تسجيل الدخول"Emmhh, tolong pelan-pelan Raiden. Nanti kau akan kubayar satu miliar, cukup layani aku dan buat aku hamil. Lalu kau boleh pergi," kata Jasmine pada pemuda berpakaian sederhana itu, yang kini memandangnya dengan pandangan sulit di jelaskan. **** Jasmine perempuan yang suka kebebasan, ia menikah dengan seorang duda tampan dan kaya raya bernama Zen, akan tetapi pernikahannya terasa hambar, karena Zen selalu sibuk dengan pekerjaan, suaminya juga sulit punya anak. Karena itulah, Jasmine membayar seorang pemuda tampan yang sedang butuh uang, untuk menjadi pemuas nafsu dan juga menemaninya saat bersenang-senang, semua itu Jasmine lakukan secara diam-diam. Hingga pada akhirnya sebuah kenyataan terungkap, membawa mereka pada takdir yang berbeda.
عرض المزيدJasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan.
Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata banyak orang, Zen adalah pria sempurna—kaya, tampan, sukses, dan berasal dari keluarga terpandang. Banyak wanita iri pada kehidupan yang dimiliki Jasmine, tetapi mereka tidak pernah tahu bagaimana kenyataannya. Zen selalu sibuk. Pekerjaan lebih penting daripada keluarga. Bahkan ketika mereka berada di ruangan yang sama, rasanya seperti ada jarak yang tak terlihat di antara mereka. Tak ada perhatian, tak ada percakapan hangat, tak ada pelukan yang membuatnya merasa dicintai. Rumah megah yang mereka tinggali terasa lebih seperti hotel mewah daripada tempat pulang. "Suamimu tidak datang lagi?" tanya salah satu temannya sebelum meninggalkan pesta tadi. Jasmine hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia sudah terlalu lelah menjelaskan. Belum lagi tekanan dari keluarga suaminya yang terus menuntut keturunan. Setiap kali ada acara keluarga, pertanyaan yang sama selalu muncul. Kapan punya anak? Apa ada masalah? Kenapa belum hamil? Yang lebih menyakitkan, mereka selalu menyalahkannya, padahal hasil pemeriksaan dokter sudah jelas menunjukkan bahwa masalah itu bukan berasal darinya. Namun tidak ada yang peduli pada fakta. Mereka hanya membutuhkan seseorang untuk disalahkan, dan orang itu adalah dirinya. Sesak memenuhi dadanya. Karena itulah ia memilih bertahan di kafe dua puluh empat jam itu daripada kembali ke rumah yang terasa dingin dan kosong. Saat hendak berdiri, kepalanya mendadak berputar. Pandangannya mengabur. Bruk! Tubuhnya hampir jatuh, tetapi seseorang dengan cepat menangkapnya. "Hati-hati." Suara itu rendah dan tenang. Jasmine mengangkat wajah perlahan. Seorang pemuda berdiri di hadapannya. Jaket hitam yang dikenakannya sedikit basah oleh hujan. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan mata tajam yang sulit diabaikan. Untuk sesaat, Jasmine hanya menatapnya. "Aku tidak apa-apa," gumamnya. "Kau mabuk." "Mungkin." Pemuda itu membantu mengambil tas yang terjatuh di lantai lalu menyerahkannya. "Rumahmu di mana? Aku bisa memesankan taksi." Jasmine menerima tasnya dan menatap pria itu beberapa saat. "Apa kau selalu menolong orang asing?" Pria itu tersenyum tipis. "Hanya yang terlihat membutuhkan bantuan." Jawaban sederhana itu membuat hati Jasmine terasa hangat. Sudah lama tidak ada seseorang yang memperhatikannya tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasan. "Aku Raiden," ucap pria itu sambil mengulurkan tangan. "Jasmine." Mereka berjabat tangan singkat. Tak lama kemudian, Raiden membantu mengantarnya keluar menuju mobil. Hujan masih turun deras dan udara malam terasa dingin. Namun ketika pintu mobil dibuka, Jasmine justru menahan lengan Raiden. "Jangan antar aku pulang." Raiden menatapnya bingung. "Lalu?" Jasmine menundukkan pandangan sesaat sebelum menjawab. "Aku belum ingin kembali ke sana." Ada kesedihan yang begitu jelas dalam suaranya. Raiden terdiam beberapa saat. "Kalau begitu, kau ingin ke mana?" "Antar aku ke hotel." "Kau yakin?" Jasmine tertawa kecil, tawa yang terdengar lebih pahit daripada bahagia. "Rumah itu tidak pernah terasa seperti rumah." Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar di antara mereka. Akhirnya Raiden mengangguk. "Baik." Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Jasmine menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi lampu-lampu kota yang berlalu seperti bayangan samar. Pikirannya melayang jauh. Ia teringat malam-malam panjang yang dihabiskan sendirian, meja makan besar yang hampir selalu kosong, dan bagaimana Zen sering pulang larut malam tanpa sempat bertukar lebih dari beberapa kalimat dengannya. Pernikahan mereka masih utuh di atas kertas, namun hatinya sudah lama merasa sendirian. "Kenapa kau mau menolongku?" tanyanya pelan. Raiden tetap fokus pada jalan di depan. "Mungkin karena aku tidak suka melihat orang sendirian dalam keadaan seperti ini." Jasmine tersenyum tipis. Jawaban itu terdengar tulus, tidak dibuat-buat dan tidak penuh kepentingan. "Kalau begitu..." Ia menarik nafas pelan. "Malam ini temani aku." Tangan Raiden yang memegang setir sedikit menegang. Namun ia tidak menjawab. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah hotel mewah. Lampu-lampu bangunan tinggi itu memantulkan cahaya ke jalanan yang basah oleh hujan. Begitu turun dari mobil, langkah Jasmine kembali goyah. "Pelan." Refleks Raiden menahan tubuhnya. Jasmine menatap wajah pria itu dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar diperhatikan. "Aneh ya?" gumamnya. "Hm?" "Aku baru mengenalmu, tapi rasanya lebih nyaman dibanding berada di rumahku sendiri." Raiden tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya membantu Jasmine masuk ke dalam hotel dan mengantarnya menuju kamar. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan dan hujan dari luar jendela yang terdengar samar. Raiden mengambil sebotol air mineral lalu menuangkannya ke dalam gelas. "Minumlah dulu." Jasmine menerima gelas itu. "Terima kasih." Setelah memastikan wanita itu duduk dengan baik di tepi ranjang, Raiden melangkah mundur. "Aku pergi dulu." "Tunggu." Jasmine tiba-tiba menarik tangannya. Gerakan itu membuat jarak mereka seketika menjadi sangat dekat. Raiden langsung mundur beberapa langkah. "Maaf," katanya cepat. "Aku bukan pria yang kau pikirkan." Tatapan Jasmine tidak bergeser sedikit pun. "Tapi kau berbeda, Raiden." Nada suaranya tidak terdengar menggoda. Terdengar rapuh, seperti seseorang yang terlalu lama memendam kesepian. "Aku tidak bisa." Raiden berusaha menjaga jarak. Namun Jasmine hanya tersenyum pahit. “Aku akan membayarmu.” Raiden membeku. “Berapa yang kau minta?” lanjut Jasmine pelan. “Asal kau mau melayaniku.." Ruangan itu mendadak terasa sesak. Raiden tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Takdir macam apa ini?"A-apa... kau hamil?"Suara Zen bergetar. Kedua tangannya refleks menutupi mulut sendiri, seolah takut salah mendengar. Tatapannya membulat, lalu perlahan dipenuhi kilau yang selama ini tidak pernah Jasmine lihat. Mata pria itu bahkan mulai berkaca-kaca sebelum mendapatkan jawaban apa pun.Jasmine tersenyum tipis, meski senyum itu masih dipenuhi keraguan."Aku... berpikir begitu."Zen menatapnya tanpa berkedip."Soalnya..." Jasmine menundukkan pandangan sesaat, berusaha kembali mengingat tanggal yang tadi sempat ia hitung. "Aku sudah telat beberapa minggu."Kalimat itu belum benar-benar selesai ketika Zen langsung berdiri dari kursinya."Pelayan!" Suara pria itu menggema memenuhi rumah. Seorang pembantu segera berlari menghampiri ruang makan."Iya, Pak?""Tolong beli test pack." Zen berhenti sejenak, lalu menggeleng."Jangan satu. Belikan beberapa merek sekaligus.""Iya, Pak." Tanpa be
"Ayo sarapan dulu sebelum berangkat." Suara Zen terdengar lebih hangat daripada biasanya, suaminya bahkan sudah lebih dulu duduk di meja makan ketika Jasmine menuruni anak tangga rumah mereka. Di atas meja telah tersaji berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap panas. Ada bubur ayam, roti panggang, telur setengah matang, serta semangkuk buah yang sengaja disiapkan pelayan rumah. Jasmine sempat menghentikan langkahnya. Beberapa detik ia hanya memandangi pemandangan yang terasa asing itu. Biasanya, Zen sudah berangkat lebih dulu, atau kalaupun masih berada di rumah, mereka hanya saling menyapa sekadarnya sebelum sibuk dengan urusan masing-masing. Namun pagi ini berbeda. Zen bahkan menarikkan kursi untuknya. "Duduklah." Jasmine menurut tanpa banyak bicara. Seorang pelayan menuangkan segelas susu hangat ke hadapannya, sementara Zen mengambilkan semangkuk bubur dan meletakkannya perlahan di depan
"Belakangan ini, kau kenapa, Jasmine?" Pertanyaan itu hanya bergema di dalam kepala Zen.Mobil yang dikendarainya melaju tenang membelah jalan ibu kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala bergantian ketika senja perlahan berubah menjadi malam. Biasanya, jam-jam seperti ini ia masih berada di ruang rapat atau menghadiri makan malam bersama rekan bisnis. Namun beberapa hari terakhir, entah mengapa rasanya selalu ingin segera pulang.Sudah beberapa minggu sejak perjalanan mereka ke Bali berakhir. Sejak saat itu pula, ada sesuatu yang berubah pada istrinya. Perubahan yang awalnya dianggap sepele kini semakin jelas terlihat. Jasmine menjadi jauh lebih pendiam. Ia masih menjalankan pekerjaannya seperti biasa, masih menghadiri rapat, masih menyelesaikan berbagai urusan perusahaan, tetapi sorot matanya seolah kehilangan cahaya yang dulu selalu ada.Nafsu makannya pun ikut berubah. Perempuan yang biasanya mampu menghabiskan seporsi makanan kini hanya menyentuh beberapa suap sebelum meletakkan se
Uap dari kopi panas mengepul, di temani dengan sepiring pisang goreng yang di sajikan untuk Shen. Wanita itu kini sudah memakai pakaian yang lebih bersih, dengan wajah yang sedikit tenang dan rileks dari sebelumnya. Tubuhnya nampak kurus, dari beberapa Minggu lalu saat mengunjungi panti asuhan tersebut. Mereka duduk di halaman teras bangunan itu. "Isi dulu perut ibu dengan nyaman." tutur beliau pemilik panti asuhan. Shen tersenyum samar, bentuk kasih Tuhan yang benar-benar luar biasa padanya dengan mengirimkan orang sebaik ibu panti asuhan. "Terima kasih ya Bu, sudah mau menerima saya kembali." Perempuan itu tersenyum lembut. "Kami selalu membuka pintu untuk siapapun, termasuk Ibu. Sebab, anak ibu juga dulu pernah kami rawat di sini." Shen mengangguk, ia jadi teringat dengan putranya. Entahlah, sekarang bagaimana dirinya akan memulai semuanya? apakah ia akan melanjutkan lagi pencarian putranya atau membiarkan tubuhnya tenang lebih dulu. "Untuk masalah putra ibu, sebaikny
"Baiklah... aku mau." Suara Raiden terdengar pelan, tetapi cukup jelas di tengah kamar yang sunyi. Jasmine langsung menoleh. Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tulus terlihat di wajahnya. "Kau serius?" tanyanya memastikan. Raiden menelan ludah sebelum mengangguk pelan. "Aku akan beru
Jasmine menatap layar ponselnya sebentar sebelum berkata santai, "Nomor rekeningmu." Raiden masih belum sepenuhnya sadar. Dengan tangan gemetar, ia membuka aplikasi perbankan lalu menyerahkan ponselnya. Di sampingnya, pria bertubuh besar yang sejak tadi menagih utang ikut memperhatikan dengan cur
Saat orang-orang lain sibuk mengejar wanita kaya seperti Jasmine, dirinya malah ingin kabur. “Tidak,” ucapnya tegas. “Maaf, kau salah orang.” Tanpa memberi kesempatan Jasmine bicara lagi, Raiden segera berjalan keluar. Pintu kamar tertutup pelan. Menyisakan Jasmine yang hanya diam menatap keper
Jasmine duduk sendirian di sudut ruangan sambil menatap gelas di tangannya. Cairan berwarna keemasan di dalamnya sudah hampir habis, tetapi ia masih belum berniat pulang. Sorot matanya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Ia baru saja meninggalkan pesta perusahaan suaminya, Zen. Di mata b


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات