MasukDi tahun ketiga pernikahannya dengan Adrian Pranadipa, Shanaya Wirajaya akhirnya mengetahui siapa wanita yang sebenarnya dia cintai. Wanita itu adalah kakak iparnya. Di malam kematian sang kakak, Adrian sama sekali tidak peduli pada Shanaya yang berdiri di sampingnya, dan malah menjadi tameng hidup untuk kakak iparnya menerima tamparan telak. Shanaya sadar, alasan Adrian menikahinya hanyalah karena dia cukup penurut dan tahu diri. Dan kenyataannya, dia memang sangat tahu diri. Tahu diri sampai-sampai urusan perceraian pun tidak sampai mengusik Adrian sedikit pun. Adrian tidak tahu bahwa dia sudah memegang surat cerai. Adrian tidak tahu bahwa dia hampir menikah dengan pria lain. Di hari ketika Shanaya berhasil mengembangkan obat mujarab untuk kanker, seluruh dunia bersorak memujinya. Hanya Adrian yang berlutut dengan satu kaki, mata memerah penuh penyesalan memohon, "Shanaya, aku salah... bisakah kamu menoleh sekali saja kepadaku?" Dia dulunya adalah pria sempurna, lembut dan terhormat, mana mungkin dia bisa salah? Shanaya melangkah mundur. Di saat yang sama, pria yang dikenal sebagai sosok paling berkuasa, dingin, tak tersentuh, dan sulit didekati, menarik pinggangnya dengan mantap. Suara beratnya menggema, tegas dan penuh otoritas. "Maaf, dia sudah mau menikah. Dengan aku."
Lihat lebih banyakRivaldi melirik layar ponselnya."Bos kalian bernama Febrie? Botak, keluar dari penjara dua tahun lalu. Anak buahnya belasan orang. Mata pencahariannya dari memberi pinjaman dan menagih utang."Nada bicaranya terdengar santai, tetapi wajah pria berjaket kulit itu perlahan berubah."Bagaimana kamu tahu ...?""Aku tahu jauh lebih banyak daripada itu."Rivaldi mengangkat pandangannya menatap pria itu. "Bos kalian baru saja mendapat pelajaran bulan lalu. Dia bahkan sudah berpesan agar tidak lagi menyentuh urusan di Kota Panaraya. Tapi kamu malah nekat mencari gara-gara."Pria berjaket kulit itu menelan ludah. Setelah menatap Rivaldi selama beberapa detik, barulah dia bertanya dengan nada ragu, "Ka-kamu ... orang Keluarga Wirantara?"Rivaldi tidak mengiyakan maupun membantah. Dia hanya menggoyangkan ponselnya pelan, lalu berkata datar, "Bagaimana kalau sekarang juga aku menelepon bos kalian? Biar dia sendiri yang datang menjemput orang-orangnya."Pria berjaket kulit itu terdiam beberapa det
Santo begitu mendengar ucapan itu, matanya langsung memerah karena marah. Dia menerjang maju, menunjuk hidung Delara sambil mengaum, "Apa-apaan yang barusan kamu bilang?! Dia adikmu! Adik kandungmu! Kamu tega melihat dia ditebas orang tapi tetap tidak mau mengeluarkan uang. Di mana nuranimu?!""Soal aku memiliki nurani atau tidak, bukankah lebih dari dua puluh tahun yang lalu kamu sudah pernah memakiku dengan kata-kata itu?"Delara mengangkat pandangannya menatap Santo. "Kalau memang Ayah benar-benar peduli padanya, kenapa saat dia berutang Ayah tidak menghentikannya?"Santo dibuat terdiam oleh pertanyaannya. Sesaat kemudian, dia kembali meninggikan suaranya. "Dia adikmu!""Jadi karena itu utangnya, aku yang harus melunasinya?"Delara tidak marah. Dengan nada datar, dia balik bertanya, "Coba Ayah tanya nurani Ayah sendiri. Sejak kecil sampai sekarang, pernahkah Ayah mengajarinya apa arti bertanggung jawab?"Santo langsung tersentak oleh ucapan itu yang tepat mengenai titik lemahnya. Wa
Rivaldi tinggal di Kota Nortadika selama dua hari dan bersama Caleb pada dasarnya telah menyepakati seluruh rincian kerja sama.Kini hanya tersisa sebagian kecil persoalan di sisi teknis yang masih menunggu tim teknis menyusun proposal sebelum dapat dikoordinasikan lebih lanjut.Malam itu, Caleb mengundang Rivaldi makan malam sebagai tuan rumah.Sambil makan, keduanya mengobrol santai. Caleb memang tidak banyak bicara, tetapi sesekali dia melontarkan candaan ringan yang tidak menyakitkan.Dibandingkan saat pertama kali bertemu, sikapnya kini jauh lebih santai.Di tengah-tengah makan, ponsel Rivaldi tiba-tiba berdering.Dia melirik layar yang menampilkan nama penelepon, lalu segera berjalan ke samping untuk mengangkat telepon itu.Entah apa yang dikatakan orang di seberang telepon, wajahnya seketika membeku sedingin es."Adiknya? Apa lagi yang dia lakukan kali ini?"Bawahannya menjawab dengan berat hati, "Dia dipukuli lagi. Kali ini para penagih utang langsung mendatangi Nona Delara.""
Saat Rivaldi tiba di Kota Nortadika, salju tipis sedang turun dari langit."Siapa yang bertanggung jawab atas proyek dari Grup Maheswari ini?" tanya Rivaldi dari kursi belakang sambil membolak-balik dokumen proyek yang diserahkan asistennya."Caleb, Wakil CEO Grup Maheswari, sekaligus satu-satunya pewaris Keluarga Anandita."Sang asisten menjawab, "Sebelumnya proyek ini selalu diawasi langsung oleh Tuan Ahmad. Kali ini dia diganti untuk berkoordinasi dengan Anda, mungkin karena mereka ingin memberinya kesempatan untuk menambah pengalaman."Gerakan Rivaldi yang sedang membalik dokumen seketika terhenti. "Caleb? Putra bungsu Keluarga Anandita itu?""Ya."Rivaldi mengangkat sebelah alisnya. "Baiklah, kalau begitu kita temui dia dulu."Keluarga Wirantara dan Keluarga Anandita telah bersahabat turun-temurun. Waktu kecil, Caleb pernah beberapa kali bermain ke rumah utama Keluarga Wirantara, sehingga hubungannya dengan Aurelia cukup akrab.Namun, Rivaldi tidak begitu mengenal Caleb. Yang dia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak