Rama Hermawan tidak mengangkat kepalanya sedikit pun. Matanya tetap tertancap pada tumpukan dokumen di atas meja besar berwarna hitam mengkilap, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama lambat dan terukur, suara yang terdengar seperti hitungan mundur bagi siapa pun yang duduk di hadapannya. Udara di ruangan itu terasa dingin, seolah pendingin ruangan diatur lebih rendah dari biasanya, membuat kulit Laura merinding meski ia mengenakan blazer. “Duduk!” ucapnya singkat, tanpa nada sapaan, tanpa menoleh. Suaranya berat, datar, dan tajam, seolah setiap kata yang keluar hanya berfungsi untuk memerintah, bukan berkomunikasi. Laura menarik kursi dengan hati-hati dan duduk dengan punggung lurus, menahan rasa gugup yang mulai merayap. Ia tetap mempertahankan senyum tipisnya, berusaha terlihat tenang dan percaya diri persis seperti yang diajarkan tim Indra. “Terima kasih, Tuan. Nama saya Larissa Mahendra, dan saya sangat menghargai kesempatan ini—” “Jangan bicara sebelum di
Last Updated : 2026-06-29 Read more