LOGINLoraine mengira perceraian adalah akhir dari segalanya. Ternyata bukan. Mantan suaminya — lelaki yang semua orang kagumi — tidak terima kenyataan bahwa Loraine benar-benar pergi. Bunga, hadiah, kunjungan tak diundang. Loraine lelah sekaligus takut. Sampai Nathan muncul dengan tawaran yang tidak masuk akal. "Nikahi aku. Kau butuh perlindungan, aku butuh istri. Kita sama-sama untung." Sederhana. Transaksional. Tidak melibatkan perasaan. Setidaknya begitulah rencananya.
View More“Bukankah itu Leon Vale?” ucap salah satu rekan kerja Loraine.
Beberapa orang menatap ke arah luar jendela dari lantai tiga. Lalu beralih ke arah Loraine yang mencoba tetap fokus bekerja. “Iya, sudah sekitar enam bulan, mantan suami Loraine melakukan itu,” jawab rekan kerja lain. Beberapa orang melirik ke arah Loraine lagi. Ia merasa tidak nyaman dengan tatapan sinis rekan-rekan kerjanya itu. “Lagian, kenapa sih kau bercerai dengan pria sebaik dan seromantis Leon Vale?” tanya salah satu rekan kerja yang duduk tepat di samping Loraine. “Benar, banyak wanita mendambakan untuk menjadi pasangannya. Lalu kau? Malah melepaskannya,” sahut rekan kerja lain. “Ehm… kembali bekerja,” ucap asisten manajer. Suasana kembali tenang setelah asisten manajer menegur. Loraine bisa sedikit bernapas lega. Ia sesekali melirik ke arah jam dinding, berharap agar waktu berhenti supaya ia tak pulang. Lalu rekan kerja di sampingnya kembali berbisik pelan, “apa kau sedang jual mahal? Atau sedang pamer karena seorang Leon Vale tergila-gila padamu meski sudah bercerai?” Tanpa menunggu respon dari Loraine, rekan kerjanya itu kembali fokus pada layar komputer di depannya. Ucapan mendadak rekan kerjanya itu terngiang di kepala Loraine. Ia menelan ludah kemudian memejamkan matanya. Mencoba mengalihkan fokusnya untuk mencari cara agar tak bertemu dengan mantan suaminya saat pulang nanti. “Loraine?” panggil asisten manajer. Loraine tak menjawabnya, ia terbangun dalam pikirannya sendiri. Asisten manajer kembali memanggilnya untuk kedua kalinya, tetapi tetap tak mendapatkan jawaban dari Loraine. Sampai akhirnya siku rekan kerja di sampingnya Loraine menyenggol dengan kuat sikunya. Loraine tersentak dan menoleh langsung ke arah rekan di sampingnya. “Apa telingamu sudah tak berfungsi? Asisten manajer memanggilmu beberapa kali!” bisiknya. Loraine panik dan berdiri lalu membawa catatan dan bergegas menuju meja asisten manajer. Tatapan tajam asisten manajer membuatnya kembali tak nyaman. “Ma-maafkan saya, bu. Saya tidak mendengar panggilan anda,” ucapnya akhirnya. Asisten manajer menghela napas panjang. “Kinerjamu akhir-akhir-akhir ini memburuk. Banyak kesalahan pada dokumen yang kamu kerjakan. Jadi sebaiknya kamu hari ini lembur dan perbaiki semuanya,” ucap asisten manajer sambil menyodorkan dokumen-dokumen yang perlu perbaikan. “Ba-baik, bu,” jawab Loraine sambil menunduk. “Sebaiknya pisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Kalau kinerjamu semakin memburuk lebih dari ini, terpaksa perusahaan akan memutuskan kontrak kerjamu. Yasudah, kamu boleh kembali ke mejamu lagi,” lanjut asisten manajer. Loraine menunduk pada asisten manajer dan kembali ke meja kerjanya. “Kali ini aku harus fokus pada kerjaanku,” gumamnya dalam hati. Ia melihat tumpukan dokumen yang harus diperbaiki lalu tersenyum pelan dan berpikir, “dengan ini, aku bisa pulang terlambat. Leon sudah pasti tak ada di sana lagi saat aku pulang nanti,” Pikiran itu membuatnya sedikit lega, mengingat tekanan yang ia rasakan sejak enam bulan terakhir. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Saat menoleh ke arah luar jendela, langit sudah gelap. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. “Wah… sudah selarut ini,” gumamnya. Ia menatap ke sekelilingnya, tak ada siapapun dan hanya dirinya sendiri. Ia bergegas menyelesaikan dokumen terakhirnya. Akhirnya setelah selesai, ia bersiap untuk pulang. Namun sebelum itu, ia melirik ke arah jendela lagi. Memastikan bahwa Leon tak lagi menunggunya. “Di-dia sudah tak ada,” gumamnya lega. Lalu ia berjalan keluar ruangan dan menuju ke arah lift. Saat lift berhenti di lantainya, pintu lift terbuka. Ternyata ada seseorang di dalamnya, Loraine sedikit membungkuk padanya. Nathan hanya mengangguk pelan. Loraine sedikit canggung, sebab untuk pertama kalinya ia satu lift dengan seorang direktur operasional. Terlebih hanya berdua saja. “Baru selesai lembur?” tanya Nathan memecah keheningan. “Be-benar, pak,” jawab Loraine. Pintu lift terbuka di lantai satu, Loraine kembali membungkuk sebelum ia keluar. Nathan kembali mengangguk pelan saat pintu mulai tertutup. Dan pintu lift kembali terbuka di basement, ia keluar dan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu lift. Di waktu yang sama, Loraine berjalan keluar dari gedung. Karena yakin Leon sudah tak ada, ia merasa lega. Baru beberapa langkah dari pintu gedung, tiba-tiba lengan nya ditarik paksa. “Lepaskan aku!” ucapnya. Leon tak menghiraukan ucapan Loraine. Dia tetap menariknya paksa. “A-aku akan berteriak jika kau tak melepaskanku,” kata Loraine. “Teriak saja, lihat sekelilingmu. Apa ada orang yang akan menolongmu?” jawab Leon dengan santai. Loraine melihat sekeliling dan sepi. Tak ada orang lewat atau siapapun yang bisa dimintain tolong. Ia akhirnya mencoba melepaskan diri. Namun karena tak fokus memperhatikan jalan, ia tersandung dan tersungkur jatuh. Leon tetap memegang lengannya, bahkan sekarang menyeret wanita itu tanpa peduli. Ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. “Hentikan, sakit!” rintih Loraine. Air matanya keluar tanpa bisa ditahan. Loraine memohon pada Leon. Leon pun berhenti dan menoleh padanya, lalu menarik paksa untuk membantunya berdiri. “Aku sudah cukup bersabar menunggumu kembali, dan sekarang kesabaranku sudah habis!” Teriak Leon untuk pertama kalinya pada Loraine. Tubuh Loraine mendadak bergetar, kakinya terasa lemas dan ia terjatuh kembali. Air matanya bercucuran tanpa henti, ia benar-benar tak memiliki tenaga untuk melawan. “Aku tak mau kembali ke rumah itu,” bisik Loraine pelan. Leon tak mendengar ucapan Loraine, dia kembali menyeret Loraine. Kemudian membuka pintu mobilnya. Saat hendak memasukkan Loraine ke dalam mobil, seseorang menarik lengan Leon untuk menghentikannya. “Cukup!” Suara itu membuat mata Loraine terbelalak. Bersambung…“A-apa ini?” ucapnya.Ia sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.Begitu banyak buket bunga memenuhi depan pintunya. Bahkan ada banyak tumpukan hadiah dari merk-merk terkenal. Sudah jelas bahwa ini semua ulah Leon. “Aku tak menginginkan ini semua,” ucapnya lirih sambil berderai air mata. Loraine memesan jasa kebersihan untuk membersihkan semua buket bunga beserta hadiah-hadiah itu. “Maaf, bu. Apakah anda yakin hadiah-hadiah ini juga dibuang?” tanya petugas yang datang.“Benar, pak,” jawabnya singkat. “Bukankah ini semua barang-barang mahal?” petugas itu masih tak habis pikir dengan keputusan Loraine.“Memang, tetapi saya tak menginginkan semua ini. Jadi bisakah anda segera membereskan semuanya?” ucap Loraine. “Ma-maaf…” petugas lain menyela.Loraine menoleh dan menjawab, “ya?”“Ji-jika anda berkenan, apakah saya boleh meminta ini?” tanya petugas itu ragu-ragu. Loraine menatap sekilas kardus yang ditunjuk oleh petugas itu, salah satu hadiah dari banyak tump
“Leon? Apa dia sudah tahu kalau aku di sini?” pikirnya. Pikiran itu kembali memenuhi kepala Loraine. Perawat itu berjalan mendekat ke arah Loraine dan mengatakan, “saya letakkan di sini ya?” “Tu-tunggu. Bisakah anda lihat apa isinya?” tanya Loraine ragu.Perawat mengangguk pelan dan mengeluarkan isinya. Ternyata berisi sebuah tas yang familiar bagi Loraine. “Oh! Tasku!” seru Loraine. Loraine mengulurkan tangannya perlahan. Perawat itu menyerahkan tas tersebut. Saat menerimanya Loraine mengucapkan terima kasih.Perawatan tersebut akhirnya keluar dan meninggalkan Loraine sendirian. Sementara Loraine mengecek isi tasnya masih lengkap. Dia mulai penasaran tentang pengirimnya.“Jelas bukan dari Leon. Dia tak mungkin melakukan tindakan seperti untuk sekarang, mengingat kejadian semalam. Lalu siapa?” tanyanya sendiri.“Apakah pak Nathan?” tanyanya lirih.Pertanyaan itu tetap tertinggal di pikirannya untuk beberapa saat. Loraine mengecek ponselnya, tak ada seseorang atau teman dekat yang
“SIAL!”Kata itu keluar begitu saja saat dia melihat tas milik Loraine tertinggal di dalam mobilnya. Dengan segera ia meraihnya dan membuka.“Ponselnya di dalam tas ini!” ucapnya.“Perusahaan tidak menoleransi jika karyawannya tidak masuk tanpa keterangan jelas. Wanita itu dalam masalah jika ia tak bisa menghubungi kantor karena sedang opname, kan. Apes banget nasibnya,” gumamnya. Nathan mencoba menyalakan ponsel milik Loraine itu, “bisa-bisanya ponselnya tak memakai sandi, coba ku cari kontak asisten manajer atau manajernya.”Saat membuka kontaknya, Nathan menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya tak memiliki satu kontak tersimpan.“Apa dia dirundung dan dikucilkan di kantor? Bukankah perusahaan akan menindak tegas jika terjadi perundungan antar karyawan. Ah sudahlah,” Nathan kembali memasukkan ponsel milik Loraine ke dalam tas itu seperti semula. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Jackson. “Halo, pak. Ada yang bisa saya bantu?” jawab Jackson.“
“Nathan?”Degh… suara itu familiar. Nathan memejamkan matanya erat sebelum akhirnya menoleh ke sumber suara tersebut. “Ayahhh…” ucapnya sambil tersenyum saat ia mendapati ayahnya berada tak jauh di belakangnya. Ayahnya berjalan mendekatinya lalu menyentuh lengan Nathan dengan pelan.“Sedang apa di rumah sakit jam segini?” tanyanya. Ekspresi ayahnya sedikit berubah khawatir, “apa kau sakit?”“Tidak ayah, aku baik-baik saja. Yah hanya mengantar teman saja tadi,” jawab Nathan. Jawaban itu tak sepenuhnya bohong, sebab dia benar-benar telah mengantarkan Loraine untuk diobati. Sementara ayahnya sedikit terlihat lega karena putranya baik-baik saja. “Teman? Jackson maksudmu? Apa kau lagi-lagi memberinya banyak pekerjaan?” tanyanya lagi.“Jackson? Sakit? Jelas itu suatu hal mustahil ayah. Seorang Jackson sakit bisa-bisa diperingati sebagai hari libur nasional,” jawab Nathan. “Hahahaha… kau masih saja melontarkan lelucon konyol. Walau begitu, tetap perhatikan dia. Dia anak yang baik, kau






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.