MasukSejak diputuskan karena dianggap membosankan dan tidak menarik, Kirana Prameswari bersumpah akan membuat mantannya menyesal. Caranya? Mendapatkan pacar yang jauh lebih baik. Targetnya pun tidak main-main—Adrian, CEO Arkana Group yang tampan, dingin, disiplin, dan anti berpacaran dengan karyawan. Di saat semua perempuan memilih menunggu, Kirana justru mengejar. Ia menggoda, merayu, bahkan terang-terangan mengumumkan bahwa Adrian adalah calon pacarnya. Sayangnya, pria itu sudah dijodohkan dengan perempuan pilihan keluarganya. Bisakah Kirana meluluhkan hati CEO yang super dingin itu? Ataukah keberaniannya justru berakhir dengan patah hati untuk kedua kalinya?
Lihat lebih banyak"Aku mau kita putus, pakaian kamu alay, aku malu kalau ketemu teman-temanku!"
Kalimat itu meluncur begitu saja, menghantam harga dirinya. Sejak diputuskan pacarnya hanya karena penampilan dan sikapnya yang di nilai berlebihan. Membuat perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu bertekad untuk membuat mantannya menyesal. Ia ingin menunjukan kepada Gerry bahwa, Kirana Prameswari yang ia kenal bisa mendapatkan pacar yang lebih baik. Pagi itu adalah hari pertamanya bekerja di Arkana Group. Perusahaan terbesar yang menjadi impian ribuan pencari kerja. Dan, di hari pertamanya, tujuannya selain bekerja juga menarik perhatian pria-pria di tempat itu, Kirana sangat ambisius untuk bisa mendapatkan pacar dalam waktu satu tahun. Saat ini, perempuan itu sedang berada di lobi perusahaan, dengan dipenuhi para manajer, kepala divisi, dan beberapa karyawan yang berdiri rapi membentuk dua barisan. "Hari ini ada acara apa?" bisik Kirana pelan. "Tidak ada," jawab pria HR. "Setiap pagi semua yang ada di lobi akan menyambut kedatangan Pak Adrian." "Oh." Kirana mengangguk kecil, bibirnya tersenyum penuh arti. Ia tahu pria itu, Adrian adalah CEO tampan, berkharisma dan dingin. Tapi, bagi Kirana justru itu adalah tantangannya, ia ingin mencoba menarik perhatian pemilik perusahaan Arkana group tersebut, dan mendapatkan hatinya, lalu setelah itu memamerkan kepada Gerry, bahwa dia bisa mendapatkan yang lebih daripada pria itu. Sambil menunggu, ia memperbaiki rambutnya yang di kuncir dengan pita hitam besar, gaya pakaiannya yang nyentrik menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan diam-diam melirik penampilannya. Terlihat mencolok daripada yang lain, dengan nuansa yang begitu ceria. Sangat tidak cocok dengan citra Arkana Group yang dikenal formal. Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Seketika suasana mendadak hening. Pintu mobil terbuka. Seorang pria bertubuh tinggi dengan aura maskulin yang kuat, turun dengan langkah tenang. Setelan jas hitam yang pas membungkus tubuh atletisnya membuat setiap gerakannya tampak berwibawa. Aura yang dimilikinya membuat seluruh lobi spontan menundukkan kepala. "Selamat pagi, Pak Adrian." "Selamat pagi, Pak." Kirana yang semula berdiri santai perlahan mengangkat kepala. Sontak, ia membeku, matanya langsung membulat, bibirnya terbuka sedikit. Cocok sekali, Adrian memang benar targetnya! "Ya ampun, ganteng banget.." Tanpa sadar ia menyenggol lengan HR. "Beliau namanya Pak Adrian, CEO di perusahaan ini. Saya pikir kamu sudah tau." Alih-alih menjawab pertanyaan pria HR, Kirana justru bertanya hal lain. "Udah punya pacar belum?" Sontak saja pria HR itu terkejut, "Hah? Kamu sadar gak kalau kamu baru masuk kerja?" tegur Pria HR dengan bisik-bisik. Kirana masih menatap Adrian tanpa berkedip, tak memperdulikan perkataan pria yang menerima lamarannya untuk menjadi bagian dari Arkana group. "Sadar kok Pak, siapa tau Pak Adrian jomblo saya bisa daftar jadi pacarnya!" Suara Kirana cukup keras, membuat suasana lobi langsung sunyi. Beberapa kepala menoleh bersamaan. Ada yang menahan tawa, juga mungkin ada yang sudah membayangkan surat pemecatan Kirana. Dan benar saja, seketika Adrian menghentikan langkahnya. Tatapannya beralih ke satu-satunya orang yang tidak menundukkan kepala. Siapa lagi jika bukan karyawan baru - Kirana. Alis Adrian berkerut tipis, merasa aneh dengan penampilan perempuan itu, semuanya bertolak belakang dengan standar profesional yang selama ini ia terapkan. Blazer hitam dan kaos pink di dalamnya, sepatu sneaker warna hijau menyala, belum lagi di rambutnya banyak jepit-jepit berbentuk bintang dan bunga. Aneh, sangat aneh. "Karyawan baru?" tanyanya dengan nada datar. Kirana langsung tersenyum lebar, tak menyangka ia yang akan di sapa duluan oleh pria itu. Jantungnya berdegup kencang. "Iya, Pak." "Nama?" "Kirana Prameswari." tuturtnya dengan malu-malu "Divisi?" Kirana tersenyum makin lebar. "Sekretaris." Adrian mengangguk singkat, tatapannya tetap dingin. "Sekretaris siapa?" "Bapak!" jawab Kirana kegirangan Tiba-tiba suasana menjadi hening, bahkan suara pendingin ruangan terasa lebih keras dari apapun. Pria itu langsung menoleh kearah pria HR. "Ini kandidat yang lolos seleksi?" nada bicaranya terdengar ragu. "I-Iya, Pak." Pria itu menunduk Pria tersebut tak berkomentar apapun, Meski begitu, tatapan Adrian kembali kepada Kirana, menatapnya dari atas hingga bawah. "Besok datang dengan penampilan yang sesuai aturan perusahaan." Bukannya gugup, Kirana malah salah fokus. "Ihhh bapak, perhatian banget sih!" Reaksi Kirana justru berbeda, wanita itu senyum-senyum sendiri. Adrian sedikit terkejut, tak menyangka dengan reaksi Kirana yang berlebihan. "Saya sedang menegur kamu." "Masa sih pak? tapi aku ngerasanya bapak perhatian deh sama aku.." Tidak ada suara apapun, benar-benar-benar hanya pendingin ruangan yang terdengar. Dan degub jantung para pekerja yang menanti Kirana di pecat sebelum benar-benar masuk ruangannya. "Not bad." Kirana bersuara lagi, senyumnya semakin lebar. "Berarti aku berhasil bikin Bapak notice!" Dan saat itu juga, raut wajah Adrian berubah. Merasa terganggu dengan sikap wanita tersebut, yang benar-benar tak punya malu. Bahkan ia belum pernah bertemu perempuan yang mengubah teguran menjadi pujian. Tanpa berkata apa-apa lagi, Adrian berbalik menuju lift. Belum sempat tubuhnya masuk. Kirana sedikit berteriak. "Pak." Adrian lalu berhenti. "Kalau aku nanti kerja bagus, boleh sekalian deketin Bapak nggak?" Lift langsung sunyi, sekretaris lama sampai menjatuhkan map. Adrian benar-benar speechless. Lalu hanya berkata dingin. "Jangan membuat masalah di hari pertama." Kirana mengangguk semangat. "Siap!" "Berarti kalau besok boleh?" ... Adrian menutup mata. Dia benar-benar merasa mendapat musibah, tanpa pikir panjang, ia langsung masuk dan lift akhirnya tertutup. Semua orang mengembuskan napas lega. Sementara Kirana langsung mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi catatan, lalu menulis dengan penuh semangat. Misi Menaklukkan Pak Adrian: Pak Adrian kenal aku. Pak Adrian ngomong panjang sama aku. Pak Adrian senyum. Pak Adrian ngajak ngobrol duluan. Jadi pacar Pak Adrian. Perempuan itu menceklis, bagian nomor satu. Kirana tersenyum puas. "Hari pertama lumayan, besok, bikin Pak Adrian ngomong panjang sama aku!" Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menatap pintu lift yang telah tertutup. "Tenang aja, Pak Adrian. Karena bapak ganteng, biar aku aja yang deketin bapak!" batin Kirana bersemangatKabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit kamar dengan wajah lesu. "Ah, gagal satu misi." Ia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi catatan yang berisi daftar misinya. Misi Menaklukkan Pak Adrian: Pak Adrian kenal aku. Pak Adrian ngomong panjang sama aku. Pak Adrian senyum. Pak Adrian ngajak ngobrol duluan. Jadi pacar Pak Adrian. Kirana menghembuskan napas panjang. "Yang senyum aja belum.. eh, malah muncul Clarissa." Bayangan perempuan cantik yang memeluk lengan Adrian sore tadi kembali terlintas. "Siapa, sih, dia?" gumamnya sambil mengerucutkan bibir. "Pacarnya? Tunangannya? Jangan-jangan istrinya? Ih... jangan serem-serem gitu, deh." Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, sebelum akhirnya duduk tegak di atas kasur. "Nggak bisa!" katanya sambil mengepalkan tangan. "Kalau aku keduluan, gimana mau pamer ke Gerry? Dia harus












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.