MasukJasmine perempuan yang suka kebebasan, ia menikah dengan seorang duda tampan dan kaya raya bernama Zen, akan tetapi pernikahannya terasa hambar, karena Zen selalu sibuk dengan pekerjaan, suaminya juga sulit punya anak. Karena itulah, Jasmine membayar seorang pemuda tampan yang sedang butuh uang, untuk menjadi pemuas nafsu dan juga menemaninya saat bersenang-senang, semua itu Jasmine lakukan secara diam-diam. Hingga pada akhirnya sebuah kenyataan terungkap, membawa mereka pada takdir yang berbeda.
Lihat lebih banyakJasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.
Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata banyak orang, Zen adalah pria sempurna—kaya, tampan, sukses, dan berasal dari keluarga terpandang. Banyak wanita iri pada kehidupan yang dimiliki Jasmine, tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana kenyataannya. Zen selalu sibuk. Pekerjaan lebih penting daripada keluarga. Bahkan ketika mereka berada di ruangan yang sama, rasanya seperti ada jarak yang tak terlihat di antara mereka. Tak ada perhatian, tak ada percakapan hangat, tak ada pelukan yang membuatnya merasa dicintai. Rumah megah yang mereka tinggali terasa lebih seperti hotel mewah daripada tempat pulang. "Suamimu tidak datang lagi?" tanya salah satu temannya sebelum meninggalkan pesta tadi. Jasmine hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia sudah terlalu lelah menjelaskan. Belum lagi tekanan dari keluarga suaminya yang terus menuntut keturunan. Setiap kali ada acara keluarga, pertanyaan yang sama selalu muncul. Kapan punya anak? Apa ada masalah? Kenapa belum hamil? Yang lebih menyakitkan, mereka selalu menyalahkannya, padahal hasil pemeriksaan dokter sudah jelas menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya. Namun tidak ada yang peduli pada fakta. Mereka hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan, dan orang itu adalah dirinya. Sesak memenuhi dadanya. Karena itulah ia memilih bertahan di kafe dua puluh empat jam itu daripada kembali ke rumah yang terasa dingin dan kosong. Saat hendak berdiri, kepalanya mendadak berputar. Pandangannya mengabur. Bruk! Tubuhnya hampir jatuh, tetapi seseorang dengan cepat menangkapnya. "Hati-hati." Suara itu rendah dan tenang. Jasmine mengangkat wajah perlahan. Seorang pemuda berdiri di hadapannya. Jaket hitam yang dikenakannya sedikit basah oleh hujan. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata tajam yang sulit diabaikan. Untuk sesaat, Jasmine hanya menatapnya. "Aku tidak apa-apa," gumamnya. "Kau mabuk." "Mungkin." Pemuda itu membantu mengambil tas yang terjatuh di lantai lalu menyerahkannya. "Rumahmu di mana? Aku bisa memesankan taksi." Jasmine menerima tasnya dan menatap pria itu beberapa saat. "Apa kau selalu menolong orang asing?" Pria itu tersenyum tipis. "Hanya yang terlihat membutuhkan bantuan." Jawaban sederhana itu membuat hati Jasmine terasa hangat. Sudah lama tidak ada seseorang yang memperhatikannya tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasan. "Aku Raiden," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan. "Jasmine." Mereka berjabat tangan singkat. Tak lama kemudian, Raiden membantu mengantarnya keluar menuju mobil. Hujan masih turun deras dan udara malam terasa dingin. Namun ketika pintu mobil dibuka, Jasmine justru menahan lengan Raiden. "Jangan antar aku pulang." Raiden menatapnya bingung. "Lalu?" Jasmine menundukkan pandangan sesaat sebelum menjawab. "Aku belum ingin kembali ke sana." Ada kesedihan yang begitu jelas dalam suaranya. Raiden terdiam beberapa saat. "Kalau begitu, kau ingin ke mana?" "Antar aku ke hotel." "Kau yakin?" Jasmine tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih pahit daripada bahagia. "Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah." Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka. Akhirnya Raiden mengangguk. "Baik." Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Jasmine menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi lampu-lampu kota yang berlalu seperti bayangan samar. Pikirannya melayang jauh. Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskan sendirian, meja makan besar yang hampir selalu kosong, dan bagaimana Zen sering pulang larut malam tanpa sempat bertukar lebih dari beberapa kalimat dengannya. Pernikahan mereka masih utuh di atas kertas, namun hatinya sudah lama merasa sendirian. "Kenapa kau mau menolongku?" tanyanya pelan. Raiden tetap fokus pada jalan di depan. "Mungkin karena aku tidak suka melihat orang sendirian dalam keadaan seperti ini." Jasmine tersenyum tipis. Jawaban itu terdengar tulus, tidak dibuat-buat dan tidak penuh kepentingan. "Kalau begitu..." Ia menarik nafas pelan. "Malam ini temani aku." Tangan Raiden yang memegang setir sedikit menegang. Namun ia tidak menjawab. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah. Lampu-lampu bangunan tinggi itu memantulkan cahaya ke jalanan yang basah oleh hujan. Begitu turun dari mobil, langkah Jasmine kembali goyah. "Pelan." Refleks Raiden menahan tubuhnya. Jasmine menatap wajah pria itu dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar diperhatikan. "Aneh ya?" gumamnya. "Hm?" "Aku baru mengenalmu, tapi rasanya lebih nyaman dibanding berada di rumahku sendiri." Raiden tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya membantu Jasmine masuk ke dalam hotel dan mengantarnya menuju kamar. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan hujan dari luar jendela yang terdengar samar. Raiden mengambil sebotol air mineral lalu menuangkannya ke dalam gelas. "Minumlah dulu." Jasmine menerima gelas itu. "Terima kasih." Setelah memastikan wanita itu duduk dengan baik di tepi ranjang, Raiden melangkah mundur. "Aku pergi dulu." "Tunggu." Jasmine tiba-tiba menarik tangannya. Gerakan itu membuat jarak mereka seketika menjadi sangat dekat. Raiden langsung mundur beberapa langkah. "Maaf," katanya cepat. "Aku bukan pria yang kau pikirkan." Tatapan Jasmine tidak bergeser sedikit pun. "Tapi kau berbeda, Raiden." Nada suaranya tidak terdengar menggoda. Terdengar rapuh, seperti seseorang yang terlalu lama memendam kesepian. "Aku tidak bisa." Raiden berusaha menjaga jarak. Namun Jasmine hanya tersenyum pahit. “Aku akan membayarmu.” Raiden membeku. “Berapa yang kau minta?” lanjut Jasmine pelan. “Asal kau mau melayaniku.." Ruangan itu mendadak terasa sesak. Raiden tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Takdir macam apa ini?Malam harinya, suasana rumah terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Lampu kamar yang redup memantulkan bayangan lembut di dinding, sementara aroma skincare dan parfum mahal memenuhi udara.Zen masih sibuk dengan pekerjaannya sejak tadi. Pria itu baru masuk ketika Jasmine selesai merapikan rambutnya di depan cermin.Tanpa banyak bicara, Zen mendekat lalu mengecup kening istrinya sekilas sebelum duduk di tepi ranjang. Sikap sederhana itu justru membuat Jasmine diam beberapa detik."Kau wangi sekali," ujar Zen pelan sambil memperhatikan wajah istrinya.Jasmine tersenyum tipis melalui pantulan cermin."Aku memang selalu wangi. Kau saja yang jarang memperhatikanku."Zen menghela napas kecil. "Ya, aku terlalu sibuk."Kalimat itu terdengar biasa saja, tetapi bagi Jasmine, entah kenapa selalu terasa menyakitkan. Sibuk. Selalu sibuk. Seolah rumah tangga mereka hanya berjalan karena kewajiban, bukan karena rasa.Jasmine berjalan mendekati suaminya perlahan. Jemarinya menyentuh lengan pria
Pria itu berdiri membelakangi dinding shower, satu tangannya terangkat menahan di sisi atas kaca, sementara napasnya terdengar berat bercampur suara air yang terus jatuh dari atas. Rambutnya basah, beberapa helai menempel di dahinya. Tatapannya turun perlahan pada Jasmine di hadapannya.Perempuan itu mendekat tanpa suara. Jemarinya menyentuh dada Raiden tersebut pelan, seolah merasakan detak jantung yang berdetak semakin cepat di balik kulit hangat yang basah oleh air. Rambut panjangnya ikut lembap, jatuh berantakan di bahu dan pipinya.Tidak ada kata-kata di antara mereka. Hanya tatapan yang saling mengunci di balik kabut embun pada kaca.Di sudut lain, telapak tangan Jasmine itu menempel pada dinding kaca yang mulai dipenuhi jejak air. Siluet tubuh mereka terlihat samar dari luar, hanya bayangan lembut yang bergerak perlahan di balik kabut shower. Suasana terasa sunyi, hangat, dan penuh ketegangan emosional yang sulit dijelaskan.Raiden menundukkan kepalanya sedikit, mendekat hingga
"Kau sedang menggodaku ya?" suara Raiden terdengar rendah di tengah suasana apartemen yang mulai berubah hangat menjelang sore. Cahaya matahari dari balik jendela besar masuk perlahan, memantulkan warna keemasan di lantai marmer apartemen sederhana miliknya.Jasmine menoleh pelan, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan jahil. Senyum tipis terukir di bibirnya, membuat Raiden semakin sulit mengendalikan diri."Menurutmu?" godanya lembut. "Apa kau tidak peka? Sejak di kantor aku sudah menggodamu."Raiden terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk Jasmine dari belakang. Tubuh wanita itu terasa hangat di pelukannya. Aroma parfum mahal yang Jasmine gunakan langsung memenuhi indra penciumannya, lembut dan menenangkan, sangat berbeda dengan aroma apartemen kecil miliknya yang biasa dipenuhi bau kopi instan dan pakaian laundry."Kau ini..." gumamnya lirih.Bibir Raiden menyentuh pelan leher Jasmine. Seketika perempuan itu meremang halus."Hm..." Jasmine mengerang kecil sambil menahan
“Maaf, aku jadi mengingatkanmu pada luka lama.”Suara Jasmine terdengar lebih pelan dari biasanya. Perempuan itu duduk bersandar di sofa apartemen Raiden sambil menatap pria di depannya dengan rasa tidak enak hati. Sore mulai turun perlahan di luar jendela, cahaya matahari yang menguning masuk samar melalui tirai tipis, membuat ruangan kecil itu terasa hangat dan tenang.Raiden yang tadi sempat terdiam hanya tersenyum tipis. Senyum kecil yang selalu terlihat sederhana, tetapi entah mengapa mampu membuat hati Jasmine terasa nyaman.“Tidak apa-apa,” ujarnya pelan. “Semua orang punya kenangan di masa lalunya.”Kalimat itu terdengar ringan, tetapi mata Raiden menyimpan sesuatu yang lebih dalam.Ya... sebuah kenangan yang tak pernah bisa ia lupakan.Kenangan tentang masa kecil yang keras. Tentang dirinya yang dulu hanya anak kecil kurus di panti asuhan, terbiasa menahan lapar dan iri melihat anak-anak lain memiliki keluarga yang datang menjemput mereka pulang.Sedangkan dirinya?Tak pernah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.