LOGINMaria terjebak dalam pernikahan dingin tanpa cinta dengan Damian Lee, miliarder yang konon tak pernah setia pada satu wanita. Namun alih-alih takut dikhianati, Maria justru berusaha membuat suaminya jatuh ke pelukan wanita lain demi harta yang akan menjadi miliknya jika Damian berselingkuh. Untuk mewujudkan rencananya, Maria merekrut Hannah Barker, gadis yang sedang terlilit masalah keuangan. Tanpa disadarinya, Hannah terseret ke dalam permainan kekuasaan, kebohongan, dan ambisi yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Sementara itu, Damian tetap menjadi sosok misterius di pusat semua kejadian ini: pria yang diinginkan banyak wanita, sering disalahpahami, dan jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan istrinya. Namun ketika perasaan mulai mengacaukan rencana yang telah disusun dengan sempurna, siapa sebenarnya yang sedang mempermainkan siapa?
View More[Maria]
Damian Lee memiliki tiga hal yang tidak akan habis ia nikmati: uang, alkohol, dan wanita.
Ketiganya memabukkan, tapi Damian Lee tahu cara mengontrolnya: kapan ia harus memulai; kapan ia harus berhenti.
Dan klub ini dulu adalah rumahnya.
Mungkin karena ini adalah salah satu dari sedikit klub yang buka lebih awal, makanya ia bisa pergi ke sini sepulang kerja. Mungkin dia memang secinta itu pada pesta makanya ia tidak mau menunggu lama.
“Di mana Damian? Kenapa dia tidak ada terus sih?” ujar seorang gadis pirang di antara kumpulan para pria mabuk.
Ini gadis ketiga yang kulihat mencari Damian malam ini.
“SIALAN! Gara-gara dia aku putus dengan pacarku!” Pemuda di meja sebelah menggebrak mejanya. Tetesan bir tumpah ke meja beserta air mata lelaki itu. “Harusnya hari ini anniversary ketiga kami. Kalau saja dia tidak pernah kubawa ke klub ini dan bertemu bajingan itu waktu itu!”
Aku menggelengkan kepala.
Konon katanya, kalau Damian mengincar pacarmu, menyerah saja. Sudah pasti gadis itu akan meninggalkan pacarnya demi kesempatan one night stand dengan Damian. Kalau kau melihat seorang pria menangis di klub ini, kemungkinan itu korban Damian.
Sepertinya rumor itu benar.
Meskipun, yah, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk balas dendam.
Siapa yang berani melawan pewaris RQL group? Dia tidak bisa dijangkau hukum.
Menyentuhnya? Kau mati.
Simple.
“Jadi, apa yang kau tahu soal Damian? Apa saja. Kelemahannya, mungkin?” tanyaku pada bartender sambil menutupi wajahku dengan topi.
“Damian lagi?” Bartender itu menjawab dengan malas. “Lupakan saja dia. Dia sudah menikah.”
Aku menghela napas panjang. Sudah kuduga datang ke tempat ini adalah ide yang buruk. Tidak kutemukan apa-apa yang bisa membantuku.
Ponselku bergetar, sebuah pesan muncul di layar bersama dengan nama pengirimnya.
[Maria. Meeting baru saja selesai. Aku pulang sekarang.]
Oh, aku istrinya, ngomong-ngomong.
Yep, istri yang malang dari Damian Lee, sang playboy kelas berat.
Aku berdecak. Katanya tadi dia akan pulang ‘sangat telat’ hari ini.
Ini bahkan belum jam 8 malam!
Sebagai seorang eksekutif di kantor, bukankah harusnya dia punya banyak pekerjaan sampai lembur tengah malam? Aku akan lebih senang kalau dia pulang selarut itu. Terserah mau ke mana dulu. Ke hotel, ke beach club, ke Vegas pun. Terserah.
Asal dia kembali pada jati dirinya yang tukang party itu.
[Okay. Aku tunggu di rumah.]
Padahal sih tidak.
Aku langsung membayar bill dengan tip, mengambil tasku, lalu menyuruh chauffeur menyetir mobil secepat mungkin sampai rumah.
Sampai di rumah, masih ada waktu bagiku untuk mengganti pakaian dan merapikan rambutku. Kulihat refleksiku di cermin. Jujur, aku tahu aku tidak jelek. Sebagai istri Damian Lee, menantu keluarga RQL group, sudah sewajarnya aku memenuhi standar dalam hal penampilan.
Tapi kalau dipikir-pikir, aku tidak secantik itu sampai ia meninggalkan haremnya untukku.
Tidak mungkin kan dia sudah bertaubat?
Damian tidak mencintaiku, sama seperti aku tidak mencintainya. Kami berdua tidak menikah karena cinta.
Seperti pernikahan konglomerat lain, kesetiaan bukan bagian dari deal. Kesetiaan kami hanyalah kepada bisnis keluarga kami. Aku sengaja menyelipkan klausa khusus di perjanjian pranikah, mengenai perselingkuhan.
Jika ia selingkuh, separuh sahamnya di RQL group akan pindah ke tanganku.
Dan tentu saja, hal yang sama juga berlaku jika aku selingkuh, tapi itu tidak akan terjadi.
Kupikir menunggu tabiatnya kambuh itu mudah. Bagaimana pun, ia seorang Damian Lee. Tapi ini sudah enam bulan lebih sejak pernikahan kami dan ia tidak menunjukkan tanda-tanda berhubungan dengan gadis lain.
Aku menyambutnya pulang di depan pintu masuk.
Damian tiba bersama dengan personal assistant yang selalu menemaninya ke mana-mana, Pak Ed.
“Maria.” Ia melihatku sekilas. “Tunggu aku di meja makan,” katanya dengan dasi yang sudah dilonggarkan, seolah-olah ia terburu-buru ke sini.
Aku tersenyum padanya. Akting pura-pura jadi pengantin baru yang mesra ini kadang membuatku geli, tapi Pak Ed ada di sini. Aku harus terlihat seperti istri yang normal.
“Selamat malam, Nyonya,” katanya, “Tuan Lee sudah sampai rumah dengan aman. Saya permisi dulu.”
“Tunggu, Pak Ed,” pintaku menghentikannya. “Suamiku betul-betul langsung pulang ke rumah setelah meeting?” Aku mencoba terlihat senetral mungkin tanpa kecurigaan.
Pak Ed tersenyum. “Ya, Nyonya. Tuan Lee langsung buru-buru pulang. Beliau bahkan menolak ajakan makan malam dengan klien.”
Aku menghela napas kecewa.
“Tenang saja, Nyonya. Tuan Lee sangat setia pada Anda.”
Justru itu masalahnya, aku ingin dia supaya tidak setia.
“Bukan begitu, Pak Ed,” bantahku.
Kemudian, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benakku.
“Pak, kalau aku tidak salah ingat, salah seorang sekretaris ada yang sedang hamil.” Aku ingat seseorang dengan perut yang membesar saat terakhir kali aku ke kantornya.
“Betul. Anda perhatian sekali, Nyonya. Seingat saya dia akan mengambil cuti melahirkan mulai bulan depan.”
“Aku akan mengurus penggantinya. Kita bisa memberikan dia cuti lebih awal, lebih panjang. Itu akan membantu citra perusahaan juga kalau benefit untuk pekerja wanita lebih baik,” ujarku. “Sebagai istrinya, aku bisa melakukan itu kan?”
“Err, soal itu, saya harus konfirmasi dulu ke Tuan Lee.”
“Aku akan bicara dengannya langsung. Bilang saja ke HR kalau aku sendiri yang akan mengurus rekrutmennya.”
“Baik kalau begitu, akan saya sampaikan. Saya permisi dulu.”
***
Makan malam Damian biasanya sunyi. Kami tidak saling mengobrol atau bertanya soal hari masing-masing kecuali soal bisnis. Tidak ada pertanyaan soal bagaimana hari di kantor. Pertanyaan personal seperti berapa ukuran sepatuku berarti ada event yang harus kudatangi dan ia harus menginformasikan itu ke tim styling pribadi keluarganya untuk menyiapkan outfitku.
Tapi hari ini tidak.
“Kau suka wanita seperti apa?”
Aku hanya ingin satu hal itu dan aku tidak ingin berbasa-basi.
Damian mematung, garpunya berhenti tepat di depan mulut.
“Maksudmu apa?”
“Tipe wanita idamanmu. Apa yang kau cari dari sisi fisik, kepribadian, latar belakang? Apa saja.”
“Maria. Kau aneh. Apakah aku dites? Kau ingin aku bilang apa? ‘Wanita sepertimu’, begitu? Rambut hitam panjang, 163 cm, kulit putih bersih, putri konglomerat.”
Dia malah menjadikan aku bahan candaan. Beraninya dia.
“Ayolah, aku serius, Damian.”
“Aku juga serius, Maria. Kenapa kau tanya itu padaku? Aku sudah menikah dan kau beruntung aku sangat setia pada istriku.”
Setia apanya. Aku akan membuatnya selingkuh apapun yang terjadi.
“Terus kenapa kalau sudah menikah? Semua orang pasti punya preferensi.”
Apalagi, kami berdua tidak menikah karena kami tipe idaman satu sama lain.
“Begitukah?” Ia meletakkan garpunya, bersandar pada kursi, menatapku lurus. “Lalu, kalau preferensimu seperti apa?”
Aku tidak menyangka ditanya balik.
“Ini bukan tentang aku,” aku berkilah.
“Kalau begitu aku juga tidak mau jawab.”
“Fine. Aku suka laki-laki yang baik, gentle, dan tahu cara memperlakukan wanita,” ujarku asal mengatakan apa saja yang tidak terdengar seperti kelakuannya.
Dan tentu saja bukan hal yang benar-benar ada di pikiranku soal ‘pria idaman’. Aku khawatir dia akan menggunakan strategi yang sama untuk menjebakku.
“Jadi, Damian, wanita seperti apa yang kau suka?”
“Yang penting cantik dan seksi.”
Dia menjawab seperti dia tidak berpikir panjang.
Ekspektasiku untuknya sudah rendah, tapi jawabannya bahkan tidak mencapai ekspektasiku. Orang biasa saja punya kriteria tertentu, sesuatu yang spesifik, standar yang lebih tinggi.
Tapi dia?
Tidak heran semua gadis di klub masuk ke target pasarnya.
Kalau kami adalah pasangan yang normal, aku mungkin akan sedikit terhina suamiku mau dengan siapa saja asal cantik dan seksi. Tapi karena kami bukan pasangan yang seperti itu, aku mencoba menerima kriterianya dengan pikiran terbuka.
“Sudah kuduga, kau tidak picky asal mereka enak dipandang.”
“Yep, yep,” jawabnya dengan santai, kembali ke makanannya.
Ruangan itu jadi sunyi lagi karena kami tidak punya topik pembicaraan lain. Aku menunggu sampai makanannya hampir habis untuk menanyakan hal yang paling penting di waktu yang tepat.
“Ngomong-ngomong, kau tidak keberatan kalau aku mencari sekretaris pengganti buatmu kan? Yang sekarang perlu cuti melahirkan.”
“Atur saja sesukamu, Maria. Aku tidak begitu peduli soal itu.”
Senyum samar muncul di wajahku. Aku bisa memulai menjalankan rencanaku.
Setelah makan malam selesai, aku buru-buru kembali ke kamar. Kuambil ponsel dan kubuat draft iklan di salah satu situs pencari kerja.
[Dicari: Sekretaris untuk Chief Strategy Officer di RQL Group.
Kualifikasi: Wanita
Tidak perlu CV, hanya perlu lampirkan foto selfie]
Kubaca ulang iklan itu sekali lagi sebelum menekan tombol posting.
Kalau Damian tidak mau mencari perempuan simpanan sendiri, aku yang akan melakukannya untuknya.
[Hannah]Hannah harus mengaplikasikan concealer di bawah matanya hari ini untuk menutupi kantung matanya. Tidak bisa tidur semalaman karena overthinking memikirkan gosip yang beredar membuat kantung matanya menghitam. Tipis-tipis saja asalkan menutup. Tidak perlu flawless, yang penting tidak kelihatan seperti napi.Tentu saja Hannah sudah mencoba menerapkan apa yang dikatakan Kevin Liu, tapi ternyata tidak semua orang bisa seperti itu.Kabar buruknya, Hannah tidak bisa fokus bekerja karena terlalu mengantuk. Kabar baiknya, Hannah jadi melupakan masalah rumornya karena yang ada di pikirannya hanya keinginan untuk tidur.Botol minumnya hari ini diisi kopi, bukannya air putih. Ditenggaknya americano seperti minum air. Meskipun sejauh ini
[Cecilia]Cecilia berjalan mengendap-ngendap dengan syal sutra melingkar di kepalanya, kacamata hitam yang kebesaran, nyaris menutupi separuh wajahnya, dan trench coat yang selutut panjangnya. Nyaris tidak ada kulitnya yang terlihat saat ini karena tidak boleh ada yang melihatnya saat ini.Tidak jika ia sedang berada di sebuah apartemen kumuh di pinggiran kota.Sama sekali tidak berkelas.Ia berdecak melihat bootsnya terkena tanah kotor. Kepalanya sudah pusing mencium bau apek yang tercium dari pakaian yang dijemur sembarangan di balkon.Gadis itu nyaris mengumpat melihat tulisan ‘LIFT SEDANG RUSAK, GUNAKAN TANGGA’. Maksudnya ia harus naik tangga? Di saat seperti ini? Astaga, yang benar saja.
[Maria]Segera setelah menerima pesan itu, aku langsung meminta chauffeur untuk berangkat menuju toko buku itu. Kuminta ia untuk mempercepat mobil secepat yang ia bisa. Aku tidak boleh membuang banyak waktu.Pesan untuk berjaga-jaga kukirimkan kepada Bibi Imani.[Aku akan kesana tapi jika polisi bertanya, tolong berpura-puralah kita tidak saling kenal.]Bibi Imani tidak membalas, membuatku merasa tidak tenang. Aku hanya bisa membayangkan chaos yang ada di sana sehingga ia tidak sempat membalas pesanku. Kugigit bibir memikirkan apa yang bisa kulakukan saat ini. Menelepon akan beresiko sekarang dengan rencana yang akan kujalankan. Aku tidak tahu situasinya seperti apa di sana, bisa jadi Bibi Imani sedang dimintai keterangan oleh polisi. Tapi sungguh tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengirim arahan lain lewat pesan.[Aku akan jelaskan nanti, tapi tolong lakukan seperti itu. Anggap saja Bibi tidak mengenalku, ya? Anggap saja aku hanya orang yang sedang kebetulan berjalan kaki
[Maria]Damian hampir tidak melepaskan pandangannya dari ponsel sejak makan malam. Sesekali ia mengetik sesuatu, atau keluar sebentar untuk menelepon. Tidak biasanya Damian melakukan hal itu sepulang kerja.Dan ketika kembali, ia akan menjelaskan meskipun tidak ditanya.“Cuma urusan kerja.”Yang juga tidak biasa ia lakukan.Makan malam dihabiskannya dengan cepat. Aku pun menjadi sibuk mengamati gerak-geriknya ketimbang menikmati masakan yang dihidangkan oleh maid. Ada rasa tidak enak yang membuatku merasa gelisah.Toko Buku Gang Cedar.Aku mendengarnya menggumamkan nama itu tadi, meskipun ia mencoba membuatnya terlihat bukan seperti apa-apa.Aku curiga ia merencanakan sesuatu.Apa lagi, memangnya? Seseorang seperti dia memperhatikan sebuah toko buku kecil yang tidak cukup penting untuk urusan bisnisnya, kalau bukan untuk mencari tahu.Aku melihatnya berulang kali mengambil dan m
[Hannah]Persis seperti apa yang dikatakan Emma, Pak Lee dan Pak Ed datang bersama-sama. Pak Ed membawakan briefcasenya, tepat satu langkah di belakang Pak Lee.Ini kali kedua Hannah melihat Pak Lee. Melihatnya bagaimana paras bosnya, ia jadi
[Maria]Keluarga Damian memiliki team stylist pribadi yang biasa datang ke rumah sebelum berangkat untuk acara penting. Seperti sebelumnya, ketika aku dan Damian akan datang ke makan malam perusahaan, atau hal-hal yang
[Cecilia]Rumahnya berisik sejak pagi. Suara bising dari para tukang masak yang menyiapkan hidangan, tukang kebun yang menata anggrek dari pintu masuk, para pelayan yang biasanya membersihkan rumah dalam senyap. Mereka selalu sibuk jika hari-hari penting seperti ini tiba.Keluarga Wang sudah terbias
[Maria]Damian tidak ada di sampingku ketika aku bangun tidur pagi ini. Tirai di kamar masih tertutup padahal sudah jam 10. Tidak ada suara vacuum cleaner atau langkah kaki manusia di lorong. Pasti belum ada pelayan yang ke lantai dua.Aku membilas wajahku di wastafel sambil mengingat-ingat apa yang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews