MasukAREA DEWASA!!! Layla hanyalah gadis biasa yang hidup tenang bersama keluarganya—sampai satu malam segalanya direnggut paksa darinya. Ayahnya dituduh sebagai pengkhianat Kesultanan, desanya dibakar, dan kedua orang tuanya dieksekusi tepat di depan matanya. Alih-alih dibunuh seperti kedua orang tuanya, Layla justru dibiarkan hidup oleh pria yang menghancurkan segalanya. Zayn—pewaris tahta Kesultanan yang dingin, kejam, dan tak tersentuh. Pria itu memilih menjadikan Layla sebagai "budak" atas perbuatan keluarganya. Membawanya ke Istana Timur yang terisolasi dan menawannya di sana. Di antara dendam dan kekuasaan, lahir sebuah hubungan yang berbahaya, obsesi yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dari sekadar hukuman. Karena bagi Zayn Layla bukan lagi sekedar budak. Dia adalah miliknya. "Aku membencimu, Zayn! Lebih baik aku mati daripada harus menyerahkan tubuhku pada iblis sepertimu!" —Layla “Semakin kau melawan, semakin aku ingin menghancurkanmu sampai kau tidak punya pilihan selain bergantung padaku.” —Zayn
Lihat lebih banyak"Layla! Bangun Nak!" Suara itu terdengar tergesa, membelah sunyi malam yang belum sepenuhnya pergi. Tirai kamar masih bergoyang pelan diterpa angin dingin dari luar, ketika sosok wanita masuk dengan napas terengah.
"Enghh? Ibu?" Dengan setengah tersadar, Layla mulai bangun dari posisi tidurnya. Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia menatap sang ibu yang tampak gelisah dan terengah-engah, napasnya tidak beraturan seperti baru saja berlari jauh. "Ibu ada apa? Kenapa ibu terlihat panik?" "Ssst! Kamu jangan banyak tanya dulu!" potong sang ibu cepat, suaranya bergetar namun tegas. Tangannya langsung meraih pergelangan Layla, lalu menariknya turun dari tempat tidur tanpa memberi waktu untuk berpikir. "Yang penting sekarang, kita harus kabur dari sini?" "Kabur?" Alis Layla berkerut dalam kebingungan. Kakinya hampir terseret saat mengikuti langkah ibunya yang terburu-buru. "Kenapa, Bu? Apa ada hal buruk terjadi?" "Ibu tidak bisa menjelaskan secara detail ke padamu, Layla." Suara itu terdengar lebih pelan, tapi jelas dipenuhi tekanan. Ia terus berjalan cepat menyusuri lorong rumah yang gelap. "Tapi intinya, ayahmu sudah tertangkap oleh prajurit Kesultanan, dan mereka juga akan menangkap kita kalau kita tidak segera kabur." "Apa?!" Layla membelalak, jantungnya seolah luruh setelah mendengar jawaban itu. Ia bahkan hampir tersandung kakinya sendiri saat dipaksa berlari. "Kenapa ayah bisa ditangkap, Bu? Apa yang Ayah lakukan?" Sang ibu berhenti tepat ketika mereka akan mencapai pintu belakang. Tangannya masih menggenggam erat tangan Layla. Ia menoleh perlahan, menatap putrinya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan—antara takut, sedih, dan putus asa. "Ayahmu tidak bersalah." "Lalu kenapa dia ditangkap? Dan kenapa kita juga harus kabur?" "Ayahmu dituduh menggelapkan dana Kesultanan. Dan sesuai hukum istana semua keluarga si pelaku harus dihukum." Suasana seketika menjadi hening. Layla terpekur diam. Kata-kata itu menggantung di kepalanya, berulang-ulang, tapi sulit diterima. Seolah otaknya menolak untuk percaya pada kenyataan yang baru saja dijatuhkan begitu saja. "Ayo!" Sang ibu kembali menariknya, lebih kuat dari sebelumnya. Tubuh Layla hampir terhuyung ke depan. "Lalu kita mau ke mana sekarang?" Ia bertanya lagi. "Kabur. Sejauh mungkin dari para tentara." Sang ibu menjawab sekenanya. "Lalu ayah?" "Anggap saja ayahmu sudah tewas sekarang." Mendengar jawaban sang ibu, tentu saja membuat Layla refleks menghentikan langkahnya. Ia menarik paksa pergelangan tangannya hingga ibunya terkejut dan langsung berbalik menatapnya. "Ada apa Layla?" "Bu, kita harus kembali." "Kembali?" Sang ibu menatapnya tak percaya. "Apa kau ingin mati?" "Lalu apa ibu tega membiarkan ayah meninggal karena kesalahan yang bahkan tidak ia lakukan?" Suara Layla terdengar bergetar—bukan karena takut, tapi karena emosi yang mulai meluap. Sang ibu seketika menggigit bibir bawahnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Namun sejurus kemudian, ia memaksakan diri untuk tetap tegar. "Kita tidak punya bukti Layla. Mereka tidak akan mendengarkan kita. Kita ini—hanya orang biasa!" "Tapi dengan kabur seperti ini sama saja kita mengakui kesalahan yang tidak pernah kita lakukan!" "Layla!" Nada suara sang ibu mulai meninggi, penuh tekanan dan keputusasaan. "Kau masih terlalu muda untuk paham situasinya. Jadi—" "Memang aku tidak paham situasinya," potong Layla cepat, matanya mulai memerah. "Tapi aku tidak bisa kabur seperti ini dan meninggalkan ayah." "Layla, tolong dengarkan ibu! Ayahmu sudah pasti tidak akan selamat. Jadi kembali ke area desa juga percuma." "Aku yakin ayah masih hidup!" "Layla—" panggil ibunya lagi, kali ini dengan suara yang hampir pecah. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. "Tolong dengarkan ibu, Layla! Ini demi kebaikanmu." "Hidup sebagai pelarian menurut ibu adalah hal yang baik?" balasnya keras kepala. Suaranya meninggi, penuh luka yang belum sempat dipahami. "Lebih baik aku mati dengan keadaan terhormat dan berpegang teguh pada kebenaran daripada harus kabur seperti ini." "LAYLA!" Bentakan keras sang ibu menggema di area hutan yang hanya ada mereka berdua saja. PLAK! Satu tamparan keras menghantam pipi Layla. Suara itu terdengar nyaring di antara desiran angin malam. Tubuh Layla terhuyung sedikit. Pipi kirinya memanas, matanya membelalak, napasnya tercekat. Untuk sesaat, ia benar-benar terdiam. "Berhenti berdebat dengan ibu, Layla!" suara wanita itu bergetar, tangannya masih terangkat, seolah ia sendiri tidak percaya telah melakukannya. Matanya juga tampak berkaca-kaca. "Sekarang kita harus lari dari sini!" "Ibu—aku..." suara Layla melemah. Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang terasa perih. "Ibu akan jelaskan semua permasalahannya dengan detail setelah kita benar-benar terbebas dari kejaran tentara." "Lalu ayah bagaimana?" "Layla!!!" Wanita 40 tahunan yang wajahnya hampir mirip dengan Layla itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika suara lain lebih dahulu memotong. "BERHENTI DI SANA!" Suara berat dan tegas itu tiba-tiba menggema dari balik pepohonan. Disusul suara derap kaki dan kilatan besi yang memantulkan cahaya bulan. Tentara Kesultanan akhirnya menemukan mereka. "Kalian tidak bisa kabur lagi!"Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Udara hangat bercampur uap keluar lebih dulu sebelum sosok Layla menyusul dari dalam. Rambutnya masih basah, menjuntai mengikuti lekuk punggungnya. Wajahnya masih pucat dan matanya juga sembab, tapi kini dia jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.Matanya tidak lagi merah penuh amarah. Tapi juga tidak sekosong tadi. Sebab ada sesuatu yang sedang ia tahan—emosinya.Ia melangkah dengan perlahan, namun begitu ia mengangkat pandangan, kakinya langsung berhenti. Ia melihat Zayn sudah berganti pakaian.Jubah gelapnya kini berbeda—lebih rapi dan formal, dengan detail bordir halus di bagian bahu dan lengan. Ikat pinggang kulit dengan ornamen logam melingkar di pinggangnya, mempertegas aura seorang pangeran yang siap keluar dari wilayahnya.‘Apa dia akan pergi?’ tanya Layla dalam hati.Zayn meliriknya sekilas. Tatapannya tajam seperti biasa, namun kali ini sedikit lebih waspada. Seolah ia sedang menunggu sesuatu yang biasa Layla lakukan.“Aku akan kembali
Seorang pelayan berjalan terburu-buru mendekati Azrael. "P-Pangeran Azrael…" suaranya bergetar saat memanggilnya.Azrael mengangkat gelas yang ia pegang, lalu menyesap anggur itu dengan santai. Tanpa menoleh ia pun buka suara, "Ada apa?" tanyanya datar.Pelayan itu menelan ludah. Ia mendekat sedikit, lalu menunduk dalam sebelum membisikkan sesuatu di telinga Azrael.Kening Azrael sedikit berkerut ketika mendengar ucapan sang pelayan. "Kau yakin?" tanyanya pelan."I-Iya, Pangeran, hamba yakin," jawab pelayan itu cepat, masih dengan kepala tertunduk.Azrael terdiam. Ia tak mengatakan apa pun dan hanya meminta sang pelayan untuk pergi. Begitu pintu ditutup, yang ia lakukan hanyalah memandangi lagi hamparan langit gelap di atas sana."Sebenarnya, apa yang sedang dia sembunyikan?" tanya pada diri sendiri. Sebuah pertanyaan yang jelas ia tujukan pada seseorang.***Sementara itu...Layla berjalan terseok mengikuti punggung pria di depannya, Pangeran Zayn. Pandangannya kosong, hatinya hancur
"Cepat eksekusi mereka bertiga! Se-ka-rang!" "Baik Pangeran," ucap algojo itu dingin. Ketiga tubuh itu langsung meronta. Tangisan mereka pecah semakin keras. "Tolong! Kami tidak ingin mati!" "Pangeran! Ampuni kami!" Layla menggeleng keras. "Pangeran Zayn! Kumohon jangan!" Algojo itu melangkah maju. Pedang panjang di tangannya terangkat perlahan, berkilau di bawah cahaya obor yang bergetar. Ujungnya mengarah tepat ke leher salah satu pelayan. Di atas panggung, ketiga tubuh itu gemetar hebat. "P-Pangeran… ampun… ampuni kami!" Suara tabib itu nyaris tak terdengar, teredam tangis dan kain yang menutup wajahnya. "Jangan bunuh kami!" isak pelayan lain pecah. "Kami mohon Pangeran." Namun, Zayn tetap diam. Dia duduk santai di kursinya, satu tangan menyangga dagu, seolah sedang menikmati pertunjukan. "Eksekusi sekarang!" titahnya. "TIDAK!!" Dengan tenaga yang tersisa, Layla menarik lengannya dengan kasar. Cengkeraman prajurit terlepas karena gerakan mendadak itu. Gadis itu langsung
“Jujur, aku merasa tersentuh karena tindakanmu ini,” ungkap Zayn sambil menarik dagu Layla agar kembali memandangnya. “Hanya saja, apa yang sudah aku katakan, tidak bisa ditarik kembali.” Kalimat itu terdengar seperti vonis bagi Layla. Membuat wajahnya gadis itu kian memucat. “Tidak… tidak, Pangeran… kumohon jangan seperti ini!” Tangisan Layla mulai pecah. “Aku akan patuh setelah ini, aku akan minum obatnya, aku akan makan, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Tapi jangan hukum mereka, aku mohon.” Zayn masih berdiri dengan tenang, sikapnya angkuh seolah tak punya belas kasihan. Sementara di belakang mereka, suara tangisan tabib dan pelayan masih terdengar, semakin panik karena waktu mereka terasa semakin sempit. “Pangeran! Ampuni kami!” teriak tabib itu histeris. “Kami tidak bersalah!” Namun Zayn bahkan tidak menoleh. Seluruh perhatiannya hanya tertuju pada Layla. “Pangeran...” “Kau terlambat, Layla,” ujarnya datar. “Seandainya kau patuh lebih awal, hal semacam ini ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan