun yang bisa dimintain tolong. Ia akhirnya mencoba melepaskan diri.

Namun karena tak fokus memperhatikan jalan, ia tersandung dan tersungkur jatuh. Leon tetap memegang lengannya, bahkan sekarang menyeret wanita itu tanpa peduli. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.

“Hentikan, sakit!” rintih Loraine.

Air matanya keluar tanpa bisa ditahan. Loraine memohon pada Leon. Leon pun berhenti dan menoleh padanya, lalu menarik paksa untuk membantunya berdiri.

“Aku sudah cukup bersabar menunggumu kembali, dan sekarang kesabaranku sudah habis!” Teriak Leon untuk pertama kalinya pada Loraine.

Tubuh Loraine mendadak bergetar, kakinya terasa lemas dan ia terjatuh kembali. Air matanya bercucuran tanpa henti, ia benar-benar tak memiliki tenaga untuk melawan.

“Aku tak mau kembali ke rumah itu,” bisik Loraine pelan.

Leon tak mendengar ucapan Loraine, dia kembali menyeret Loraine. Kemudian membuka pintu mobilnya. Saat hendak memasukkan Loraine ke dalam mobil, seseorang menarik lengan Leon untuk menghentikannya.

“Cukup!”

Suara itu membuat mata Loraine terbelalak.

Bersambung…

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status