MasukKeinginan Minari Halden adalah keluar dari rumah Papa yang bagaikan penjara. Hal itu bisa ia dapatkan asalkan mau dijodohkan dengan Zian, putra keluarga Ravenshow yang bisa membantu bisnis Papa dari kebangkrutan. Namun selama menjadi tunangan Zian, Minari justru dekat dengan seorang pria bernama Evan yang selalu membuatnya teringat masa lalu. Masa-masa yang pernah Minari lupakan. Siapa sebenarnya Evan, apakah ia pernah memiliki hubungan dengan Minari sebelum wanita itu menderita amnesia? Lalu, apa Zian akan diam saja melihat seorang pria misterius terus berusaha mendekati tunangannya?
Lihat lebih banyak“Kalau kau ingin keluar dari rumah ini, kau harus mau dijodohkan dengan putra keluarga Ravenshow.”
Kalimat itu menjadi alasan Minari Halden berdiri tegap mengikuti acara pertunangan hari ini.
Papanya – Alistair Halden, memilih Zian Nathaniel Ravenshow sebagai pasangan hidupnya. Putra satu-satunya keluarga konglomerat di dunia bisnis properti.
Ini kesempatan emas. Sejak dulu, Minari ingin sekali bebas dari papanya. Ingin keluar dari rumah yang bagaikan penjara itu.
Minari menguatkan tekad. Meski ia tahu bagaimana tabiat Zian yang sebenarnya.
Dia lelaki yang senang bergonta-ganti wanita hanya untuk kesenangan belaka. Jelas kehidupan rumah tangganya kelak akan dipenuhi pengkhianatan.
Tapi tak apa.
Setidaknya dengan cara itu impiannya untuk bebas akan terwujud.
“Kau pasti bisa melakukannya, Minari!”
Minari menguatkan diri sebelum ia keluar dari tempat pelarian dan kembali ke ballroom tempat semua orang menunggunya.
Langkah kaki Minari mengayun mantap. Sepatu heels miliknya menggema sepanjang koridor. Ia berjalan menaiki tangga untuk sampai ke ballroom.
Entah kenapa, salah satu sepatu heels-nya terlepas dan jatuh ke anak tangga terakhir.
Minari menoleh ke belakang, hendak mengambil sepatunya yang terjatuh. Namun langkah kakinya terhenti.
Di bawah sana seorang pria membungkuk seraya mengambilkan sepatu heels miliknya. Pria itu berjalan menaiki tangga dan berdiri tepat di hadapan Minari.
“Hati-hati dengan langkahmu,” ucap pria itu.
Sepersekian detik Minari tertegun ke arahnya. Ke wajahnya yang tenang. Jakunnya yang mencuat. Serta ke bola matanya yang memiliki warna tak biasa. Warna hazel.
Minari diam beberapa saat. Terhipnotis oleh keberadaan pria asing di hadapannya ini.
“Kau tidak akan mengambil sepatumu?” pria itu berkata tenang.
Akhirnya Minari tersadarkan. Dengan kikuk ia mengambil sepatunya yang terlepas, lalu dikenakannya kembali dengan perlahan.
“Terima kasih!” ucap Minari sebagai pereda kecanggungan di antara mereka.
Pria itu tersenyum. Senyum yang terlalu menawan untuk diabaikan.
Tapi Minari harus menepis keindahan dari senyumannya. Ia harus menghadapi kenyataan kalau di ujung anak tangga sana ia akan jadi tunangan seseorang.
“Permisi, aku harus pergi.”
Minari bersiap melangkah, namun pria itu dengan sigap memberikan lengannya sebagai tempat berpegangan.
“Kau mau ke ballroom. Biar aku antarkan,” ucapnya.
Minari tidak punya alasan untuk menolaknya. Pelan-pelan ia berpegangan ke lengan pria itu. Lalu berjalan bersamaan menaiki tangga menuju ballroom.
Dada Minari berdebar hebat. Bukan saja karena sentuhan di tangan mereka, tapi juga karena keberadaan pria itu entah kenapa membuat dirinya teringat sesuatu. Seperti deja vu.
Dalam perasaan tak nyaman itu, mereka sampai di ballroom.
Seorang wanita muda berlari menghampiri Minari dengan nada terengah.
“Nyonya Minari, akhirnya kau datang. Calon pria dan keluarganya sudah tiba. Acaranya akan segera dimulai.”
Minari mengangguk. Telah siap sepenuhnya dengan keputusan yang ia pilih.
Selanjutnya tangan Minari ditarik oleh wanita muda yang merupakan pelaksana acara malam itu.
Wanita itu terlalu tergesa-gesa. Sampai Minari tidak memiliki waktu untuk berpisah dengan pria bermata hazel secara benar.
Sebelum benar-benar berbalik, Minari sempat melirik ke arah pria itu.
