Takdir Tidak Pernah Keliru

Takdir Tidak Pernah Keliru

last updateLast Updated : 2026-07-10
By:  Erna AzuraUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
37views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Zyandru Gunadhya percaya bahwa suatu hari perempuan yang dicintainya akan kembali. Karena keyakinan itulah, ia bertahan… hingga sebuah wasiat mengubah seluruh jalan hidupnya. Di saat yang sama, Vimala Rinayu Amadhea kehilangan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Kepergian sang ayah bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga sebuah syarat yang memaksanya membuat keputusan paling sulit dalam hidupnya. Menikah dengan pria dari keluarga yang selama puluhan tahun menjadi rival terbesar keluarganya. Tak ada cinta di antara mereka. Hanya sebuah ikatan yang lahir dari keadaan. Namun ketika kebencian perlahan berubah menjadi kenyamanan, masa lalu justru kembali mengetuk pintu. Perempuan yang selama ini memenuhi hati Zyandru akhirnya pulang. Di antara janji yang pernah terucap, perasaan yang belum benar-benar usai, dan seseorang yang diam-diam mulai menjadi rumah… siapa yang akan dipilih oleh hati? Karena terkadang, yang paling kita cintai bukanlah yang akhirnya menggenggam tangan kita. Dan saat semua rahasia terungkap, mereka akan memahami satu hal… Takdir tidak pernah keliru.

View More

Chapter 1

Hari Ketika Segalanya Berubah

“Angka ini memalukan.”

Suara berat Wisnutama Natamanggala menggema memenuhi ruang rapat utama lantai empat puluh dua gedung MG Group.

Ruangan berkonsep modern dengan dinding kaca setinggi langit-langit itu mendadak terasa sesak. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Puluhan pasang mata hanya terpaku pada berkas laporan yang terbuka di hadapan masing-masing.

Di ujung meja oval sepanjang belasan meter, Wisnutama berdiri dengan kedua telapak tangan bertumpu kuat di atas meja. Tatapannya menyapu satu per satu jajaran direksi, para kepala divisi, hingga para department head yang duduk berjajar.

“Target semester pertama turun sebelas persen dari tahun lalu.” Suaranya semakin meninggi. “Sebelas persen! Apa kalian tahu artinya?”

Tak ada jawaban.

“Artinya kita kalah.”

Ia menepuk meja begitu keras hingga beberapa gelas berisi air bergetar.

“AG Group terus mengambil proyek luar negeri. Tender pemerintah yang biasanya menjadi langganan kita juga mulai berpindah. Sementara kalian…” Rahangnya mengeras. “…malah sibuk mencari alasan.”

Ruangan kembali sunyi.

Semua orang tahu satu hal.

Wisnutama Natamanggala adalah pemimpin yang keras, perfeksionis, sekaligus sangat menghargai hasil kerja. Selama puluhan tahun memimpin MG Group, ia hampir tidak pernah memberi ruang untuk kegagalan.

Tatapannya kemudian berhenti pada seorang pria berusia awal tiga puluhan yang duduk di sisi kanan meja.

“Robi.”

Pria itu spontan menegakkan badan.

“Pak.”

“Berdiri.”

Robi menurut.

Ia berusaha tetap tenang meski telapak tangannya mulai berkeringat.

“Laporan divisi pengembangan bisnis ada di tangan saya.” Wisnutama mengangkat sebuah map biru. “Jelaskan kenapa tiga calon klien asing membatalkan kerja sama.”

Robi menarik napas panjang.

“Pak… kondisi ekonomi global memang sedang kurang baik. Banyak investor menahan ekspansi sehingga—”

“Omong kosong.” Suara Wisnutama memotong begitu cepat.

“Investor tidak menahan ekspansi.”

Beliau melempar map itu ke arah Robi.

Map tersebut jatuh menghantam meja sebelum meluncur ke lantai.

“Investor memilih perusahaan yang lebih meyakinkan.”

Suasana rapat semakin menegang.

Robi memungut map itu dengan wajah memerah.

“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, Pak.”

“Kalau itu kemampuan maksimalmu…” Wisnutama menatap lurus ke matanya. “…berarti kemampuanmu memang tidak cukup.”

Kalimat itu menusuk harga diri Robi.

Namun ia memilih diam.

Di sudut ruangan, Burhan—sekretaris sekaligus tangan kanan Wisnutama selama lebih dari dua puluh tahun—menghela napas pelan.

Robi adalah putranya.

Dialah yang meminta Wisnutama memberi kesempatan kepada Robi menjabat sebagai salah satu department head. Selama ini ia selalu yakin putranya hanya membutuhkan waktu untuk berkembang.

Sayangnya…

Hasil kerja Robi memang belum pernah benar-benar memuaskan.

“Pak,” Burhan akhirnya angkat bicara dengan hati-hati, “mungkin Robi masih membutuhkan pendampingan. Saya yakin—”

“Saya tidak sedang menilai keyakinanmu.” Wisnutama bahkan tidak menoleh. “Saya menilai hasil.”

Burhan kembali terdiam. Ia mengepalkan tangan di bawah meja.

“Sebuah perusahaan sebesar MG Group tidak dibangun dari belas kasihan.” Wisnutama kembali menatap seluruh peserta rapat. “Kalau ada yang tidak mampu bekerja, pintu keluar ada di belakang.”

Ucapan itu membuat beberapa orang saling berpandangan.

Tak ada yang berani bersuara.

Wisnutama berjalan perlahan mengelilingi meja rapat.

“Semester kedua harus jauh lebih baik.”

Langkahnya terhenti.

“Kita sedang mengejar tender jangka panjang dari Swiss.”

Semua kepala kembali terangkat.

Tender itu bernilai fantastis.

Siapa pun yang memenangkannya akan menguasai pasar internasional selama bertahun-tahun.

“Kalau proyek itu jatuh ke tangan AG Group…” Wisnutama menatap tajam seluruh bawahannya. “…kita akan kehilangan lebih dari sekadar keuntungan.” Ia menarik napas. “Kita kehilangan posisi.”

Ruangan kembali senyap.

Tiba-tiba Wisnutama merasakan sesuatu yang aneh.

Napasnya menjadi lebih pendek.

Tangannya perlahan menyentuh dada sebelah kiri.

Rasa nyeri itu datang begitu cepat.

Awalnya hanya seperti tertusuk jarum.

Lalu berubah menjadi remasan yang semakin kuat.

Dahinya mulai dipenuhi butiran keringat.

Burhan yang berdiri paling dekat langsung menyadarinya.

“Pak…?”

Wisnutama mengangkat tangan, memberi isyarat bahwa dirinya masih baik-baik saja.

Namun beberapa detik kemudian…

Rasa sakit itu menjalar hingga ke bahu dan lengan kirinya.

Pandangan matanya mulai berkunang-kunang.

Jantungnya seolah diremas tanpa ampun.

Bruk!

Tubuh tinggi itu roboh menghantam lantai.

“PAK WISNU!”

Ruang rapat yang semula sunyi mendadak kacau.

Beberapa orang berlari menghampiri.

“Ambulans!”

“Panggil dokter!”

“Pak Wisnu!”

Burhan berlutut di samping tubuh atasannya yang sudah tak sadarkan diri.

“Wisnu! Wisnu!”

Tak ada jawaban.

***

Suara sirene ambulans memecah lalu lintas Jakarta.

Di dalam ambulans, tim medis terus melakukan resusitasi.

“Tekanan turun!”

“Defibrillator!”

“Satu… dua… tiga!”

Tubuh Wisnutama terangkat sesaat akibat sengatan listrik.

Namun monitor kembali menunjukkan garis yang mengkhawatirkan.

Burhan yang duduk di sudut ambulans hanya mampu menggenggam kedua tangannya erat.

Berkali-kali ia berdoa dalam hati.

Jangan sampai terjadi.

Jangan hari ini.

Sementara itu…

Dentuman musik elektronik memenuhi sebuah klub eksklusif di kawasan Sudirman.

Lampu warna-warni berputar tanpa henti.

Puluhan anak muda menari menikmati malam.

Di tengah keramaian, seorang perempuan bergaun hitam berkilau tertawa lepas sambil mengangkat gelas minumannya.

Vimala Rinayu Amadhea.

Putri tunggal pemilik MG Group.

Di sampingnya berdiri tiga sahabat yang sejak kuliah selalu menemaninya.

Anindya.

Keisha.

Dan Marvelle.

Mereka tertawa, bernyanyi, lalu kembali larut dalam irama musik.

Tak jauh dari meja mereka, ponsel Vimala terus bergetar.

Satu panggilan.

Dua panggilan.

Tiga panggilan.

“Vim…”

Anindya mengambil ponsel itu.

“Om Burhan telepon terus.”

Vimala hanya melambaikan tangan.

“Nanti aja…”

“Ini sudah empat kali.” Anindya memberitahu.

“Ah… paling nyuruh gue balik.”

Keisha ikut melirik layar ponsel. “Masih jam segini?”

Marvelle mengernyit. “Angkat dulu deh.”

Dengan malas-malasan, Vimala menerima ponselnya lalu berjalan keluar dari lantai dansa.

“Ada apa sih, Om? Vimala lagi—”

Suara Burhan terdengar bergetar. “Mala…”

Hanya satu kata itu saja membuat senyum Vimala perlahan menghilang.

“Papa kamu…”

Jantung Vimala mendadak berdegup lebih cepat. “…kenapa sama Papa?”

Burhan terdiam beberapa detik.

Lalu dengan suara yang nyaris pecah, ia berkata. “Pak Wisnu sudah tidak ada.”

Dunia seakan berhenti berputar.

“…Om? Papa meninggal.”

Hening.

Tak ada suara.

Tak ada tarikan napas.

Ponsel di tangan Vimala perlahan melorot.

“W-Wah… jangan bercanda…” Tangannya mulai gemetar. “Om bohong, kan?”

“Mala … segera ke Rumah Sakit.”

Panggilan itu berakhir.

Vimala masih berdiri mematung.

Matanya kosong.

Tubuhnya terasa dingin.

“Vim?” Anindya berlari menghampirinya. “Kamu kenapa?”

Vimala menatap ketiga sahabatnya dengan bibir bergetar.

“Bokap gue…” Air matanya jatuh begitu saja. “Bokap gue meninggal…”

Ketiga sahabatnya langsung terdiam.

“Enggak mungkin…,” gumam Keisha.

“Kita ke rumah sakit sekarang!” ujar Marvelle tegas.

Sepanjang perjalanan, tak seorang pun berbicara.

Vimala terus menggeleng pelan.

“Papa janji minggu depan mau makan malam sama gue…”

“Sore tadi Papa masih kirim pesan…”

“Papa sehat…”

“Papa enggak mungkin pergi…”

Kalimat-kalimat itu terus keluar di sela isak tangisnya.

Tak ada yang sanggup menyela.

Sesampainya di rumah sakit, Vimala bahkan belum sempat menunggu mobil berhenti bergerak.

Ia berlari sekencang mungkin menuju instalasi gawat darurat.

“Papa!”

Suara langkahnya menggema di lorong rumah sakit.

“Papa!”

Burhan yang berdiri di depan sebuah bilik yang ditutup tirai hanya mampu menundukkan kepala.

Tatapan mereka bertemu.

Dan dari sorot mata pria tua itu, Vimala mendapatkan jawaban yang paling ingin ia bantah.

Dengan langkah gemetar, ia menyibak tirai.

Di dalam sana, tubuh ayahnya telah terbujur kaku.

Seluruh tubuhnya tertutup kain putih.

Hanya wajahnya yang masih terlihat.

Begitu tenang.

Begitu damai.

Seolah hanya sedang tidur.

“Papa…” Suara Vimala nyaris tak terdengar.

Ia mendekat perlahan.

Tangannya yang gemetar menyentuh pipi sang ayah.

Dingin.

Tidak ada lagi kehangatan yang selama ini selalu menyambutnya.

Tidak ada lagi senyum yang selalu memanjakannya.

Tidak ada lagi suara yang memanggilnya dengan penuh kasih.

“Papa…” Dadanya sesak.

Lututnya tak lagi mampu menopang tubuhnya.

Ia jatuh berlutut di samping ranjang jenazah.

“Papa… bangun .…” Tangannya mengguncang pelan lengan sang ayah.

“Papa… jangan tidur…”

Tak ada jawaban.

“Papa… Mala pulang…” Isaknya pecah.

“Papa katanya mau nemenin Mala belanja bulan depan ke Paris .…”

“Papa katanya mau liburan sama Mala…”

“Papa janji enggak akan ninggalin Mala sendiri .…”

Tangisnya berubah menjadi jeritan pilu yang memenuhi ruangan.

“Papa…!” Air mata mengalir tanpa henti.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Vimala menyadari bahwa sebesar apa pun kekayaan yang dimiliki keluarganya, tidak ada satu rupiah pun yang mampu membeli satu detik tambahan bersama orang yang paling ia cintai.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status