Pesona Anak Bos

Pesona Anak Bos

last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-07-29
โดย:  E Widiaอัปเดตเมื่อครู่นี้
ภาษา: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 คะแนน. 1 ทบทวน
19บท
65views
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

Menjadi karyawan baru di kantor yang menyatu dengan rumah sang atasan ternyata menyimpan daya pikat berbahaya yang siap menjungkirbalikkan hidup. Di sana, Widi, seorang gadis mandiri berusia 23 tahun, awalnya hanya ingin menjalani rutinitas kerja dengan tenang di bawah pengawasan Bu Ella yang dikenal tegas. Namun, fokusnya hancur berantakan saat ia terjerat hubungan asmara rahasia yang posesif dengan Yudo, anak kandung bosnya, di tengah intaian rekan kerja bernama Mas Eza serta ancaman teror misterius yang siap membongkar segalanya. Sanggupkah Widi mempertahankan cinta membara tersebut sebelum rahasia mereka sampai ke telinga Bu Ella dan menghancurkan seluruh pertahanan hidupnya?

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Pertemuan Tak Terduga

Layar ponsel di tangan Widi menyala, menampilkan angka 07:10. Jantungnya berdetak lebih keras dari alarm yang baru saja ia matikan. Di usia dua puluh tiga, dengan modal nekat merantau dan kamar kos petakan yang dindingnya setebal kertas, hari ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya.

"Kerja cuma Senin sampai Jumat, Wid. Suasananya enak." kata-kata teman lamanya terngiang lagi. Di tengah gempuran lowongan kerja enam hari dengan gaji di bawah UMR, tawaran ini bagai oase yang mustahil ia tolak.

Widi menatap bangunan di hadapannya. Sebuah rumah megah yang merangkap menjadi kantor penyedia suku cadang. Alih-alih bising oleh deru mesin, tempat itu justru dilingkupi keheningan.

Tangannya bergerak menekan tombol bel di pagar besi.

Tak lama, pintu utama terbuka. Seorang pria dengan kemeja rapi melangkah keluar. Senyumnya langsung merekah hangat saat membukakan pagar. "Cari siapa, Mbak?"

Widi mengerjap, refleks meremas tali tasnya. "Saya Widi, Mas. Hari ini mulai kerja di sini."

Pria itu mengangguk ramah, sepasang matanya menyiratkan keteduhan. "Oh, Mbak Widi. Mari masuk. Saya Eza."

Langkah Widi mengikuti Mas Eza. Begitu melewati ambang pintu, indra penciumannya langsung disambut aroma pekat kopi yang berpadu dengan wewangian kayu mahoni yang menenangkan.

Ruangan itu dipenuhi meja kayu kokoh dan deretan rak dokumen yang tersusun presisi. Mas Eza dengan cekatan mengambil alih tumpukan berkas tebal di pelukan Widi.

"Tenang saja, jangan tegang. Hari pertama kita pakai untuk adaptasi," ucap Mas Eza. Suaranya yang lembut seketika melonggarkan pundak Widi yang kaku.

Widi tersenyum santun. Dari dekat, ia bisa menangkap gurat kedewasaan di wajah Mas Eza yang tampaknya sudah menginjak kepala tiga. Ada kilat cincin kawin di jari manis pria itu saat ia menata berkas.

Bruk... bruk... bruk...

Bunyi hak sepatu dari arah tangga memecah obrolan mereka. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang anggun muncul di balik sudut.

"Ini Widi, ya?" Bu Ella melangkah mendekat.

Widi refleks menegakkan punggung. "Iya, Bu. Saya Widi."

"Saya Ella. Santai saja di sini, Non," Bu Ella mengulas senyum, namun sepasang matanya yang tajam seolah menuntut kepatuhan mutlak. "Kantor kita memang tidak besar, tapi saya ingin semua laporan tetap rapi dan teliti. Saya tidak mentolerir kesalahan fatal."

Bu Ella kemudian beralih menatap tangan kanannya. "Mas Eza, tolong siapkan manifes klien internasional kita yang kemarin. Biar Widi pelajari alurnya. Setelah itu, tolong urus berkas logistik di pelabuhan, ya."

"Baik, Bu," sahut Mas Eza sigap.

Dari interaksi singkat itu, Widi langsung tahu bahwa Mas Eza adalah denyut nadi tempat ini. Pria itu bukan sekadar staf administrasi, melainkan pemegang kendali operasional yang dipercaya penuh oleh Bu Ella.

Bu Ella mengajak Widi duduk di meja panjang, mulai menjabarkan alur administrasi dengan runut. Jemari Widi sibuk mencatat.

Namun, baru beberapa lembar halaman terisi, daun pintu depan yang setengah terbuka mendadak berderit kasar. Embusan angin fajar yang dingin menerobos masuk, mengacaukan kehangatan ruangan.

Bahu Mas Eza seketika menegak di dekat lemari arsip. "Mas Yudo," ucapnya dengan suara yang mendadak kaku.

Kalimat Bu Ella terhenti di udara.

Atmosfer ruangan seketika berubah. Udara yang tadi hangat mendadak terasa berat, seolah seluruh oksigen di ruang itu tersedot oleh sosok yang baru saja melangkah masuk.

Seorang pemuda bertubuh tinggi melangkah masuk. Kemeja putihnya digulung asal hingga siku, memperlihatkan urat lengan yang samar. Sebuah tas selempang hitam menggantung santai di bahunya, memberikan kesan acuh tak acuh.

"Mi, aku berangkat kuliah dulu," ucapnya santai, melompati seluruh sekat formalitas kantor.

Bu Ella seketika menghentikan penjelasannya. Wanita sepuh itu tersenyum hangat, aura dominasinya lenyap seketika. "Oh, sebentar. Kenalkan dulu, ini Widi, karyawan baru Mami."

Pandangan pemuda itu bergeser.

Dan Widi lupa cara bernapas.

Manik matanya yang pekat langsung mengunci Widi. Tatapan itu tidak ramah, tidak pula dingin. Tatapan itu... mengukur. Seolah ia sedang memindai Widi.

Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan kanan. Dari jarak sedekat ini, Widi bisa melihat garis rahangnya tegas dan sorot matanya memiliki ketegasan yang melompati usianya.

"Yudo," ucapnya singkat. Suaranya berat, rendah. "Semoga betah."

Widi mengulurkan tangan, menyambut telapak tangan yang jauh lebih besar dan hangat. Kulitnya sendiri terasa sedingin es akibat gugup.

"Widi… terima kasih, Kak Yudo," ucapnya, suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan.

Sudut bibir Yudo berkedut samar. 

"Panggil Yudo saja."

Widi menggeleng kaku dengan sopan santun yang canggung. "Enggak enak, Kak..."

Yudo tidak menyanggah.Ia menarik tangannya lalu berpamitan singkat pada ibunya, Yudo berbalik menuju pintu keluar. Namun, tepat di ambang pintu, langkahnya tertahan.

Ia menoleh sekilas. Melempar senyum tipis penuh teka-teki langsung ke arah Widi. 

Sebelum tubuh tingginya menghilang di balik pintu yang menutup dengan debuman halus.

Ruangan kembali ke suasana semula. Namun Widi tidak lagi sama.

Ia menunduk menatap buku catatannya, mencoba memfokuskan mata pada deretan angka yang mendadak buram di kepalanya. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia khawatir Mas Eza bisa mendengarnya. Tangannya yang memegang pulpen bergetar halus.

Di sudut ruangan, Mas Eza yang sedang menyusun berkas terkekeh pelan, memecah kecanggungan. "Mas Yudo memang begitu orangnya, Wid. Kelihatan dingin dan menjaga jarak di awal, tapi... jangan tertipu oleh penampilannya yang seperti mahasiswa biasa."

Widi hanya mengangguk pelan, mencoba menelan informasi itu.

Ia tidak pernah menduga, sapaan singkat barusan bukan sekadar sambutan.

Itu adalah ketukan pertama dari sebuah labirin.

Dan Widi baru saja menyadari, ia sudah terlambat untuk berbalik arah.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

ความคิดเห็น

MasTopik official 66
MasTopik official 66
layak di rekomendasikan
2026-07-30 01:12:48
0
0
19
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status