ANMELDENNara terbangun sebagai Veronica Ashbourne, tokoh utama tragis dari novel Aku yang Tak Pernah Dipilih—putri sah keluarga bangsawan yang sepanjang hidupnya selalu kalah dari adik tirinya sendiri. Kasih sayang ayahnya dirampas, warisan ibunya direbut, dan pria yang paling dicintai Veronica ternyata hanya menjadikannya batu loncatan untuk mendekati Arabella. Nara mengetahui bagaimana cerita itu akan berakhir: penyesalan yang datang terlambat, cinta yang seharusnya tidak lagi berarti, dan ending palsu yang disebut bahagia. Namun kali ini, Veronica tidak akan hidup demi dipilih siapa pun. Nara akan merebut kembali hidup Veronica, keluar dari keluarga toxic itu, dan menolak ending novel yang seharusnya terjadi.
Mehr anzeigenHujan turun deras sejak sore, menghantam jendela kamar kos di lantai tiga seperti ribuan jemari yang memaksa ingin masuk. Suara tetesan air bercampur dengan derit kipas angin tua di langit-langit, menciptakan irama monoton yang menyesakkan.
Namun Nara tidak peduli. Ia tetap tengkurap di atas kasur tipis yang pegasnya mulai menusuk punggung, matanya terpaku tajam pada layar ponsel yang menyala di tengah kamar gelap. Rahangnya mengeras. Tangannya menggenggam ponsel itu begitu kuat hingga buku jarinya memutih. "Sial... ending macam apa ini?" gerutunya serak. Kamar kos itu sempit, pengap, dan berantakan. Buku kuliah berserakan di lantai marmer kusam bersama tumpukan revisi skripsi yang tak kunjung selesai. Aroma mi instan sisa semalam bercampur dengan bau lembap hujan, membuat suasana terasa semakin muram. Namun perhatian Nara sepenuhnya tersedot pada novel di layar ponselnya. Aku yang Tak Pernah Dipilih. Novel romance tragedi yang telah menguras emosinya selama tiga hari terakhir. Tokoh utamanya, Veronica Ashbourne, adalah putri bangsawan yang hidupnya perlahan dirampas oleh adik tirinya sendiri, Arabella. Harta, kasih sayang keluarga, hingga harga dirinya dihancurkan sedikit demi sedikit. Dan yang paling membuat darah Nara mendidih adalah Arlo. Pengawal pribadi Veronica yang seharusnya menjadi pelindung, justru berubah menjadi orang yang paling sering melukainya. Arlo selalu memilih mempercayai tangisan palsu Arabella daripada penjelasan Veronica. Selalu membela gadis itu. Selalu membuat Veronica terlihat seperti wanita gila yang haus perhatian. Namun pengkhianatan terbesar baru terungkap di bab terakhir. Arlo ternyata bukan pengawal biasa. Dia adalah Dimitier Laurent—tuan muda keluarga paling berkuasa di kekaisaran—yang menyamar demi mendekati Arabella. Dan yang lebih menyebalkan lagi... Veronica tetap memaafkannya. Nara bangkit duduk dengan sentakan kasar. "SERIUS?!" napasnya memburu. "Cowok itu membiarkan Veronica dihina, dicambuk, sampai hampir mati! Dan semuanya selesai cuma karena dia minta maaf?!" Dadanya terasa sesak. Baginya, itu bukan akhir yang bahagia. Itu penghinaan. Veronica tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri. Selama hidupnya, wanita itu hanya sibuk memohon untuk dipilih: oleh ayahnya, oleh masyarakat, dan oleh pria yang bahkan tak pernah benar-benar berpihak padanya. "Kalau aku jadi kamu, Veronica..." bisik Nara lirih. "Aku nggak akan sudi menoleh lagi pada mereka." Hujan di luar semakin deras. Nara menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur sambil menatap langit-langit kamar yang kusam. Rasa lelah dari skripsi yang macet, dosen pembimbing yang sulit ditemui, dan tagihan kos yang mulai menunggak perlahan menghimpit pikirannya. Mungkin itu sebabnya ia mencintai fiksi. Karena dunia nyata terlalu melelahkan. "Kalau aku jadi Veronica..." gumamnya pelan, matanya mulai terasa berat. "Aku bakal kabur sejauh mungkin." Ia menarik napas panjang. "Tidak perlu cinta. Tidak perlu pengakuan." Kesadarannya mulai mengabur. "Aku akan memilih diriku sendiri." Gelap. Namun tak lama kemudian, kegelapan itu terusik oleh aroma asing. Mawar yang mulai membusuk. Dan kayu cendana. Nara mengernyit. Dadanya terasa sesak seolah tubuhnya dililit sesuatu yang terlalu ketat. Jemarinya bergerak pelan, menyentuh permukaan kain yang terasa jauh lebih halus daripada seprai murahan di kamar kosnya. "Ngh..." Lenguhan pelan lolos dari bibirnya. Nara langsung membeku. Suara itu terdengar asing. Terlalu lembut. Terlalu bening untuk menjadi suaranya sendiri. Perlahan, ia membuka mata. Pandangannya kabur sesaat sebelum akhirnya menangkap pilar-pilar putih gading yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit berukir emas. Napasnya tercekat. Ini bukan kamar kosnya. Dengan tubuh gemetar, Nara mencoba duduk, namun rasa pening hebat langsung menghantam kepalanya. Ia menunduk dan nyaris berhenti bernapas saat melihat tubuhnya sendiri. Gaun tidur sutra merah darah membalut tubuh ramping dengan kulit pucat seputih porselen. Jemarinya tampak panjang dan lentur—bukan tangan mahasiswi yang setiap hari dipenuhi tinta dan revisi skripsi. Jantungnya mulai berdegup tidak terkendali. Dengan langkah goyah, Nara berjalan menuju cermin besar berbingkai perak di sudut ruangan. Dan saat bayangan itu terlihat jelas— dunianya runtuh. Mata biru safir yang sembab. Rambut hitam bergelombang. Wajah cantik pucat yang terlalu familiar. Wajah yang selama ini hanya ia lihat lewat layar ponsel. Nara menyentuh wajahnya dengan tangan gemetar. "Veronica Ashbourne..." bisiknya lirih. Napasnya memburu. Ia tidak sedang bermimpi. Ia benar-benar masuk ke dalam novel itu. Dan yang lebih mengerikan— ia masuk tepat di titik ketika hidup Veronica mulai hancur.Setelah merasa cukup bersih, Nara bangkit. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk lembut, lalu mengenakan jubah mandi sutra tipis berwarna putih gading. Jubah itu sangat ringan, hampir tidak terasa di kulitnya yang masih lembap, dan memberikan efek transparan yang samar di bawah pencahayaan lampu kristal yang temaram. Nara berdiri di depan wastafel marmer, mencoba merapikan rambut hitamnya yang basah, ketika tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka tanpa peringatan. Killian masuk dengan langkah yang penuh otoritas. Pria itu kini hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit pinggangnya yang rendah. Tubuh bagian atasnya terekspos sepenuhnya, memperlihatkan otot-otot dada yang bidang dan perut yang terpahat sempurna seperti patung dewa perang. Rambut peraknya yang basah berantakan, meneteskan air ke bahunya yang pucat namun kuat. Nara tersentak, tangannya refleks memegang kerah jubah mandinya. "Killian! Aku belum selesai... kau harusnya menunggu di luar ruangan." Killian tidak ber
Harap like dan follow akun sebelum lanjut membaca ----- Setelah ketegangan di balkon dan ciuman yang membakar di bawah rembulan, Killian tidak membiarkan Nara berlama-lama di aula pesta. Baginya, tatapan pria-pria di sana adalah polusi yang mengganggu hak miliknya. Ia menarik Nara melewati koridor-koridor panjang istana yang megah, menuju paviliun tamu agung yang telah disiapkan khusus untuk keluarga Duke Valerius. Sepanjang jalan, genggaman tangan Killian terasa sangat panas, seolah-olah mana miliknya sedang bergejolak menuntut pelampiasan. Begitu pintu paviliun tertutup rapat dan terkunci, suasana sunyi istana langsung berubah menjadi medan energi yang menyesakkan. Killian menyandarkan Nara ke pintu, menatapnya dengan mata ungu yang kini benar-benar gelap, hanya menyisakan sedikit kilatan gairah yang buas. "Mandilah dulu, Veronica," bisik Killian, suaranya serak dan berat. "Bersihkan aroma pesta ini dari kulitmu. Aku ingin hanya aromaku yang tersisa di tubuhmu malam ini."
Suasana pesta semakin memanas ketika musik orkestra mulai melambat, memberikan kesempatan bagi para bangsawan untuk saling menyapa. Di sudut ruangan, Nara melihat Baron Ashbourne—ayahnya—tengah mencoba mendekati seorang Earl kaya. Baron itu tampak kuyu, mungkin karena guncangan mental setelah menerima penghinaan telak dari Killian. "Lihat itu," Killian menunjuk dengan dagunya. "Ayahmu sepertinya butuh moralitas baru, bukan sekadar kayu busuk." Nara hanya tersenyum tipis. "Dia tidak akan pernah belajar selama dia merasa masih bisa memanfaatkan nama 'Veronica' untuk kepentingannya." Tiba-tiba, seorang pemuda dengan rambut pirang madu dan pakaian yang terlalu mencolok mendekati mereka. Namanya Julian, seorang Count muda yang baru saja melakukan debutante-nya. Ia memiliki reputasi sebagai perayu yang tidak tahu malu. "Duke Valerius, sungguh kejutan melihat Anda sudah bisa berdiri tegak," ucap Julian dengan nada yang sedikit merendahkan, matanya justru tertuju pada lekuk tubuh Na
Di lantai atas istana, tepatnya di balik jendela besar ruang kerja kaisar yang terbuat dari kristal gelap, seorang wanita dengan mahkota emas yang rumit berdiri memperhatikan seluruh kejadian di taman mawar. Ia adalah Sang Kaisar, penguasa tertinggi Astheria. Mata Sang Kaisar menyipit saat melihat punggung Nara yang menjauh. Ia meletakkan tangannya di kaca jendela, dan tiba-tiba, sebuah energi keemasan yang sangat tipis bereaksi di ujung jarinya—energi yang selaras dengan getaran Mana yang terpancar dari tubuh Nara. "Darah Elianor..." gumam Sang Kaisar dengan suara yang penuh misteri. "Aku bisa merasakan Roh Kuno itu menggeliat di dalam dirinya. Veronica Ashbourne... kau bukan lagi wanita gila yang diceritakan orang-orang." Kaisar berbalik ke arah penasehatnya yang berdiri di kegelapan ruangan. "Pastikan dia duduk di sampingku saat perayaan pesta pembukaan besok. Aku ingin melihat seberapa besar kekuatan yang ia sembunyikan di balik wajah tenangnya itu. Utara telah menemukan per
Kedai arak itu sangat bising. Nara duduk di sudut yang paling gelap, memesan sebotol arak keras. Di meja lain yang lebih bersih, Arlo duduk berhadapan dengan Arabella. Arlo tampak sibuk memastikan Arabella tidak menyentuh minuman keras, memberikan air putih padanya, dan membuang muka saat Nara men
"Gila... ini benar-benar gila," ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia harus mencerna semuanya. Ia berada di dalam tubuh seorang wanita yang dibenci semua orang. Ia memiliki ayah yang menganggapnya komoditas, adik tiri yang merupakan manipulator ulung berwajah malaikat, dan seorang pengawal
"Veronica Ashbourne," desis Nara. Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah-olah nama itu sudah lama tertanam di dalam saraf vokalnya. Ingatan demi ingatan mulai membanjiri otaknya seperti air bah yang merobohkan bendungan. Bukan lagi sekadar potongan plot novel yang ia baca, melainkan
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi buruk yang kabur. Luka di bahu Nara mulai mengering, meninggalkan bekas parut yang mengerikan. Selama masa pemulihan, Arlo tetap menjalankan tugasnya sebagai pengawal, namun ia memperlakukan Nara seperti udara. Ia hanya masuk untuk mengantar obat, berdiri












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.