LOGIN"Tipulah pewaris tunggal keluarga Hermawan sampai dia menikahimu, maka aku akan melepaskanmu!" ucap Indra, selaku saingan bisnis keluarga Hermawan. Ia ingin bisnis keluarga itu hancur agar bisnisnya bisa jaya. Nahasnya Laura saat dirinya diancam akan masuk penjara karena kedoknya ketahuan. Namun dia mendapat perintah untuk menipu pewaris tunggal keluarga Hermawan sampai menikahinya. Lelaki itu bernama Rama, dikenal memiliki sikap dingin dan pendiam. Segala cara dilakukan oleh Laura untuk mendekati Rama. Sampai akhirnya Rama jatuh cinta padanya dan mau menikahi Laura. Namun saat itulah masalah muncul, karena sikap Rama yang tadinya dingin berubah drastis. Apakah Laura akan tetap menipu Rama? Atau dia justru terjebak dalam rencananya sendiri.
View MoreMalam itu, langit Jakarta diselimuti mendung pekat. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat jalanan tampak berkilau diterpa lampu kendaraan. Di sebuah restoran mewah yang berdiri di lantai tertinggi sebuah hotel bintang lima, seorang gadis bergaun merah anggur duduk dengan anggun di hadapan seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam mahal.
Gadis itu tersenyum lembut, memperlihatkan lesung pipi yang membuatnya tampak semakin menawan. "Pak Indra benar-benar sibuk, ya? Saya sampai hampir mengira Bapak akan membatalkan makan malam ini." Pria itu terkekeh pelan. "Mana mungkin? Untuk bertemu gadis secantik Anda, saya rela membatalkan rapat penting sekalipun." Gadis itu terkekeh kecil, seolah tersipu. Namun di balik senyum manisnya, pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun di ruangan itu. Namanya memang bukan Olivia seperti yang tertera pada kartu nama yang dia berikan beberapa hari lalu. Nama aslinya adalah Laura Julia. Di kalangan tertentu, Laura dikenal sebagai penipu ulung. Ia tidak pernah menggunakan kekerasan. Senjatanya hanyalah wajah yang mudah dipercaya, kecerdasan membaca karakter manusia, serta kemampuan memainkan emosi lawan bicaranya. Selama bertahun-tahun, belum pernah ada yang berhasil menangkapnya. Malam itu adalah langkah terakhir dari rencana yang telah dia susun selama hampir satu bulan. Indra Gunawan, pemilik Gunawan Group, menjadi target terbarunya. Dari hasil penyelidikannya, Laura mengetahui bahwa Indra gemar berinvestasi pada perusahaan rintisan. Ia juga senang berkenalan dengan anak-anak muda berbakat. Karena itulah Laura menciptakan identitas baru sebagai Olivia Santoso, seorang perempuan lulusan luar negeri yang mengaku sedang mencari investor untuk perusahaan teknologi miliknya. Semua dokumen palsu telah dipersiapkan dengan sempurna. Profil media sosial, kartu identitas, bahkan situs perusahaan fiktif yang tampak begitu meyakinkan. Tidak ada celah. Setidaknya, begitulah keyakinan Laura. Makan malam berlangsung santai. Indra banyak bercerita mengenai pengalaman bisnisnya, sementara Laura sesekali menanggapi dengan kagum. Ia sengaja membiarkan pria itu menjadi pusat perhatian. Orang-orang kaya biasanya menyukai lawan bicara yang pandai mendengarkan. Ketika pelayan datang mengisi ulang gelas anggur, Laura diam-diam memperhatikan tas kerja kulit yang diletakkan di samping kursi Indra..Di sanalah benda yang dia incar berada. Sebuah flashdisk khusus berisi proposal akuisisi perusahaan bernilai ratusan miliar rupiah. Informasi itu memang tidak bisa langsung diuangkan, tetapi pasti sangat bernilai bagi pesaing bisnis Indra. Laura sudah memiliki pembeli yang bersedia membayar mahal. Tak lama kemudian, ponsel Indra berdering. Pria itu menghela napas. "Maaf, saya harus mengangkat telepon ini." "Tentu saja, Pak." Indra berjalan menjauh menuju balkon restoran. Kesempatan itu datang. Laura bergerak cepat. Tangannya membuka tas kerja itu hanya dalam hitungan detik. Ia mengambil flashdisk kecil berwarna hitam, lalu menggantinya dengan replika yang telah dia siapkan sejak awal. Bentuk, berat, bahkan goresan kecil di bagian sisinya dibuat semirip mungkin. Semuanya selesai sebelum Indra kembali ke meja. "Maaf menunggu," ujar Indra yang telah kembali. "Tidak apa-apa," tanggap Laura. Dia tetap tersenyum tenang seolah tak terjadi apa pun. Setelah makan malam usai, mereka berjabat tangan. "Semoga kita bisa bekerja sama, Olivia." "Saya juga berharap begitu." Laura meninggalkan restoran dengan langkah ringan. Begitu pintu lift tertutup, senyum puas langsung menghiasi wajahnya. "Selesai." Ia membuka tas tangannya dan memastikan flashdisk itu benar-benar berada di tempatnya. Malam itu, dia merasa pekerjaannya nyaris sempurna. *** Dua hari kemudian. Laura duduk santai di balkon apartemen sewanya yang sederhana. Secangkir kopi hangat mengepul di atas meja kecil, sementara ponselnya memperlihatkan pesan singkat dari seseorang yang siap membeli data tersebut dengan harga fantastis. "Transfer setelah barang diterima." Laura menyeringai puas. "Setelah ini aku bisa libur beberapa bulan." Ia memang tidak pernah hidup mewah. Meski hasil penipuannya cukup besar, sebagian besar uang selalu dia simpan. Ia sadar pekerjaan seperti ini tidak bisa dilakukan selamanya. Sesaat kemudian bel apartemen berbunyi. Laura mengerutkan kening. Ia tidak merasa sedang menunggu siapa pun. Melalui lubang pintu, dia melihat dua pria mengenakan seragam jasa pengiriman. "Selamat siang, Kak. Ada paket." Laura membuka pintu tanpa curiga. Begitu pintu terbuka penuh, salah satu pria itu langsung mendorongnya masuk. Pria lainnya dengan sigap menutup pintu sambil menahan kedua tangan Laura. "Apa-apaan ini?" Laura mencoba melepaskan diri, tetapi gerakannya terkunci. Salah satu pria itu tersenyum tipis. "Nona Laura, Bos kami ingin bertemu." "Aku tidak kenal bos kalian!" "Kalau begitu, nanti juga kenal." Belum sempat Laura berteriak, sebuah kain menutup mulutnya. Pandangannya mulai kabur. Hal terakhir yang dia lihat hanyalah dua sosok pria berbadan besar yang menyeretnya keluar apartemen. Saat membuka mata, Laura mendapati dirinya sudah berada di sebuah ruangan luas dengan interior mewah. Tangannya tidak diikat. Namun dua pria kekar berdiri di dekat pintu. Di hadapannya, seorang pria sedang menikmati secangkir kopi sambil memandang hamparan gedung pencakar langit dari balik dinding kaca. Laura mengenali sosok itu seketika. Indra Gunawan. Pria itu perlahan berbalik. "Wah... akhirnya bangun juga." Laura langsung berdiri. "Apa maksud semua ini? Menculik orang itu tindak pidana!" Indra tersenyum tipis. "Lucu sekali mendengar kata 'pidana' keluar dari mulut seorang penipu." Wajah Laura tetap tenang meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat. "Aku tidak mengerti." "Masih ingin berpura-pura?" Indra berjalan menuju meja kerjanya. Ia membuka sebuah laci dan mengeluarkan sebuah map tebal. Map itu dilemparkannya ke atas meja. "Bukalah!" Laura sempat ragu. Namun akhirnya dia membuka map tersebut. Senyumnya perlahan memudar. Halaman pertama berisi fotonya. Bukan sebagai Olivia. Melainkan sebagai Laura. Halaman berikutnya berisi identitas lain yang pernah dia gunakan selama bertahun-tahun. Nama-nama palsu, paspor palsu, rekening berbeda, dan foto dirinya di berbagai kota. Semakin banyak halaman yang dia buka, semakin dingin ujung jarinya. Berkas itu seperti menceritakan seluruh kehidupannya. "Bagaimana...?" gumam Laura lirih. "Aku punya tim yang sangat hebat." Laura mengangkat kepala. "Kalau Bapak sudah tahu siapa aku, kenapa tetap menemuiku?" Indra tersenyum kecil. "Itu pertanyaan yang bagus." Ia duduk dengan tenang, lalu menyilangkan kedua tangannya. "Karena aku ingin memastikan sendiri." "Memastikan apa?" "Bahwa kemampuanmu memang sehebat yang dilaporkan orang-orang." Laura mengernyit. Indra mengambil sebuah benda dari laci mejanya. Yaitu flashdisk hitam. Laura membelalak. "Itu..." "Yang kau curi dua malam lalu." Laura spontan meraba tasnya. Isinya kosong. Entah kapan benda itu berpindah tangan. Indra memainkan flashdisk tersebut di ujung jarinya. "Kau tahu bagian yang paling menarik? Aku sengaja membiarkanmu mengambilnya." Laura menggeleng pelan. "Itu tidak mungkin." "Benarkah?" Indra menekan sebuah tombol pada remote. Layar televisi besar di belakangnya menyala. Rekaman CCTV restoran muncul. Laura melihat dirinya membuka tas kerja Indra. Lalu kamera berganti sudut. Ternyata sejak awal dua pria berbadan besar memperhatikannya dari meja lain. Kemudian muncul rekaman lain. Saat Laura keluar hotel, sebuah mobil hitam mengikutinya. Lalu rekaman apartemennya. Seseorang memotret aktivitasnya sejak dua hari terakhir. Laura menggigit bibir bawah. "Aku bisa menyerahkan semua ini kepada polisi kapan saja," ucap Indra tenang. "Pemalsuan identitas, penipuan, pencurian data perusahaan, penggunaan dokumen palsu. Hukumanmu tidak akan sebentar." Laura menarik napas panjang. "Kalau memang ingin melaporkanku, kenapa tidak langsung saja?" Indra justru tersenyum. "Karena aku lebih suka memanfaatkan orang berbakat daripada membuangnya ke penjara." Ruangan kembali sunyi. Laura mulai menyadari bahwa penculikan ini bukan sekadar balas dendam. Ada tujuan lain. "Apa yang Bapak inginkan?" "Itu baru pertanyaan yang tepat." Indra membuka laci lain. Kali ini dia mengeluarkan sebuah map yang jauh lebih tipis. Di dalamnya hanya ada satu foto. Foto seorang pria muda berwajah tampan dengan ekspresi datar. Ia mengenakan jas abu-abu sederhana. Tatapannya tajam, seolah tidak mudah didekati siapa pun. Laura memperhatikan foto itu beberapa detik. "Siapa dia?" "Rama Hermawan." Nama keluarga itu terdengar sangat familiar. Laura pernah membaca berita tentang Grup Hermawan, salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang properti, perbankan, hingga teknologi. Nilai asetnya mencapai puluhan triliun rupiah. "Dia pewaris tunggal keluarga Hermawan sekaligus CEO termuda di perusahaan itu." Laura meletakkan kembali foto tersebut. "Lalu?" "Aku ingin kau membuatnya jatuh cinta." Laura mengira dirinya salah dengar. "Apa?" "Bukan sekadar mendekatinya." Indra menatap Laura tanpa berkedip. "Aku ingin kau membuat Rama Hermawan mencintaimu." "Setelah itu?" "Kau menikah dengannya." Laura tertawa pelan karena merasa itu lelucon. Namun tawa itu perlahan menghilang saat melihat ekspresi Indra yang sama sekali tidak berubah. "Bapak serius?" "Tentu saja!" "Itu mustahil." "Bagi orang biasa, mungkin." Indra bersandar di kursinya. "Tapi kau bukan orang biasa." Laura menggeleng. "Aku hanya penipu kecil." "Salah!" Indra menunjuk berkas setebal hampir lima sentimeter di atas meja. "Selama tujuh tahun terakhir, kau berhasil menggunakan sebelas identitas berbeda. Tidak satu pun korban pernah sadar sedang ditipu sampai semuanya terlambat. Itu bukan kemampuan orang biasa." Laura terdiam. Indra melanjutkan, "Bedanya, selama ini kau bekerja sendirian. Kau mengandalkan keberuntungan dan kecerdikanmu. Kali ini tidak." Ia membuka map lain yang jauh lebih tebal. Isinya membuat Laura tercengang. Profil lengkap Rama Hermawan. Jadwal hariannya, kebiasaan, makanan favorit, tempat yang sering dikunjungi, orang-orang kepercayaannya, riwayat pendidikan, bahkan daftar wanita yang pernah berusaha mendekati Rama dan alasan mereka gagal. "Timku sudah mengumpulkan semua ini selama bertahun-tahun," kata Indra. "Kau tidak perlu memulai dari nol." Laura membalik beberapa halaman lagi. Ada rancangan identitas baru. Ijazah, kartu identitas. dan riwayat pekerjaan. Bahkan apartemen dan rekening bank atas nama baru yang semuanya tampak asli. "Kau akan memiliki kehidupan baru," lanjut Indra. "Semua sudah kami siapkan. Tidak ada yang akan menghubungkan identitas itu dengan Laura Prasetyo." Laura menelan ludah. Persiapan ini terlalu matang. Seolah Indra memang sudah lama mencari seseorang seperti dirinya. "Kalau aku menolak?" Indra menutup map perlahan. "Maka besok pagi semua berkas itu akan berada di meja penyidik!"Suara pekikan Laura kembali memecah keheningan malam itu, kali ini lebih keras dan melengking dari sebelumnya. Kedua tangannya langsung menekup matanya rapat-rapat hingga terasa sakit, wajahnya memerah padam seperti tomat matang, dan seluruh tubuhnya terasa kaku bagaikan patung. Jantungnya berdegup secepat kilat seolah ingin melompat keluar dari rongga dada, rasa malu yang luar biasa menyelimuti setiap sudut pikirannya.Rama hanya menatapnya sekilas dengan tatapan datar, tidak terlihat kaget, tidak pula panik seolah hal itu adalah pemandangan yang biasa saja. Ia bahkan tidak tergesa-gesa berlindung, melainkan hanya mengulurkan tangan dengan tenang meraih handuk yang tergelincir jatuh di lantai, lalu melilitkannya kembali dengan rapat dan kuat di pinggangnya.“Kau ini memang suka berlebihan,” ujarnya dengan nada datar, seolah baru saja menegur anak kecil yang berteriak melihat serangga. “Itu hanya bagian tubuh manusia, tidak ada yang perlu dibuat ribut seperti melihat monster.”Laura t
Suara teriakan melengking Laura memecah keheningan malam itu, membuat Rama yang baru saja membasuh wajahnya tersentak kaget. Air yang masih menetes di rambutnya terciprat ke lantai, dan seketika dia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar tanpa peringatan. Pandangannya langsung bertemu dengan pandangan gadis itu yang terbelalak kaget, wajahnya seketika memerah padam hingga ke leher.“Kau gila? Tidak mengetuk dulu?” bentak Rama, suaranya sedikit meninggi karena terkejut sekaligus kesal.Namun Laura tidak sempat menjawab. Refleksnya langsung berbalik badan, menutup matanya rapat-rapat dengan kedua tangan sambil berusaha berlari keluar kamar mandi secepat mungkin. Dalam kepanikan itu, dia tidak melihat lantai yang basah terkena percikan air. Kakinya meluncur tergelincir, tubuhnya terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh keras ke lantai dengan bunyi buk! yang cukup nyaring.“Auuhhh!” rintihnya, rasa perih menjalar dari bagian pinggul dan pergelangan kakinya yang terkilir mendadak.Rama me
Rama hanya menatap Laura dalam diam sejenak, tatapannya menyelidiki setiap ekspresi yang terlintas di wajah gadis itu, seolah sedang membaca lembaran terbuka yang berusaha disembunyikan. Angin sore berhembus melewati koridor, menerpa tubuhnya yang tegap dan membawa wangi parfum mahal yang khas, aroma yang sama persis dengan yang tercatat dalam berkas yang dipelajari Laura selama beberapa hari terakhir.“Boleh aku masuk?” tanyanya dengan nada tenang namun tidak memberi ruang untuk penolakan.Laura tertegun sesaat, pikirannya berputar cepat. Menolak berarti membangkitkan kecurigaan, dan membiarkannya masuk berarti membuka celah bagi pria ini untuk melihat sekeliling tempat tinggalnya yang baru disiapkan secara mendadak. Namun dia tahu, menolak justru akan terlihat lebih mencurigakan.“Te-tentu saja, Tuan. Silakan masuk,” jawabnya sambil membuka lebar pintu dan melangkah mundur memberi jalan.Rama melangkah masuk dengan tenang, lalu menoleh sekilas ke kiri dan kanan, mengamati ruang tamu
Dengan tangan sedikit gemetar namun tetap berusaha tenang, Laura perlahan membuka kancing blazernya satu per satu. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari rongga dada, tapi ia memaksakan dirinya untuk tidak terlihat ragu. Ia tahu ini hanya salah satu cara Rama menguji batas ketahanan mentalnya, bukan maksud lain, meski perintah itu terdengar sangat tidak wajar.Setelah blazer terlepas dan tergantung di sandaran kursi, Laura melanjutkan membuka kancing kemejanya hingga terlepas sempurna, lalu melipatnya dengan rapi. Sekarang tubuh bagian atasnya hanya tertutup oleh bra berwarna merah jambu. Sekretaris yang berdiri di dekat pintu menunduk semakin dalam, tidak berani menatap sama sekali, seolah sudah terbiasa dengan tingkah aneh dan cara pengujian yang tak terduga dari atasannya.Laura sudah menyentuh ujung resleting roknya, bersiap melanjutkan, saat itulah suara Rama terdengar lagi dengan nada yang lebih pelan namun tetap tegas.“Cukup!”Rama berdehem pelan, lalu s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.