LOGINCitra si gadis liar terpaksa menikah dengan seorang pria asing demi sebuah tanggungjawab jawab, selain pria itu tidak sesuai dengan kriteria cowok idamannya ia juga mempunyai kekasih. Sialnya setelah menikah dengan Yuda hidupnya semakin menyebalkan karena penuh aturan dan kedisiplinan sampai sampai kesulitan untuk bertemu dengan sang kekasih. Dan tak disangka dalam segala hal yang mereka lalui ada banyak hal manis yang terjadi tapi sampaikah mereka hidup bersama atau mereka akhirnya memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing?
View More"Kau ajarkan aku cinta, kau ajarkan aku apa itu ketulusan, kebahagiaan dan kenyamanan. Tapi, hari ini kau putuskan untuk meninggalkan aku, dimana hatimu? Dimana arti semua kata yang kau ucapkan? Dimana?" tanyaku.
"Ingat Citra dia tidak pernah mencintaimu, dia menikahimu hanya karena dia ingin melupakan aku!" ucap Naya. "Aku tidak percaya!" kataku tegas. "Papamu juga menjualmu pada Yusuf demi proyek 2 T!" kata Naya lagi. Dia janjikan bahagia, dia ucapkan cinta dan aku pun terlena. Dia katakan bahwa kami akan selalu bersama. Tapi ternyata apa? Dia pergi meninggalkan aku, meninggalkan cinta dan luka yang teramat dalam ini. Aku sekarang berdiri sendiri dengan putus asa, dia mengajarkan aku tentang kuat, tapi dia lupa mengajarkan aku hidup tanpanya. Sekarang aku harus apa? Dunia yang dia berikan runtuh saat ini, saat-saat dia telah menorehkan luka yang teramat sangat dalam. Taukah kamu betapa sulitnya aku mencintaimu?! Sekarang kamu bahkan tidak bertanggungjawab atas perasaan itu. Kamu B A J I N G A N, aku membencimu! *** Byurrr!!! Air membasahi wajah Citra. Ia pun terbangun dari tidurnya dengan terkejut dan langsung duduk. “Pa?!” serunya geram. “Anak bodoh, apa yang kau lakukan kemarin? Sekarang polisi mencarimu!” geram Handoko. “Apa?” Citra langsung meloncat dari ranjang mendengar kata polisi kemudian ia pun berjalan ke arah jendela dan memang ada mobil polisi di sana. “Sekarang selesaikan masalahmu sendiri! Papa sudah lelah!” ucap Handoko penuh amarah. Citra pun panik ia langsung memeluk kaki sang Papa demi mendapatkan pertolongan. “Pa, Ampun…” katanya memohon. “Tidak ada ampun, apa yang sudah kau lakukan harus kau pertanggung jawabkan!” tegas Papanya. Kemarin… Citra seharusnya menghadiri acara ulang tahun Kakeknya, tapi ia malah pergi dengan teman-temanya balapan motor… Bremmm… Suara motor yang menggebu-gebu, balapan itu terus berlanjut. Perselisihan antara dirinya dan temannya terus terjadi di jalanan dan tampak ia terkejut saat sebuah mobil melintas dari arah berlawanan. Citra syok dan kehilangan kendali, lalu… Brak!!! Ia menabrak mobil tersebut. Citra pun terjatuh, kakinya terasa sakit lalu seorang pemuda pun keluar dari mobilnya. Mobil dengan edisi terbatas dan hanya ada dua di dunia. “Astaga, Papa bisa ngamuk lagi,” gumam Citra. Lalu Citra pun berusaha untuk bangkit dan kemudian naik ke sepeda motornya, tapi pria itu sudah terlanjur berjalan lebih dekat lalu mengambil kunci motor Citra. Citra gemeteran, ia mengangkat tangannya menatap pria di hadapannya itu. Tanpa bisa melarikan diri. Pria itu bertubuh tinggi dengan balutan jas hitam. Tatapannya tajam, sementara jam tangan Rolex di pergelangan tangannya semakin menegaskan aura berwibawa dan berkelas yang dimilikinya. Citra menegang sempurna, mungkinkah kali ini ia tak bisa meloloskan diri? Ia perlahan turun dari motornya. “Buka helmmu!” Perintah pria itu dingin. Citra pun mempertahankan helmnya, bagaimanapun ia tidak bisa menunjukkan wajahnya. Karena belum ada tanda-tanda Citra akan membuka helmnya maka pria itu pun melangkah pelan mendekatinya. Citra panik saat langkah pria itu semakin mendekat, ia pun reflek melangkah mundur. Tinn… Terdengar suara klakson, sepeda motor berhenti tak jauh dari Citra. Breemmm… Bremmm Suara mesin yang menggebu-gebu. “Citra!!!” Citra mengerti lalu segera naik ke motor itu, lalu ia melambaikan tangannya sambil bersorak gembira pada pria asing itu. “Daaaahh, Om!!!” serunya. Dan hari ini polisi datang mencarinya, ia pikir masalah sudah selesai saat melarikan diri. Tentang motor ia bisa dengan mudah membelikan yang baru. “Pa, Citra ini anak Papa satu-satunya, Papa nggak mungkin nggak nolong Citra…” katanya setengah memohon dan penuh keyakinan. Handoko pun tersenyum sinis melihat wajah putrinya. “Mulai sekarang kamu Papa coret dari kartu keluarga!” tegas sang Papa. “Apa?!” tanya Citra tak percaya, “Pa, Citra anak Papa, lho…siapa yang jadi penerus, Papa kalau bukan Citra?” tanya Citra penuh percaya diri. “Ada Zia, kamu dicoret jadi ahli waris. Gimana mau jadi pemimpin perusahaan? Kuliah sudah hampir di DO dari kampus karena nggak selesai-selesai, balapan motor, pacaran sama preman, main kamu ke club malam. Setiap hari kamu menciptakan masalah, apakah kamu bisa menjadi pemimpin perusaan? Tidak!” ucap Handoko penuh amarah. “Pa, Pa, Pa…nggak gitu juga…Citra masih muda, Pa…main kan biasa,” katanya berharap Papanya tidak serius. “Semua fasilitas kamu Papa cabut, kamu dicoret dari keluarga!” Papar Handoko. “Pa, ampun…Pa,” Citra berlutut, memohon Papanya akan memaafkannya lagi untuk kali ini. Tapi tidak, Handoko sudah sangat marah pada putrinya itu. “Bik, bereskan pakaiannya dan usir anak ini pergi dari rumah ini!” perintah sang Papa. “Pa, ampunn, Pa…” Citra memeluk kaki Papanya dengan erat, ia sungguh sangat takut sekarang, “kasih Citra satu kesempatan, Citra janji bakalan jadi anak baik, Pa,” mohon Citra tak ada hentinya. “Baiklah…tapi kau harus menikah dengan lelaki yang kau tabrak mobilnya itu!” tegas Handoko. Ini bom atau apa? Kenapa meledak di waktu yang begitu tepat, Citra begitu syok dan nyaris pingsan. “Pa?!” tanyanya tak percaya. “Keluar dari rumah ini!”Tadi malam... Yusuf meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan pandangan ke arah sofa. Citra sudah tertidur. Tubuhnya meringkuk kecil, selimut yang tadi dibawanya hanya menutupi setengah badan. Bahkan salah satu tangannya hampir menjuntai ke lantai. Tatapannya kembali jatuh pada wajah Citra. Riasan aneh, tapi malah membuat sudut bibir Yusuf tertarik. Nafas Citra terdengar pelan dan teratur. Ia benar-benar sudah terlelap. Yusuf mengembuskan napas pelan. Kemudian ia melangkah mendekat. Ia sedikit membungkuk, lalu menyelipkan satu tangan di bawah lutut Citra dan tangan lainnya di punggungnya. Perlahan, ia mengangkat tubuh wanita itu. Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan Citra di atas kasur agar lebih nyaman. Lalu ia menarik selimut dan menyelimutinya hingga sebatas dada. Sesaat ia memperhatikannya, rambutnya sedikit berantakan, bibirnya mengerucut kecil, dan ekspresinya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Lalu ia mematikan lampu di sisi ra
"Minggir." Suara Yusuf yang tiba-tiba terdengar membuat Citra tersentak. "Hah?" Citra bingung dengan maksudnya. Yusuf berjalan mendekat. Lebih dekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di depan Citra. Karena perbedaan tinggi badan mereka, Citra terpaksa sedikit mendongak. "A-ada apa?" tanyanya bingung. Namun, Yusuf tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangannya. Refleks, Citra menahan napas. Dan ada banyak kecurigaan yang muncul di benaknya sekarang Jangan-jangan. Pria ini marah karena riasannya? Atau... Jangan-jangan dia mau menodainya... Bruk! Dengan gerakan santai, Yusuf mendorong pelan bahu Citra ke samping agar menyingkir dari jalannya. Karena tidak siap, Citra kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di atas ranjang. Citra membelalak. Sementara Yusuf sama sekali tidak memedulikannya. Ia hanya mengambil ponsel yang terletak di meja kecil di sisi tempat tidur. Ternyata sejak tadi, Citra berdiri tepat di depannya. Set
Pintu kamar mandi terbuka sedikit. Citra mengintip dari celah pintu. Ia masih mengenakan handuk kimono putih yang membungkus tubuhnya. Rambutnya basah dan beberapa helai menempel di pipinya. Tatapannya tertuju pada Yusuf. Pria itu sedang duduk di sofa dekat jendela. Satu kaki disilangkan, sementara tangannya memegang segelas minuman. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan sulit ditebak. Meski hanya mengenakan kemeja dan celana bahan, auranya tetap begitu berwibawa dan berkharisma. Citra mengedip beberapa kali. Lalu... "Ssst!" Suara pelan itu membuat Yusuf menoleh. Tatapan dinginnya langsung bertemu dengan wajah Citra yang menyembul dari balik pintu. Yusuf mengernyit. "Ada apa?" Citra tersenyum canggung. "Ambilin baju aku di koper, dong. Aku lupa bawa tadi." Yusuf hanya menatapnya. Diam. Tatapannya bahkan tidak berubah sedikit pun. Citra berkedip. Satu detik. Dua detik. Tiga detik. "Astaga, aku cuma minta tolong aja. Wajahmu biasa aja, sih." Yusuf m
Mobil berhenti. Yusuf turun lebih dulu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membuat Citra hanya bisa menatap punggung pria itu dengan bingung. Tak lama kemudian, sang sopir membukakan pintu untuknya. "Ini rumahnya?" tanya Citra sambil mengerutkan kening. "Iya, Nona," jawab sopir itu sopan. "Terus aku?" Citra menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya masih dipenuhi kebingungan. Memang benar ia sudah menikah dengan Yusuf, tetapi jangan lupakan satu hal—mereka bahkan nyaris tidak saling mengenal. "Mulai sekarang, Nona tinggal di sini bersama Bos," jawab sang sopir. Citra mengangguk kaku. Ia masih belum bisa mencerna semuanya. "Bisakah bosmu itu bicara seperti manusia normal?" gerutunya kesal. Sang sopir langsung menahan tawa. "Maaf, Nona. Bos memang orangnya pendiam." "Pendiam? Itu sih bukan pendiam, tapi seperti patung hidup!" protes Citra. Sopir itu benar-benar harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa. Citra mengembuskan napas panjang, lalu mengangkat koper kecilnya dan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.