Se connecter(Mature Content 21+) Menyandang status janda yang mewarisi rumah besar di kampung membuat Bening selalu jadi bahan gunjingan warga. Namun, semua berubah sejak Banyu, lurah baru dari kota terpaksa menumpang di paviliun rumahnya karena rumah dinas desa dalam perbaikan. Semua makin rumit saat Banyu mengetahui Bening dijadikan bahan taruhan oleh para pemuda desa. "Mas Banyu, tolong mundur sedikit. Kalau ada warga yang lewat, nanti bisa salah paham," tegur Bening lirih. Banyu tidak beranjak dari posisinya. "Biarkan mereka lihat. Saya tidak peduli dengan omongan orang di luar sana. Selama saya tinggal di sini, kamu jadi tanggung jawab saya."
Voir plus"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hatinya mencelos.
“Iya, Ning. Kan kamu janda. Kali aja kamu berniat cari lagi yang lebih muda dan seger, ya kan, Bu?” sahut seorang tetangga dari balik pagar bambu, suaranya dibumbui tawa renyah yang terdengar sangat menghina.
Seminggu lalu, Bu RT dan Mira, kakak ipar dari almarhum suaminya sengaja datang memperingatkan Bening bahwa Lurah yang baru akan tinggal sementara di paviliun belakang rumahnya karena rumah dinas masih diperbaiki.
Alih-alih sekadar memberi informasi, mereka justru berulang kali menyindir agar Bening tidak mencoba menggoda sang Lurah.
“Pantesan dari tadi dandannya rapi. Mau memancing ikan di air keruh, ya?” timpal yang lain, diikuti gelak tawa kelompok ibu-ibu yang sedang mencuci piring di sungai kecil depan rumah Bening.
Padahal, alasan Bening membeli daster ini yang lebih panjang hari ini murni untuk menghormati keberadaan Lurah baru sebagai tamu di rumahnya, bukan karena ingin bertingkah gatal seperti dituduhkan Mira.
Sudah tiga ratus enam puluh lima hari sejak suaminya—yang menjadikannya istri ketiga lewat perjodohan—meninggal dunia.
Namun, bagi warga desa, label janda itu seperti noda.
Mereka selalu mengaitkan setiap langkahnya dengan hal-hal yang tidak senonoh, seolah-olah menjadi janda adalah kesalahan miliknya.
Mira yang sedari tadi memperhatikan dari teras, menyilangkan tangan di dada dengan angkuh. "Dengar itu, Ning? Jangan sampai kamu bikin malu keluarga almarhum suami saya. Kamu itu cuma numpang hidup dari warisannya, jangan berlagak seperti perempuan yang mencari jodoh."
Bening hanya menunduk, meremas kain daster batiknya hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kata yang dilemparkan warga seperti duri yang masuk ke bawah kulitnya.
Dia sudah terbiasa dengan cemoohan itu.
Baginya, rumah besar yang ia tinggali hanyalah sebuah penjara emas, tempat ia dipandang sebelah mata oleh keluarga besar almarhum suaminya yang merasa berhak mengatur setiap detik napasnya.
Warga desa selalu berbisik jika ia melintas, menyebutnya pembawa sial, meski dialah satu-satunya yang merawat kebun dan rumah besar itu sendirian tanpa bantuan siapa pun.
"Jangan genit ya, Ning!" teriak Mira dari balik pagar rumah. Istri dari kakak almarhum suaminya itu berjalan mendekat dengan wajah ditekuk.
"Ingat, tugasmu cuma melayani Pak Lurah sampai rumah dinasnya selesai diperbaiki. Jangan berani-berani cari muka, apalagi menarik perhatiannya.”
"Bening cuma mau menjalankan kesepakatan, Mbak," jawab Bening pelan, nyaris tak terdengar.
"Kesepakatan apa? Halah, semua orang tahu kalau keluarga kamu cuma benalu yang beruntung dapat warisan." Mira meludah ke samping, ekspresinya penuh kebencian.
Beruntung? Siapa yang beruntung dengan yang tersisa adalah label janda? Bahkan setelah perjodohan itu ayah dan ibunya ikut menyusul suaminya.
Bagian mana ia harus merasa pantas beruntung?
Wanita itu melangkah mendekat, jemarinya yang kasar mencengkeram lengan Bening.
"Ingat ya, kamu menikah dengan keluarga saya udah naikin martabat kamu. Jangan mimpi bisa mendapatkan pria seperti Pak Lurah. Dia itu orang kota yang berpendidikan, sedangkan kamu?“
Bening menunduk, meremas jemarinya yang dingin.
“Kamu bahkan cuma lulusan SMA, kan?” imbuhnya sambil tertawa.
Deg.
Tiba-tiba, suara raungan mesin mobil memberhentikan cemoohan Mira. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan gerbang, menepi dengan tenang di tengah debu yang beterbangan.
Ibu-ibu di kerumunan itu langsung terdiam, mata mereka membelalak mobil sedan yang terparkir di desa yang gersang.
Mereka menahan napas, seolah kehadiran mobil itu adalah sebuah peristiwa besar yang akan mengubah tatanan hidup mereka yang membosankan.
Saat pintu terbuka. Pria itu keluar. Ia mengenakan kemeja biru dongker dengan lengan digulung, memperlihatkan pergelangan tangan yang kokoh. Tubuhnya tinggi tegap, jauh lebih impresif daripada pria-pria desa yang biasa Bening lihat.
Kulitnya kecoklatan matang, kontras dengan rahang tegas yang menyiratkan wibawa absolut.
Pria itu tampak seperti penguasa yang turun dari kota.
Mira yang sedetik lalu sibuk memaki, langsung mengubah wajahnya menjadi senyuman paling manis. Dia berlari kecil menghampiri pria itu, tidak peduli pada martabatnya sendiri.
"Selamat datang, Pak Lurah! Saya Mira, yang sudah menyiapkan paviliun untuk Bapak. Ini adik ipar saya, yang akan membantu kebutuhan Bapak selama di sini." Mira menunjuk Bening dengan penuh penekanan, seolah sedang memamerkan barang dagangan yang rusak.
“Namanya Bening. Tapi hati-hati ya, Pak. Soalnya dia janda." ucap Mira dengan penekanan yang sengaja dikeraskan.
Batin Bening jengah.
Dadanya terasa sesak, namun ia hanya bisa menunduk, tak berani mengeluarkan sanggahan.
“Kalau wanita itu menggoda bapak, jangan segan untuk ngomong ya, Pak.”
Bening baru maju selangkah namun Mira masih menambah-nambahkan dirinya.
Bahunya terasa kaku. Dia bisa merasakan tatapan menghina dari kerumunan warga yang kini berbisik lebih keras.
Dia ingin sekali berlari, bersembunyi di balik dinding rumah, dan menutup telinganya rapat-rapat. Dia merasa tidak berdaya di bawah tatapan mata orang-orang yang menganggapnya sebagai aib yang harus dikucilkan.
Mira mendekat ke samping telinga Bening, suaranya berdesis pelan, "Ingat apa yang saya bilang tadi, Ning. Jangan macam-macam kalau nggak mau diusir dari rumah ini."
Setelah membisikkan ancaman itu, Mira segera memutar tubuh. "Pak Lurah, saya ada urusan mendadak di kantor desa, biar Bening saja yang menunjukkan paviliunnya. Saya permisi dulu, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Mira melenggang pergi, meninggalkan Bening sendirian di bawah pengawasan tajam warga desa. Pria itu tidak menoleh pada Mira yang menjauh. Matanya justru terkunci pada Bening.
Pria itu melangkah mendekat. Ia mengulurkan telapak tangannya.
"Mbak Bening. Saya Banyu Biru," ucapnya mengulurkan tangan. “Salam kenal. Semoga bisa bekerja sama dengan baik.”
Bening ragu menyambut uluran tangan itu.
Kulit Banyu terasa hangat dan sedikit kasar, menghantarkan desiran aneh yang membuat bulu kuduk Bening meremang seketika.
Rasanya seperti ada aliran listrik yang merambat dari jemarinya, naik hingga ke nadi, lalu berhenti tepat di jantung Bening. Pria itu....
Setelah setahun hidup sebagai janda, hanya saat ini Bening berharap dirinya bukan janda.
"Ning, dapat pesan dari Mbak Mira. Katanya kamu disuruh langsung ke rumah mertuamu!" tegur seorang ibu tetangga yang kebetulan sedang melintas di halaman saat Bening turun dari mobil dinas Banyu.Ibu itu kemudian mengangguk sopan menyapa Banyu sebelum melanjutkan langkahnya. Bening hanya bisa mengangguk pasrah dengan senyum tipis yang dipaksakan."Mas... saya langsung ke sana, ya?" pamit Bening, menatap Banyu dengan binar mata yang masih redup."Mau saya antar?" tawar Banyu cepat."Sebaiknya jangan, Mas. Nanti malah jadi salah paham lagi." Bening membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah."Mbak Bening..." panggil Banyu pelan namun tegas.Langkah Bening terhenti. Dia kembali berbalik dan mendapati Banyu sedang menatapnya lekat, seolah ada dinding besar yang menahan pria itu untuk mengatakan sesuatu yang lebih dalam."Mbak Bening harus melawan. Jangan mau dimanfaatkan," ucap Banyu serius. "Saya akan bantu Mbak Bening kalau mereka macam-macam."Dada Bening seketika berdesir hangat. ‘Apaka
"Mas Banyu, terima kasih banyak sudah menolong saya lagi..." ucap Bening akhirnya dengan kepala tertunduk dalam. Jari-jarinya bergerak gelisah, meremas-remas ujung tunik barunya. "Mas Banyu tadi mau belanja apa? Biar saya antar cari tokonya."Pertanyaan itu meluncur pelan, setelah Mira dan Darto meninggalkan mereka. Banyu menatap wanita di hadapannya, lalu tersentak kecil sebelum tersenyum samar. Andai saja Bening tahu bahwa dia tidak sedang mencari barang apa pun, melainkan berkendara dengan kalap membelah jalanan hanya untuk mencarinya, bagaimana reaksi wanita itu? Tapi, Banyu memilih menyimpan kenyataan itu rapat-rapat. Biarlah Bening percaya bahwa pertemuan mereka murni sebuah kebetulan yang menyelamatkan."Mm... itu. Saya mau cari selimut," jawab Banyu asal, mencari barang pertama yang terlintas di kepalanya.Bening mendongak, alisnya bertaut samar karena bingung. "Selimut? Katanya tadi untuk kebutuhan kantor kelurahan, Mas?"Banyu berdehem kecil, merasa sedikit konyol dengan k
"Mbak Bening!" panggil Banyu lantang sambil berjalan cepat menghampiri mereka.Suara bariton Banyu membuat Mira dan Darto yang sedang menggiring Bening tersentak ragu. Mereka berhenti dan wajah keduanya langsung berubah gugup dan bingung melihat kehadiran sang Lurah yang tiba-tiba."Pak... Pak Lurah? Kebetulan sekali bisa ketemu di sini?" ucap Mira dengan senyum terpaksa menutupi kepanikannya.Banyu menghentikan langkahnya tepat di hadapan mereka. Jujur, otaknya sendiri sempat berputar mencari alasan masuk akal kenapa dia bisa berada di sini. Bagaimanapun, dia adalah seorang Lurah. Mengejar seorang janda warganya sampai ke kota tentu akan memicu desas-desus liar jika dia tidak berhati-hati. Dia tidak boleh seterus terang itu karena bisa membuat posisi Bening semakin sulit dan terpojok di kampung.Banyu melirik Bening. Wanita itu tampak bernapas lega, sorot mata sayunya memancarkan secercah harapan besar padanya. Banyu bersumpah harus bisa membawa Bening lepas dari situasi ini secara
Pagi itu, suasana di pinggir jalan utama Luri tampak ramai. Puluhan warga berkumpul mengenakan baju kaos lusuh, lengkap dengan cangkul dan sabit di tangan. Mereka sedang mengadakan kerja bakti berkala untuk membersihkan saluran irigasi yang menyumbat aliran air ke sawah.Banyu berdiri tidak jauh dari kerumunan, memantau pergerakan warganya. Sebagai pemimpin, dia selalu menyempatkan diri hadir dalam kegiatan sosial seperti ini untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Dengan kaos polo hitam dan celana jins yang santai, dia sesekali menyapa warga yang lewat mengangkut tumpukan rumput liar.Dia mendekati kerumunan warna yang mengobrol santai sambil sesekali tertawa. Awalnya, Banyu sama sekali tidak tertarik mendengarkan obrolan sekelompok pria paruh baya yang sedang beristirahat di bawah pohon beringin, tak jauh dari posisi berdirinya. Mereka sedang merokok sambil minum kopi dari termos kecil. Namun, fokus Banyu mendadak terkunci begitu sebuah nama akrab meluncur dari mulut salah satu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires