Chapter: 41. Malam yang bukan seharusnyaMalam harinya, suasana rumah terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya. Lampu kamar yang redup memantulkan bayangan lembut di dinding, sementara aroma skincare dan parfum mahal memenuhi udara.Zen masih sibuk dengan pekerjaannya sejak tadi. Pria itu baru masuk ketika Jasmine selesai merapikan rambutnya di depan cermin.Tanpa banyak bicara, Zen mendekat lalu mengecup kening istrinya sekilas sebelum duduk di tepi ranjang. Sikap sederhana itu justru membuat Jasmine diam beberapa detik."Kau wangi sekali," ujar Zen pelan sambil memperhatikan wajah istrinya.Jasmine tersenyum tipis melalui pantulan cermin."Aku memang selalu wangi. Kau saja yang jarang memperhatikanku."Zen menghela napas kecil. "Ya, aku terlalu sibuk."Kalimat itu terdengar biasa saja, tetapi bagi Jasmine, entah kenapa selalu terasa menyakitkan. Sibuk. Selalu sibuk. Seolah rumah tangga mereka hanya berjalan karena kewajiban, bukan karena rasa.Jasmine berjalan mendekati suaminya perlahan. Jemarinya menyentuh lengan pria
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: 40. Gairah yang tak tertahankanPria itu berdiri membelakangi dinding shower, satu tangannya terangkat menahan di sisi atas kaca, sementara napasnya terdengar berat bercampur suara air yang terus jatuh dari atas. Rambutnya basah, beberapa helai menempel di dahinya. Tatapannya turun perlahan pada Jasmine di hadapannya.Perempuan itu mendekat tanpa suara. Jemarinya menyentuh dada Raiden tersebut pelan, seolah merasakan detak jantung yang berdetak semakin cepat di balik kulit hangat yang basah oleh air. Rambut panjangnya ikut lembap, jatuh berantakan di bahu dan pipinya.Tidak ada kata-kata di antara mereka. Hanya tatapan yang saling mengunci di balik kabut embun pada kaca.Di sudut lain, telapak tangan Jasmine itu menempel pada dinding kaca yang mulai dipenuhi jejak air. Siluet tubuh mereka terlihat samar dari luar, hanya bayangan lembut yang bergerak perlahan di balik kabut shower. Suasana terasa sunyi, hangat, dan penuh ketegangan emosional yang sulit dijelaskan.Raiden menundukkan kepalanya sedikit, mendekat hingga
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: 39. Kau sedang menggodaku?"Kau sedang menggodaku ya?" suara Raiden terdengar rendah di tengah suasana apartemen yang mulai berubah hangat menjelang sore. Cahaya matahari dari balik jendela besar masuk perlahan, memantulkan warna keemasan di lantai marmer apartemen sederhana miliknya.Jasmine menoleh pelan, lalu mengedipkan sebelah matanya dengan jahil. Senyum tipis terukir di bibirnya, membuat Raiden semakin sulit mengendalikan diri."Menurutmu?" godanya lembut. "Apa kau tidak peka? Sejak di kantor aku sudah menggodamu."Raiden terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk Jasmine dari belakang. Tubuh wanita itu terasa hangat di pelukannya. Aroma parfum mahal yang Jasmine gunakan langsung memenuhi indra penciumannya, lembut dan menenangkan, sangat berbeda dengan aroma apartemen kecil miliknya yang biasa dipenuhi bau kopi instan dan pakaian laundry."Kau ini..." gumamnya lirih.Bibir Raiden menyentuh pelan leher Jasmine. Seketika perempuan itu meremang halus."Hm..." Jasmine mengerang kecil sambil menahan
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: 38. Bagaimana, jika kita lanjutkan yang di kantor?“Maaf, aku jadi mengingatkanmu pada luka lama.”Suara Jasmine terdengar lebih pelan dari biasanya. Perempuan itu duduk bersandar di sofa apartemen Raiden sambil menatap pria di depannya dengan rasa tidak enak hati. Sore mulai turun perlahan di luar jendela, cahaya matahari yang menguning masuk samar melalui tirai tipis, membuat ruangan kecil itu terasa hangat dan tenang.Raiden yang tadi sempat terdiam hanya tersenyum tipis. Senyum kecil yang selalu terlihat sederhana, tetapi entah mengapa mampu membuat hati Jasmine terasa nyaman.“Tidak apa-apa,” ujarnya pelan. “Semua orang punya kenangan di masa lalunya.”Kalimat itu terdengar ringan, tetapi mata Raiden menyimpan sesuatu yang lebih dalam.Ya... sebuah kenangan yang tak pernah bisa ia lupakan.Kenangan tentang masa kecil yang keras. Tentang dirinya yang dulu hanya anak kecil kurus di panti asuhan, terbiasa menahan lapar dan iri melihat anak-anak lain memiliki keluarga yang datang menjemput mereka pulang.Sedangkan dirinya?Tak pernah
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: 37. Sesuatu yang di tutupi“Kau yakin akan selalu membelaku?”Suara Jasmine terdengar pelan di tengah suasana sore yang mulai meredup. Cahaya matahari dari balik jendela apartemen jatuh samar ke lantai, menciptakan warna keemasan yang hangat di ruangan itu.Perempuan itu menatap Raiden dengan tenang.Tatapannya lembut, tetapi menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.Seolah-olah ia benar-benar ingin percaya.Raiden yang duduk di sampingnya membalas tatapan itu tanpa ragu sedikit pun.“Kupastikan.”Jawabannya sederhana.Namun keyakinan di wajah pria itu terasa begitu nyata.Tidak bercanda.Tidak main-main.Dan anehnya... hal kecil seperti itu justru membuat dada Jasmine menghangat perlahan.Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang berkata akan membelanya.Zen tidak pernah mengatakan hal seperti itu.Suaminya selalu sibuk.Selalu dingin.Selalu membuat Jasmine menghadapi semuanya sendirian.Sedangkan Raiden...Pemuda sederhana yang hidupnya bahkan jauh lebih sulit justru selalu mencoba membuat dirinya merasa ten
Last Updated: 2026-06-15
Chapter: 36. Aku yang akan membelamu..“Lucas...” panggil Hagia pelan.Suasana restoran mewah itu masih ramai di siang menuju sore hari. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela kaca besar, memantul hangat di atas meja marmer dan lantai mengilap. Beberapa pelayan berlalu lalang membawa hidangan mahal, sementara suara obrolan para pebisnis terdengar samar bercampur dentingan alat makan.Lucas yang duduk di seberangnya sambil bermain ponsel langsung mendongak sekilas.“Ada apa?” tanyanya.Hagia menggenggam jemarinya sendiri di bawah meja. Sejak tadi perempuan itu terlihat gelisah. Seharian penuh ia menemani Lucas bertemu dengan orang-orang penting yang membahas bisnis, investasi, dan kerja sama perusahaan yang bahkan sulit ia pahami.“Apa masih lama kita di sini?” tanya Hagia lirih.Nada suaranya terdengar lelah.Ia benar-benar tidak nyaman berada di lingkungan seperti ini. Semua terasa asing baginya. Cara berbicara mereka, pembahasan mereka, bahkan cara mereka memandang orang lain terasa berbeda.“Tunggu, mungkin lima
Last Updated: 2026-06-15