Ia masih berdiri di sana. Menatapnya dengan ekspresi yang ambigu.
Tapi Minari akan teringat mata hazel yang menawan itu. Mungkin sampai beberapa hari ke depan.
Tiba di tengah ballroom.
Minari didatangi Alistair yang telah menunggunya.
“Kenapa kau lama sekali?” bisiknya di telinga Minari.
Minari menjawabnya dengan senyuman. Ia tidak berniat menjelaskan apa pun. Sebab pembawa acara memulai prosesi pertunangan dengan memanggil kedua mempelai.
Minari Halden dan Zian Nathaniel Ravenshow.
Kedua keluarga saling berhadapan. Para calon diminta berdiri berdampingan.
Kini Zian berdiri di samping Minari. Pria itu tampil sempurna, rapi, dan percaya diri.
Namun siapa yang menduga, di balik kesempurnaannya malam itu, Minari bisa melihat warna merah samar di leher Zian.
Minari tidak bodoh. Ia bisa menebak warna itu berasal dari ciuman seseorang di lehernya. Ciuman seorang wanita.
Pembawa acara membimbing keduanya untuk melakukan pertukaran cincin. Minari menurut. Mengenakan cincin ke jari manis Zian sambil tertawa dalam hati.
Huh, ternyata Zian cukup berani berulah di hari pertunangan mereka.
Setelah ini, ia berjanji akan membuat perhitungan dengan pria tidak tahu diri itu.
Prosesi demi prosesi pun berlangsung lancar. Minari dan Zian telah resmi menjadi tunangan.
Tiba waktunya mengakhiri pesta.
Alistair menghampiri Minari. Seperti janjinya, setelah acara pertunangan Minari akan mendapatkan kebebasan yang mereka sepakati bersama.
Minari akan pindah ke salah satu mansion milik keluarga Ravenshow. Zian juga tinggal di sana. Lingkungan tempat para elit tinggal.
“Para pelayanmu akan datang besok siang,” kata Alistair.
“Baik, Papa!”
“Kau yakin tidak butuh bodyguard atau asisten pribadi?”
Minari menggeleng. “Tidak, Pa. Kita sudah janji. Tidak ada bodyguard. Tidak ada asisten pribadi. Hanya aku sendiri.”
Minari tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya ia hanya menurut. Tidak pernah membantah.
Alistair menghela napas. Menyerah.
“Baiklah,” ujar Alistair akhirnya. “Dan ingat... jika terjadi sesuatu, Papa akan membawamu pulang. Tanpa kompromi.”
Minari mengangguk. Namun akan ia pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi.
Ini mimpi Minari. Dan tidak ada yang boleh merusak mimpinya.
Kemudian, Zian menyela pembicaraan mereka sambil membungkuk hormat.
“Minari, sudah waktunya kita pergi,” serunya sopan.
Malam itu Minari akan pergi dengan Zian. Barang-barang miliknya sudah diangkut ke mobil Zian yang terparkir di depan hotel.
Tiba waktunya Minari pergi. Ia merangkul Alistair sebagai salam perpisahan. Juga salam kebebasan.
“Aku sayang Papa.”
Minari tidak berbohong. Seberapa pun kerasnya, Minari tahu, Alistair adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Perasaan itu tidak akan berubah.
Mobil melaju meninggalkan pelataran hotel. Menuju ke kehidupan baru. Menuju ke kebebasan yang selama ini ia tunggu.
Zian menyetir dengan santai. Sesekali bersiul pelan. Jelas ia dalam suasana hati yang baik.
Berbeda dengan Minari. Tatapannya mengarah ke luar jendela. Namun pikirannya berlari kesana kemari.
“Kau kelihatan tidak senang malam ini,” tegur Zian di sela siulannya.
Minari menarik napas pelan. Lalu menoleh.
“Hei, Zian,” ucapnya ringan. “Mau kuberitahu sesuatu?”
Siulan Zian berhenti. Ia melirik Minari dengan kening berkerut.
“Lehermu. Aku bisa melihat bekas ciuman di sana.”
BERSAMBUNG
***
“Dokter bilang apa tadi, agar aku melupakan Ethan?”Suara Minari terdengar lirih.Ia mengulang kalimat itu pelan, seolah takut salah dengar. Kalimat tersebut terlalu ganjil untuk dipercaya.Selama ini Alistair selalu mengatakan obat yang diminumnya bertujuan melindungi kondisi otaknya. Namun sekarang, Dr. Maidan justru mengatakan ada alasan lain.Alasan yang berkaitan dengan Ethan. Pria yang baru mulai muncul kembali di dalam ingatannya.Dr. Maidan tidak membantah. Ia justru menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada siapa pun yang memperhatikan percakapan mereka.Suasana toko bunga cukup ramai. Beberapa pelanggan sedang memilih rangkaian bunga, sementara pegawai sibuk membungkus pesanan. Meski begitu, dokter itu tetap tampak waspada.Ia melangkah sedikit lebih dekat kepada Minari dan merendahkan suaranya."Seharusnya aku tidak mengatakan ini.”Nada suaranya terdengar penuh penyesalan.
Hari pernikahan tinggal menghitung hari.Sejak pagi, Minari sudah berada di sebuah salon kecantikan ternama untuk menjalani rangkaian perawatan pra-nikah.Mulai dari lulur tubuh, perawatan wajah, hingga spa relaksasi.Awalnya ia mengira semua itu akan melelahkan. Nyatanya, beberapa jam kemudian ia justru keluar dari salon dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan.Kulitnya masih menyisakan aroma bunga melati yang lembut. Ia menarik napas panjang sambil menikmati udara siang."Akhirnya selesai juga."Sopir taksi yang sejak tadi menunggunya segera membuka pintu."Langsung pulang, Nona?"Minari baru hendak mengangguk ketika pandangannya tertumbuk pada sebuah toko bunga yang berdiri di seberang jalan.Etalasenya dipenuhi bunga segar dengan berbagai warna.Mawar putih. Lili. Tulip. Baby's breath. Semuanya tersusun begitu cantik hingga membuat siapa pun ingin mampir.Minari tersenyum kecil.
Rapat persiapan pernikahan berlangsung hampir dua jam.Ruang pertemuan yang luas itu dipenuhi berbagai contoh dekorasi, katalog bunga, kain pelapis meja, hingga maket pelaminan yang dibuat dengan sangat detail.Panitia bekerja dengan profesional. Mereka menjelaskan satu per satu konsep yang telah disusun sesuai permintaan keluarga Ravenshow dan Halden."Kami mengusulkan tema Elegant Garden Wedding," jelas salah satu wedding planner sambil membuka papan presentasi. "Nuansa putih, krem, dan hijau akan menjadi warna utama. Seluruh area taman akan dipenuhi bunga mawar putih dan hydrangea."Minari memperhatikan dengan saksama. Sementara di sampingnya, Zian sesekali mengangguk lalu memberikan beberapa masukan kecil."Bagian lorong menuju altar dibuat sedikit lebih panjang," ujar Zian. "Aku ingin tamu bisa melihat Minari berjalan dari kejauhan."Wedding planner langsung mencatatnya. "Tentu, Tuan."Minari menoleh sekilas. "Kamu
Minari baru saja selesai mandi ketika ponselnya bergetar di atas meja rias.‘Selamat pagi, Nona Minari. Hari ini dijadwalkan rapat final mengenai dekorasi dan susunan acara. Mohon hadir pukul sepuluh pagi.’Minari membaca pesan itu dua kali sebelum menepuk dahinya pelan."Oh, rapatnya hari ini, ya?”Beberapa hari terakhir ia terlalu sibuk menikmati hari-harinya bersama Zian hingga hampir melupakan persiapan pernikahan yang terus berjalan.Tanpa menunda waktu, ia langsung mencari nama Zian di daftar kontak lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar. Tapi tidak ada jawaban.Minari mengernyit. Biasanya Zian selalu mengangkat teleponnya dalam hitungan detik, bahkan ketika sedang rapat sekalipun.Ia mencoba menelepon sekali lagi. Hasilnya tetap sama.Minari melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan lewat.Kalau mereka terlambat, panitia pasti harus menunda banyak agenda."Jangan-jangan dia masih tidur."Semalam Zian memang sempat mengirim pesan bahwa ia baru pulang dari luar kota
“Aku hitung sampai tiga. Keluar dari sini!”Wanita itu langsung panik.Dengan tergesa-gesa ia turun dari tubuh Zian, meraih pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya sembarangan.Tak sampai satu menit, wanita itu sudah berlari keluar mansion tanpa berani menoleh lagi.Suasana mendadak
Pintu terbuka, Minari terbelalak kaget melihat tamunya yang datang.“Hai, aku tetangga baru. Aku mau memberikan camilan sebagai tanda perkenalan."Minari membeku.Bukan hanya karena kedatangannya yang tiba-tiba, tetapi juga karena pria yang berdiri di depan pintunya adalah sosok bermata hazel yang i
Minari bermimpi lagi. Masih seperti sebelumnya. Seorang pria berlutut di hadapannya. Bahu pria itu bergetar. Tangisnya terdengar menyayat hati, seolah ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan darinya. “Rooha...” Suara itu kembali memanggil nama yang tidak dikenali Minari. “Rooha...” Pria
Malam itu, taman utama kawasan mansion berubah menjadi lautan cahaya.Lampu-lampu kristal menggantung di antara pepohonan, memantulkan warna keemasan ke segala arah. Musik orkestra mengalun lembut, bercampur suara gelas yang saling beradu dan percakapan orang-orang.Minari datang bersama Zian.Ia me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan