LOGINSabiya mencintai Roman dengan seluruh hidupnya. Selama tiga tahun pernikahan, ia tidak pernah diajak Roman menghadiri acara publik. Namun, Sabiya tidak pernah merajuk. Ia percaya pada alasan suaminya bahwa dunia mafia terlalu kejam, bahwa Roman hanya ingin melindunginya dari orang jahat. Hingga pada malam itu, ketika Roman diangkat sebagai pemimpin keluarga Valeriano, sebuah perayaan digelar. Untuk pertama kalinya Sabiya datang dengan harapan sederhana. Memberi kejutan bahwa ia sudah bisa bicara, bahwa ia tidak lagi menjadi wanita bisu yang memalukan. Namun, yang ia dengar justru menghancurkan segalanya. Dari balik pintu, Sabiya menyaksikan Roman menyematkan seuntai kalung berlian ke leher Clara— kakak perempuannya sendiri. Di hadapan teman-temannya, Roman mengakui sebuah kebenaran yang menyakitkan. Pernikahannya dengan Sabiya hanya sandiwara. Kasih sayangnya semu. Dan, satu-satunya wanita yang ia cintai adalah Clara. Saat itu juga… hati Sabiya benar-benar mati. Tak berselang lama, sebuah kapal terbakar dan tenggelam di tengah laut. Sabiya dinyatakan tewas, tetapi Roman tidak mau menerima kenyataan itu. Ia mencari Sabiya ke seluruh penjuru kota. Tak peduli bila orang-orang menganggapnya sudah gila. Lima tahun kemudian, seorang wanita cantik muncul di tengah pesta pengusaha ibu kota. Ia bersinar sangat terang, hingga membuat Roman kesulitan menghela napas. Roman pun berlutut, memohon agar istri yang ia rindukan kembali padanya. Namun, Sabiya tak ingin dicintai lagi. Bahkan, anak lelaki tampan yang berdiri di sisinya, mengusir Roman dengan tatapan dingin. “Minggir, Paman! Kalau Papa lihat Mama diganggu, Paman pasti akan dipukul habis-habisan!”
View MoreDalam detik-detik yang menegangkan itu, Sabiya menahan napas. Ia sudah bersiap memotong pembicaraan, sebelum Nina bertanya lebih jauh. Namun, sebelum sepatah kata keluar dari bibir Sabiya, Altair tiba-tiba menolehkan pandangan. Bocah kecil itu menatap perempuan dewasa di sampingnya tanpa ekspresi. "Kalau Tante mau tahu, aku bisa menelepon Papa sekarang lewat video call,” ucap Altair. Jemari kecilnya bergerak menyentuh ritsleting ransel, seakan hendak bersiap mengeluarkan gawai."Tante bisa melihat sendiri di layar, apa warna mata Papa sama denganku."Mendengar tawaran dari Altair, wajah Nina berubah panik. Bagaimanapun, menelepon suami atasannya di pagi hari akan terlihat sangat tidak sopan dan melewati batas profesional kerja."Ah... tidak, tidak usah, Sayang. Tidak perlu sampai menelepon papamu," sahut Nina dengan tawa canggung yang dipaksakan. Wanita angkuh itu buru-buru memundurkan tubuhnya dan bersandar pada jok mobil . Keberanian dan ketenangan bocah lima tahun sukses mengunc
Tanpa menunda lagi, Sabiya membasuh seluruh tubuhnya dengan air hangat. Proses persiapan dirinya menyita waktu sekitar tiga puluh menit. Setelah memastikan tidak ada dokumen kantor yang tertinggal di atas meja rias, Sabiya meninggalkan kamar dengan tergesa-gesa. Ia berniat membangunkan Altair agar mereka tidak terlambat menuju bandara.Namun, begitu kakinya melewati ambang pintu kamar si kembar, Sabiya menghentikan langkah. Sudut bibirnya mengulas senyum yang dipenuhi rasa bangga.Di atas karpet, Altair sudah berdiri tegak dengan wajah segar.Bocah kecil itu kelihatan tampan dalam balutan kemeja berwarna merah serta celana panjang yang pas di tubuh mungilnya. Sementara di kedua bahu kecilnya, sudah bertengger ransel hitam yang dipenuhi buku ensiklopedia. Di samping Altair, Ares duduk bersila sambil mengucek matanya yang mengantuk. Berbeda dengan sang kembaran, Ares masih mengenakan piyama tidur bergambar dinosaurus yang tampak berantakan. Sabiya berjalan mendekat, lalu berlutut di
Jetro perlahan menjauhkan wajahnya, memutus kehangatan yang sempat tercipta di antara bilah bibir mereka. Dalam sekejap, tercipta jarak yang terasa dingin dan canggung. Dengan napas tersengal, Sabiya menghirup oksigen dalam-dalam untuk mengisi kekosongan paru-parunya. "Maaf," ucap Jetro serak. Ada gurat penyesalan yang terukir di wajah tampannya. "Aku sudah melanggar batas yang kubuat sendiri."Sabiya refleks meraba permukaan bibirnya sendiri yang sedikit bengkak. Ia masih merasakan jejak basah yang baru saja ditinggalkan oleh ciuman Jetro. "Kak... kenapa kau menciumku?" tanya Sabiya berusaha meredam gejolak dalam dadanya.Jetro mengembuskan napas pendek melalui hidung. Tampak jelas bahwa ia sedang berjuang untuk melawan dirinya sendiri."Tadinya, aku hanya ingin menggantikan posisi ayahmu sebagai pelindung," ujar Jetro memecah keheningan. "Karena alasan itu pula, aku membiarkanmu menikah dengan Roman. Aku mengira bajingan itu bisa membuatmu bahagia."Jetro menjeda kalimatnya seje
Pertanyaan Sabiya lolos dari tenggorokannya serupa bisikan lirih.Perlahan, jemarinya yang dingin bergerak naik, menyentuh permukaan berlian yang melingkar pas di atas tulang selangka. Sensasi logam mulia itu terasa begitu nyata, bukti bahwa ia tidak sedang bermimpi.Jetro tidak segera menarik tangannya. Ibu jarinya sempat mengusap tengkuk Sabiya sekali lagi, sebelum ia bergeser mundur."Apa aku tidak boleh memberi hadiah pada istriku sendiri?" sahut Jetro dengan tatapan posesif. Sabiya terkesiap. Hari ini sudah kedua kalinya Jetro bersikap di luar kebiasaan.Tadi pagi, di depan meja makan, pria itu dengan penuh penegasan menyebut Altair dan Ares sebagai anaknya. Sekarang, dengan ketenangan yang misterius, Jetro menyatakan dirinya sebagai seorang istri.Walau secara hukum status pernikahan mereka memang sah, tetapi hubungan itu tidak lebih dari sekadar deretan tinta hitam di lembaran kertas. Pernikahan mereka terjadi karena kemurahan hati Jetro Falcone, yang bersedia memberikan perlin
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
H-3....Sabiya sudah terbangun sejak mentari belum sepenuhnya benderang. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan jiwanya diselimuti ketenangan.Walau Roman tidak pulang semalaman, kenyataan tersebut tidak mengganggu Sabiya sama sekali. Hingga detik ini, Roman juga tidak mengirimkan pesan teks maupun
Di depan kamar perawatan VIP nomor 501, dua orang pengawal bertubuh tegap nampak berdiri siaga.Namun, selang beberapa menit, mereka menyingkir penuh hormat saat melihat sosok pria yang datang. Dia adalah Roman Valeriano, bos mereka.Dengan langkah tergesa-gesa, Roman membuka pintu kamar VIP itu ta
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore