LOGINDemi menyelamatkan proyek maskot impiannya dan terhindar dari badai PHK, Rania terpaksa menyetujui kontrak kencan palsu selama tiga bulan dengan Adrian, Direktur Operasional yang dingin dan perfeksionis. Adrian butuh pasangan untuk lepas dari cengkeraman perjodohan ibunya, sementara Rania butuh kepastian karier di tengah rumor kantor yang mulai liar. Namun, saat batas antara sandiwara dan perasaan nyata mulai kabur, rekan kerja yang dengki mengancam akan membongkar rahasia mereka sebagai skandal favoritisme. Di tengah pertaruhan reputasi dan karier, akankah mereka memilih mengakhiri kontrak atau justru memperjuangkan cinta yang tak lagi berpura-pura?.
View MoreKalau saja ada penghargaan untuk karyawan yang paling lihai menyatu dengan tembok, aku pasti akan terus memenangkannya setiap tahun.
Namaku Rania. Pekerjaanku adalah seorang desainer grafis, dan moto hidupku di kantor sangat sederhana. Saking sederhananya, rutinitasku hanya datang, membuka Adobe Illustrator, mengerjakan revisi dari divisi pemasaran yang terkadang bahkan membuatku tidak tahu lagi apa bedanya warna fuchsia dan magenta, lalu pulang tepat waktu. Aku juga tidak suka bergosip saat jam istirahat seperti kebanyakan orang. Tidak tertarik ikut kubu-kubuan politik manajemen. Yang paling penting, aku selalu berusaha menjaga jarak aman dari bilik kerja lantai empat yang ditempati para petinggi perusahaan, terutama dari bilik kaca berlapis stiker buram milik Adrian Baskara, direktur operasional baru kami. "Rania, tolong bawa berkas final proposal aset visual proyek Rebranding Atlantis ke ruangan Pak Adrian sekarang. Beliau meminta hardcopy sebelum rapat pemegang saham jam dua nanti." Suara Mbak Sarah, kepala divisiku, tiba-tiba memecahkan keheningan lamunanku yang damai. Saat kudongakkan kepala, beliau sudah berdiri di samping mejaku sambil menyodorkan setumpuk berkas yang cukup tebal. Aku menatap beberapa saat tumpukan kertas di tangannya, seolah membayangkan benda itu adalah bom waktu yang siap meledak. "Eh? Tapi, Mbak, bukannya biasanya Doni yang mengantar berkas ke lantai atas, ya?" tanyaku santai, meski dahiku mulai berkerut. "Doni tadi izin. Katanya lagi diare, Rania. Sudah, cepat bawa ke atas. Pak Adrian paling benci orang yang tidak tepat waktu," jawab Mbak Sarah sambil meletakkan tumpukan berkas itu di atas mejaku. Setelah menepuk pelan bahuku, beliau langsung berbalik dan berjalan pergi tanpa memberiku kesempatan untuk menyanggah. Aku hanya bisa mengembuskan napas panjang sebagai tanda kepasrahan. Dengan berat hati, kurapikan rambut cokelatku yang sedikit berantakan dan memastikan lanyard kartu karyawan telah terpasang rapi di leher sebelum akhirnya mengambil tumpukan berkas tersebut. Aku memang selalu berusaha menghindari lantai empat. Entah mengapa, suasananya selalu terasa berbeda. Namun kali ini, sepertinya aku benar-benar tidak punya pilihan selain menginjakkan kaki ke sana. Aku memang selalu berusaha menghindari lantai empat. Entah mengapa, suasananya selalu terasa berbeda. Bahkan lantainya dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kaki, sementara udara di sana terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan ruangan divisi tempatku bekerja. Aku berjalan menyusuri koridor hingga tiba di depan ruangan yang berada di ujung lorong. Beberapa saat aku hanya berdiri di depan pintu, menatap pintu kaca itu dengan ragu. Jemariku tanpa sadar mencengkeram map berisi berkas sedikit lebih erat. Pada akhirnya, aku memberanikan diri mengetuknya beberapa kali hingga sebuah suara berat dan serak terdengar dari dalam. "Masuk." Aku mendorong pintu perlahan sambil mengucapkan permisi. Adrian duduk di balik meja kayu besarnya yang tertata rapi. Jas navy miliknya tergantung di sandaran kursi, sementara lengan kemeja putihnya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan hitam yang tampak mahal. Pria itu tidak mengatakan apa pun, bahkan belum melihat ke arahku sama sekali. Tatapannya masih terpaku pada layar iPad yang berada di tangannya. Aku menarik napas pelan sebelum melangkah mendekati meja kerjanya. "Ini berkas proposal visual dari tim kreatif untuk Proyek Atlantis, Pak." Aku berusaha terdengar profesional meski rasa gugup mulai merayap dalam suaraku. Kuleakkan tumpukan berkas itu di atas meja kerjanya, lalu menunggu dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuh. Barulah Adrian mengalihkan pandangannya kepadaku. Sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu menatapku tanpa berkedip. Tatapan yang begitu dingin, tatapan yang rasanya mampu membuat nyali seorang karyawan magang langsung ciut hanya dalam hitungan detik. "Rania, benar?" tanyanya singkat sambil menutup iPad yang sejak tadi berada di tangannya. "I-iya, benar, Pak," jawabku cepat, refleks menegakkan tubuh. Ia menarik tumpukan berkas itu ke hadapannya. Satu demi satu lembar dibuka dan diperiksa dengan saksama, sementara raut wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan emosi sedikit pun. Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Keheningan yang terasa sangat menyiksa. Jantungku berdetak semakin tidak karuan. Menunggu Pak Adrian memeriksa pekerjaan seperti ini rasanya jauh lebih menegangkan daripada menunggu hasil ujian semasa sekolah, batinku. Tepat sebelum Adrian sempat memberikan komentar pertamanya... Tok... Tok... Pintu ruangan kembali diketuk. Namun kali ini dengan tergesa-gesa. Beberapa saat kemudian, pintu itu terbuka dan masuklah Ibu Kartika, salah satu komisaris senior yang terkenal paling vokal, sekaligus ibu dari salah satu rekan kerja yang paling menyebalkan di kantor ini. "Adrian." Suara beliau terdengar tegas sambil menyilangkan kedua tangan. Tatapannya sempat beralih kepadaku dengan sorot mata yang cukup sinis sebelum kembali menatap Adrian. "Saya ingin bicara sekarang. Ini soal desas-desus di manajemen mengenai posisi barumu dan... rencana perjodohan yang kemarin ibumu bicarakan dengan saya." Beliau berhenti sejenak, seolah memberi waktu agar ucapannya benar-benar meresap. "Kamu tidak bisa terus-menerus lari dan mencari alasan sibuk bekerja untuk menghindari semua ini." Nada bicaranya tetap tegas, meski terselip harapan di balik setiap katanya. Aku spontan menundukkan kepala. Waduh... ini urusan internal keluarga para petinggi. Aku harus segera angkat kaki dari sini sebelum ikut terseret ke dalam pusaran drama ini, pikirku. Aku mulai mundur perlahan menuju pintu. "Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak... Bu—" "Tunggu, Rania." Suara Adrian memotong ucapanku dengan cepat. Langkahku langsung terhenti, sementara aku membalikkan badan dengan canggung. Saat menatap Adrian, aku berani bersumpah melihat secercah kepanikan yang begitu tipis di matanya. Begitu cepat hingga mungkin hanya aku yang menyadarinya. Ibu Kartika sama sekali tidak melihat perubahan ekspresi itu karena fokus memandang ke arahku. Adrian menarik napas panjang. Dalam sekejap, ekspresi wajahnya berubah menjadi sesuatu yang benar-benar tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Ia tampak berusaha keras menyembunyikan kepanikannya. Kemudian ia berdiri dari kursinya. Ia merapikan lengan bajunya sebelum berjalan memutari meja kerja. Langkahnya terus mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di sampingku. "Oh, maafkan saya, Ibu Kartika." Suara Adrian mendadak berubah jauh lebih santai dan lembut. Bahkan, sebuah senyum formal tipis menghiasi sudut bibirnya, meski aku dapat melihat dengan jelas bahwa senyum itu tampak begitu dipaksakan. Seketika rasa canggung di dalam kepalaku nyaris meledak. Jarak kami begitu dekat. Aku bahkan dapat mencium aroma parfum bernuansa kayu dan amber yang maskulin dari tubuhnya. Ia menatap Ibu Kartika dengan ekspresi tenang yang selama ini selalu ia tunjukkan kepada semua orang. Lalu, tatapannya beralih kepadaku yang masih membeku di tempat. Karena perbedaan tinggi badan kami yang cukup jauh, ia sedikit menundukkan kepalanya saat menatapku.Kalimat Adrian masih menggantung di udara ketika suasana yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Aku bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun. Di tengah keheningan yang terasa semakin menyesakkan, Tyas kembali tersenyum tipis sambil menggeser layar ponselnya perlahan, seolah ia benar-benar menikmati setiap detik kepanikan yang mulai menguasai kami. "Masih ada beberapa foto lain. Dan menurutku... orang-orang di kantor akan sangat tertarik melihatnya." Ia tersenyum tipis sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "Foto ini sudah terhubung ke layar proyeksi utama galeri ini. Dan kau tahu? Ada beberapa karyawan kantor kita yang berada di sini. Jika mereka melihat foto ini, lalu diiringi dengan berita bahwa Rania adalah alasan di balik diterimanya proyek maskot Atlantis, sebesar apa gosip yang akan muncul nanti?" Tyas menatap kami berdua dengan senyum yang begitu jahat. Darahku seakan berhenti mengalir seketika ketika
Singkat waktu, akhir pekan pun tiba. Suara dentang lonceng pintu kaca Galeri Seni Kencana berbunyi pelan, menyambut kedatangan kami di tengah harumnya bunga lili dan aroma lilin aromaterapi yang menenangkan. Pameran seni lukis kontemporer akhir pekan itu dipenuhi oleh para tamu VIP, kolektor seni kelas atas, serta pengusaha-pengusaha ternama. Suasana elegan itu membuatku tanpa sadar menggenggam sedikit lebih erat tangan Adrian yang sejak tadi berada di sampingku.Di sampingku, Adrian berdiri dengan gagah mengenakan jas semi kasual tanpa dasi. Kancing bagian atas jasnya sengaja dibiarkan terbuka. Jemari tangannya menggenggam jemariku dengan begitu erat dan alami, sebuah gestur yang terasa begitu protektif. Seharusnya semua itu terasa profesional, tetapi justru membuat detak jantungku berantakan sejak kami turun dari mobil."Jangan menundukkan kepalamu, Rania," bisik Adrian pelan sambil sedikit menundukkan kepalanya agar hanya aku yang mendengar. "Angkat dagumu. Kamu
"Terkadang, demi membuat suatu kebohongan terlihat seperti kebenaran, kita harus memberikan bumbu yang tampak cukup nyata, Rania," jawabnya tanpa sedikit pun menoleh kepadaku.Aku terdiam dan mematung di kursi mendengar jawaban Pak Adrian. Bumbu yang nyata? Apa maksudnya? Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku, sementara suasana di dalam mobil kembali tenggelam dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Aku tidak tahu apakah harus merasa senang karena rencana sandiwara kami berhasil dan berjalan dengan sukses, atau justru merasa takut karena batas antara profesionalitas dan perasaan kini terasa semakin kabur di antara kami berdua. Dan tanpa kusadari, sejak malam itu... sebuah garis yang dulu terasa begitu jelas perlahan mulai memudar, meninggalkan pertanyaan yang bahkan aku sendiri belum siap mencari jawabannya.Keesokan paginya, firasat buruk yang semalam berusaha kuabaikan ternyata datang lebih cepat daripada yang kuduga. Suasana
Saat itu aku belum menyadari bahwa sapaan sederhana itu hanyalah permulaan... karena beberapa menit berikutnya, Adrian akan melakukan sesuatu di hadapan ibunya yang membuat sandiwara kami terasa jauh lebih nyata daripada yang pernah kami sepakati.Setelah aku memperkenalkan diri, Adrian langsung menoleh kepadaku dan memberikan senyuman hangat yang terlihat begitu tulus, senyuman yang bahkan belum pernah kulihat selama bekerja di kantornya. Lalu, ia kembali menatap ibunya dengan sorot mata yang tenang namun penuh keyakinan. "Iya, Bu. Ini adalah Rania," ujar Adrian dengan lembut. "Orang yang selama ini selalu membuat saya ingin pulang kantor lebih cepat."Tangan kirinya yang bebas kemudian menepuk pelan punggung tanganku yang melingkar di lengannya. Deg. Aku berani bersumpah, jika ini hanya bagian dari aktingnya yang begitu profesional, Adrian benar-benar pantas mendapatkan piala penghargaan akting terbaik tahun ini. Karena saat ini jantungku sedang berdetak begitu kencang, saking kenca












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.