LOGINTerjebak hutang ayahnya yang sudah meninggal, Sasha Briar dijual ke debt collector oleh tantenya dan disuruh melayani nafsu seorang pria bernama Ludwig. Didorong oleh rasa takut, Sasha akhirnya berhasil kabur sebelum menghabiskan malam dengan Ludwig dan menjadi pemagang di firma hukum L&C Law Firm. Tapi, siapa yang menyangka kalau pria yang ia temui semalam ternyata adalah Ludwig Campbell, pemilik L&C Law Firm dan pengacara tersohor di masyarakat! “Sasha Briar, kamu telah memegang rahasia saya. Patuhi semua perintah saya, terutama melayani di ranjang. Itu syarat agar kamu tetap bekerja di sini."
View More“Saya mohon jangan jual saya, Bi! Saya berjanji akan membayar hutang ayah pada mereka!” seru Sasha Briar putus asa pada wanita yang berdiri di depan rumah.
Sasha sama sekali tidak mengira akan terjadi hal seperti ini. Padahal, dia tadi pulang ke rumah dalam keadaan senang setelah lolos mendapatkan posisi magang di sebuah firma hukum terkenal.
Tapi, begitu sampai rumah, ia tiba-tiba disergap oleh debt collector yang dihutangi ayahnya, lalu menarik paksa dirinya untuk pergi!
Katie Briar, bibi Sasha, hanya menatapnya datar saat Sasha memohon-mohon.
“Sudahlah, turuti saja,” ucap Katie ketus, “Hutang ayahmu terlalu besar. Apa salahnya menebus hutang itu dengan putrinya sendiri? Lagipula, kamu tidak mungkin bisa melunasinya meski bekerja sekalipun.”
Mendengar perkataan kejam itu, hati Sasha mencelos seketika.
“Kamu dengar ucapan bibimu, hah? Jadi, cepat masuk ke dalam mobil!” seru salah satu debt collector sambil mendorong Sasha ke dalam mobil.
“Tunggu! Tidak! Bibi, tolong!” seru Sasha, tapi ia sudah dipaksa masuk ke mobil.
Pintu mobil itu ditutup dengan kencang dan segera terkunci. Sasha terjebak dengan seorang debt collector memeganginya di sampingnya.
Mobil segera melaju pergi. Meninggalkan Katie yang kini mengulas senyum lebar.
“Harusnya kita melakukan ini sejak ayahmu mati!” seru debt collector yang mengemudi mobil, “Kamu masih perawan, kan? Badanmu bagus, pasti banyak uang yang bisa kau hasilkan. Harusnya kau senang hutang ayahmu bisa lunas.”
Mendengar itu, Sasha tak mampu lagi menahan air matanya. Ia menangis terisak-isak membuat debt collector yang di sebelahnya berdecak kesal.
“Hapus air matamu! Sebentar lagi kau harus melayani tamu penting!” bentaknya.
Ketakutan, Sasha buru-buru menghapus air matanya. Ia berusaha menghentikannya, tapi air matanya terus saja mengalir keluar.
Mau bagaimana lagi? Hidupnya sudah sangat hancur sekarang.
Semua ini terjadi sejak usaha ayahnya bangkrut. Padahal semasa hidupnya, ayahnya menjadi tulang punggung keluarga, bahkan Katie pun hidup dari hartanya.
Tapi, karena usahanya ayahnya yang kemudian bangkrut, dan keluarga besar yang kehilangan sumber keuangan, mereka menjadi tidak peduli pada ayahnya dan menelantarkan ayahnya juga Sasha begitu saja.
Ayahnya tetap bekerja keras sampai sakit-sakitan, dan akhirnya meninggal. Meninggalkan Sasha sebatang kara.
Sasha akhirnya tinggal bersama Katie, tapi di sana ia bekerja di rumah Katie sebagai pembantu yang tidak diupah. Bibinya itu juga memeras uang hasil kerja serabutannya selama ini.
Katie bilang, tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi, Sasha harus membayarnya baik dengan materi maupun tenaga.
Dan sekarang, ketika debt collector tiba-tiba muncul untuk menagih hutang-hutang mendiang ayahnya, bibinya itu menjual Sasha ke para debt collector begitu saja.
“Kita sudah sampai. Persiapkan gadis itu dan bawa dia ke kamar 3501,” perintah debt collector yang mengemudi, menyadarkan Sasha dari isi pikirannya.
Dua debt collector di sisi Sasha mengangguk. Mereka segera mendorong Sasha keluar.
Begitu keluar dari mobil, Sasha segera menangkap hotel megah di depannya. Tubuhnya seketika menciut ketika menyadari hal yang selanjutnya akan dia alami.
“Cepat jalan. Jangan diam saja!” hardik debt collector di belakangnya sambil mendorong dirinya.
Sasha kemudian masuk ke dalam hotel dengan langkah berat. Debaran jantungnya semakin kencang begitu lift membawa mereka ke lantai tertinggi.
Mereka akhirnya berhenti di depan kamar 3501. Kamar presidential suite.
Menyadari mewahnya interior hanya dari depan pintunya saja, tubuh Sasha gemetar ketakutan. Penyewa kamar ini pastilah orang kaya!
“Masuk kamar ini dan pakai baju di dalam tas ini,” perintah debt collector sambil memberikan tas tenteng kecil ke Sasha.
“Tunggu di kasur. Sebentar lagi Tuan Ludwig akan datang. Pastikan layani dia dengan baik. Jangan coba-coba untuk kabur!” ancamnya lagi.
Ia membuka pintu dan mendorong Sasha ke dalam. Keduanya segera pergi meninggalkan Sasha sendiri. Pintu di belakangnya pun tertutup.
Sasha dengan gemetar membuka tas jinjing itu, sebuah lingerie putih tipis di dalamnya. Matanya berkaca-kaca.
Inikah nasibnya? Ia benar-benar harus melakukan melayani nafsu seorang pria? Menjual harga dirinya sendiri?
Padahal, besok adalah hari pertamanya magang di firma hukum, tempat karir impiannya. Ia sudah membayangkan akan bekerja dan bisa membayar hutang, lepas dari bibinya dan membiayai hidupnya sendiri.
Sasha mengusap air matanya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti ke lingerie itu. Ia menatap dirinya di cermin. Lekuk tubuhnya tampak jelas di balik kain tipis yang terasa mewah itu, tapi sorot matanya sayu.
Setelah sekian lama menguatkan diri, Sasha melangkah keluar dari kamar mandi.
Ia tercekat begitu mendapati siluet seorang pria yang sedang berdiri di depan dinding kaca yang menghadap ke pemandangan malam kota.
Sudah berapa lama sejak pria ini masuk? Sasha tidak mendengar apapun dari dalam kamar mandi.
“Jadi, kamu yang melayani saya malam ini?”
Suara rendah dan dalam itu terdengar, membuat Sasha melebarkan mata.
Pria itu berbalik, memperlihatkan wajah tampan dengan garis wajah yang tegas. Tubuhnya yang tinggi dan besar dibalut bathrobe sutra yang memperlihatkan garis otot di dadanya yang kekar.
Tuan rupawan ini … tamu yang akan dilayaninya? Sasha pikir ia akan melayani seorang pria tua mesum yang gendut.
“A-Anda Tuan Ludwig?” tanya Sasha, memastikan ia tidak salah orang.
Pria itu tidak menjawab, hanya tersenyum miring. Sasha nyaris saja terpesona, sebelum pria itu bergerak mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
Satu tangan kokohnya meraih dagu Sasha, mengangkat dan memindai wajahnya.
“Masih sangat muda, sudah bekerja melayani pria,” gumamnya, sarat dengan sindiran.
Sasha menelan ludah. Ia membeku di tempat. Sekujur tubuhnya gemetar. Di hadapan pria bertubuh besar ini, ia merasa sangat kecil. Tatapan tajamnya mengintimidasi.
Sasha terkesiap pelan ketika pria itu membungkuk sedikit, lalu menggendong Sasha dengan mudah. Ia kemudian duduk di tepi kasur berukuran king size itu, mendudukkan Sasha di pangkuannya.
Kedua tangan pria itu memegangi pinggang ramping Sasha, ibu jarinya mengusap kulit di balik kain tipis dengan gerakan pelan.
“Sekarang,” bisik pria itu di telinga Sasha, membuat kulitnya meremang. “Tunjukkan bagaimana kamu akan melayani saya malam ini.”
“Terima kasih, Thomas,” Isabel mengulas senyum manis. Wanita itu lalu mengalihkan pandangan ke Sasha, “Tolong bawakan berkas-berkas kasus penipuan di mejaku ke ruangan meeting. Sebentar lagi aku ada meeting dengan klien.” “Baik, Nona.” Sasha segera berlalu dari sana. Sebelum menuju meja Isabel, ia mengambil buku catatannya sejenak di atas mejanya. “Kamu menjadi asisten Nona Isabel?” bisik Annelise tiba-tiba yang dibalas anggukan cepat Sasha. Gadis itu seketika menatap takjub. “Kamu benar-benar beruntung!” seru Annelise tertahan, “Kamu tahu kan, siapa Isabella Baldethiva itu? Dia putri tunggal salah satu keluarga paling berpengaruh di negara ini,” Annelise melanjutkan, “Kudengar mereka punya perusahaan estate, tapi Isabella sendiri lebih memilih punya karir sendiri.” Sasha menelan ludah. Keluarga kaya raya? Itu kabar buruk baginya. Kalau Isabel
“Apa kalian tadi lihat? Ada seorang wanita cantik berjalan bersama Tuan Campbell di lobi!”“Benarkah? Siapa wanita itu? Kenapa dia bisa bersama Tuan Campbell?”“Entahlah. Tapi dia benar-benar cantik, mereka terlihat cocok sekali ketika berjalan bersama. Apa itu tunangannya, ya?”Dengungan suara itu memenuhi kantor Sasha. Membuat Sasha yang sedari tadi berusaha fokus bekerja, semakin tergoyahkan.Di sebelahnya, Annelise mendesah pelan. Ia juga sudah tidak fokus karena gosip rekan-rekan mereka.“Orang-orang heboh sekali. Aku juga jadi penasaran ingin melihatnya,” gerutu Annelise. Ia kemudian menoleh ke Sasha yan
Besar. Itulah yang Sasha pikirkan begitu melihatnya. Tidak, bahkan sangat besar. Dan itu membuat Sasha panik.“P-Pak, saya rasa itu tidak akan muat! Saya tidak yakin bisa!”Ludwig mendengus pelan. “Begitukah?”Pria itu kembali mengungkung tubuh Sasha di atas kasur, menggeram pelan saat menindih gadis itu, miliknya yang tegang berkontak dengan bagian inti Sasha yang terlapisi kain tipis dalamannya.“Saya akan memasukannya sekarang,” bisik Ludwig rendah.Dengan satu gerakan cepat, Ludwig menurunkan celana dalam Sasha. Kemudian, ia membuka lebar kaki gadis itu, dan mulai mendorong masuk.“Ngh! Ah!”Tubuh Sasha menegang hebat, rintihan tak terkendali keluar dari mulutnya. Ia langsung panik berusaha berpegangan pada bahu kokoh Ludwig, saat merasakan sebagian milik pria itu telah terbenam ke dalam celah tubuhnya.Ludwig membiarkannya. Napas pria itu memburu, seperti predator kelaparan. Ia menarik kembali pinggulnya, lalu dengan dorongan yang sama, menyentak masuk kembali.“Ahh …” rintih gad
Sasha menelan ludah. Merasa ngeri melihat sorot tajam Ludwig. Namun kengerian itu hanya sejenak karena pria itu kembali mencium rahang Sasha, membuatnya mengerang pelan.“A-ah …” desah Sasha pelan. Tubuhnya gemetar merasakan ciuman intens Ludwig terus menjelajahi rahangnya, lalu turun ke lehernya.Ia tersentak saat lidah hangat Ludwig menjilat lehernya.“A-ah! P-Pak …” erang Sasha. Matanya terpejam erat dan tubuhnya menggeliat pelan karena sensasi itu.“Geli?” bisik Ludwig membuat Sasha menggigil. Pria itu menyeringai lalu naik kembali mendekati telinganya.“Ternyata tubuhmu cukup sensitif, Sasha.”Sasha mengerang kembali saat lidah Ludwig kini memainkan telinganya. Tubuhnya menggelinjang karena sensasi yang semakin tidak tertahankan.Setiap sentuhan membuat Sasha seolah meleleh di atas kasur. Membuatnya bertanya-tanya seberapa sering Ludwig melakukan hal ini hingga membuatnya begitu ahli sekarang.Ia makin hila
Sasha menelan ludah. Ia meremas ujung blusnya erat-erat. “A-apa saya boleh meminta waktu untuk memikirkannya dulu?” tanya Sasha masih dengan nada yang takut.“Baiklah,” ucap Ludwig pendek membuat Sasha tersentak. Dia tidak salah dengar kan barusan? Ludwig membolehkannya untuk berpikir dulu? Sasha
“Keluarlah, Zen.”Suara dingin dan dalam itu menggema di ruangan itu.“Baik, Pak.”Sasha hampir menahan Zen pergi. Tapi, dia masih menahan diri. Sasha menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tubuhnya bergetar, merasa terintimidasi dengan hawa di ruangan ini. Benaknya sontak mengingat-ingat.Ludwig … Lu
Sasha segera menyembunyikan dirinya di balik sebuah pilar besar. Ia menatap lekat keduanya dari jauh. Wanita di hadapan Ludwig sangat cantik dan elegan. Wajahnya putih bersih dan senyumannya begitu memikat. Seperti halnya Ludwig, wanita itu juga seperti dipahat langsung oleh dewa!‘Apa jangan-jang
Tubuh Sasha seketika menegang. Apa dia baru saja menyindirnya, dan kontrak mereka barusan? Apa pria itu melakukannya untuk mengintimidasi dirinya?Padahal tanpa melakukan itu, Sasha sudah sangat tertekan sekarang. Tak lama, Ludwig mematikan panggilannya. Ia kini menatap Sasha seutuhnya yang masih












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.