LOGINRatri Kirana tak pernah menginginkan ini. Mereka menikahkannya dengan pembunuh kakaknya sendiri. Ratri semula percaya hal itu, sampai mereka menikah, pria yang ditemuinya berbeda dengan rumor. Akhirnya Ratri harus memilih: membenci pria itu dan membalas dendam atau percaya pada cintanya.
View MoreRatri ngotot ikut pas Wira buru-buru jalan ke arah kediaman Ki Bramantyo, meski beberapa penjaga sempat nyoba nahan dia di belakang."Aku ikut," Ratri bilang tegas, nggak ngasih ruang buat dibantah. "Dia kenalan pertama aku di sini. Aku berhak tau dia baik-baik aja apa nggak."Wira nggak sempet ngeyel, cuma ngangguk cepet dan biarin Ratri jalan di sampingnya.Sesampenya di ruang catatan Ki Bramantyo, suasananya udah kacau. Beberapa gulungan berserakan di lantai, meja kebalik, dan Ki Bramantyo sendiri lagi dibaringin di ranjang kecil di sudut ruangan, kepalanya diperban, wajahnya pucat banget.Tabib istana lagi meriksa denyut nadinya. "Beliau cuma pingsan, Jenderal. Ada benturan di kepala, tapi nggak parah. Mungkin sejam lagi udah sadar."Wira ngangguk, matanya nyapu ruangan yang berantakan itu. "Ada yang tau siapa pelakunya?""Belum, Jenderal," jawab salah satu penjaga. "Nggak ada saksi. Kami cuma nemuin beliau kayak gini pas rutin patroli."Ratri natap ke arah meja yang berantakan, k
Ratri buru-buru nyalain lilin di meja deket ranjang, tangannya sedikit gemeteran. Ketukan itu kedengeran lagi, kali ini lebih pelan, kayak orangnya juga waspada.Dia deketin jendela hati-hati, jantungnya berdegup kenceng banget. Begitu dia buka tirai dikit, yang keliatan cuma bayangan gelap yang buru-buru ngelompat turun dari atap paviliun sebelah, terus ilang di balik kegelapan taman."Ada apa?" suara Wira dari pintu, udah setengah lari, pedang di tangan. Ternyata kamarnya emang deket, dan dia denger suara berisik dari kamar Ratri."Ada... ada orang di jendela," Ratri jawab, suaranya masih gemeteran. "Aku liat bayangan, tapi keburu kabur."Wira langsung ke jendela, natap ke arah taman gelap di bawah. Nggak ada apa-apa lagi di situ, cuma daun-daun yang bergoyang ketiup angin."Tunggu di sini," katanya tegas, terus keluar manggil beberapa penjaga.Malam itu penjagaan diperketat di seluruh kompleks kediaman. Wira sendiri yang mimpin pengecekan sampai subuh, meski nggak ketemu apa-apa se
"Nggak lama," Ratri jawab cepet, kelewat cepet buat kedengeran meyakinkan. "Baru mau lewat aja, mau ke ruang makan."Wira natapnya lama, kayak lagi nimbang mau percaya apa nggak. Tapi akhirnya dia cuma ngangguk pelan, ngelangkah minggir dari pintu."Kalau gitu, ayo," katanya, suaranya udah balik netral kayak biasa. "Makan malam udah siap."Di belakangnya, Kapten Segara masih berdiri kaku, buru-buru ngangguk hormat ke arah Ratri sebelum ngeloyor pergi lewat pintu satunya, jelas pengen ngindarin situasi canggung itu secepat mungkin.Ratri jalan di samping Wira menuju ruang makan, tapi kepalanya masih penuh sama potongan-potongan obrolan yang baru aja dia denger. Catatan itu. Jangan sampai dia tau. Belum saatnya.Ruang makan malam itu udah ditata rapi, lilin-lilin kecil nyala di sepanjang meja panjang, meski cuma mereka berdua yang bakal makan di situ. Bi Rahayu udah nyiapin beberapa hidangan, uapnya masih ngepul, aroma rempah-rempah khas Cakrawijaya yang belum pernah Ratri cium sebelumn
Ratri jalan balik ke kamarnya sendirian, soalnya dia nolak ditemenin sama Ki Bramantyo yang keliatan masih gugup abis kejadian tadi.Sepanjang jalan, dia berusaha nyusun ulang kejadian di kepalanya. Kenapa ada nama Arya di catatan Ki Bramantyo? Kenapa lelaki tua itu segitu takutnya sampai nutupin gulungan itu buru-buru? Dan kenapa dia bilang harus Wira sendiri yang cerita, bukan dia?Kepalanya penuh. Satu kata doang, "Arya", tapi cukup buat bikin seluruh badannya kerasa dingin.Dia nyampe di kamar, duduk di tepi ranjang yang masih asing, terus natap ke luar jendela tanpa bener-bener liat apa-apa.Pikirannya malah melayang jauh, balik ke Wilatikta, ke masa sebelum semua ini kejadian.Dulu, sebelum perang, rumah mereka selalu rame. Arya paling seneng ganggu Ratri pas lagi nyulam, sengaja narik-narik benangnya sampai kusut cuma buat liat Ratri ngambek."Kang, serius deh, ini udah yang ketiga kali!" Ratri pernah protes, sambil ngelempar bantal ke arah kakaknya.Arya cuma ketawa, nangkep b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews